The God in the Modern World

The God in the Modern World
Berita yang menggemparkan



Keesokan harinya, lebih tepatnya pagi menjelang siang, sebuah berita yang hangat membuat geger besar seluruh kota Agrabinta di Provinsi ini. Bahkan menjadi trending nomor satu di sosial media. Bagaimana tidak? Telah ditemukannya jasad ketua geng Naga Biru secara tidak wajah di bawah puing-puing reruntuhan yang diduga markasnya.


Hal tersebut membuat tidak sedikit orang merasa bahagia, karena geng yang berlagak seperti preman itu pada akhirnya tumbang setelah beberapa tahun menunjukkan kesombongannya dengan membuat onar.


Mungkin orang lain merasa bahagia, terkecuali dengan keluarga Jark lebih tepatnya tuan Yonathan yang tiba-tiba pusing, karena mendengar bahwa geng yang ada di bawah naungannya telah hilang. Tentu saja, banyak perusahaan yang ada di bawah kendali geng Naga Biru seperti sebuah bar, mengalami kehancuran yang membuat Yonathan merasa sangat dirugikan.


Bahkan dia sempat menggenggam erat smartphone nya usai membaca sebuah berita yang membuat tangannya dipenuhi oleh pecahan kaca yang merupakan bekas smartphone itu tadi. Yonathan cukup kesal, karena itu membuat keluarga saingannya mengalahkan dirinya tidak hanya dari segi kekuatan, melainkan dari segi kekuasaan. Karena dia tahu, bahwa orang yang memiliki kekayaan seperti dirinya karena sebuah perusahaan besar, memiliki kekuatan elemental, seperti keluarga Shon dan keluarga Marza.


“Tampaknya, pelakunya adalah seorang elementalist, atau kemungkinan adalah petinggi negara yang merupakan bawahan petinggi dunia? Masalahnya, markasnya benar-benar hancur bagaikan terkena sebuah bom. Sialan! Aku benar-benar tidak bisa berkutik di depan petinggi dunia.” Yonathan merasa sedikit geram.


Tiba-tiba Yonathan teringat sesuatu, yang mana itu adalah sebuah berita yang hanya diketahui oleh para elementalist seperti dirinya. Yang mana itu adalah kesempatan besar untuk menambah keuangannya.


“Aku benar-benar lupa, keluarga terkuat di negara ini mengundang semua elementalist secara rahasia. Karena dia akan membuka gerbang labirin millie mundi dengan hadiah bintang neutron. Aku akan mengirimkan Rolland dan anggota keluarga lainnya yang memiliki umur dibawah 20 tahun. Setidaknya apabila Rolland atau anggota keluarga Jark memenangkannya, maka bintang neutron adalah hadiahnya.”


......


Sama seperti di sekolah, Rolland tampaknya juga bingung mengapa Ernest bisa terbunuh. Padahal, dia adalah pemilik geng terkuat di kota ini. Tentunya, itu membuat sebuah pembicaraan utama di sekolah ini, apalagi di kelas ini ketika istirahat telah tiba.


Theon duduk sambil memakan kedua bekal milik temannya dengan bingung. Bukan bingung tentang kematian Ernest, melainkan seberapa cepat informasi yang menyebar. Padahal, kejadian tersebut tadi malam, tapi siapa yang menyangka bahwa berita tersebut sudah menyebar pagi tadi.


Apabila itu di alam dewa, paling cepat berita tersebut akan menyebar sore nanti. Tidak heran, media tekhnologi melalui smartphone dan televisi membuat berita tersebut sangat mudah untuk menyebar.


“Theon! Theon!” Ali semenjak tadi mencoba untuk memanggil Theon, hanya saja Theon fokus memakan makanan milik Lesha dan Rena yang tampaknya sangat lezat. Sehingga membuat Theon tidak mendengarnya. Namun, karena sebuah pukulan dari Ali, Theon menoleh dan mengangkat alisnya.


“Jujur kepadaku! Apa ini ada hubungannya denganmu? Kau kemarin berada di sana, dan mengenai naga dan ledakan itu, itu benar-benar nyata bukan?” Ali berkata dengan lirih kepada Theon, sehingga teman sekelasnya tidak ada yang mendengarkannya.


“Ali, apa kau pernah dengar kekuatan elemental?” Theon balik bertanya.


“Ooh ayolah, semua orang tahu bahwa sihir seperti itu adalah mitos.”


“Lantas mengapa kau bertanya apakah naga kemarin itu adalah nyata?” Theon melanjutkan makannya.


“Benar juga.” Ali berpikir sejenak, tapi tiba-tiba dia memikirkan hal gila lainnya, “Apa jangan-jangan kau memiliki kekuatan sihir mitos itu?”


“Baiklah jika kau tidak ingin membahas hal tersebut. Tapi aku ingin bertanya, apa kau sudah mendaftar ke perguruan tinggi? hampir dua bulan kita akan ujian kelulusan, wisuda dan lulus. Dan seharusnya kau memiliki tujuan setelah ini.” Ali membahas pembicaraan lain.


“Tidak, mungkin aku akan bekerja.” Theon berkata demikian, sebelum dia melanjutkan ucapan dalam hatinya, “Aku akan pergi menjauh dari dunia ini.”


Mendengar apa yang ditanyakan Ali, Theon penasaran dengan jawaban Rena, sehingga dia menoleh ke kanan dan bertanya kepada Rena dengan sedikit lirih, “Rena, usai lulus, kau bekerja atau kuliah?”


Rena menatap Theon dengan malas sambil menjawab, “Aku memiliki tujuan lain selain bekerja dan kuliah, yaitu mencari seseorang di dunia ini.”


“Sudah kuduga. Kau akan berkata demikian.” Jawab Theon dengan singkat.


“Tunggu, kau mengerti apa yang kau maksud? Seharusnya kau kebingungan karena tidak ada tujuan lain setelah lulus selain kerja dan kuliah.” Protes Rena, namun dengan nada yang cukup rendah.


Tanpa Theon menjawab, seorang guru datang untuk mengajar. Lebih tepatnya ini adalah waktu masuk untuk pelajaran selanjutnya setelah istirahat.


....


Waktu pulang sekolah, Theon melemparkan sepucuk kertas kepad Rena yang masih duduk. Kemudian, dia beranjak pergi danmelirik ke belakang, lebh tepatnya menatap Rena yang membuka sepucuk kertas yang dilipat dengan sangat rapi.


Tentunya, itu membuat Lesha yang melihatnya langsung mengerutkan dahinya, Dia tampak begitu kecewa saat Rena mendapatkan sebuah surart dari Theon. Sedangkan teman sebangku Theon, atau lebih tepatnya Ali, dia hanya bisa tersenyum karena melihat Theon memberikan sepucuk surat kepada Rena.


Rena ingin membuka lipatan surat, dia tampak begitu mengerutkan dahinya karena merasa bodoh dengan surat cinta dari manusia rendahan. Hanya saja, dia tampak begitu penasaran sehinga memilih untuk tetap membuka surat tersebut.


Rena membacanya dengan seksama sambil mengerutkan dahinya. Bagaimana tidak, surat tersebut berisi, “Gedung sekolah utama, lantai tiga, kelas paling ujung. Bisa kau menuju kesana? Ini bukan masalah cinta dari manusia rendahan, karena aku tahu bahwa kita bukan manusia rendahan. Jika kau mengerti, apa yang ku ucapkan membuatmu terkejut kali ini.”


Kalimat dari surat tersebut, membuat Rena membuka mulutnya. Namun, dia tidak mengerti tentang apa yang dituis oleh Theon. Meskipun begitu, Rena langsung memikul tasnya dan langsung beranjak pergi menuju lantai tiga, kelas yang dimaksud oleh Theon.


Ali dan Lesha saling mentatap. Keduanya tergerak hatinya untuk mengikuti kemana Rena pergi. Apalagi wajahnya yang tampak begitu serius yang membuat keduanya begitu penasaran. Apalagi dengan Lesha yang tampak linglung penuh kecewa.


Theon berdiri di dinding kelas, kakinya terangkat sebelah yang mana menempelkan telapak kakinya ke belakang. Dia juga menatap elemen air dan apinya yang berputar di tangan. Sembari melakukan hal membosankan, dirinya membatin, “Bagaimana ayah dan ibu bisa mengirim dia? Aku pikir hanya aku saja yang dilemparkan di dunia ini. tapi syukurlah, setidaknya aku mempunyai teman yang akan membantuku hingga sampai akhir.”