The God in the Modern World

The God in the Modern World
Jutaan undead



Theon menghela napas, dia berdiri di sekitar tumpukan para elementalist dengan rasa sungguh kecewa. Waktu sudah menunjukkan sore hari yang mengartikan bahwa dia bertarung dengan jutaan para undead sehari penuh. Bagian Utara juga tidak dapat untuk ditaklukkan, pasukan miliknya juga tidak tersisa.


Dia berdiri, bukan berarti pasukan musuh telah habis. Pertarungan yang sangat besar membuat dia harus kehilangan hampir separuh orka miliknya. Tidak selamanya dia harus menggunakan kemampuan elemen api putih, kemampuan elemental cahaya. Sungguh, Theon sedikit merasa sangat keberatan.


Dia bisa melihat, pasukan tengah bertarung mati-matian. Kemampuan penyegelan juga memiliki minus yang sangat besar dengan menuliskan formula yang cukup lama. Alexander Agung, Gajah Mada, dua orang itu benar-benar masih bertahan dengan memegang senjatanya masing-masing. Sambil berhadapan dengan Lesha dan juga Rena.


Sedangkan Theon, dia fokus kepada para undead abnormal. Hanya dia yang memiliki kemampuan membunuh Undead secara instan yang membuat dia sendiri sebenarnya juga merasa kerepotan.


Melihat, Rolland, Lesha, Rena, kepala sekolah, semuanya bertarung mati-matian. Bahkan Ali kehabisan amunisi yang membuat dia kesulitan untuk bertarung. Apa yang dia lakukan hanyalah menghindar, memukul dengan sebuah senapan. Bahkan, Theon juga kehabisan senjata modern di dalam cincin ruangnya untuk digunakan kepada Ali.


Mungkin Strega juga turut andil, menghancurkan mereka semua meskipun mereka memiliki regenerasi yang cukup tinggi. Jika bukan karena energi surya, mungkin dia sudah menjadi sebuah rongsokan dan sama sekali tidak begitu berguna.


Jika dihitung, pasukan mungkin hanya ada empat juta di pihak Theon. Melawan dua juta di pihak musuh. Tapi nyatanya? Musuh tidak memiliki rasa lelah, para undead terus bertarung tanpa memperdulikan rasa penat. Sangat berbeda jauh dibandingkan dengan pihak Theon yang sebenarnya mereka ingin sekali untuk tepar.


Meski begitu, untung saja tiga perempat pasukan undead berhasil untuk disegel meskipun rasanya ingin mati bagi pihak elementalist. Mereka tidak memiliki tenaga, banyak yang gugur yang mungkin menyisakan satu juta elementalist. Sungguh perbandingan yang benar-benar cukup drastis.


Theon memegang Fire Swordnya dengan cukup erat, menebas para musuh dalam sekali tebasan menggunakan kemampuan biasa. Sehingga, mempermudah pasukannya untuk menyegel tanpa terkendala. Lagipula, para elementalist kesulitan menyegel karena polah undead yang tidak bisa diam, atau mungkin digagalkan oleh undead lain saat menuliskan sebuah formula.


“Sekitar setengah juta pasukan muncul dari timur! Pasukan berkuda tengkorak yang merupakan undead pula.” Strega berteriak dengan cukup kencang. Memperhatikan pasukan berkuda dengan kepulan asap yang datang dari kota timur.


Mendengarkan hal itu, semua orang menggertakkan giginya. Baik Theon, Rena atau mungkin yang lainnya.


“Patih, bisakah kau mengendalikan diri? kau merupakan patih yang terhormat, seharusnya kau tidak bisa dengan mudah dikendalikan.” Rena merasa ngos-ngosan saat berdiri tepat di hadapan seorang undead yang menggunakan mahkota emas sambil membawa sebuah gada. Sang patih dari New Santara dalam kerajaan Nusantara kuno, lebih tepatnya Majapahit, Gajah Mada.


Sang maha patih Gajah Mada menggelengkan kepala. Dia sebenarnya tersenyum kecut saat tubuhnya dikendalikan seperti ini. Bukan hal yang baik, dia sebenarnya ingin beristirahat dengan cukup tenang. Tapi nyatanya, dia dibangunkan secara paksa untuk bertarung dengan generasinya. “Maafkan aku, aku layaknya boneka yang digerakkan secara mutlak.”


“Tapi nyatanya aku cukup bangga saat generasiku mampu bertarung dengan cukup baik. Meski perempuan sekalipun.” Gajah Mada tersenyum senang. Namun bersamaan dengan itu, dia memukulkan gadanya tepat pada sebuah aspal hingga mengakibatkan sebuah keretakan yang kemudian menjalar pada Rena.


Rena bergerak menggunakan bayangan, yang kemudian muncul dari bawah Gajah Mada. Dia langsung melutut dagu Gajah Mada dengan sangat kuat. Sayangnya, Gajah Mada bisa menahan lutut Rena dengan kuat pula.


Bersamaan dengan itu, Gajah Mada mengangkat sebuah gadanya. Mengayunkannya tepat pada kepala  Rena.


Rolland muncul, melapisi tangannya menggunakan sebuah angin yang berputar kencang. Dia sebelumnya berlari, hingga memukul kepala Gajah Mada hingga hancur dan dia terdorong ke samping.


Tidak berhenti begitu saja, Rena menjaga jarak. Dia dan Rolland kemudian menciptakan sebuah formula penyegelan secara bersamaan agar segelnya benar-benar cukup kuat.


Hanya saja, saat mereka hendak menyelesaikan sebuah formula. Sosok pria dengan pakaian putih dan jubah merah muncul tepat di hadapannya setela melakukan sebuah lompatan. Dia mengayunkan pedangnya tepat pada Rena sambil menendang Rolland yang ada di sampingnya.


“Sialan kau Julius!” Rolland berteriak sambil melakukan sebuah flip. Mengayunkan tangannya hingga mengeluarkan sebuah pusaran angin yang benar-benar cukup kencang. Hanya saja, Gajah Mada yang baru saja menyelesaikan sebuah Regenerasi, dia mengayunkan palunya dengan hempasan yang cukup kuat.


“Bisakah kau tunjukkan sopan santun kepada leluhurmu?”


“Pasukan bantuan musuh dari timur telah sampai!” Teriak Theon yang melihat semuanya. Hanya saja, dia melihat bahwa elementalist tidak memiliki rasa semangat sama sekali. Bahkan bertarung dengan pasukan utama sekalipun.


Theon benar-benar tidak bisa berkutik. Dia menggertakkan giginya dengan penuh kekesalan. Wajahnya memerah dengan perasaan yang benar-benar campur aduk.


“Baik-baik, jangan tahan diri kalian, keluarlah kalian dalam wujud kalian yang sebenarnya! Kiba, Genbu, Flamon, dan juga Azure Dragon!” Teriak Theon saat melihat pasukan berkuda yang sudah berada di depannya.


Seketika tanah bergetar, semua perkotaan atau bahkan mungkin satu negara Ziosam mengalami sebuah getaran yang cukup hebat. Pertarungan bahkan berhenti, Rena, Lesha, Rolland atau mungkin musuh seperti Gajah Mada, Julius Caesar dan Alexander Agung, mereka melihat sebuah empat elemental yang berasal dari langit terpusat dan fokus pada satu titik yaitu Theon.


Sebuah hembusan angin muncul dengan sangat kuat, berkumpul satu di depan Theon hingga membentuk sebuah kepala harimau yang mengaum, memberikan angin yang sangat-sangat kuat bahkan setengah pasukan musuh yang ada di hadapannya mundur ke belakang karena merasakan tekanan angin yang sangat kuat pula.


Kepala harimau itu seolah muncul dari permukaan tanah, yang hanya berwujud angin dan berkurusan lima kali lipat tingginya dari seorang Theon. Itu baru kepalanya, belum wujudnya yang keluar dengan ukuran yang sangat-sangat besar.


Disusul dengan dua ekor makhluk terbang, sang Flamon dan juga Azure yang berputar seolah di bawah matahari. Jejaknya membentuk lingkaran Yin Yang yang kemudian, mereka berdua terjun, meninggalkan sebuah jejak elemen dan menerjang para pasukan musuh.


Genbu, kura-kura juga keluar dari tanah, membuat pasukan Undead tambahan terlempar ke atas dengan Azure dan Flamon yang menyambar.


Semuanya yang melihat itu benar-benar cukup terkejut. Tidak terkecuali Lesha yang membuka matanya dan kaget bukan kepalang. “Bagaimana bisa dia memiliki empat penjaga arah mata angin?”


.......


“Semua Undead normal, semuanya mundur. Tampaknya ini adalah masalah yang cukup serius.”