The God in the Modern World

The God in the Modern World
Malam yang buruk



Pada akhirnya, Theon benar-benar pulang bersama dengan kepala sekolah. Kepulangan mereka kali ini diselipi ketakutan yang begitu luar biasa oleh kepala sekolah. Bagaimana tidak? Dirinya benar-benar menjadi gila ketika duduk di samping buronan keluarga big three. Sebelumnya, Lyu Shui sudah memberitahu Theon, bahwa dirinya menjadi incaran big three.


Hanya saja, wajah Theon dan juga Rena terlihat tidak ada kepanikan sama sekali. Lagipula mereka sebenarnya sudah menduganya bahwa ujung-ujungnya menjadi begini. Keluarga Zuan akan merebut kembali bintang neutronnya dan akan membunuh Theon yang dianggap sebagai sebuah bahaya bagi keluarga Zuan. Dan yang ada dipikirannya, keluarga Zuan pasti meminta bantuan Skelet yang memiliki kekuasaan di Envuella.


Pulang hanya membawa sebuah masalah, itu yang dipikirkan oleh Theon. Bukannya mendapatkan kekuatan elemental seperti apa yang dia ekspetasikan. Hanya bintang neutron, benda berbahaya sebagai wujud nyata yang dia dapatkan. Entah, Theon juga tidak tahu bintang itu berfungsi untuk apa kedepanya.


Sedangkan di sisi lain, Theon juga sedikit senang ketika dia diharuskan untuk menyelesikan sebuah masalah. Barangkali elemennya akan bangkit secara tak terduga. Apalagi Theon kini harus berhadapan dengan keluarga terkuat di New Santara ini. Jadi, siapa tahu elemennya akan bangkit sesuai denganemosinya?


“Kepala sekolah, untuk beberapa hari kedepannya kau tidak perlu dekat denganku dulu. Situasi sedang memanas. Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalahku. Kau tahu sendiri, Jean Skellet juga memiliki urusan denganku, sehingga aku menghadapi dua keluarga sekaligus.” Kata Theon sambil menoleh ke arah bangku seberangnya yang mana di duduki oleh kepala sekolah. Tidak hanya itu saja, Theon juga mengeluarkan sebuah gulungan tanpa diketahui oleh orang-orang dari cincin ruangnya.


Kemudian, Theon memberikan gulungan itu kepada kepala sekolah, yang mana membuat Rena yang duduk sebelah Theon atau di dekat jendela pesawat mengerutkan dahinya. Karena dia bisa melihat bahwa itu adalah gulungan teknik. Yang mana seperti sebuah buku pelajaran apabila diibaratkan dengan sekolah.


Lyu Shui menerimanya dengan senang hati, tapi dia bertanya-tanya kepada Theon, “Ini gulungan apa?”


“Bukalah ketika sampai di rumah nanti. Aku harap kau bisa mempelajariya ketika kondisi sudah aman terkendali.”Kata Theon dengan sedikit lirih. Setidaknya hanya di dengar oleh kepala sekolah atau mungkin Rena pula.


Lyu Shui mengangguk, walaupun sebenarnya dia benar-benar kebingungan tentang gulungan yang dia terima. Hanya saja, dirinya tidak bisa membantah atau bertanya terlalu banyak kepada gurunya.


Theon juga menoleh ke arah Rena dan berkata, “Untukmu, kau bisa pulang atau tinggal di rumahku. Tapi mengenai masalah tadi, aku benar-benar yakin bahwa pamanmu menolak secara kasar. Dia tidak ingin terseret masalah dengan kita. Dan apabila kau tinggal di rumahku, maka itu juga sangat berbahaya. Kau bisa memutuskannya.”Dengan tatapan dinginnya.


“Aku akan tetap tinggal bersamamu, Theon. Siapa tahu aku bisa membantumu. Lagipula ketika aku pulang, maka aku akan ditolak secara mentah-mentah.”


“Baiklah, itu keputusanmu.” Theon mengangguk. “Ini adalah hari selasa, besok kau masuk sekolah atau tidak? Lagipula seharusnya acara berakhir esok, dan surat tidak masuk berlaku sampai kamis.”


“Aku akan mengikuti masa berlaku surat yang dibuat kepala sekolah. Jadi kemungkinan dua hari ke depan aku akan bersantai, lagipula aku benar-benar lelah untuk bersekolah dengan waktu yang benar-benar tidak masuk akal.” Jawab Rena.


Theon sedikit tersenyum, dia juga lelah untuk bersekolah dengan waktu yang sungguh tak masuk akal. Sehingga dirinya berkata, “Aku akan menemanimu.”


......


Malam hari, Theon sudah berada di depan rumahnya yang mana mereka berdua baru saja turun dari taksi yang dipesan oleh kepala sekolah. Sungguh, acara yang menurut Theon begitu sia-sia karena tidak mendapatkan apa-apa selain bola berbahaya serta masalah yang mungkin akan sangat panjang.


Keduanya kemudian beranjak menuju kasur dengan mata yang sudah menahan kantuk. Dan kemudian, Theon yang sudah masuk ke dalam kamar, dirinya langsung merebahkan dirinya di atas kasur empuk dengan guling yang dipeluknya.


Anehnya, Rena yang menahan kantuk, dalam posisi rumah yang gelap, dirinya tidak menyadari bahwa Theon juga di atas kasur. Sehingga, dia langsung tidur di atas kasur, di sebelah Theon.


Beberapa jam kemudian, waktu menunjukkan bahwa kondisi sudah tengah malam. Kiba tiba-tiba keluar dengan gagahnya tanpa seizin Theon. Karena, apa yang terjadi? Beberapa detik kemudian ketika Kiba bangun, kaca kamar Theon tiba-tiba pecah, membuat Theon dan Rena sendiri terkejut, apalagi pecahan kaca itu membuat mengenai Rena yang ada di bawahnya.


“Apa yang terjadi?”


“Sial, aku tidak menyangka. Tuan, dua orang sedang menuju ke sini, satu orang dari kejauhan melancarkan sebuah tembakan senapan berlaras panjang.” Kata Kiba langsung keluar dari jendela kaca Theon yang sudah pecah.


“Akhh!” Pecahan kaca mengenai leher Rena yang membuat Theon benar-benar sangat panik. Apalagi ketika dirinya mendengar bahwa Rena berada di sampingnya. Sehingga, dia langsung menembakkan peluru air ke arah saklar lampu tidurnya.


Seketika kamar menjadi terang, Theon bisa melihat bahwa kaca dengan ukuran jari tangan menancap pada bagian leher Rena yang kemungkinan di akibatkan peluru yang memecahkan kaca. Sedangka kaca jendela sendiri berada di atas kasur Theon.


“Sialan! Siapa yang menganggu pada malam hari. Aku tidak akan memaafkanmu!” Theon bersiaga sambil mencari kain dan menarik kaca dari leher Rena. Setidaknya digunakan agar darah tidak keluar di lantai.


Tapi, siapa yang menyangka, sebuah ledakan terjadi pada pintu kamar Theon yang membuat Theon sendiri benar-benar terkejut. Untung saja ledakan itu tidak terlalu besar yang mana mungkin ledakan tersebut hanyalah granat. Kemudian, dari balik pintu yang hancur, keluar tiga orang yang menggunakan pakaian assassin dengan membawa pedang.


Theon yang melilitkan sebuah kain, dia menggertakkan giginya. Dia tidak memiliki waktu untuk berarung, karena harus memberikan sebuah penanganan kepada Rena yang merintih kesakitan, setidaknya menuju rumah sakit.


“Hei nak, ucapkan selamat tinggal pada dunia fana ini.” Kata seorang assassin yang berjalan perlahan ke arah Theon.


Theon selesai membalut kain dari leher Rena. Wajahnya begitu sinis, memandang para assassin itu dengan penuh kebencian. Dia berpikir, jika dirinya meloncat dari jendela dengan membawa Rena, maka mereka pasti akan melepaskan tembakan, yang mana senapannya berada di punggung mereka. sedangkan Kiba sendiri sedang mengurus penembak yang ada di luar rumah. Tidak ada cara lain selain meninggalkan Beast dan membawa Rena pergi.


Sambil menggendong Rena yang kesakitan, Theon mengulurkan tangannya. Dia belum memberi aba-aba kepada ketiga beastnya yang akan mengamuk. Namun, para assassin itu seudah bergerak untuk menghabisi Theon dan Rena.


“Duarr!”