The God in the Modern World

The God in the Modern World
Kau akan mengerti nanti



“Seharusnya mereka akan datang sebentar lagi, sudah sepuluh menit waktu istirahat berlalu, ku harap dia tidak terlalu sulit untuk melakukan tindakan yang dibenci oleh sekolah.” Theon berbicara dengan dirinya sendiri sembari memperhatikan sebuah jam yang menggantung di dinding.


Selain itu, dia juga memperhatikan sebuah senapan berlaras panjang yang berada di atas meja yang sebelumnya dia bawa. Sungguh, jika aparat mengetahuinya, Theon akan dianggap sebagai seorang kriminal karena membawa benda ilegal tanpa izin. Tentu ketika Theon melihat senapan tersebut, sebuah pernyataan terlintas di pikirannya, apakah bisa apabila menggunakan peluru buatan seperti es yang diciptakan dari unsur elemental?


Hanya saja, ketika Theon ingin mencobanya, sebuah klakson mobil berbunyi, membuat Theon benar-benar terkejut karena tampaknya ada seorang tamu baru datang di luar apa yang dia pikirkan. Sehingga, dengan bergegas, Theon memasukkan kembali senjata api ke dalam cincin ruangnya.


“Pangeran, aku sudah mengecek kamar, tidak ada barang yang hilang. Tampaknya aparat itu kemarin tidak memiliki niat jahat, mungkin karena melihat adanya penyusup yang masuk ke dalam rumah ini, menjadikan dia bergegas untuk melindungi Anda.” Sahut Rena yang baru saja keluar dari kamar Theon.


Memang, semenjak insiden kemarin, Theon benar-benar penasaran tentang siapa aparat yang membantunya? Tentu itu membuat suatu pertanyaan yang membuat dia sendiri benar-benar sangatlah pusing. Kemudian, jika mendengar dari pernyataan Rena bahwa aparat itu tak sengaja melihat penyusup masuk rumah Theon sehingga sebagai pelindung negara dia wajib melakukan hal tersebut.


Tapi anehnya, apa perlu aparat itu berada di sekitar sini sehingga tak sengaja melihat adanya seorang penyusup? Theon tidak memikirkannya terlalu jauh yang menimbulkan prasangka buruk. Karena prasangka buruk tersebut benar-benar tak dibutuhkan karena memang aparat tersebut melindungi Theon.


“Theon! Aku masuk, Lesha mengantarku menuju rumahmu.” Sahut salah seorang yang tiba-tiba membuka pintu rumah Theon dengan tergesa-gesa. Kemudian, Ali yang masuk di susul dengan Lesha pula.


Ketika mereka baru masuk ke dalam rumah Theon, mereka benar-benar terkejut dengan adanya Rena. Apalagi di leher Rena terdapat bekas jahitan operasi yang membuat mereka saling menatap dan kebingungan.


“Rena, apakah kau baru saja melakukan operasi sehingga tidak masuk selama beberapa hari?” Ali berkata dengan penasaran usai melihat leher Rena.


Sedangkan Lesha, dia sungguh kebingungan melebihi Ali. Bagaimana tidak? Festival kemarin dia bisa melihat bahwa Rena tidak memiliki luka apapun, tapi mengapa hari ini Rena bisa memiliki luka bekas operasi? Setidaknya luka operasi akan sembuh beberapa hari.


Rena tidak menjawab, dia hanya melihat Theon yang menyentuh dahinya sambil mengerutkan dahinya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Ali akan mengikut campurkan Lesha, padahal Theon sendiri benar-benar agak kurang suka dengan Lesha itu sendiri.


Tapi mau bagaimana lagi, Theon tidak bisa menyembunyikannya sekarang. Dia menaruh tangannya di bawah meja tanpa diketahui oleh teman-temannya, atau lebih tepatnya apa yang dia lakukan adalah mengeluarkan senjata api yang sempat dia masukkan lagi.


“Theon, mengapa kau memanggil Ali? Aku pikir kau meminta bantuan.” Tanya Lesha kepada Theon.


Tanpa banyak bicara, Theon mengangkat senjata berapi tersebut. Yang mana membuat Ali langsung membuka mulutnya dan menyentuh senjata sniper itu yang ada di atas kedua tangan Theon. Mungkin tidak hanya Ali, Lesha juga sama-sama terkejut karena Theon tiba-tiba memiliki senjata berapi.


“Kau bisa mengambilnya untuk membantuku dalam misi kali ini. Tapi sebelum itu, kau harus melacak nomor ini terlebih dahulu.” Kata Theon sambil melemparkan hp dengan nomor telepon yang tertera di atasnya.


Ali mengerutkan dahinya, dia memang bisa menggunakan sebuah sniper. Tapi dia tahu bahwa itu adalah hal yang ilegal baginya. Sehingga, Ali menolak dengan cukup halus dan tidak menerima apa yang Theon mau. “Maafkan aku Theon, aku tidak bisa menerima senjata sniper ini.”


Rena yang mendengarkan hal itu, dia merogoh sakunya, mengambil sebuah pistol yang kemudian dia lemparkan juga di atas meja ruang tamu. Dengan tatapan yang tajam, Rena berkata, “Beretta, kau ingin memiliki pistol itu bukan? Ayahmu seorang pejabat, dia pasti memiliki pengawal seorang kepolisian, sehingga kau juga pernah diajari untuk tembak menembak.”


Theon mengangkat kakinya dan meletakkan di atas kakinya yang lain, dia ingin tahu bagaimana reaksi Ali ketika mendapatkan tawaran yang menggiurkan seperti itu. Mungkin ini cukup beresiko, tapi Theon sama sekali tidak terlalu memikirkannya karena tujuannya harus tercapai yaitu membunuh pembunuh bayaran itu kembali.


Tentunya, Theon juga bisa melihat bahwa Ali membuka mulutnya lebar-lebar, senjata api pistol yang mana ingin sekali dia pegang setelah memegang senjata sniper. Hal tersebut, membuat hatinya goyah dan segera mengambil handphone dan segera membantu Theon untuk melacak tempatnya.


“Darimana Theon dan kau mendapatkan senjata api seperti itu?” Tanya Lesha yang benar-benar penasaran kepada Rena.


“Apa kau mengingat bahwa kejadian di festival kemarin? Theon memiliki masalah dengan big Three, terutama dengan Jean Skelet yang kemungkinan membuat Jean mengirim beberapa mafia untuk membunuh Theon. Dan seharusnya kau mengerti bagaimana cara Theon mendapatkan senapan sniper tersebut.”


Lesha menatap Rena dengan serius, wajahnya seketika jelek ketika Theon sudah menjadi incaran big three, terutama dengan Jean Skelet. Tidak heran, wilayah kekuasan mafia skeleton berada di pulau Envuella ini. “Aku dengar tuan Luis Zuan juga ingin merebut kembali bintang neutron tersebut, jadi kemungkinan dia memerintahkan Jean untuk membunuh Theon melalui skeleton.” Bisiknya.


“Aku tahu itu, itulah mengapa Theon meminta Ali untuk melacak keberadaan ketua pembunuh bayaran yang mengincar Theon. Yang mana pembunuh bayaran tersebut kemungkinan berasal dari geng Skeleton dibawah naungan keluarga Skelet.”


“Theon, kenapa kau justru ingin menghampiri markas musuh? Itu bukanlah keputusan yang benar. Itu ibarat kau masuk ke dalam kandang singa.” Sahut Lesha usai mendengarkan pernyataan dari Rena, bahkan dari nada suaranya yang cukup tinggi membuat Ali yang mengotak-atik handphone kuno dan smartphone nya mendengarkannya dengan cukup jelas.


Bahkan dia menatap Theon dengan penuh kecurigaan, siapa Theon sebenarnya? Mengapa dirinya bisa memiliki musuh, apalagi musuh yang memiliki markas tentunya merupakan musuh yang cukup besar. “The-theon, sniper ini, kau tidak mencurinya dari markas angkatan darat bukan?” Tanya Ali dengan nada suara yang gugup.


“Itu bukan urusanmu Lesha, kau akan mengerti nanti. Itupun jika kau mau untuk ikut dan tidak menjadi beban. Jika kau memiliki kekuatan, jangan ragu untuk mengeluarkannya. Bukan malah lari dari preman yang mengejarmu.” Sahut Theon menatap Lesha dengan cukup sinis. Bagaimana tidak? Ketika Theon pertama kali muncul di dunia ini, apa yang Theon temui adalah Lesha yang dikejar-kejar oleh geng Naga Biru, padahal bisa dibilang Lesha sendiri memiliki kekuatan elemental.