
Jean seolah kesulitan untuk bernapas, tubuhnya terdiam membeku seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Bahkan, dia mencoba untuk membakar dirinya lagi. Namun, setiap Theon melambaikan tangannya ke atas, apinya seketika padam. Lagi, dan lagi, keadaan benar-benar mengerikan bagi Jean saat elementalnya tidak ujung keluar.
“Memang kita memiliki kekuatan pengendali elemental, tapi kekuatan kita juga terbatas untuk menggerakkan kekuatan elemental milik lawan. Kita? Tidak, aku salah berbicara, maksudnya kalian semua para manusia rendahan.” Theon berkata dengan cukup dingin, tangan yang dia gunakan untuk menghentikan api di tubuh Jean, dia angkat ke atas tepat pada lampu rumah dengan kabel listrik yang tersambung.
Lampu tersebut seketika pecah, mengeluarkan elemental listrik yang kemudian merambat pada tangan Theon. Mungkin tidak hanya itu saja, bahkan listrik yang ada pada stop kontak juga seolah keluar dan mengalir pada tangan Theon dan berkumpul pada satu titik di atas telapak tangannya. “Aku akui bahwa tindakanku menyombongkan diri, tapi aku bahkan juga bisa menggerakkan elemental alam di bumi ini, kau paham?”
Memang, para elemental meskipun mereka bisa melakukan pengendalian elemental, tetapi kekuatan mereka juga terbatas, kekuatan alam merupakan kekuatan yang mutlak yang tidak dapat di lawan atau dicegah. Seperti sebuah ****** beliung, dengan kekuatan alamnya, para manusia tidak akan bisa untuk mengendalikan ****** beliung dan menggerakannya. Atau mungkin seperti badai berpetir, para elementalist tidak akan bisa menggerakannya atau mungkin menghentikannya.
Sifat kekuatan mutlak dari alam memang tidak bisa dikendalikan oleh para manusia, namun berbeda dengan dewa, dan itupun dewa tertentu seperti God of Gods dan Theon sendiri sebagai putranya. Tidak akan ada orang yang sanggup untuk kekuatan alam yang mengerikan, terkecuali para dewa teratas, yang mana dia disebut sang penguasa elemental.
Theon mengembalian semua listrik itu pada tempatnya, mengakibatkan sebuah listrik yang tidak stabil sehingga membuat pemadaman listrik milik Jean. Dia tidak tahu bagaimana tentang listrik yang ada pada rumah lainnya, secara rumah Jean berada di pinggir hutan sendirian.
“Siapa kau sebenarnya? Tidak mungkin kau mampu untuk mengedalikan elemental seseorang?” Teriak Jean dengan cukup keras, bahkan dia langsung mengayunkan tangannya secara berulang kali yang mengakibatkan kobaran api dan sambaran listrik keluar.
Theon hanya berdiri dan tidak bergerak, semua elemental yang dikeluarkan oleh Jean melesat dan tidak ada yang mengenai Theon. Untung saja, Jean sendiri memiliki elemental api dan petir, yang mana kedua elemental tersebut Theon sudah miliki.
Mendengar suara tangis bayi dari anak tangga, Theon langsung melesat dan melancarkan serangan kesekian kalinya kepada Jean. Hingga membuat semua serangan elemental terhenti, bahkan Jean sendiri dalam posisi tercekik dengan kakinya yang sudah tak lagi menyentuh lantai.
“Ja-jangan bunuh adikku!” Jean merintih kesakitan.
Alih-alih mengasihani, Theon justru membanting kepala Jean di atas permukaan lantai, dengan Theon yang tidak melepaskan tangannya yang tengah mencekik leher Jean.
“Pangeran, aku sudah menemukan adik Jean. Apakah aku bisa membunuhnya agar dia tersiksa secara mental? Lagipula aneh sekali ibunya meninggalkan anak ini di rumah.” Rena menggendong bayi tersebut, dengan slaah satu tangannya sudah berada di depan wajah bayi yang merengek menangis. Kemungkinan, bayi tersebut berumur sekitar satu tahun lebih.
“TIDAAK!” Jean berusaha untuk berteriak, hanya saja lehernya tercekik yang membuat dirinya kesulitan untuk berkata.
Tangan kanan Theon melemparkan pedang tersebut di atas lantai, dia juga langsung merogoh smartphone miliknya dan meletakannya di depan wajah Jean. Kemudian, dengan perkataan kejam, Theon berkata, “Katakan kepada ayahmu, Harry Skelet bahwa semua mafia sudah dibunuh oleh mafia Gaia dibawah perintah Yosef Scott. Bukankah Skelet dan Scott berada dalam kunjungan kerja?”
Jean menurut, dalam kondisi tak bisa bergerak, dia mencoba untuk menggapai smartphone milik Theon. Theon sendiri sedikit melonggarkan cekikannya agar Jean bisa menelepon ayahnya mengenai permasalah ini. Atau, mungkin melepaskan cekikannya, namun pandangannya masih terkunci kepada Jean agar tidak lari kemana-mana.
“Buat sehisteris mungkin, agar ayahmu bisa mempercayainya.”
Jean mengangguk, dengan tangannya yang bergetar sambil menyentuhkan smartphone Theon pada telinganya. Tidak ada pilihan lain, dia menuruti apa yang Theon mau meskipun pada akhirnya ini membuat ayahnya mungkin bisa saja membunuh ayah Starllet. Di sisi lain, nyawa adiknya benar-benar terancam, mengingat bahwa adiknya sudah mendapatkan perlakuan yang benar-benar buruk dari ibunya hanya karena ibunya penganut fanatik feminiz yang enggan menyusui bayinya atas dasar ‘tubuhku urusanku’
“Ayah!” Teriak Jean dalam teleponnya, posisinya dalam kondisi terbaring dengan suara yang menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tersiksa. Apalagi, Theon menginjak organ vital Jean agar keadaan benar-benar histeris.
“Gaia, mafia itu membunuh kami semua atas perintah Yosef Scott.” Ucapnya dengan merintih kesakitan, apalagi suara tangisan bayi yang membuat memperkeruh keadaan.
Pria tua berdasi, dia sedang duduk di kursi meeting, tangannya benar-benar bergetar ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh anaknya, Jean. Dengan jelas, dia juga mendengar adik Jean menangis dengan begitu keras. Tapi, mendengar bahwa itu adalah perintah Scott, tuan Skelet menjatuhkan smartphonenya, membuka matanya dan menatap seorang pria tua beruban yang kebingungan dengan sikap Skelet.
.....
“Bagus, Jean. Tapi sayang sekali, Rena melepaskan kekuatannya sehingga adikmu sudah tidak bergerak lagi.” Theon mengangkat ujung bibirnya, melihat bahwa Rena baru saja melepaskan sebuah kekuatan hingga membunuh adik Jean yang tak berdaya. Tangisan, erangan ala anak bayi sudah tak terdengar, tak terdengar bukan berarti anteng, melainkan Rena baru saja menghancurkan kepala bayi itu bagaikan meremas sebuah gumpalan tanah.
“TIDAAK!” Jean menangis, smartphone milik Theon terjatuh dengan air matanya pula. Bahkan adik yang sebelumnya berada di gendongan Rena jatuh tak berdaya, terbunuh oleh seseorang yang tidak memiliki sikap kemanusiaan. Tidak ada suara tangisan bayi lagi yang terdengar, atau sebagai gantinya, Jean lah yang menangis dengan begitu histeris.
Rena yang biasanya mungkin paling tidak suka hal keji seperti ini, tapi kali ini dia berbeda, dia tahu bahwa melakukan sebuah pembantaian maka dilakukan secara akar-akarnya, bahkan sampai keluarga terlibat namun tidak bersalah? Untuk apa? Karena itu untuk memutus roda balas dendam yang terus menerus berputar.
Bisa dibilang, jika adik Jean dibiarkan untuk hidup, maka besar kemungkinan dia akan tumbuh besar dan berniat untuk balas dendam, dan biasanya sang pembalas dendam memiliki kemampuan yang tidak bisa untuk diremehkan. Sehingga, untuk menghindari kejadian semacam itu, dengan menghilangkan rasa kemanusiannya, Theon harus melakukan hal tersebut.
“Kau kejam, memang sangat sulit untuk menenangkan adik kecil untuk tertidur. Tapi itu masih suatu hal yang kecil dibandingkan dengan menenangkan dan memperkuat segel roh skeleton milikku. Kau, kau akan mati!” Jean menatap Theon dengan begitu tajam.
Theon mengangkat alisnya, dia langsung mengeluarkan sebuah elemental petir dari tangannya untuk segera membunuh Jean, melihat dada Jean muncul tulang rusuk yang sangat besar, bahkan dengan begitu cepat, tulang-tulang yang lainnya juga muncul di luar tubuh Jean.