
“Wow pesawat, baru kali ini aku menaiki transportasi terbang seperti ini dalam hidupku.” Theon benar-benar berlagak senang. Bagaimana tidak? Dia benar-benar tidak habis pikir ketika sebuah besi berukuran ratusan ton dapat terbang di udara tanpa menggunakan sebuah sihir. Dan yang menurutnya sangat aneh, dia bisa melihat bahwa pesawat ini tidak mengepakkan sayapnya bagaikan seekor burung di udara.
“Jangan terlihat seperti orang kuno pangeran, kau harus terlihat profesional. Apalagi kepala sekolah memesan kelas bisnis untuk kita. Yang mana setiap tiket berharga hampir sepuluh juta. Dan tentunya, orang-orang yang menaiki pesawat ini berada dari kalangan atas.” Ledek Rena yang duduk di sebelah Theon. Dan tentunya, sebagai orang kaya, Rena memang sering naik turun pesawat. Hanya saja dalam hatinya, dia sebenarnya cukup senang dan heran sama seperti Theon. Karena pada dasarnya, Elzabeth belum pernah menaiki kendaraan seperti ini.
Jika itu mengeluarkan sebuah sayap dari punggung buatan, menurut mereka adalah hal yang sangat mudah. Namun perbedaanya, duduk di pesawat sama sekali tidak membuat mereka menguras tenaga, apalagi justru mereka mendapatkan sebuah kenyamanan berupa sebuah pelayanan.
“Aku tidak peduli, lagipula kau sebenarnya juga tidak habis pikir dengan kendaraan seperti ini. Apa kau tidak berpikir, bagaimana jika di alam dewa membawa teknologi seperti ini?” Tanya Theon.
“Itu tidak mungkin.” Sahut Rena.
Namun, pembicaraan mereka terpecah ketika salah seorang wanita berteriak di kursi belakang Rena. Tentu saja, itu membuat Theon sedikit menaikkan badannya dan melihat apa yang terjadi. Begitupun Rena yang duduk di samping Theon.
Mungkin tidak hanya mereka, melainkan kepala sekolah yang duduk dikursi depannya, serta para penumpang lainnya yang mendadak memfokuskan pandangan mereka ke arah kursi di belakang Rena.
“Ayolah nona pramugari, duduklah di pangkuanku. Hibur aku!” Kata orang yang duduk di belakang Rena sambil memegang pergelangan tangan seorang pramugari yang berusaha untuk memberontak. “Apakah kau lupa, seorang pramugari harus melayani penumpang di pesawatnya. Melayani, secara harafiah.”
Theon berpikir sejenak, mengapa orang-orang hanya diam saja dan tidak ada yang berani untuk membela wanita tersebut? setidaknya seharusnya beberapa pria datang untuk menghajar seseorang yang duduk di kursi belakang Rena. Bahkan, pandangan mereka seolah acuh tak acuh dan memilih seolah-olah tutup telinga dan mata.
Pramugari yang lainnya juga tidak peduli dan memilih untuk diam saja seperti takut. Bahkan mereka hanya membuat para penumpang untuk tetap tenang dan tidak ada sesiapa saja yang ikut campur.
“Tuan, lepaskan aku. Ini sudah berlebihan.” Kata pramugari itu dengan nada suara yang cukup tinggi.
“Ooh ayolah, aku akan melaporkan kepada ayahku, dan bisa saja kau dihentikan dari masakapai penerbangan ini.” Kata pemuda tersebut yang menahan tangan pramugari.
Dari penampilan pemuda tersebut juga cukup mencolok dan terlihat begitu memancarkan aura kengerian. Bagaimana tidak? Pemuda tersebut tampak menggunakan sebuah tindik di salah satu telinganya. Meskipun begitu, penampilan orang tersebut juga tampak seperti preman. Menggunakan setelan jas, dengan wangi harum yang menandakan bahwa pemuda tersebut adalah kalangan atas.
“Putra geng mafia terkuat di pulau kita tinggal. Tidak banyak orang yang tahu, namun orang dari kalangan atas seperti para penumpang mengetahuinya. Jadi, semua orang sebenarnya takut dengan tuan muda di belakang kita.” Rena berbisik kepada Theon yang ada di sampingnya.
“Jangan ikut campur, kembalilah untuk duduk dengan tegak. Satu orang yang menjadi korban bukanlah masalah, daripada kita memicu keributan dan justru satu pesawat yang menjadi korban.”
Rena menggelengkan kepalanya dan menatap Theon dengan sinis, sembari berkata dengan lirih, “Lebih baik tidak ada korban tuan. Dia adalah seorang wanita, aku wanita apakah baik ketika ada seseorang yang melecehkannya?”
“Tidak, kau tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Kau bisa saja terpancing menggunakan elemental, apa kau tidak ingat? Senjata plasma dapat membunuh kita.” Theon meyakinkan Rena dan tetap memegang tangan rena.
Suara wanita itu masih membuat Rena benar-benar terganggu, sehingga dia benar-benar tidak tahan untuk ikut campur. “Jika memang begitu, maka Anda tidak perlu ikut campur. Aku yang akan menyelesaikannya. Maafkan aku, baru kali ini aku membantah perintahmu.”
Theon melepaskan tangan Rena dengan berat, dia tidak bisa berkutik lagi sambil berkata, “Baiklah, kau selesaikan saja. Aku akan diam dan tidak akan ikut campur. Jika satu pesawat yang menjadi korban, kau urus saja.”
Kepala sekolah Lyu hanya diam dan bingung ingin melakukan apa-apa, apalagi setelah melihat Theon dan Rena sedang berdebat. Dirinya juga sadari bahwa dia adalah seorang wanita yang memiliki kemampuan fisik yang jauh lebih lemah. Meskipun dia sebenarnya memiliki kemampuan elemental, namun dia tahu bahwa mengeluarkan elemental di tempat umum bukanlah sesuatu yang bijak.
“Apakah ini akan baik-baik saja?” Tanya Lyu dengan panik.
Namun, belum Theon menjawab pertnyaan kepala sekolah di depannya. Wanita pramugari itu dibanting dengan cukup keras, hingga membuat dia tidak sanggup untuk berdiri lagi. Kemudian, putra geng mafia itu berdiri sambil menginjakkan kakinya di atas paha wanita pramugari tersebut.
“Apa kau tahu siapa aku? Kau mungkin anak baru di maskapai ini. Jadi tidak mengerti siapa yang berdiri di depanmu.” Kata tuan muda geng mafia, Skeleton . Yaah, itulah nama geng terkuat di provinsi yang tempat Theon tinggal.
Beberapa detik kemudian, Rena berdiri sambil mengangkat kakinya, menendang dengan kekuatan penuh ke depan ke arah tuan muda mafia geng Skeleton. Tentu saja itu membuat tuan muda Jean Skelet terkejut karena ada sosok yang berani menyerangnya secara tiba-tiba.
Hanya saja, Jean benar-benar bergerak cepat. Sehingga dia menahan kaki Rena dengan cukup lincah yang membuat dia benar-benar tersenyum lebar. Karena menurutnya, wanita yang ada di depannya benar-benar cari mati.
Theon hanya menggelengkan kepala sambil membatin, “Aku pernah dengar dari ayah, bahwa dia selalu mendapatkan masalah di setiap tempat ketika dia masih remaja.” Sambil melihat Rena yang memutar dirinya dengan lincah, sehingga kaki kirinya juga ikut terangkat dikala Jean menahan kaki kanan Rena.
Hal tersebut membuat kepala Jean tertendang dengan cukup keras, bersamaan dengan Rena yang berdiri tegak sambil membantu pramugari untuk berdiri. Tentu saja, tindakan Rena barusan membuat tontonan yang begitu menarik dari para penumpang pesawat. Apalagi Rena yang membuat marah tuan muda dari keluarga Skelet pemilik mafia geng Sekeleton.