The God in the Modern World

The God in the Modern World
Theon vs Strega



Dikala seperti itu, Theon sempat melihat bahwa punggung Strega mengeluarkan beberapa tembakan yang muncul dan mengarah kepada Theon. Kemudian, Strega sendiri menembakkannya sekarang juga.


Theon yang melihat akan hal itu, dia mengeluarkan kobaran api melalui tangan kirinya. Berharap bisa membakar atau mungkin menghalau tembakan tersebut. Tapi, saat melihat bahwa itu sama sekali tidak bekerja, Theon menghentikan tembakan cahayanya, dan bergerak secepat cahaya sambil menarik Rena.


Sehingga, tembakan laser milik Strega meledak ke arah permukaan aspal hancur. Hingga mengakibatkan kawah yang cukup besar dengan kedalaman yang tidak bisa diukur dengan perkiraan saja.


Di sisi lain, Theon dan Rena sudah berada di sisi samping Strega. Keduanya mengeluarkan elemental khas mereka dari jarak yang cukup dekat. Apalagi mengingat, bahwa Strega tak mungkin untuk bergerak secepat cahaya.


“Kau sebagai robot yang baru lahir, pernahkah kau dipukul dengan kecepatan cahaya?” Kata Theon.


Sebelum Strega menyadarinya sekalipun. Dia sudah terlempar dengan jarak yang cukup jauh. Kemudian, Rena mengikatnya dengan sebuah bayangan yang memungkinkan dia tidak terlempar lebih jauh lagi. Lagi-lagi, Theon bergerak secepat cahaya, memukulkan tangannya pada robot titanium itu dengan pukulan yang cukup kasar.


Strega yang cukup kesal, dia menyatukan tangannya, mengeluarkan tembakan laser ke atas untuk menghancurkan Theon yang menyebalkan.


Theon bergerak secepat cahaya lagi, tapi dia tidak hanya bergerak untuk menghindar. Melainkan melancarkan sebuah tembakan cahaya dari sisi lain. Mungkin, dia sebelumnya membuat Strega membeku terlebih dahulu, ketika dia melayang karena diikat oleh tali kegelapan milik Rena.


Kemudian, barulah Theon menembakkan setitik cahaya yang mana akan semakin membesar ketika semakin menjauh dari tangan Theon. Dia melakukannya dari sisi samping. Sehingga, menghasilkan kilatan cahaya secara vertikal yang membuat Strega sendiri menggertakkan giginya.


Setelah itu, Theon menghela napas lega. Sayangnya, dia memperhatikan bahwa tangan Theon atau mengalami luka lebam karena dia menyadari bahwa logam titanium benar-benar cukup keras. Andai itu logam biasa, mungkin Theon bisa memakluminya, bahkan dia mampu untuk menembus logam biasa apabila memukulnya dalam posisi tangannya terbuka.


“Apa kau tahu berapa suhu api putih Strega? Sekitar 2000 derajat celcius. Sedangkan titik lebur titanium tidak mencapai suhu seperti itu. Kau bisa kubunuh dengan cukup mudah.” Theon mengangkat ujung bibirnya, melihat sebuah kepulan asap yang terjadi karena benturan Strega dengan gedung yang hancur.


Strega muncul kembali dari balik kepulan asap debu. Dia mengulurkan tangannya hingga mengeluarkan sebuah pusaran angin yang cukup kencang. Bahkan angin itu bercampur debu yang mampu untuk menghilangkan pandangan Theon.


Theon membuka tangannya, sehingga angin bersih miliknya menyapu sebuah angin kotor milik Strega. Meski sebenarnya, dia benar-benar cukup tidak menyangka, saat tahu bahwa Strega atau makhluk buatan sekalipun dapat diciptakan untuk mengeluarkan konsep elemental. Dan sayangnya itu adalah buatan, dan bukan alami seperti mengalirkan orka ke seluruh tubuh.


Hanya saja, Strega sudah ada di depan Theon. Yang mana dia menodongkan tangannya tepat di hadapan Theon untuk menembakkan laser kembali dari tangannya.


“Bukk!!”


Suara pukulan terdengar begitu khas, Rena tidak membiarkan hal itu. Dia muncul dan memukul dagu Strega menggunakan tangan yang dilapisi oleh sebuah kegelapan. Karena dia tahu, apabila menggunakan tangan kosong, itu sama saja dia menyakiti dirinya sendiri.


“Api: penyucian.”


Tangan Theon yang sebelumnya terbakar karena jubah apinya. Kini hanya tangannya berubah menjadi api berwarna putih terang. Kemudian, dia bergerak secepat cahaya untuk bergerak ke atas ke arah Strega yang terbang untuk mengendalikan diri.


Theon tidak selemah itu, dia bergerak lagi secepat cahaya untuk berada di hadapan Strega secara langsung. Hingga kemudian, dia mengayunkan tangannya yang mana terkandung sebuah api putih. Yang mana, Theon cukup yakin unsur tersebut mampu untuk melelehkan Strega yang berbahan titanium sekalipun.


Hanya saja, Strega juga tidak terlalu bodoh. Dia merupakan robot yang dibekali kemampuan mengolah data tata cara pertarungan dengan cukup baik. Sehingga dia mengayunkan bidang miring, atau sebuah pedang yang sebelumnya berada di selongsong belakangnya. Hanya saja, Theon sebelumnya benar-benar tidak begitu menyadari bahwa Strega membawa sebuah pedang.


Sehingga, dengan sekali tebasan pedang yang menyala, mengeluarkan sebuah energi non elemental berwarna merah. Yang membuat Theon bukan kepalang dan langsung menghindar. Bahkan, ketika Theon tidak menarik tangannya kembali, kemungkinan terbesar tangannya benar-benar akan terpotong.


Seketika sebuah ledakan kegelapan muncul di hadapan Theon. Bukan berasal dari Strega itu sendiri, melainkan dari Rena yang mengeluarkannya untuk diarahkan kepada Strega.


Rena melakukannya tepat di belakang Strega, sehingga Theon sendiri juga terkena dampaknya. Tapi, Theon sendiri mengolahnya dengan menggunakan unsur cahaya yang dia pantulkan menggunakan unsur kegelapan milik Rena. Sehingga, Strega menerima dua serangan sekaligus.


Theon menghentikan kekuatan cahayanya, menggantinya menggunakan elemen api berwarna putih yang bertujuan untuk melelehkan Strega itu sendiri.


Sayangnya, Strega mengeluarkan gelombang sinar cahaya yang cukup besar. Yang membuat Theon dan juga Rena terlempar sejauh beberapa meter ke belakang.


Dengan begitu cepat, Strega mengarah ke arah Theon, sambil menebaskan pedang menyalanya untuk menghabisi Theon sekarang juga.


Tidak membiarkan sebuah kesempatan, Theon menembakkan bola-bola api putih dari tangannya. Yang mana, kemudian, dia lakukan secara terus menerus.


Siapa berpikir, bahwa ternyata Strega menebasnya dengan cepat menggunakan pedang bercahayanya. Atau lebih tepatnya pedang laser yang mampu untuk menebas segalanya, bahkan bola-bola api berwarna Theon meskipun berwarna putih sekalipun.


Tampaknya itu bukan karena bahan pedang milik Strega yang berasal dari titanium, melainkan dari sebuah laser yang muncul dari pegangan pedang milik Strega. Sehingga, hal tersebut cukup membuat Theon menggertakkan giginya.


“Penyihir sepertimu benar-benar sangat lemah, apalagi jika seorang manusia biasa? Jika tujuanmu adalah untuk memberi paham pedang dan sihir, maka aku berniat menguasai dunia dan menjadikan dunia dipenuhi oleh AI.”


“Sudah ku katakan, aku tidak memberikan sebuah paham tentang pedang dan sihir, aku hanya ingin dunia ini berjalan dengan seimbang antara sains dan sihir itu sendiri. Aku katakan, kau hanyalah sebuah robot kecerdasan buatan generasi ke sekian, generasi pertamamu telah menjadi tumpukan rongsokan untuk memperbaiki generasi selanjutnya.” Kata Theon mencoba untuk menghasut pikirkan Strega.


Di kala mereka bertiga sedang mengalami sebuah pertarungan, sebenarnya mereka tengah berbicara untuk menyelingi pembicaraan mereka. Kemudian, merasa cukup menarik, Theon sendiri berniat untuk membatasi elemen apinya.


“Itulah, aku keluar dari tujuan utamaku, tujuan yang diciptakan oleh Tony. Aku memiliki pemikiran sendiri. Bukankah yang dilakukan manusia adalah membantai seorang penyihir? Aku akan membunuh 7/8 manusia seperti manusia membantai penyihir, hanya saja aku tidak membunuh mereka semua agar mereka  membiarkan memperbaiki kesalahannya dan membantu menciptakan Ai untuk kami.” Balas Strega sambil menebaskan pedangnya secara berulang kali.


Theon merasa cukup menarik, kemudian, dia mengulurkan tangannya untuk memunculkan perisai es karena kekuatan Strega benar-benar cukup kuat. Namun, es yang dia buat masih bisa ditembus oleh Strega. “Lalu, bagaimana jika ternyata manusia tidak memperbaiki kesalahannya?”


“Kau bisa tanya Noah.”