The God in the Modern World

The God in the Modern World
Laut selatan



Beberapa hari kemudian, mereka kini ada dalam sebuah bus yang ukurannya sedang. Bus milik salah satu ayah siswa dengan supir pribadinya. Sehingga bisa dibilang, para siswa sekelas Theon hanya cukup untuk duduk di kursi. Itulah mengapa, kelas Theon bisa berangkat kapan saja tanpa persiapan yang panjang. Terlihat, bahkan Theon sendiri duduk di samping Ali.


Sedangkan Rena, dia sebenarnya ingin duduk di samping Theon, hanya saja karena perintah Aura agar duduk dengan teman sebangkunya, membuat Rena hanya bisa berdecak kesal. Apalagi teman sebangkunya yang benar-benar sangat membosankan.


“Aku dengar, kini ada banyak sekali orang-orang yang ingin mempunyai sihir tersebut. Setelah ada banyak penyihir yang keluar untuk menunjukkan kekuatan mereka.” Kata Ali memulai obrolan dengan Theon agar keadaan tidak terlalu menegangkan.


“Kau ingin punya? Sayang sekali, elemental merupakan kekuatan keturunan, jadi bisa dibilang kau tidak memiliki elemental. Kecuali ....” Theon mengatur napas sebelum memulai pembicaraan. “Dalam sebuah legenda turun temurun kami, elemental bisa dimiliki oleh seseorang yang sebelumnya tidak memilikinya menggunakan bantuan pilar dewa dan god of gods. Mereka menciptakan terlebih dahulu sebuah elemental seed, sebagai wadah benih elemental yang akan disegel pada tubuhnya.”


Ali mencoba mencerna apa yang Theon katakan, tampaknya itu sangat aneh di telinganya seperti pilar dewa dan God of Gods. “Apa maksudnya itu, dan siapa?”


“God of Gods, dia memiliki kekuatan elemental yang sangat kuat, ibarat dia merupakan dewa dari segala dewa. Sedangkan pilar dewa sendiri, dia merupakan pembantu God of Gods yang memiliki 7 dewa. Lebih tepatnya, pilar dewa merupakan penguasa di setiap elemental, aku beri contoh, Winder, dia merupakan seorang pilar dewa angin yang kekuatan anginnya mampu untuk menghancurkan bumi ini, Ert sang pilar dewa angin tanah, dan yang lainnya.” Theon mencoba bercerita kepada Ali, dia tidak peduli apakah menurut Ali ceritanya adalah dongeng atau bukan.


“Lanjutkan. Tentang God of Gods, aku ingin tahu namanya.” Pinta Ali agar Theon bisa bercerita.


Theon mengangkat alisnya mendengar apa yang ditanyakan oleh Ali. “Namanya, dia memiliki nama, Maha Dewa Fang Zeno. Memiliki seorang istri yang sangat cantik, benar-benar sangat cantik, yang mulia Dewi racun, Turse.”


Theon menghela napas, entah kenapa dirinya mendadak rindu dengan ayah dan ibunya setelah dia menceritakan tentang mereka berdua. Perasaanya dia ingin segera kembali menuju alam dewa dan membuat keadaan seperti semula. Meski dia di alam aneh ini, dirinya harus membangkitkan semua elementalnya agar dia bisa berhadapan dengan pengguna sihir itu.


Hanya saja, tidak mungkin Theon menceritakan bahwa kedua dewa itu adalah orang tuanya. Di dunia ini, dirinya berperan sebagai Theon Alzma, sosok yatim piatu yang memiliki kisah menyedihkan.


.....


Beberapa jam kemudian, kini mereka pada akhirnya sampai di laut selatan pada malam hari. Pergi pada siang hari merupakan keputusan mereka sebenarnya. Bermalam di sebuah hotel dekat pesisir yang mana sudah dipesankan oleh ayah Lesha jauh-jauh hari. Mereka sebenarnya, berniat untuk bermain di pantai pada matahari terbit, untuk menikmati keindahannya.


Hal tersebut membuat Theon cukup senang, melakukan sebuah tindakan konyol pada malam hari adalah tujuannya yaitu menantang ratu laut selatan. Apapun konsekuensinya, entah itu dirinya yang akan diseret ke tengah laut, atau Kadita yang keluar dari permukaan laut dengan membawa pasukannya, Theon tidak peduli.


Mereka berjalan dari bus, masuk ke dalam lobby hotel, melakukan sebuah check ini untuk mendapatkan kunci kamar setiap kelompok siswa. Hanya saja, mereka saat ini tengah mendengar sebuah pantangan yang diberikan oleh resepsionis itu.


Sebelum kedatangan Lord Unknown, orang-orang ditempat ini sebenarnya masih memegang teguh sebuah kepercayaan tanpa memperdulikan mulut orang-orang diluar sana yang mengatakan bahwa itu adalah mitos tentang ratu laut selatan. Kemudian, setelah kedatangan Lord Unknown, orang-orang di wilayah ini semakin memujanya dan menganggap bahwa ratu laut selatan itu memang ada.


“Di hotel ini, ada sebuah kamar, nomor 18. Itu adalah kamar ratu, kami harap kalian tidak mendekati kamar itu ataupun memasukinya.”


Semua orang yang mendengarkan itu, mereka mengangguk, tentu saja mereka tidak ingin mendapatkan sesuatu yang tidak-tidak. Bahkan, Rolland dan teman-temannya sekalipun, dia juga bersedia untuk menjaga sikap dan tidak membuat ulah. Hanya saja, sangat berbeda dengan Theon, dia menggosokkan kedua telapak tangannya dan tersenyum jahat. Dia penasaran, apa jadinya jika dirinya masuk ke dalam kamar tersebut? yang konon katanya adalah kamar miliki ratu laut selatan?


Theon tidak berpikir lagi tentang menjaga sikap. Bahkan dia ingin sekali mengobrak-abrik tempat itu berharap bahwa Kadita keluar dan marah.


“Terserah Anda saja, tapi sepertinya itu sangat menarik. Bolehkah aku ikut?” Tanya Rena yang mengetahui tentang apa yang Theon niatkan. Dia bahkan juga sangat tertarik untuk mendapatkan masalah dengan ratu laut selatan.


"Tentu."


“Larangan untuk mengenakan pakaian hijau. Ratu laut selatan benar-benar menyukai orang yang menggunakan pakaian hijau, sehingga bisa saja dia diseret ke tengah laut untuk dijadikan pasukannya.” Sambung pelayan itu.


“Omong kosong, larangan menggunakan pakaian hijau, sebenarnya karena laut memiliki warna yang hampir sama, sehingga ketika tenggelam, akan sangat sulit untuk dicari. Aku harap Anda bisa mengerti penjelasan ilmiah yang diberikan.” Sahut Theon dengan nada yang cukup keras. Dia ingin memiliki sikap yang cukup kasar, atau lebih tepatnya tidak menjaga sikap agar ratu laut selatan marah.


Theon kini menjadi sebuah pusat perhatian dengan teman sekelasnya. Baru saja resepsionis itu mengatakan bahwa agar menjaga sebuah sikap. Tapi, Theon tiba-tiba berkata dengan nada yang cukup tinggi dan sangat tidak mengenakkan yang membuat teman sekelasnya langsung menatap Theon dengan cukup sinis, karena mereka tidak ingin mendapatkan sesuatu yang tidak-tidak.


“Kami adalah lulusan Sma, hal-hal konyol seperti itu tidak akan mempan kepada kami. Jadi, jangan mencoba untuk membodohi kami.” Sambung Theon. Kemudian, mengenai apa yang dikhawatirkan teman-temannya, Theon sama sekali tidak terlalu peduli. Jika Theon mendapatkan sebuah pengalaman yang cukup buruk di kelas, setidaknya mereka juga harus mendapatkan sebuah pengalaman paling buruk pada hidup mereka. Namun, Theon sempat berjanji untuk tidak sampai membuat mereka terbunuh.


“Theon, jaga mulutmu! Jangan sok berani di sini.” Teriak Rolland yang kini menggertakkan giginya.


“Jika kalian keras kepala, maka itu diluar tanggung jawab kami. Kami sudah memberikan sebuah nasihat.”


Sama sekali tidak peduli, Theon hanya menganggap omong kosong pelayan hotel tersebut. Hanya saja, dalam hatinya yang paling dalam, dia berharap bahwa itu semua benar-benar terjadi, tentang amarah ratu laut selatan yang katanya bisa membuat sebuah bencana besar.