
“Anda hanya perlu belok kanan, dan sudah sampai di markas geng Naga Biru.” Ali menunjukkan arah usai perjalanan yang menurut kepala sekolah cukup jauh. Namun, letaknya masih berada dalam satu kota.
“Bukankah ini hanya pinggiran kota yang berisi gedung tak berpenghuni?” Kepala sekolah mengerutkan dahinya sambil menarik stir mobil ke kanan.
Ali menjelaskan kepada kepala sekolah dan juga Theon, bahwa yang ia tuju merupakan pinggiran kota yang merupakan komplek gedung tak berpenghuni. Bahkan, Theon saja bisa melihat dengan begitu jelas, di samping kanan dan kirinya hanyalah gedung terbengkalai yang kemungkinan ini menjadi tempat transaksi pasar gelap.
“Kepala sekolah, pelankan.” Ali meminta, “Apa kau lihat? Di depan sana ada dua orang pemuda yang duduk membaca koran? Apakah Anda berpikir, mengapa dua orang itu berada di tempat sepi ini?” Sambung Ali.
Theon bisa melihat dengan begitu jelas bahwa di depan gedung berwarna kuning memang ada dua orang yang sedang membaca sebuah koran. Namun, dia berpikir, mengapa orang itu berada di tempat yang suram seperti ini? kemungkinan ada dua, yaitu memang sedang menunggu untuk melakukan transaksi pasar gelap, atau bisa saja dua orang itu menjaga gedung yang ada di belakangnya? Tapi, setelah mendengar apa yang Ali katakan, kemungkinan bahwa dua orang itu memang menjaga
“Bu Lyu, hentikan!” Kata Theon dengan nada yang cukup tinggi setelah dia sudah berada di depan gedung berwarna kuning dengan orang yang sedang membaca koran.
“Apa, tidak? Kepala sekolah, cepat tancap gas. Kita harus pergi dari tempat ini.”
Kepala sekolah merasa bodo dengan apa yang dikatakan oleh Ali, dia menatap Theon dan menarik rem tangannya meskipun wajahnya benar-benar begitu ketakutan. Tentu saja, hal tersebut membuat Ali panik setengah mati karena mobil kepala sekolah yang berhenti membuat dua orang penjaga memalingkan wajahnya ke arah mobil tersebut.
Tanpa menunggu lama, Theon dan kepala sekolah langsung turun dari mobil. Ali benar-benar kaget karena melihat teman dan gurunya yang turun dari mobil. Padahal, tindakan tersebut sangat berbahaya karena akan dicurigai oleh dua orang penjaga tersebut.
Hanya saja, sebelum kepala sekolah menutup pintunya, dia berkata dengan sedikit ragu, “Ali, jika kau mau pulanglah dengan membawa mobilku. Jangan pikirkan kami, karena aku punya Theon.”
Tak ingin ikut campur, Ali langsung melangkah dan duduk di kursi paling depan, kemudian dia memutar kunci mobil yang sebelumnya ditinggalkan oleh kepala sekolah karena dia ingin membiarkan dirinya untuk pergi. Masalahnya, dia benar-benar begitu berat untuk meninggalkan temannya, namun dia tidak bisa memilih pilihan lain selain pergi menggunakan kepala sekolah. Lagipula, Ali juga bisa melihat ke belakang bahwa Theon benar-benar tak peduli ketika dirinya pergi.
.....
“Kenapa kalian berdua ke sini? Aku pikir tidak ada jadwal transaksi gelap di sini.” Kata salah satu dari mereka dengan sinis.
“Ka-kami hanya....” Lyu yang berdiri di belakang Theon kesulitan untuk merangkai kata-kata untuk menjelaskan maksud kedatangannya.
Salah satu dari mereka menyipitkan matanya saat melihat Theon, seolah dia merasa pernah mengetahui wajahnya. Hanya saja, dia benar-benar lupa siapa sosok di depannya. Namun, ketika dia memperhatikan dengan seskama, dia membuka matanya lebar-lebar dan memilih beranjak kursinya untuk masuk ke dalam untuk melaporkannya kepada Ernest.
Merasa terkejut, penjaga lainnya juga tidak bisa tinggal diam, dengan tubuh yang bergetar, mau tidak mau dia langsung menyerang Theon dengan kekuatan fisik. Lagipula, dia tidak memiliki kekuatan elemental untuk menandinginya.
“Kepala sekolah, apa kau hanya diam saja? Setidaknya keluarkan elementalmu.” Theon menoleh ke belakang dengan tatapan sinis. Tidak hanya itu saja, meskipun dia menoleh ke belakang, tangannya benar-benar lincah untuk menghadapi seseorang yang tengah bertarung dengannya.
“Ba-baiklah, guru.” Lyu berkata dengan sedikit gugup sambil mengeluarkan sebuah bola api dari tangan tangannya. Kemudian tanpa ragu, dia langsung melemparkannya secara kaku ke arah seseorang yang melawan Theon.
Theon yang fokus untuk melawannya secara fisik, langsung mengangkat kerah baju orang tersebut agar tidak lari kemana-mana. Sayangnya, kepala sekolah benar-benar amatir karena bola apinya justru mengarah ke arah Theon.
Panik? Tentu saja tidak, Theon hanya memaklumi tindakan kepala sekolah karena masih pemula. Sehingga, dia langsung menangkap bola api milik kepala sekolah dan memukulkannya ke arah jantung seseorang yang dibuatnya tidak bisa lari kemana-mana.
Memang, bola api merupakan pelajaran dasar yang mana semua elementalist akan bisa melakukannya. Karena hal tersebut benar-benar cukup mudah untuk dilakukan, meskipun juga butuh pengarahan, apalagi elemen api yang rawan untuk membahayakan diri sendiri. Apalagi juga melemparkan bola api juga butuh latihan, setidaknya dilakukan secara terus menerus agar tidak meleset seperti kepala sekolah tadi.
Alhasil, tangan Theon benar-benar menembus tubuh orang tersebut, bahkan kepala sekolah bisa melihatnya dengan begitu jelas bahwa tangan Theon memegang sebuah jantung yang sudah matang karena api dengan tangannya yang penuh dengan darah. Kemudian, Theon menarik tangannya kembali dari tubuh orang tersebut dan menjejelakannya ke mulut orang itu.
Tentu, itu membuat kepala sekolah benar-benar merasa ngeri dan ingin muntah. Karena baru kali ini dia melihat secara langsung sebuah pembunuhan secara terang-terangan yang mana kemungkinan dia tidak bisa tidur untuk malam ini.
Tanpa berpikir lama, Theon mengeluarkan sebuah jubah berwarna hitam dari cincin ruangnya. Kemudian, dia melemparkannya ke arah kepala sekolah sambil berkata, “Pakai ini, ini bukan jubah biasa, setidaknya bisa tahan dengan senjata buatan secara penuh, namun bisa mengurangi kerusakan dari serangan elemental secara 50%.”
Lyu benar-benar terkejut sambil menangkap jubah yang dilemparkan oleh Theon. Dia merasa kebingungan, sejak kapan Theon membawa sebuah jubah seperti ini? padahal dia bisa melihat dengan jelas bahwa Theon datang dengan tangan kosong. Sehingga dia benar-benar penasaran dan segera bertanya ke Theon, “Anda, Anda mendapatkannya darimana?”
“Sudahlah, pakai saja.” Kata Theon dengan ucapan yan sedikit datar.
Menuruti apa yang dikatakan Theon, Lyu langsung menggunakan jubah tersebut di tempat. Penampilannya benar-benar tampak seperti seorang Assassin yang begitu keren, meskipun jubah tersebut benar-benar begitu berat. Lyu juga bingung, bagaimana bisa jubah dengan bahan kain ini bisa menahan semua senjata buatan manusia? Padahal, kemungkinan apabila di sayat pisau sekalipun, jubah ini akan sobek.
Theon tidak peduli mengenai kebingungan Lyu, dia langsung masuk ke dalam gedung kosong ini tanpa dipenuhi oleh rasa takut. Mengenai jubah tersebut, sebenarnya itu adalah barang langka yang ada di alam dewa, dia juga sedikit beruntung karena menemukannya di cincin ruang milik ayahnya, sehingga mau tak mau dia harus memberikannya secara sementara kepada Lyu agar keselamatannya benar-benar terjamin.