
Rena, dengan diantar Roney, kini dia berada di sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Lebih tepatnya, dia berdiri di depan sebuah gerbang dengan pos satpam yang menjaganya. Ketika dia turun dari mobil, satpam itu bergegas untuk menghampirinya saat tahu siapa yang datang.
“Nona Rena, Akhirnya Anda pulang. Meskipun sebenarnya, Anda pulang ketika tuan Verme atau paman Anda mendapatkan sebuah masalah besar.” Kata satpam itu dengan cukup panik.
Beberapa hari yang lalu, Verme mendapatkan sebuah kabar yang cukup genting, yang mana membuatnya tidak bisa untuk meredakan kepanikan yang disertai dengan sebuah emosi yang meluap-luap. Putri pertamanya, yang seharusnya pulang sekolah tepat waktu, justru dia tidak melihat dimana dia berada. Mungkin itu cukup diterima bagi Verme karena kemungkinan putrinya sedang berada di rumah temannya.
Tapi siapa berpikir, putrinya tidak kunjung pulang hingga larut malam. Smartphone milik putrinya sama sekali juga tidak di angkat yang membuat Verme menjadi menggebu-gebu. Sehingga, apa yang dia lakukan adalah mencoba menjadi pengawal rumahnya untuk mencari kemana perginya sang putri pertamanya itu.
Mungkin dia juga mencoba untuk meminta bantuan sang polisi. Tapi, siapa yang menyangka bahwa sang polisi itu hanya seolah diam dan tidak membantu. Mungkin mereka membantu hanya agar seperti terlihat menyelesaikan sebuah kasus.
Walaupun faktanya, beberapa hari yang lalu, agen Zero mengincar Anna atau putri Verme yang kini sebenarnya menjadi sebuah senjata bagi petinggi negara. Tentu saja, kepolisian tidak bisa bertindak tentang apa yang dilakukan Zero sebagai sebuah agen mata-mata yang kepolisian ketahui. Karena Zero sendiri memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari mereka, yang membuat kepolisian hanya menurut saja. Itulah mengapa, kepolisian antara membantu dan tidak membantu tentang kasus hilangnya Anna Shon.
Rena yang mendengar berita dari sang satpam itu mengerti. Akan tetapi, apakah dia peduli? Tentu saja tidak, dia hanya masuk ke dalam sebuah gerbang meskipun satpam itu menahannya agar tidak masuk. Karena dia mendapatkan perintah, bahwa dirinya tidak membiarkan Rena Shon untuk masuk.
Melihat hal tersebut, Roney keluar dari mobilnya, keluar dengan sangat tegas sambil menodongkan senjata kepada satpam itu. Bahkan, dia memberi sebuah pembelaan kepada Rena. “Izinkan nona Rena masuk, atau aku akan menarik pelatuk yang membuat kepalamu hancur!”
Satpam itu benar-benar begitu terkejut saat tahu bahwa ternyata Rena memiliki pengawal pribadi, meskipun kondisi pengawal itu benar-benar memprihatinkan. Namun, sang satpam tidak mempunyai pilihan lain selain membukakan pintu gerbang untuk Rena. Entah apa yang terjadi, dirinya sebenarnya juga takut apabila Verme marah akan apa yang dia lakukan.
“Ba .... baiklah, Anda berkenan untuk masuk.”
Rena tersenyum kecil, dia juga menatap Roney dan memberikan sebuah isyarat untuk menurunkan senjatanya. “Roney, kau bisa tunggu di sini. Aku tidak akan lama jika pamanku tidak akan terlalu banyak berbicara dan main tangan. Walaupun begitu, aku bisa mengurusnya sendiri.”
“Baiklah nona.”
Rena dengan cukup berani dia masuk ke rumah yang seharusnya miliknya. Hanya saja, semua kekuasaan kini entah kenapa menjadi miliki pamannya setelah ayahnya meninggal. Padahal seharusnya, semua warisan tentang perusahaan, aset dan properti itu diturunkan kepada dirinya. Sayangnya, pamannya terlalu licik. Akan tetapi, Rena sendiri tidak memperdulikannya, semua harta di dunia ini bukan miliknya, alam ini bukanlah tempat tinggalnya. Apalagi ketika Rena sudah tak berada di sini, siapa lagi yang akan mengurus semuanya jika warisan ayah Rena dia miliki?
Dia membuka pintu rumah, dan mendapati bahwa keadaan rumah benar-benar sangat ramai, mulai dari bodyguard pamannya yang berkumpul dan merundingkan sesuatu, serta anak-anak pamannya yang sebenarnya tak begitu peduli ketika kakak pertamanya menghilang. Bagaimana tidak? Ilmu elemental hanya diturunkan kepada Anna yang membuat adik-adiknya tidak mampu mengendalikan elemental.
“Siapa kau berani menginjakkan kaki di sini? Setelah kau berurusan dengan tiga besar, rumah ini terlarang bagimu! Pergilah kembali, aku cukup memiliki hati sebelum aku berubah pikiran.” Katanya dengan nada yang cukup tinggi.
Tapi Rena hanya melewati mereka semua dengan cukup santai seolah tidak memiliki urusan dengan mereka. hanya bodyguard milik Verme yang cukup keras dengan menghadangnya serta memegang lengannya agar tidak melangkahkan kaki kembali.
“Maafkan aku nona Rena, Anda bukan lagi bagian dari keluarga ini. tuan Verme masih memiliki hati dengan membiarkan Anda pergi.” Kata salah satu dari dua bodyguard yang memiliki badan berotot.
Rena yang lengannya dipegang-pegang, dia memutar lengannya kembali, memainkan tangan yang satunya untuk menyikut tangan bodyguard tersebut dengan cukup bertenaga. Setidaknya bodyguard itu mampu merintih kesakitan. Tidak berhenti begitu saja, Rena juga melemparkan kepalan tangannya tepat pada bodyguard yang berdiri di depannya.
“Berhenti!” Teriak Verme. “Jangan pikir setelah kau menggunakan kekerasan, kau mampu untuk keluar dari tempat ini dengan selamat.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya tepat ke arah Rena.
Tak mau kalah, secara spontan, Rena langsung menyapu tangannya ke depan, sehingga sebuah aliran air keluar memukul dagu Vermen dengan cukup kuat. Bahkan, Rena juga tak berhenti melakukan hal tersebut, dia langsung mengulurkan tangannya dan mengeluarkan puluhan gelembung air yang benar-benar sangat berbahaya. Karena apabila pecah, maka akan meledak dengan kekuatan yang begitu serius.
“Kau tahu, jika kau ingin beradu elemental, maka aku yakin kau akan kalah. Sombong? Bisa dikatakan iya. Kita sama sekali tidak sebanding.” Kata Rena dengan cukup sinis sambil beranjak pergi menuju kamar pribadinya yang kemungkinan telah ditempati oleh saudara sepupunya yang menyebalkan.
Tindakan Rena mendapatkan sebuah kecaman dari paman, bibi dan anak-anaknya di tempat. Tapi, mereka benar-benar tidak bisa bergerak karena tak berani menyentuh semua gelembung-gelembung air yang akan meledak apabila pecah. Dan mereka semua tahu itu. Apalagi mereka berada di pojok ruangan yang membuat kesulitan untuk kemana-mana.
Rena tidak memiliki waktu untuk mereka, dia langsung menendang pintu kamarnya dengan cukup kuat. Kemudian, dia berusaha untuk membuka sebuah lemari tempat dia menyimpan di mana semua berkas berada, seperti akta kelahirannya, kartu keluarganya dan berkas-berkas yang lainnya.
Dan ketika dia menemukannya, seketika sebuah suara seperti robohnya atap terdengar, yang membuat Rena sendiri cukup penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga, dia keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang terjadi?
Tapi siapa yang berpikir, bahwa atap memang benar-benar hancur, yang membuat Rena sendiri langsung bergegas untuk keluar karena dia merasa ada bahaya atau ancaman yang mendekatinya. Hanya saja, ketika dia melewati ruang tamu, keadaan benar-benar hancur, gelembung-gelembungnya meledak karena mendapatkan sebuah serangan tiba-tiba. Membuat Verme dan satu keluarganya terlempar dan mengalami luka yang cukup parah di sudut tembok.
Tak menunjukkan diri, Rena bersembunyi, pasalnya dia benar-benar terkejut saat melihat seorang wanita berdiri tepat di hadapan paman dan anak istrinya sambil tertawa begitu kencang. Dan tentunya, Rena mengenal wanita itu ketika dia bersembunyi dan menyipitkan matanya. “Anna? Kenapa dia menyerang ayah dan ibunya sendiri?”