The God in the Modern World

The God in the Modern World
Temple of Apollo



Temple of Apollo, berada di gunung Parnassos Ellada tengah. Yang mana Theon dan Rena sendiri menuju gunung itu menggunakan sebuah transportasi umum. Selain itu, ketika mereka berdua menuju ke sana, tiket untuk masuk ke dalam kuil benar-benar sangat mahal, setidaknya mencapai jutaan apabila menggunakan mata uang New Santara.


Padahal, di dunia elementalist manusia, kuil menjadi sebuah tempat pemujaan yang tidak dikenakan biaya untuk masuk. Siapa saja boleh memasukinya asalkan tidak ada niat jahat dalam hati mereka. Tapi, siapa yang berpikir bahwa di dunia ini, tempat suci seperti kuil justru menjadi tempat wisata yang dikenakan harga mahal. Itupun kuilnya seakan menjadi bekas reruntuhan.


Kuil Apollo yang mungkin seperti batu bata yang dijejerkan berbentuk persegi panjang, Theon bisa melihatnya dengan begitu jelas. Salah satu sisi kuil juga memiliki 6 pilar yang mungkin menjadi bekas penyangga bahwa kuil ini dulunya menjadi sebuah bekas bangunan. Bangunan yang cukup megah, setidaknya cocok untuk Zeus son itu sendiri.


Di sisi lain, kuil yang Theon dan Rena tempati, benar-benar memiliki pemandangan yang cukup indah. Bagaimana tidak? Kuil tersebut dikeliling sebuah pegunungan. Itulah mengapa Theon baru saja menyinggung bahwa 80% bentang alam Ellada adalah pegunungan. Tidak dapat dipungkiri mengapa kuil ini juga dikelilingi oleh sebuah pegunungan.


Yang menjadi sesuatu yang menarik perhatian, Theon bisa melihat bahwa orang-orang menggunakan smartphone mereka untuk mengambil foto. Berdiri di atas reruntuhan kuil dan fotografer mengambil foto mereka dengan background yang cukup memukau dan memanjakan mata.


Theon menghela napas, tujuan utamanya bukanlah untuk mencari sesasi berwisata. Dia hanya ingin elemental cahayanya bangkit seperti Apollo miliki. Mencoba memejamkan mata dengan merasakan energi yang tersisa pada reruntuhan kuil ini.


Memang nyatanya, Theon dan Rena berada di sini merasakan energi kehidupan yang cukup pekat, menjadikan sebuah ciri bahwa orka elemental cahaya berkumpul di sini benar-benar sangat kental. Bahkan tubuh mereka berdua benar-benar merasa sangat nikmat, merasakan udara yang mengalir di paru-paru dengan darah yang mengalir juga mereka rasakan.


Sensasi ini hanya bisa dirasakan oleh orang seperti Theon dan juga Rena. Karena pada dasarnya, merekalah yang mengetahui apa itu orka, yang menjadi sebuah energi tubuh yang ditransformasikan menjadi elemental. Sedangkan di sini, orka alami yang mungkin karena kuil ini merupakan tempat bersejarah Apollo.


Meski Theon sendiri merasakan energi kehidupan yang merupakan orka alami elemental cahaya, tapi Theon tidak merasakan bahwa dia memiliki elemental cahaya di dalam tubuhnya. Yang mana justru itu membuatnya menghela napas dengan begitu malas, karena apa yang dia lakukan begitu sia-sia.


Tapi, dia mencoba sekali lagi, mencoba merasakan energi kehidupan dari temple of apollo ini, dan menyerapnya untuk dimasukkan ke dalam elemental seed bertipe cahaya yang dia miliki. Atau unsur elemental yang menjadi sebuah ogan intim dalam elementalist. Dan kemudian, dia merubah energi kehidupan menjadi elemental cahaya.


Jika itu elementalist biasa, atau manusia biasa, tidak akan ada orang yang membangkitkan elemental dengan cara apapun kecuali penyegelan elemental seed. Jika dasanya orang tersebut tidak memiliki elemental, sampai ke depannya juga tidak mampu untuk memiliki elemental. Terlebih, aturan di dunia ini bahwa membangkitkan elemental dengan cara manual yaitu latihan dari ayahnya sendiri.


Hanya saja, sebenarnya Theon sendiri memiliki elemental cahaya, dibuktikan bahwa dia memiliki elemental seed cahaya yang menjadi sebuah unsur. Sayangnya, elementalnya menjadi hilang yang terpaksa harus dia bangkitkan. Salah satunya adalah berusaha seperti ini.


“Rena, akh berdirilah di sana. Aku akan memotretmu, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika sudah sampai di sini. Aku gagal membangkitkan elemental cahayaku.”Kata Theon menyerah sambil menghela napas, dia juga mengambil smartphone baru nya untuk mencoba.


“Kau ini bicara apa.” Kata Rena merebut smartphone milik Theon. Kemudian, dia membuka kamera depan. Apa yang dia lakukan adalah mundur sejenak sambil menarik Theon, lalu dia berpose dengan mengangkat dua jarinya dan meletakkannya di samping pipinya sendiri. “Theon, senyum!”


“Akh, jiwamu sama saja seperti Rena Shon. Tapi tampaknya tidak begitu buruk, setidaknya mampu untuk meredakan suasana hati.”Kata Theon sambil tersenyum pula. Karena dengan begitu, hatinya cukup tenang setelah sedikit kesal karena elemental cahayanya sama sekali tidak bangkit.


Hanya saja, kesadarannya seketika berubah secara tiba-tiba. Atau lebih tepatnya, kuil yang sebelumnya merupakan sebuah reruntuhan, kini berubah menjadi sebuah kuil asli yang sama sekali belum runtuh dan menjadi peninggalan sejarah. Bangunan yang cukup megah dengan pilar-pilar berukuran besar menyangga atap tersebut.


Tentu saja, itu membuat Theon membuka matanya lebar-lebar dan melihat sekeliling. Orang-orang yang menjadi wisatawan tadi mendadak menghilang, begitupun dengan Rena. Sehingga, Theon menjadi sedikit kaget dan mengalami kepanikan karena kekasihnya, yaitu Rena sendiri menghilang secara tiba-tiba.


Theon mencoba menghilangkan kepanikan itu, dia berdiri di sebuah bangunan yang mana bangunan dasarnya mirip sekali dengan kuil Apollo yang dia kunjungi pagi tadi. Di sisi lain, Theon juga mendengarkan sebuah senandung musik yang benar-benar sangat merdu. Dia berpikiran, “Mungkinkah ini adalah masa lalu?” cukup yakin, karena selain dewa matahari, Apollo juga merupakan sosok dewa musik dan penyair yang cukup terkenal.


Dia tidak bisa mencari jawaban jika dia hanya berdiri di tempat. Masuk ke dalam bangunan yang mirip sekali seperti sebuah kerajaan kecil harus dia lakukan. Dia sama sekali tidak begitu takut untuk masuk ke dalam meskipun berhadapan dengan dewa sekalipun. Karena pada dasarnya, dirinya adalah seorang dewa pula.


Ketika dia masuk sebuah pintu, bangunan tersebut sangat mirip sekali dengan sebuah aula. Hanya saja, di ujung sana terdapat sebuah singgasana dengan sosok yang duduk meluruskan kakinya sambil memegang sebuah lira. Yaitu alat musik yang berbentuk seperti huruf U dengan beberapa senar di tengahnya.


Kemudian, di sekitar pria yang memegang lira, ada beberapa wanita yang begitu banyak, baik di dekat pria tersebut untuk menghiburnya. Atau mungkin di depan singgasananya sambil duduk dan memandang Theon dengan cukup tajam.


“Sopankah kau masuk ke dalam kuil tuan Apollo, dengan begitu? Selain itu, siapa kau berani-beraninya menginjakkan kakimu di sini.” Kata wanita itu yang membuat semua orang yang ada di sini mengalihkan perhatiannya. Bahkan pria yang duduk di singgasananya yang tampaknya merupakan Apollo.


“Bagaimana bisa aku menuju masa lalu? Apakah ini mimpi?” Theon menepuk pipinya, dia meyakinkan diri bahwa ini bukanlah sebuah mimpi. Sayangnya, dia juga merasakan rasa sakit yang begitu nyata dan dirinya tidak kunjung bangun pada tempat dirinya berada di reruntuhan kuil Apollo.