
Pagi hari telah tiba, Theon terbangun dengan penuh semangat meskipun dia bisa mencium bau amis darah secara samar-samar. Kemudian, di dalam dirinya, Theon menatap keempat beastnya yang tertidur pulas dengan gaya khas hewan buas mereka. Selain itu, Theon juga bisa melihat bahwa di mulut Kiba ada bekas darah, yang mana kemungkinan Kiba baru saja membunuh sesuatu.
Theon mengerti, tampaknya apa yang dia pikirkan ternyata benar tentang apa yang dia pikirkan semalam bahwa akan ada sebuah penyusup yang kemungkinan terbesar berasal dari geng Naga Biru. Untung saja, keempat beastnya bekerja dengan cukup baik, seperti tidak membuat keributan terlalu keras sehingga mengganggu tidurnya dan para tetangga. Sehingga apabila itu terjadi, rumah Theon akan benar-benar ramai.
Apa yang harus dia lakukan adalah bersiap untuk sekolah, karena itu memang kewajiban bagi Theon Alzma sebagai seorang siswa. Lagipula apabila itu di alam dewa, Theon juga akan melakukannya di sebuah akademi. Meski sebenarnya di alam dewa, Theon merupakan murid paling muda, karena elemennya muncul lebih cepat dibandingkan teman sebayanya. Sudah tak perlu dipertanyakan lagi, memang dia adalah putra sang penguasa.
....
Seperti biasa, dirinya berangkat terlalu pagi ketika datang menuju ke sekolah, hal itu digunakan agar menghindari kejadian yang tak terduga yang membuatnya harus menanggung keterlambatan. Memang, dirinya bisa meloncat pagar dengan begitu mudah, tapi rasanya itu tidak terlalu etis dan menimbulkan sebuah sanksi yang besar dari dewan guru.
“Selamat pagi, Theon, tampaknya kau benar-benar bersemangat pada senin kali ini.” Sapa Ali yang masuk ke kelas melihat Theon yang duduk di bangkunya.
“Selamat pagi Ali, duduklah, aku ingin berbicara denganmu.” Kata Theon dengan begitu dingin.
Ucapan Theon barusan membuat Ali sedikit bergidik ketakutan, bagaimana tidak? Ali tidak pernah melihat Theon berkata sedingin ini, apalagi perkataan Theon yang memungkinkan bahwa dia benar-benar begitu serius. Meskipun begitu, Ali menghampiri Theon dan penasaran apa yang hendak dibicarakan kepadanya.
“Ada apa, Theon?” Tanya Ali.
“Apa kau tahu markas geng Naga Biru?” Tanya Theon dengan lirih, karena apa yang dia takutkan, teman sekelasnya yang telah datang mendengarnya.
“A-apa maksudmu?” Ali berkata dengan gugup meski sebenarnya dia mengerti apa yang Theon katakan. “Kau tidak bercanda kan? mengapa kau mencari markas gang mengerikan itu?” Sambungnya.
“Oooh ayolah, seharusnya kau mengerti dimana geng Naga itu, cepat katakan kepadaku. Secara, ayahmu adalah pejabat di provinsi ini, seharusnya kau tahu.” Theon sedikit memaksa agar Ali.
“Apa menurutmu ayahku pejabat licik yang menumbangkan lawan politiknya?” Tanya Ali dengan cukup sinis.
Theon menghela napas sebelum dia menjelaskan lebih lanjut kepada Ali, “Bukan begitu, tapi setidaknya kau pernah mendapatkan informasi dari ayahmu, seperti kau tidak boleh menginjakkan kaki di tempat tertentu karena bisa jadi itu adalah markas geng Naga Biru.”
“Sejujurnya iya, aku tahu dimana geng Naga Biru berada. Tapi, memangnya ada perlu apa kau mencari mereka? kau bisa hilang apabila berhadapan dengan salah satu anggotanya.” Ali mengerutkan dahinya dan penasaran mengapa Theon bersikeras mencari markas geng Naga Biru.
Tampaknya apa yang dipikirkan Theon benar, bahwa tidak ada yang tahu bahwa geng Naga Biru berada di bawah keluarga Jark. Karena, jika mereka tahu, Ali pasti sudah tidak berpikir mengapa Theon tampak berurusan dengan geng Naga Biru.
“Bagus, bisa kau mengatakannya?” Theon sedikit tersenyum.
“Jika aku mengatakannya secara terus terang, maka kita tidak bisa, dan kau tidak akan mengerti. Sepulang sekolah, aku akan mengantarkanmu menggunakan mobil pribadiku, agar kau bisa melihatnya secara langsung. Ingat! usai aku menunjukkannya dari luar area markas, maka kau jangan masuk area markas.”
“Mengenai kendaraan, kau tidak perlu khawatir. Kita akan menggunakan mobil milik kepala sekolah.” Theon mengangkat kedua ujung bibirnya di depan Ali.
Ali membuka matanya lebar-laber usai mendengarkan tindakan bodoh yang dikatakan temannya, Theon. Menurutnya, Theon hari ini tampak begitu aneh mulai dari ingin mencari markas geng Naga Biru, serta menggunakan mobil kepala sekolah. “Kau bercanda? Theon, apa kau sedang bermimpi? Menggunakan mobil kepala sekolah? Tampaknya kau sedang ingin mendapatkan sebuah masalah.”
“Tidak, kita tidak akan mencurinya. Intinya, kau akan tahu nanti.”
Beberapa menit kemudian, semua siswa di kelas ini telah datang, tak terkecuali Rena yang seperti biasa menaruh bekal yang di bawa di atas meja Theon, begitu juga dengan Lesha yang tampaknya juga menaruh bekalnya di atas Theon dengan harapan bahwa Theon menghabiskannya.
Siapa yang menyangka, bahwa Rolland juga berangkat sekolah dengan kondisi babak belur seperti habis di hajar. Bahkan wajahnya terdapat luka memar berwarna hitam seolah mendapatkan sebuah pukulan yang beruntun.
Hal tersebut tentunya banyak siswa yang mendekat ke arah Rolland dan bertanya mengapa Rolland bisa seperti itu, hanya saja, Rolland menggeberak meja karena tidak ingin sesiapa mengganggunya. Tampaknya, suasana hatinya pula juga begitu buruk.
Anehnya lagi, Theon dan Rena menyipitkan matanya saat melihat kondiri Rolland kini. Bagaimana tidak? Mereka berdua bisa melihat dengan begitu jelas bahwa kondisi Rolland benar-benar parah, bahkan luka lebamnya juga bertambah. Tidak hanya itu saja, mereka berdua bisa melihat bahwa Rolland terus menerus memegang perut sebelah kiri seperti terkena luka yang cukup fatal.
“Ini aneh, seharusnya Rolland bisa saja mendapatkan surat izin.” Bisik Theon kepada Rena yang dilanda kebingungan pula.
“Aku tahu, selain itu lukanya juga bertambah parah.”
......
“Kepala sekolah.” Panggil Theon kepada kepala sekokah yang duduk membelakanginya.
Beberapa jam Theon belajar, kini telah masuk waktu istirahat. Memang, Theon belum sempat memakan bekal miliki kedua temannya, masalahnya dia harus menemui kepala sekolah karena ada sesuatu yang dia bahas untuk masalah begitu penting.
Selain itu, kondisi kepala sekolah juga benar-benar telah berbeda, yang mana auranya benar-benar netral tanpa adanya sebuah energi panas yang keluar. Kemungkinan, dewan guru juga benar-benar terkejut saat kepala sekolah dalam kondisi yang tak biasa bagi mereka.
“Theon, aku sudah menunggumu setelah kau mengirimkan pesan beberapa menit yang lalu. Jadi, apa maumu?” Kepala sekolah mengerutkan dahinya sambil memutar kursinya.
“Mengenai kemarin, tentang Anda yang memintaku menjadi guruku, aku setuju saja, asalkan....” Theon menutup mintu ruangan kepala sekolah dengan sangat rapat, berharap tidaka ada yang masuk secara tiba-tiba dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Theon. Kemudian, Theon berjalan perlahan ke arah kepala sekolah.
Melihat hal itu, wajah kepala sekolah benar-benar menjadi memerah, kemudian dengan sedikit gugup, kepala sekolah berkata, “A-aku akan menuruti permintaanmu, lagipula aku tidak pernah melakukannya. Tet-tetapi, jangan lakukan di sini, a-aku bisa menyewa kamar hotel.”
Theon langsung duduk di kursi yang disediakan, wajahnya tampak datar saat mendengar kesalahpahaman kepala sekolah yang membuat Theon sendiri juga sedikit salah tingkah. Namun, Theon segera menjelaskannya agar tidak keterusan, “Tidak begitu maksudku, Anda harus berjanji untuk membantuku tentang semua yang ku lakukan. Dan, tentunya kali ini Anda harus ikut aku untuk membantai geng yang katanya terkuat di kota ini.”