The God in the Modern World

The God in the Modern World
Orang tua Theon Alzma



“Selamat ulang tahun Theon!” Wanita itu memeluk Theon dari belakang selepas membelainya secara lembut. Bahkan dia juga mencium Theon secara berulang kali yang membuat Theon secara otomatis tersenyum dan meneteskan air mata seolah berganti hati menjadi Theon Alzma asli.


Padahal, mereka berdua bukanlah siapa-siapa bagi Fang Theon. Tapi entah kenapa dia terbawa sebuah perasaan dan mendapatkan sebuah pelukan hangat. Sehingga, dia berbalik badan dan menggapai leher ibu Theon Alzma dan memeluknya sepenuhnya. Lagipula, bagi Theon Alzma sendiri benar-benar cukup lama untuk tidak bertemu orang tua terutama ibunya sendiri.


Sehingga, Fang Theon mengikuti suasana hati yang ditinggalkan oleh Theon Alzma. Mengikuti apa yang selama ini dia inginkan yaitu bertemu orang tuanya. Sehingga ketika bertemu, maka suasana haru juga berada di dalam hati Theon Alzma.


“Hentikan, ibu tercekik. Kau harus meniup kue ulang tahun dari ayahmu.” Ibu Theon sedikit tertawa. Dia berdiri di belakang sofa sambil membalas pelukan Theon meskipun dia berkata bahwa dia tercekik karena pelukan Theon benar-benar sangat kuat. Dan nyatanya, meski dia berkata untuk berhenti, Theon semakin memeluknya dengan cukup erat.


Di pundak ibu Theon, Theon sendiri sebenarnya menangis. Namun sama sekali tidak disadari oleh ibu atau mungkin ayahnya. Jiwa Fang Theon seolah merasakan suasana hati apa yang seharusnya dirasakan oleh Theon Alzma, sehingga dia menangis seperti itu. Akan tetapi, dia mengusap air matanya, dia tidak ingin menunjukkan kesedihan kepada ibunya.


Hingga, dia melepaskan pelukan, menepukkan kedua tangannya dan berbalik badan. Melihat seorang pria dengan jenggot putih pendek yang tengah tersenyum memandangnya. Membawa sebuah kue utuh berwarna coklat dengan nama dan umurnya saat ini.


“Ayo tiuplah, dan berharaplah sesuatu.”


Theon tersenyum, dia meniup lilin sesuai yang diperintahkan oleh ayahnya. Dengan sangat senang, terenyuh, sedih dan lain sebagainya, seolah semua perasaan bercampur di dalam hatinya. Dan, Theon memejamkan matanya untuk membuat sebuah harapan, namun apa yang dia harapkan?


Dia tahu bahwa ini mungkin adalah sebuah ilusi. Kemudian dia juga tahu bahwa berharap bahwa kedua orang tua Theon Alzma terus sehat juga rasanya juga tidak begitu masuk akal. Apa yang harus dia harapkan? Mungkin pikirnya begitu, sehingga dia terlalu memejamkan matanya terlalu lama.


“Tunggu sebentar.” Batin Theon sambil membuka matanya secara tiba-tiba. “Jika ini adalah sebuah latar alam kematian, yang diciptakan oleh kedua orang tua Theon. Mengapa mereka tidak bertemu Theon Alzma? Mereka bisa saja merayakannya di alam kematian.” Theon terpikirkan sesuatu. Masalahnya, dia berharap bahwa Theon Alzma dan kedua keluarganya bahagia di alam kematian.


Tapi nyatanya? Mereka seolah tidak pernah bertemu sama sekali di alam kematian. Yang membuat Theon sebenarnya bertanya-tanya, kemana jiwa Theon Alzma setelah mengalami sebuah kematian?


Namun, dia mencoba berpikiran positif, bahwa sebenarnya memang sebuah ilusi tapi yang menciptakan adalah jiwa Theon Alzma sendiri yang mungkin ingin Fang Theon sebagai jasadnya ingin merasakannya. Jadi mereka berdua bukanlah jiwa kedua orang tua Theon. Sehingga Theon kembali tersenyum di hadapan kedua orang tuanya.


Ibu Theon langsung menyuapkan sebuah potongan kue kepada Theon dengan cukup senang. Yang mana Theon juga menerimanya dengan bahagia pula.


Hal tersebut membuat mereka berbicara, bercanda gurau seolah perayaan yang cukup meriah. Perayaan yang sama sekali Theon Alzma belum pernah merasakannya.


Seolah Theon berdiri di pojokan di dalam tubuhnya. Memperhatikan Theon Alzma mengendalikan tubuhnya untuk merasakan sisa kebahagiaan itu sendiri. Hanya sebuah perumpamaan, nyatanya Fang Theon sendiri yang mengendalikan tubuhnya, namun menggunakan ingatan dan naluri Theon Alzma.


Lagi pula, Fang Theon sendiri juga merasakan sebuah kasih sayang yang cukup. Ayah dan ibunya juga merupakan orang tua yaitu Zeno dan Turse merupakan seseorang yang paling baik baginya. Meskipun, Fang Theon sendiri tersenyum pahit karena benar-benar rindu dengan pelukan mereka.


“Apa yang kau harapkan tadi nak?” Tanya ibu Theon yang kemudian duduk di samping Theon.


“Apakah perlu aku mengatakannya? Sebuah harapan tidak perlu disebarluaskan bukan?”


Theon berkata dengan cukup sedih sambil sedikit menundukkan kepalanya. Namun tidak meninggalkan pandangannya dari potongan kue ke sekian kalinya yang akan dia suapkan kepada Theon. “Ibu hanya berharap, bahwa kau memiliki umur yang panjang. Maafkan ibu karena tidak bisa menemanimu hingga pada saat ini. Kau tidak perlu cemas untuk tinggal sendirian, juga tidak perlu mempunyai sebuah pikiran untuk menjemput ibu dan ayahmu. Tinggallah di dunia dengan sebaik-baiknya.”


“Ayah juga berharap demikian.” Ayah Theon duduk di sebelah Theon. Sehingga bisa dibilang orang tua Theon berada di posisi mengapit Theon di atas sofa. “Kau menyadari bahwa ini mungkin seperti sebuah mimpi. Kami tidak tahu kau sedang apa di dunia ini, tapi untungnya kami sanggup memanggil jiwamu untuk menyampaikan sesuatu kepadamu.”


“Tidak perlu tergesa-gesa untuk meninggalkan dunia. Nikmatilah, kau bisa mencari perempuan, dan menikah, atau mungkin bekerja. Dan sampaikan kepada pamanmu bahwa kami mengucapkan rasa terimakasih yang cukup banyak.” Kata ayah Theon dengan cukup sedih.


Theon sebenarnya berhenti mengunyah kue semenjak tadi. Tatapannya menyadari bahwa sebenarnya ada yang cukup janggal dalam pertemuan dengan mereka. Pikirannya seolah dipenuhi oleh sebuah tanda tanya yang mana dia sendiri juga tidak ingin menanyakannya kepada orang tuanya sendiri.


Tatapan tersebut, justru dianggap sebagai raut sedih oleh kedua orang tua Theon. Sehingga, ibu Theon menangis dan langsung memeluk Theon dari samping sambil berkata. “Maafkan ibu, mungkin ini menjadi sebuah kenyataan yang cukup pahit. Tapi ibu tidak bisa berlama-lama untuk berada di sini. Ibu hanya memberikan sebuah harapan kepadamu tadi sambil mengucapkan ulang tahun untukmu.”


Kesadaran Theon berubah, tatapannya masih kosong menatap laut, dan dirinya masih berada di atas sebuah kapal. Bukan sedih sebenarnya, tapi yang menjadi pertanyaan. “Bagaimana dengan jiwa asli Theon Alzma, dimana dia berada? Mengapa dia tidak berkumpul bersama dengan keluarganya?”


Satu pertanyaan yang membuat Theon sendiri penasaran. Sehingga, dia duduk bersila di atas kapal pesiar, mengambil sikap lotus untuk melakukan sebuah penglihatan jiwa miliknya. Di kala seperti, dia mampu melihat bahwa tidak ada jiwa Theon Alzma yang mungkin masih tersangkut dalam titik terdalam diri Theon. Yang mengartikan, bahwa jiwa Theon Alzma sudah meninggalkan tubuhnya yang ini.


Theon menopang dagunya, namun dia tersentak saat menyadari bahwa kloningan yang ada di Euro menghilang. Mungkin karena terlalu lama menjauh dari tubuh Theon, sehingga mengakibatkan kloningan tersebut dalam waktu tertentu.


Sehingga, terpaksa dia harus menciptakan sebuah kloningan, dan menggerakkannya menuju Euro.