
Beberapa hari kemudian, hasil dari ujian akhir telah muncul dengan sangat cepat. Theon dan Rena, atau lebih tepatnya seluruh teman sekelasnya berada di depan papan pengumuman untuk melihat, apakah diri mereka lulus? Mungkin tidak hanya teman sekelas Theon, melainkan seluruh kelas dua belas berada di sekolahan untuk melihat hasil akhir mereka.
Mungkin ini adalah momen yang sangat mendebarkan, lulus atau tidaknya membuat hampir seluruh siswa tidak bisa berpikir untuk tenang. Sedangkan sisanya, mereka cukup tenang karena mereka sendiri yakin, atau ada orang berpengaruh seperti Rolland yang sudah dipastikan lulus atau yang terjadi para guru akan mendapatkan sesuatu yang buruk.
Sedangkan Theon sendiri? Dia benar-benar sangat tenang dan tidak peduli apakah dirinya akan lulus atau tidak, meskipun dia ada kepala sekolah sebagai orang dalamnya. Selain itu, dia juga tak belajar sebelum ujian dan hanya mengandalkan Azure yang memiliki kemampuan berpikir yang cukup cerdas, meskipun berasal dari dunia yang berbeda sekalipun. Mungkin karena Theon memerintahkan untuk membaca apa yang diingat Theon Alzma sebelumnya.
“Aku berada di peringkat terakhir dalam satu angkatan? Bodoh sekali kau Theon Alzma.” Theon menghela napas sambil memperhatikan papan pengumuman dengan cukup malas. Bagaimana tidak? Dari ratusan siswa yang tercantum lulus, Theon berada di peringkat terakhir, bahkan jauh lebih buruk dibandingkan dengan Rolland. Padahal bisa dibilang, dalam ujian, Theon mesti berada di peringkat teratas, tapi siapa yang menyangka semenjak Fang Theon menggantikannya, peringkatnya merosot drastis.
Tidak umum, mungkin sangat wajar apabila peringkat paling bawah dalam satu kelas. Tapi ini satu angkatan yang membuat Theon menjadi pusat perhatian dalam teman sekelasnya.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu. Yang penting aku lulus kan? Aku diajak menuju pantai selatan kan?”
“Memang, tapi bisa-bisanya peringkatmu berada di bawah Rolland. Aku serius Theon, semenjak kau kembali dari rumah sakit akibat perbuatan Rolland dan teman-temannya. Kau berubah, sikapmu jauh lebih wibawa, tapi kemampuan otakmu jadi menurun.” Ketua kelas Aura mengangkat dahinya. Semenjak tiga bulan yang lalu, Theon memiliki sikap yang sangat aneh. Terlebih lagi, dia baru menyadari bahwa Theon juga memiliki sihir tiga hari yang lalu. Hanya saja, dia tidak berani menceritakan ke teman sekelasnya karena apa yang dia takutkan Theon akan mengeluarkan sihirnya.
Rena menepuk pundak Theon, “Aku pernah membaca novel bahwa tokoh utama selalu memiliki semua yang mereka miliki secara tidak masuk akal. Seperti kecerdasan, kekuatan di luar nalar. Anda bukan tokoh utama dalam sebuah cerita, semua manusia memiliki kelemahan.”
“Lagipula aku tidak begitu peduli. Persiapkan dirimu, kita akan menghadapi roh yang katanya paling kuat di New Santara.” Bisik Theon mendekatkan mulutnya pada telinga Rena. Agar apa yang dia katakan tidak didengar oleh siswa lain.
Lebih tepatnya, Theon benar-benar bersemangat untuk pergi menuju pantai selatan. Mungkin jika bukan itu tujuannya, Theon benar-benar sangat tidak peduli dengan momen terakhir, kehidupan di sekolah Theon tidak pernah berarti, yang mana hanya dipenuhi sebuah perundungan. Jadi, Theon tidak akan sudi untuk mengikuti momen terakhir.
Lebih tepatnya dirinya ingin menuju pantai selatan adalah ingin menantang ratu laut selatan. Sang penguasa pantai selatan yaitu Kadita. Tapi itu hanyalah sebuah legenda yang beredar dalam masyarakat selatan yang sampai saat ini masih mempercayai hal mistis, apalagi dengan adanya Lord Unknown yang membuat mereka semakin memuja ratu laut selatan, meskipun dalam abad ini, tidak ada bukti bahwa ratu laut selatan memang ada.
Tapi Theon percaya bahwa Kadita atau ratu laut selatan itu memang ada. Dalam dunia dewa, sebelum Theon lahir, kaisar dewa air pernah memiliki roh yaitu bernama rara Kadita. Hanya saja, ayah dan ibunya menghukum kaisar dewa karena melakukan penghianatan. Sedangkan roh nya sendiri, Theon tidak tahu pasti.
Di sisi lain, Theon selain untuk menantangnya dan memacu sebuah emosinya. Dia juga ingin bertanya kepada Kadita, bagaimana dia bisa menuju alam dewa ketika dirinya dipanggil oleh kaisar dewa air itu sendiri sebagai sebuah summoning? Gerbang seperti itu, Theon harus mengetahuinya, karena ketika semua elementalnya bangkit, dia akan mudah untuk memasuki gerbang tanpa mencarinya lagi.
.....
“Jenderal Zurof. Aku sudah mendapatkan salah satu penyihir tanpa Lord Unknown ketahui. Sehingga, dia bisa digunakan untuk menjalankan rencana kita.” Agen Zero atau paman Theon membungkukkan badannya memberikan hormat kepada atasannya.
Jenderal Zurof mengangguk, dirinya bisa melihat dalam balik ruangan yang ada di balik kaca penjara. Seorang penyihir wanita tengah telanjang bulat, yang mana kondisinya benar-benar sangat mengenaskan. Tubuhnya diikat di atas sebuah kursi dengan lehernya yang terdapat sebuah benda yang sangat besar seolah mencekik lehernya. Benda tersebut merupakan sebuah alat dari devisi pemburu penyihir yang digunakan agar kekuatan sihir elemental tidak keluar.
“Aku jadi mengerti, Lord Unknown hanya satu. Dia tidak bisa bertindak seperti tuhan yang bisa memperhatikan setiap orang dalam satu dunia.” Kata Jenderal Zurof sambil tersenyum dengan wajah yang tak begitu biasa. Dalam pikirannya, siapa yang menyangka bahwa tubuh seorang penyihir benar-benar sangat menggemaskan. Sungguh dia sangat menyesali ketika dirinya langsung membunuh penyihir.
“Penyihir, terlanjur tersebar dalam masyarakat luas. Sehingga, kita harus melawan Lord Unknown yang merusak tatanan dunia menggunakan penyihir juga sebagai sebuah senjata. Dalam sebuah penelitian, professor Bihazaed akan mencoba untuk menanamkan sebuah chip ke dalam otaknya. Jika ini berhasil, New Santara akan mendapatkan uang tinggi dari petinggi dunia. Lagipula ini kesalahan kita.” Agen Zero mencoba untuk menjelaskan.
“Petinggi dunia tidak pernah melakukan hal yang seperti ini bukan?” Zurof menyentuh dagunya dan berpikir. Karena jika dipikir-pikir menanamkan chip untuk mengendalikan pikiran orang lain belum pernah mereka lakukan. Begitupun dengan petinggi dunia. Karena, jika mereka memasang chip pada penyihir, mereka gunakan apa? Mereka tidak akan menelan ludah sendiri untuk menunjukkan penyihir kepada khalayak umum.
“Sama sekali belum. Tapi aku adalah profesor yang pertama kali akan melakukannya. Beri aku waktu seminggu, karena aku baru saja menyelesaikan penelitianku kepada binatang yang membutuhkan waktu berbulan-bulan.”
Jenderal Zurof menoleh ke belakang, dirinya bisa melihat seorang pria yang menggunakan pakaian putih bagaikan seorang professor pada umumnya. “Salam kenal tuan Bizahaed. Itu pasti Anda sesuai yang dikatakan oleh Agen Zero tadi.”
“Benar, jadi tidak masalah kan aku menggunakan bilik ini sebagai ruang percobaanku? Jika ini berhasil New Santara akan mendapatkan uang yang cukup tinggi untuk memusnahkan penyihir.”