The God in the Modern World

The God in the Modern World
Di luar kendali



Hanya saja, Rena sama sekali tidak bertindak, dia cukup penasaran apa yang akan diperbuat oleh Anna? Karena pada dasarnya, tidak mungkin dirinya menyelamatkan pamannya yang benar-benar dia benci. Sehingga, dia hanya memilih untuk diam, meskipun sebenarnya dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Anna.


Akan tetapi, ada beberapa pertanyaan terlintas di pikirannya, tentang bukankah Anna dikabarkan menghilang? Dan dia mendapatkan kabar itu baru saja, dan tidak ada sejam. Namun, siapa yang menyangka bahwa Anna pulang dalam keadaan seperti marah. Itupun marahnya terlalu besar karena rumah milik Rena hancur bagian atapnya. Bagaikan Anna sendiri seperti tidak terkendali dalam mengontrol amarahnya.


“Anna, kau, apa yang kau perbuat.” Tanya Verme dengan merasakan sebuah kesakitan yang luar biasa pada beberapa bagian tubuhnya. Darah menetes di atas permukaan lantai, menandakan bahwa dia mendapatkan sebuah serangan yang tiba-tiba. Wajahnya dipenuhi kebingungan, menatap istrinya yang merintih kesakitan tak berdaya di sudut ruangan. Sedangkan anak-anaknya, tampak begitu jelas, lemah tak berdaya, matanya tertutup samar membuat Verme hampir histeris. Masalahnya hanya satu, ada apa dengan Anna?


Tawa lebar Anna membuat Verme merasa cukup geram, emosi tersulut dengan wajahnya mengeluarkan urat diselingi dengan kulit memerah. Pikirannya benar-benar kacau melihat Anna yang tak kunjung pulang, datang dalam keadaan seperti kerasukan. “Apa yang kau lakukan?” Tanyanya sekali lagi.


“Entahlah, tapi rasanya ini benar-benar cukup menyenangkan.” Anna menyentuh permukaan lantai, matanya masih terfokus pada ayahnya, atau Verme tanpa memiliki rasa bersalah. Pikirannya yang dikendalikan, tapi tak dia sadari, yang membuat dia merasakan sebuah kesenangan pasca melakukan yang seharusnya tak dia perbuat.


Permukaan lantai mengeluarkan naga air, wajahnya tetap sumringah di depan ayahnya ketika dia hendak membunuh ayahnya sendiri. Hanya seolah, dia tidak tahu apakah dirinya sendiri bisa mengendalikan diri dengan sebuah kesadarannya sendiri? Chip buatan manusia merusak sel syarafnya, otaknya sudah seperti komputer yang dikendalikan dalam jarak begitu jauh.


Tak ada sebuah alasan mengapa Anna menyerang dirinya secara tiba-tiba, tapi tak ada lain selain dengan melawan. Ucapan Anna barusan juga membuat Verme tidak begitu percaya bahwa dia adalah Anna atau putrinya sendiri. Terlalu kasar, tidak ada alasan mengapa dia menyerang secara tiba-tiba seperti seorang pencuri yang ditanya mengapa dia mencuri. Sehingga membuat Verme berdiri dan langsung mengeluarkan semburan air untuk melawan naga milik Anna.


Sayangnya naga air milik Anna terlalu kuat, semburan air miliknya pecah ketika naga dengan mulut yang terbuka lebar menerjang air tersebut. Mungkin tak sampai beberapa detik, Verme membuka matanya lebar, seolah tak begitu percaya bahwa naga itu sudah berada di depannya.


Menabrak dirinya hingga dirinya membentur sebuah tembok rumah yang seharusnya milik Rena. Bahkan naga tersebut tak kunjung hilang meskipun terbentur sekalipun. Yang ada, naga itu sedikit menjaga jarak ke atas, kemudian menyerang Verme lagi yang sudah tak begitu berdaya. Sehingga, serangan selanjutnya mampu membuat Verme cukup histeris dengan teriakan yang mampu di dengar Rena.


Tidak ada yang mampu untuk berdiri lagi di rumah ini, terkecuali beberapa penjaga rumah yang masuk dengan membawa sebuah senjata tajam untuk menyerang Anna. Tapi, mereka hanyalah manusia biasa, pun bukan aparat yang juga mampu melawan penyihir. Tubuh mereka terlempar saat Anna berbalik badan, melemparkan tangannya sehingga keluar sebuah bola air untuk menyerang mereka.


Verme berteriak, dia menggenggam tangannya erat-erat ketika dirinya diserang secara membabi-buta. Apa yang dia lakukan adalah mengangkat tangannya ketika melihat naga air yang seolah akan menyeruduknya lagi ke sekian kalinnya.


Sebuah semburan air dengan tekanan cukup tinggi keluar dari tangannya. Tak ada aliran yang pecah lagi karena Verme mengeluarkannya dengan sekuat tenaga. Lebih tepatnya naga air itu hancur, menyisakan sebuah percikan air yang membasahi sekitar. Rasa geram menghiasi hatinya, ia berdiri dan langsung melompat selagi Anna melawan beberapa bawahannya.


Hanya saja, Anna berbalik badan sekaligus meninju perut ayahnya selagi ayahnya sendiri melompat ke arahnya dengan pukulan yang dilapisi dengan elemen air, yang mungkin akan menambahkan sebuah pukulan itu sendiri. Dan Anna juga melakukan hal yang sama, dia memukul perut ayahnya terlebih dahulu dengan sangat cepat tapi dengan teknik yang sama persis.


“A .... Anna” Rintih ibu Anna sambil memeluk putri-putrinya. Memandang Anna dengan rasa tak percaya. Dia bahkan juga mencoba untuk menatap pupil mata Anna, mencoba meyakinkan diri bahwa itu bukanlah putrinya yang dia kenal. Sayangnya, wanita tersebut mirip Anna, dari pelupuk matanya, bentuk wajahnya bahkan juga postur tubuhnya. “Apa yang telah kau perbuat?”


“Ibu, ini sangat menyenangkan. Aku melakukan apa yang ku pikirkan. Anggap saja aku melakukan untuk membalas perbuatan kalian kepada Rena.” Kata Anna yang terasa cukup ambigu. Pernyataan Anna barusan membuat ibunya tidak bisa memikirkannya dengan baik. Tentang mengapa putrinya membela Rena secara tiba-tiba? Padahal, Anna sendiri juga sering merebut semua barang-barang Rena. Itu membuat ibu Anna tidak bisa untuk tidak memikirkannya.


“Heee?” Rena mengangkat alisnya ketika dia menguping dari balk dinding yang menjadi pembatas antara ruang tamu dengan ruang tengah. Dia cukup terkejut saat Anna berkata demikian. Ini merupakan kejanggalan pertama kali kepada Anna sendiri. Seolah pikirannya dikendalikan. “Omongkosong apalagi ini?” Bantah Rena dalam hatinya, dia merasa bahwa Anna bukanlah sudara sepupu yang cukup baik. Semua haknya mungkin sudah direbut mulai dari kamar, koleksi, properti pemberian ayahnya serta yang lainnya. Jika bukan dirinya memiliki tabungan tersembunyi yang berisi ratusan juta, Rena tidak akan mampu pulang pergi menuju kota lain.


“Roney, dimana dia, aku harap dia tidak melakukan tindakan ceroboh seperti mencariku ke dalam sini setelah dia melihat sesuatu mengerikan.” Kata Rena dengan lirih sambil mengirim pesan kepada Roney untuk tidak bertindak bodoh. Dia melakukan itu agar Roney dibunuh dengan cepat, dia masih ingin menggunkan Roney sebagai bidak agar Theon bisa kembali ke alam dewa. Sehingga, apabila dia kehilangan Roney, maka Theon akan kehilangan langkah menuju alam dewa.


Bersamaan dengan hal tersebut, dia mendengar teriakan seorang wanita paruh baya. Rena kembali menatap, memperhatikan ibu Anna tersiksa dengan tangan Anna sendiri. Bahkan dia bisa melihat, bahwa Anna mengulurkan tangannnya tepat di wajah ibunya sendiri. Sehingga, dari jarak yang begitu dekat, Anna langsung mengeluarkan sebuah semburan air dengan kecepatan yang benar-benar sangat drastis. Bahkan bisa dilihat bahwa sudut dinding yang menjadi sandaran ibunya retak.


“Tidaaak!” Verme yang kembali sadar dengan tatapan yang samar berteriak histeris saat Anna menghancurkan kepala ibunya sendiri. Air matanya menetes di antara batu bata yang hancur.


...****************...


“Misi selesai, subyek melakukannya tanpa ada hati nurani yang ikut campur. Itu menandakan bahwa percobaan tuan Bihazaed telah berhasil mengendalikan otak seseorang tanpa orang itu sadari.”


“Bagus, usaha professor Bilhazaed tidak sia-sia tadi malam. Kita akan melakukan pemasangan chip lagi untuk kelinci selanjutnya. Kau tahu sendiri bukan, devisi akan membuat penyihir sebagai senjata untuk melawan penyihir itu sendiri. Sehingga, devisi atas perintah petinggi negara, akan membuat sebuah pasukan khusus yang berisikan penyihir sebagai senjata kita. Apalagi petinggi dunia dalam proses untuk membiayai untuk membangun pasukan khusus ini.” Kata Agen Zero dalam alat komunikasinya.


“Siapa target selanjutnya?” Tanya mata-mata itu yang kini telah berada dari kejauhan dengan tempat yang cukup tinggi, memandang rumah Shon yang terjadi sebuah perisitiwa mengerikan.


Agen Zero mengangkat kedua ujung bibirnya, sembari dia berkata, “Sepupunya, Rena Shon.”