The God in the Modern World

The God in the Modern World
Konsekuensi yang harus diterima



Theon menghela napas lega, dia keluar dari robot Strega setelah membunuh Meridith dan menumbuhkan kembali pepohonan akibat pertarungan yang hebat karenanya. Setidaknya dia harus benar-benar bertanggung jawab.


“Kau benar-benar cukup hebat. Siapa identitasmu sebenarnya?” Tanya Strega yang merasa sangat penasaran. Kemampuan Theon dalam segalanya semacam seperti sebuah dewa paling tinggi, seperti menumbuhkan sebuah pepohonan.


“Terus terang, identitasku sebenarnya adalah putra God of Gods yang pernah kuceritakan.” Jawab Theon mengakuinya. Lagipula tidak ada gunanya untuk terus berbohong.


Hal tersebut membuat Strega antara terkejut dan tidak terkejut. Jika dia seorang dewa atau manusia, wajahnya pasti akan membeku karena tidak menyangka bahwa Theon adalah seorang putra God of Gods atau dewa paling tinggi di alam dewa ini. Sehingga, dengan cukup santai, dia berkata, “Tidak heran, kekuatanmu benar-benar sangat mengerikan.”


Theon tersenyum, dia berjalan ke arah barat, sedikit mengarah ke arah tebing lereng yang tampaknya menghadap langsung ke arah istana Nirwana. Meskipun tampaknya jaraknya benar-benar sangat jauh.


“Theon! akhirnya kau mengalahkannya. Bukankah itu akhirnya ini telah selesai?” Elzebath den Lesha muncul dari persembunyiannya. Meskipun sebenarnya mereka sama sekali tidak berguna, dan menyadari diri bahwa mereka hanyalah sebuah beban.


Apalagi Lesha, yang menutup mulutnya. Kekuatan Theon benar-benar sangat mengerikan. Setidaknya itu akan membuat gunung Floryan akan hancur lebur apabila Theon dan Meridith bertarung secara mati-matian.


Melihat Elzabeth yang menganggap semuanya telah berakhir, Theon hanya tersenyum kecewa. Theon sama sekali belum menceritakan apa konsekuensinya kepada Elzabeth.


"Elizabeth." Theon menghela napas, dia duduk di sebuah tebing dan memperhatikan istana nirwana yang berdiri megah di langit wilayah barat. Rasanya cukup berat, ketika dia mendapatkan sebuah konsekuensi, tapi rasanya apabila dia tidak berkorban, maka alam dewa lah yang akan menjadi korban.


Elizabeth menoleh setelah mendengar Theon memanggilnya seperti itu, sehingga dia berjalan di atas sebuah kemenangan dan duduk di samping Theon.


"Ada beberapa hal yang belum ku sampaikan. Mungkin rasanya berat, tapi aku sebenarnya benar-benar tidak menginginkan kau terseret dalam sebuah konsekuensi ini. Jika kau ingin menyalahkan, maka salahkanlah aku." Kata Theon.


Elizabeth memperhatikan pembicaraan Theon dengan saksama, tampaknya pembicaraan ini benar-benar cukup penting. Bahkan, Lesha dan Strega yang menekuk persendian mereka cukup tertarik dan menghampiri pasangan itu.


"Aku tidak akan menyalahkanmu, meski aku tidak tahu apa konsekuensi yang sebenarnya, tapi selama aku hidup bersamamu itu tidaklah masalah." Elizabeth tersenyum, meski sebenarnya dia ragu apa konsekuensi yang dimaksud oleh Theon. Dia juga memeluk lengan Theon, agar Theon bisa melupakan rasa penatnya.


Theon menghela napas, rasanya cukup berat untuk mengatakannya. Tapi dia harus berterus terang agar Elizabeth sendiri kecewa secara perlahan. "Akibat aku yang membawamu pergi ke masa lalu, itu sudah menyalahi takdir garis waktu. Sebagai seorang dewa mungkin kita tidak terkena sebuah butterfly effect."


"Tidak ada dewa yang menyadari bahwa waktu telah berulang, hanya kita yang menyadarinya yang membuat kita harus menerima sebuah konsekuensi." Theon tetap memandang ke arah istana Nirwana, yang perlahan bersinar karena matahari telah terbit. "Konsekuensi tersebut membuat kita hanya menjadi sebuah avatar dari tubuh utama kita karena tubuh kita yang kekal dari butterfly effect."


Memang, Theon cukup sedih setelah dia mendapatkan sebuah konsekuensi nya. Para dewa yang menyalahi garis waktu, tubuh mereka hanya akan kekal bak seorang dewa sejati dan tidak akan terkena sebuah butterfly effect apabila merubah garis waktu.


Tentu saja hal tersebut membuat Theon tidak bisa menggantikan sosok Theon yang ada di istana Nirwana, begitupun dengan Elizabeth yang tubuhnya kini hanya akan menjadi sebuah avatar.


"Kau cukup cerdas saat mengetahui sebuah konsekuensinya." Lesha duduk di sebelah Theon dan juga tersenyum. "Itulah yang terjadi pada diriku, sebenarnya yang melawan Azazel adalah murni seorang dewi rembulan, tapi dia harus menyalahi aturan garis waktu demi peradaban bumi kembali seperti semula."


Elizabeth yang mendengar hal itu, dia sama sekali tidak begitu keberatan apabila dirinya hanya menjadi sebuah avatar dari sang penitisnya yang tengah melakukan pesta ulang tahun Fang Theon. Lagipula dia cukup senang hidup bersama Theon daripada harus hidup sendirian.


Hal tersebut membuat Theon bisa tersenyum, setidaknya tidak ada sebuah kejanggalan dalam hatinya yang membuat dia sangat sulit untuk menerima konsekuensi. Sehingga, dia juga tidak begitu masalah apabila dia mendapatkan sebuah konsekuensinya.


"Ternyata begitu, itulah mengapa saat merubah keteguhan hati Alzma, kalian tidak menghilang. Karena sejatinya tubuh dewa kekal dari butterfly effect, dan justru akan menciptakan sebuah avatar yang baru." Strega ikut duduk di tebing, melihat bahwa istana Nirwana tampaknya ada sesuatu seperti sebuah pesta.


Theon sedikit pun tertawa, dan melanjutkan ucapannya, "Maafkan aku Strega, karena tidak bisa membuatmu menjadi sang kaisar atau dewa teknologi. Aku bukanlah apa-apa sekarang." 


"Tidak begitu masalah, berpetualang bersama dewa sialan seperti kalian benar-benar cukup menyenangkan. Lagipula God of Gods tidak akan menerimaku menjadi kaisar teknologi." Jawab Strega dengan cukup santai.


"Ayo kita pergi, mungkin menjadi sang pengembara? Jangan ganggu kehidupan penitis kita atau merebut kehidupan mereka." Theon berdiri dari ujung tebing. Berbalik badan dan berniat untuk pergi sejauh mungkin, setidaknya jauh dari kehidupan tubuh utamanya.


Begitupun yang lainnya, mereka tidak terlalu keberatan. Meski Lesha sendiri cukup sedih tentang keadaan Theon dan juga Elizabeth yang tidak kembali menjadi dewa, hanya sekedar menjadi seorang avatar sebagai dampak menyalahi garis waktu.


Mereka berempat pergi, berniat sejauh mungkin dari tempat yang notabene masih dekat dengan istana Nirwana. Theon masih tersenyum, kehidupan yang kini bukan lagi menjadi sosok pangeran istana Nirwana, melainkan hanyalah sosok avatar yang bukanlah apa-apa.


"Tunggu!"


Mereka berempat sedikit mengangkat wajahnya ketika mendengar suara yang agak besar. Sehingga, mereka langsung berbalik badan.


Wajah mereka cukup terkejut saat melihat seseorang yang menggunakan sebuah jubah berwarna putih tengah berdiri di ujung tebing tempat Theon duduk meratapi kenyataan.


Rambut putih yang bukan karena uban, dengan tatapan yang cukup datar, membuat Lesha sendiri mengetahui siapa di hadapannya. Sehingga, dia langsung bertekuk lutut dan sedikit memejamkan matanya. Begitupun dengan Elizabeth yang ada di sebelah Lesha.


"Yang mulia dewa Zeno, kami bertekuk lutut dan memberi sebuah hormat." Kata mereka berdua serentak.


Tidak heran ketika mereka berbalik badan, dan sama sekali tidak menyadari dengan cukup cepat kedatangan Zeno. Karena mereka benar-benar bukanlah tandingan Zeno.


Lesha menatap Theon dan Strega, bahkan dia memberikan sebuah isyarat untuk bertekuk lutut.


Theon menundukkan kepalanya, dia menyadari bahwa dirinya adalah seorang avatar. Sehingga dia sedikit demi sedikit menekuk lututnya.


"Jangan bertekuk lutut Theon." Kata Zeno dengan cukup tegas. "Bukan seperti ini yang ayah harapkan. Tapi bagaimana lagi, meski begitu ayah sendiri menghargai bagaimana caramu menyelesaikan masalah meskipun harus mengorbankan dirimu sendiri."