The God in the Modern World

The God in the Modern World
Apa kabar setelah satu bulan



Beberapa waktu kemudian.


“Theon ....” Rena menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benar menikmati apa yang dilakukan oleh Theon. Pikirannya benar-benar kosong terkecuali hal tersebut.


Theon lelah, dia sudah cukup lama melakukan hal tersebut kepada Rena. Dia merasa, lebih baik melawan semua roh yang ada di bumi ini dibandingkan harus mengurus Rena. Bagaikan seorang final boss yang membuat Theon cukup dibuat kewalahan.


“Aku tidak bisa menahannya Rena, maafkan aku. Ini juga salahmu karena menggagalkanku untuk menahan diri kemarin. Berawal dari memancing Kadita kemarin, tapi justru kebablasan sehingga membuat hal tersebut sesuatu yang candu.” Theon bangkit dari ranjangnya. Dia, benar-benar merasa bersalah melakukan hal demikian kepada Rena. Atau, sebenarnya tidak juga, dia menggarukkan kepalanya dan tersenyum malu tepat di hadapan Rena.


“Bukankah Anda yang memulainya tadi?”


Rena juga ikut berdiri dan menempelkan dadanya tepat pada dada bidang Theon, dia juga mengalungkan tangannya tepat pada leher Theon pula, sehingga kini mereka saling berhadapan dengan wajah yang dipenuhi napsu. Apalagi Rena juga menjulurkan lidahnya seolah haus untuk melakukan hal tersebut lagi.


“Kau benar-benar mengerikan, ku akui kau adalah lawan terkuatku.” Theon menyambar bibir Rena dengan sangat cepat, sehingga dorongan itu membuat tubuh Rena kembali terbaring di atas ranjang dengan ditindih Theon sendiri. Tubuh Theon sendiri merasa cukup geli ketika harus bertempelan dengan kulit Rena yang benar-benar sangat lembut.


Rena memejamkan matanya kembali, menikmati setiap inchi tubuhnya yang diraba Theon. Memang ini kali keduanya, tapi dia sanggup menghilangkan rasa sakit pertama kali menjadi sebuah kenikmatan.


Mereka tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan ketika ada yang memergokinya. Wilayah pantai selatan sudah tidak ada seorangpun kecuali mereka berdua. Hotel serasa miliki mereka berdua untuk menumbuhkan buih-buih cinta. Hotel juga menjadi sebuah batu nisan yang menjadi sebuah pertanda dikuburnya ratusan orang, tapi mereka benar-benar tidak takut terjadi hal-hal diluar nalar. Jika itu manusia biasa, dengan pemikiran kuno mereka, bisa dibilang orang yang melakukan tersebut akan kehilangan sukma.


Namun, seketika suara kenikmatan mereka pecah, ketika smartphone milik Rena berbunyi dering yang begitu keras. Membuat Theon yang merasa benar-benar terganggu tersulut emosi dan ingin membanting smartphone tersebut. Namun, ketika dia memegangnya, telepon itu berasa dalam Roney yang membuat Theon sedikit meredakan emosi.


“Roney, ada apa, jika itu tidak penting maka banting smartphone mu sekarang juga.” Kata Theon sambil mengangkat smartphone itu.


Roney bergetar ketakutan, bisa didengar dari suara telepon bahwa giginya terus berbenturan yang menandakan bahwa dia bergidik. Tapi, dia harus menjawab sekaligus bertanya kepada Theon, “Aku harap Anda tidak menjebakku tuan, gerbang masuk, dan hotel ini benar-benar sepi. Aku juga merasakan seperti sebuah aura kematian.”


Theon terdiam dan ternganga sambil menatap jam dinding yang ada di kamar ini. Begitu terkejutnya, tak terasa dia melakukan hal tersebut bersama Rena sudah berlalu beberapa jam. Apalagi saat ini, Rena berdiri kembali dan memeluk Theon dari depan yang membuat dada Theon berdebar benar-benar sangat kencang karena merasakan sesuatu yang lembut, apalagi Rena membuka suara sensasional dalam keadaan yang tidak tepat.


Tentu hal tersebut membuat Roney juga terdiam dikala dia merasakan ketakutan yang luar biasa berdiri di lobby hotel menyeramkan ini. Menurut pengalamannya, dia tahu apa suara tersebut, suara yang membuatnya menelan ludah secara kasar.


Tapi Theon hanya tersenyum, dia langsung menutup mulut Rena menggunakan telapak tangannya, tapi tetap membiarkan Rena memeluk tubuhnya. Hanya tersenyum malu karena suara Rena sepertinya benar-benar terdengar melalui smartphone yang dia genggam.


“Ba-baik tuan.” Kata Roney menurut sambil menutup teleponnya, dia juga tidak terlalu banyak bicara meskipun dia tahu apa yang dilakukan Theon barusaja.


“Sudah beberapa jam Rena, dan kau .... lagipula kau sama sekali tidak sopan, dikala aku menelepon, jangan keluarkan suara mendesah seperti itu.” Kata Theon sambil mengangkat perlahan dagu Rena dengan cukup lembut. Dan tentunya, sudah cukup untuk hari ini, tak mungkin mereka melanjutkannya ketika Roney datang menuju ke sini.


“Baiklah pange, maksudku Theon.” Kata Rena dengan sedikit malu. Dia benar-benar belum terbiasa mengatakan nama asli Theon terkecuali di hadapan teman-temannya. Di sisi lain, Rena juga cukup senang, karena itu menandakan bahwa dia berhasil menempatkan dirinya di hati Theon setelah bertahun-tahun.


“Segera kenakan pakaianmu. Roney akan datang beberapa menit lagi.”


.....


Kini Roney hanya bergetar ketakutan ketika dihadapkan dengan Theon dan Rena yang tengah duduk tepat di depannya. Apalagi, Theon duduk dengan mengangkat kepalanya, sedangkan Rena sendiri, dia duduk dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki lainnya bak wanita pada umumnya serta menatap sinis Roney.


Kondisi Roney juga membuat Theon sedikit kaget, wajahnya yang setengah diperban hingga menutupi salah satu matanya.Meski dia menggunakan sebuah jaket hitam, tapi Theon bisa melihat dengan jelas bahwa telapak tangan kanan Roney juga diperban yang menandakan bahwa dia mengalami sebuah luka. Meski itu tidak terlalu parah karena faktanya Roney sanggup menuju ke sini dengan mengendarai sebuah mobil.


“Ada kabar setelah satu bulan, dan kenapa penampilanmu berubah seperti ini?” Kata Theon mengerutkan dahinya tanpa menurunkan wajahnya sedikitpun.


“Terus terang tuan, ini akibat aku lari dari pertarungan kala itu. Sebuah gelombang kejut yang dihasilkan oleh ledakan elemen berapi membuat aku mengalami luka bakar pada bagian setengah kepala dan tangan.” Roney berkata dengan penuh ketakutan,  kemudian dia menggelengkan kepala dan melanjutkan ucapannya, “Meskipun begitu, aku sama sekali tidak memiliki dendam dengan kalian. Aku akan membangun kembali Gaia dan mengambil semua propertinya tanpa mengganggu Anda lagi, ku mohon, maafkan aku.” Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


“Jika aku berani macam-macam dengan Anda, sudah dipastikan aku tidak akan datang hari ini. Aku hanya ingin nyawaku aman.” Sambungnya.


Masuk akal menurut Theon, tapi dirinya sedikit kecewa tentang Roney yang bisa dibilang penakut. Kesetiannya tidak layak karena dia lari ketika semua teman-temannya bertarung mati-matian melawan Theon. Meski begitu, jika alur waktu memang begitu, maka hari ini Theon tidak memiliki cara lain, sehingga Theon masih memaklumi apa yang Roney katakan.


“Jika memang begitu, aku memberimu perintah. Kau membangun kembali mafia Gaia di atas perintahmu? Boleh saja, tapi semua masih berada di bawah kendaliku, bagaimana? Kau memang yang mengatur semuanya, tapi ada kalanya kau melakukan suatu hal menunggu perintahku, terkandung kondisi apa yang akan kau hadapi kau paham? Semua properti, perusahaan milik Scott memang sudah kau ambil atas namamu karena tidak ada pewaris lagi. Tapi, kau harus memberikan kepadaku berapapun nominal uang yang ku minta, bahkan jika perlu kau melampirkan semua keuangan.”


Theon terlebih dahulu harus mengambil alih kekuasaan Scott kepada dirinya, karena dia juga harus memiliki jaringan yang begitu luas untuk mencari informasi seperti Gaia yang sanggup untuk membobol informasi yang dirahasiakan sekalipun. Apalagi Roney manusia biasa yang juga mengerti elemental, sehingga tentang informasi rahasia elementalist, militer atau yang lainnya kemungkinan dia mampu. Sebelumnya hanya berniat membuatkan paspor, tapi Theon entah kenapa memiliki pemikiran sampai seperti itu.