The God in the Modern World

The God in the Modern World
Tunduknya Kadita dihadapan Theon



“Tentang menara itu berada, menara itu tidak ada di negara ini. Melainkan di negara Ellada, negara yang menjadi sebuah tempat berkumpulnya legenda Yunani kuno. Sedangkan avatar dewi rembulan, aku tidak  tahu pasti, karena setelah 1000 tahun bisa jadi avatar dewi rembulan sudah meninggal dan memiliki avatar yang baru lagi. Aku benar-benar tidak tahu.” Jelas Kadita dalam posisi masih tunduk lemas dan tidak ingin mengangkat kepalanya.


Lagi-lagi, Theon mengendalikan gelembung agar Aura bisa bernapas. Dia tidak ingin Aura mati dalam keadaan konyol karena ketidaksadarannya. Namun, dia juga merespon apa yang Kadita katakan tentang menara itu berada dan avatar dewi rembulan. Dia sedikit mengerti, bahwa portal menara yang ada di negara Ellada itu bisa di buka oleh avatar dewi rembulan. Atau lebih tepatnya titisan dewi rembulan.


Jika itu terjadi ribuan tahun yang lalu avatar dewi rembulan membuka menara tersebut, maka bisa dibilang manusia titisan dew rembulan itu pasti terlahir kembali dalam kondisi yang berbeda. Itupun apabila dewi rembulan masih menghendaki dirinya untuk membentuk sebuah avatar lagi.


Sangat sulit untuk mencari dewi rembulan, apalagi dewi rembulan kemungkinan juga membatu di alam dewa. Sehingga, dia hanya bisa berharap bahwa avatar dewi rembulan masih hidup. Jika tidak, maka dirinya tidak akan bisa kembali ke alam dewa. Kecuali dengan sebuah tekhnologi yang menurut Theon sangatlah bodoh, yaitu mesin waktu untuk kembali pada seribu tahun yang lalu. Dan itu juga merupakan pemikiran yang cukup bodoh,  dia akan kembali ke alam dewa, dalam kondisi ayah Theon sama sekali belum lahir.


“Terimakasih atas informasinya. Aku akan kembali, kali ini aku cukup baik karena aku tidak membunuhmu.” Ucap Theon sambil mengangkat Aura dan menggendongnya di pundaknya.


“Ku mohon, aku Kadita bersedia untuk menjadi bawahan tuan. Untuk menebus kesalahanku kepada yang mulia.”


Theon melirik ke belakang, dan menatap mata Kadita. Dia mencoba untuk mencari kebohongan yang terdapat pada pupil mata Kadita. Tapi, dia tidak menemukan adanya sebuah kebohongan yang Kadita berikan. Seolah Kadita benar-benar bersungguh-sungguh dalam melontarkan sebuah ucapan bahwa dirinya ingin menjadi bawahan Theon.


“Buat aku bisa menuruti apa yang kau mau. Aku tidak bisa menerimamu secara sembarangan.” Kata Theon dengan datar. Meskipun dia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda kebohongan dari Kadita, bukan berarti dia langsung menerimanya. Dia sebenarnya cukup senang apabila mendapatkn bawahan dari sosok roh, dan membantunya untuk mencapai sebuah tujuannya, apa yang dia lakukan adalah menguji Kadita.


Kadita melepaskan sebuah mahkota emasnya, tepat berada di hadapan Theon. Dia menaruhnya di dasar laut dan kemudian dia bersujud di depan Theon dengan penuh kepercayaan.


Theon mengingat, bahwa Kadita bukanlah roh yang mudah sekali tunduk. Setidaknya dia menjadi salah satu dari beberapa roh paling kuat di New Santara. Dan sebagai seorang ratu laut selatan, melakukan tindakan seperti itu akan mampu untuk menghilangkan harga dirinya.


Theon mengangguk, dia menerima semua kesetian Kadita kepada dirinya. Hanya saja, dia meminta Kadita untuk tetap menjadi seorang penguasa laut selatan.  Tidak, jika bisa, menjadi seorang penguasa lautan di seluruh dunia.


Seketika laut terbelah menjadi dua arus, membukakan jalan bagi Theon yang tengah membawa Aura. Itu adalah salah satu kemampuan pengusanya, mahahebat dibandingkan Kadita yang menurutnya sangat kecil. Bahkan, laut yang terbelah itu membukakan jalan bagi Theon.


Beberapa lama Theon berjalan, Aura merasa ada yang aneh, dia memuntahkan seteguk air dari mulutnya, perlahan-lahan, dia juga membuka matanya dan melihat secara samar ada yang menggendongnya. Kesadarannya mulai pulih.


Alangkah terkejutnya saat dia menyadari bahwa kini dirinya berada di atas lengan Theon. Namun, apa yang lebih dikejutkan, dia melihat di samping kanan kirinya adalah laut yang seolah terbelah dan memberikan sebuah jalan bagi Theon yang tengah berjalan. Dia sempat kebingungan, apa yang terjadi pada dirinya?


Dia juga sempat histeris, tapi Theon justru menjatuhkannya dan meminta berjalan dengan sendirinya. Apa yang Aura lihat, tubuhnya, tubuh Theon benar-benar sangat basah. Dia tidak tahu apa yang terjadi, yang dia lihat hanyalah sebuah air dihadapannya terus terbelah seolah membuka jalan.


“Kau kerasukan Kadita.” Kata Theon dengan wajah yang datar. Sambil menyapu tangannya ke depan, sehingga laut terbelah secara seketika dan membukakan jalannya secara langsung hingga terhubung pada sebuah pesisir pantai.


Aura membuka matanya, dia benar-benar tidak begitu percaya dirinya dirasuki oleh sosok penguasa laut selatan. Dia mencoba mengingat kesadarannya terakhir kali, tentang dirinya berada di mana dan bagaimana bisa dia berada di sini.


Tapi, apa yang dia ingat terakhir kali, dirinya benar-benar kaget saat Theon dan Rena melakukan tindakan sama halnya suami istri di kamar terlarang. Dan itu membuatnya syok dan ketakutan tentang konsekuensi yang akan mereka berdua dapatkan. Dan setelah itu, dirinya sama sekali tidak mengingat apa-apa.


Aura menatap Theon dengan tatapan yang cukup sinis, seketika dia langsung menampar wajah Theon dengan cukup kasar yang membuat wajahnya sedikit terlempar. Kemudian, dengan nada yang cukup tinggi, Aura berkata, “Kau melakukan tindakan hubungan badan dengan Rena tadi malam! Kau telah melakukan tindakn asusila, apalagi di kamar terlarang! Apakah kau bodoh, pada akhirnya akulah yang menjadi korban!”


“Salah sendiri kau menguping. Ini hubunganku dengan Rena, kau siapa melarang-larang? Lagipula kami melakukan atas dasar cinta. Lagipula Kadita itu benar-benar penakut denganku, jika tidak, maka dia tidak akan menggunakanmu sebagai tameng.” Bantah Theon dengan nada yang cukup rendah. Dia sebenarnya malas untuk berdebat dengan ketua kelas yang menurutnya benar-benar sangat cerewet.


“Tapi kau melakukannya di tempat kramat! Kau membuat ratu laut selatan marah. Memang kau penyihir, tapi jangan sok berani di depan roh!”


Theon yang merasa cukup geram, dia memagang kedua pipi Aura menggunakan satu tangannya, sehingga membuat Aura berhenti berbicara. Theon lagi-lagi membantah, “Jika Kadita tidak tunduk di hadapanku, kau tidak akan bisa berajalan dan menghirup udara segar. Aku katakan, Kadita sudah tunduk di hadapanku!”


Aura terdiam dan tidak berani mengeluarkan kata-kata di depan Theon. Dia mencoba berpikir, jika Theon tidak menundukkan Kadita, maka dirinya akan terus menjadi wadah bagi ratu laut selatan. Tapi, dirinya tidak begitu percaya bahwa Theon menaklukkan ratu laut selatan. Apalagi, ratu selatan benar-benar memiliki sebuah pasukan seharusnya.


.....


Teman-teman Theon benar-benar kaget saat laut tiba-tiba terbelah. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat setelah menunggu lama. Belum lagi, mereka sebelumnya melihat dari kejauhan tentang Theon yang bertarung dengan cukup mengerikan, bahkan sampai-sampai mengeluarkan sebuah kristl es yang cukup besar.


Tapi sekarang, laut terbelah, memperlihatkan Theon dan Aura yang berjalan melewatinya. Dan kembali tertutup setelah Theon berjalan. Aura menangis dan langsung memeluk teman-temannya, dia benar-benar tidak percaya bahwa dirinya mampu untuk hidup setelah dirasuki oleh Kadita yang mana persentase untuk hidup benar-benar rendah.


“Bagaimana? Apakah kalian tidak begitu percaya bahwa Theon mampu untuk membawa kembali Aura?” Rena tersenyum lebar sambil meyakinkan teman-temannya. Awalnya, mereka benar-benar pesimis dan menunggu lama tentang Theon yang tak kunjung kembali. Apalagi mereka melihat sendiri bahwa Aura memegang kekuatan mengerikan yang diberikan oleh Kadita.


Hanya saja, Rolland menggertakkan giginya, dia tidak begitu percaya bahwa ternyata Theon sekuat itu. Dia bahkan bisa merebut kembali Aura yang diambil jasadnya oleh Kadita. Sehingga, dia mempercayai bahwa Theon bukanlah tandingannya. Dia merasa, salah memilih lawan selama ini.