
π»Berusahalah karena itu pilihanmu, bersabarlah karena itu pengharapanmu, dan berdoalah selalu karena itu sumber jawabanmuπ»
.
.
.
.
Setelah menemani Valeria akhirnya Chloe dan Kevin pamit pulang. Valeria lalu bangun dan pergi ke kamar mandi meski tubuhnya masih lemah tapi ia tak ambil pusing dan tidak meminta bantuan suster.
2 Hari kemudian
2 Hari pun berlalu dengan cepat dan tak terasa lebam di tubuh Valeria sudah agak pudar tidak seperti 2 hari yang lalu.
Dokter Lili yang baru selesai memeriksa Valeria dengan terpaksa mengijinkan Valeria pulang saat ini juga karena Valeria kekuh untuk keluar.
~ Kingdom Apartment ~
Valeria turun dari taksi yang membawanya ke apartemen Kingdom. Sampai disana ia menyuruh anak buahnya membayar ongkos taksi karena dompet dan hpnya waktu itu tertinggal di mobil.
Anak buah Valeria yang menyamar dan berjaga di sekitaran apartemen menunduk saat berpapasan dengan Valeria. Tatapan mata Valeria yang tajam seperti pisau menatap mereka semua dengan tajam.
Valeria melirik ke arah atas dan tersenyum tipis melihat 3 bayangan yang sangat ia kenali. Mereka adalah anak buah bayangan yang khusus melindunginya dari apapun.
Ting................
Lift berbunyi saat sampai di lantai 75 yaitu penthouse Valeria, ia lalu membuka pintu dengan sidik jarinya dan segera masuk ke dalam apartemen. Valeria berlalu menuju ruang kerjanya dan mulai mengutak-atik laptopnya.
"Keluar" ucap Valeria dengan aura yang sangat mengerikan.
Wush........wush..........wush.........
Ketiga pengawal bayangannya sudah berdiri di depan meja kerja Valeria, entah dari mana datangnya mereka hanya mereka saja yang tahu. Ketiganya menelan saliva dengan susah merasakan aura yang keluar dari tubuh Valeria.
"Three pergi ke Italia hancurkan semua usaha si berengsek itu"
"Baik master" ucap eyes three.
"Two bagaimana kedua anak buah gue"
"Keduanya masih dalam pemulihan master" ucap eyes two.
"Hemmm! One bagaimana keadaan di sana?" tanya Valeria dengan tatapan tajam.
"Brangkas rahasia itu sangat ketat di jaga oleh kelompok ******* Abdul Malik master" ucap eyes one.
"Menurut loe apa Juan dan Ares bakal berhasil?" tanya Valeria dengan selidik.
"Menurut saya strategi Juan dan anak buahnya tidak akan berhasil master karena strategi mereka hanya berpusat untuk melumpuhkan musuh master"
"You right" (kamu benar)
Valeria lalu memberi isyarat kepada tiganya untuk pergi, setelah itu dia mengirim pesan kepada Ares untuk segera pulang dan menyuruh Juan untuk jangan bergerak dulu tunggu ia datang baru mereka bergerak.
^^^"Ke apartemen gue" ucap Valeria menelpon Bryan dengan hp yang telah di ambil oleh eyes two dan three.^^^
"Val loe udah di apartemen" teriak Bryan dengan suara tinggi dari seberang.
Valeria memutuskan panggilannya sepihak tak menjawab ucapan Bryan. Ia yakin sebentar lagi Bryan dan lainnya akan segera datang dan tak berapa lama ia mendengar suara langkah kaki dari luar.
Brak..............
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tatapan tajam dan tak ada ekspresi apapun langsung menyambut kedatangan Bryan, Yorla, dan Raksa. Saat mereka masuk ketiganya kaget melihat tubuh Valeria yang penuh lebam.
"Val apa yang terjadi sama loe?" tanya Bryan dengan panik.
"Master apa yang terjadi" ucap Raksa dengan khawatir.
"Hiks hiks......sister apa yang mereka lakukan ke kulit mulus sister.......hiks hiks" ucap Yorla sambil menangis.
Bryan dan Raksa langsung memandang Yorla karena aneh mendengar ucapan Yorla yang bukan khawatir keadaan Valeria tapi malah khawatir dengan kulit Valeria.
"Heh ubur-ubur gagal loe itu emang ngak ada simpati ya sama saudara loe sendiri!" bentak Bryan dengan ketus.
"Diam you kulkas berjalan! Eke ngak bicara sama you" pekik Yorla dengan kesal.
"Emang minta di beri pelajaran nih ubur-ubur gagal" ucap Bryan dengan emosi.
"Ck! dasar kulkas berjalan!"
"Diam!" bentak Valeria dengan suara menggelegar di dalam sana.
Seketika suasana menjadi hening tak ada yang berbicara lagi, Valeria menatap keduanya dengan tatapan tajam seakan ingin menguliti keduanya dan membuang tubuh keduanya menjadi santapan anak-anaknya.
"Sekali lagi loe berdua ribut maka kalian harus menemani Pita dan adik-adiknya" ucap Valeria dengan suara dingin.
Glek.........
Keduanya menelan saliva dengan susah mendengar ucapan Valeria yang tak main-main.
Apa lagi Raksa yang tahu siapa itu Pita berdiri dengan tubuh gemetar membayangkan Bryan dan Yorla yang menemani 5 ekor buaya peliharaan Valeria yang sangat ganas.
"Maaf Val, sister" ucap keduanya dengan serentak
"Heeemmmm"
"Master apa yang terjadi dengan master?" tanya Raksa setelah melihat kondisi sudah lebih baik.
"Tanya sama dua anak buah loe itu" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Loe dari mana Val?" tanya Bryan.
"Rumah sakit"
"Apa" ucap ketiganya dengan kaget.
"Suruh dokter jelek itu periksa gue"
"Oke sister" ucap Yorla dengan cepat.
Yorla langsung menghubungi dokter Lauren dan menyuruhnya datang ke apartemen Valeria. Tak lupa ia juga menunggu dokter Lauren di depan karena hanya beberapa orang saja yang bisa membuka pintu apartemen Valeria.
"Periksa sister" ucap Yorla dengan ketus.
"Baik nona" ucap dokter Lauren.
Yorla tersenyum bahagia mendengar ucapan dokter Lauren sedangkan Bryan dan Raksa memutar malas mata mereka melihat Yorla yang bahagia di panggil nona.
Nih dokter matanya udah buta kali ngak bisa bedakan ubur-ubur gagal, batin Bryan.
Bodoh banget si dokter Lauren mau aja di suruh-suruh ama bencong centil itu, batin Raksa.
Saat memeriksa tubuh Valeria mereka kaget melihat lebam di sekujur tubuhnya bahkan ketiganya meringis melihat lebam dan perban yang di ganti oleh dokter Lauren.
Valeria yang memakai bra sport saja membuat ketiganya bisa melihat dengan jelas tubuh Valeria di penuhi lebam.
"Kerahkan semua anak buah kita buat tangkap semua anak buah kedua tikus itu" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.
"Siapa Val?" tanya Bryan.
Valeria lalu menunjukkan kedua foto orang tadi yang ia bicarakan yaitu Leo dan Arseno. Melihat Arseno emosi Bryan semakin menjadi dan sudah tak sabar membalas semua perbuatan suadara tirinya itu.
"Val biar gue yang urus anak pe****r itu" ucap Bryan dengan emosi.
"Keduanya milik gue" ucap Valeria dengan seringai jahat.
"Oke terserah loe" ucap Bryan pasrah tak membantah.
^^^γ γ γ π π π π γ γ γ^^^
3 Minggu kemudian
Tak terasa susah 3 minggu berlalu saat Valeria berbicara dengan Bryan dan lainnya. Saat ini ia sedang menikmati segelas wine sambil melihat pemandangan jalan California siang ini.
"Cari data mengenai Chloe gadis yang sudah nolong gue waktu itu Bryan" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Oke"
Bryan lalu memberi perintah kepada Andre kepala tim hacker di Black Shadow untuk mencari informasi mengenai chloe.
"Bryan tangkap tikus-tikus itu malam ini gue akan bersenang-seneng dengan mereka" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.
"Tinggal otak dari kejadian waktu itu yang belum ditangkap"
"Heemmm! Suruh Yorla hendel semua kerjaan gue"
"Oke Val" ucap Bryan dengan senang.
Bryan sangat senang karena bisa lepas dari kerjaannya di perusahaan VA Corp. Ia sudah membayangkan bagaimana kesalnya Yorla saat membaca pesan yang ia kirim.
Selamat bersenang-senang dengan berkas-berkas itu ubur-ubur gagal, batin Bryan dengan bahagia.
Malamnya Yorla datang bersama Bryan dengan wajah cemberut pasalnya seharian ini semua pekerjaan Valeria dan Bryan ia yang urus.
Belum lagi pekerjaannya sebagai desainer dan juga pemilik butik ternama dengan brand miliknya sendiri.
"Kenapa tuh bibir manyun gitu kayak bebek" ejek Bryan.
"Ck! You tega sama ekeih" ucap Yorla dengan cemberut.
"Seharusnya loe bersyukur jangan ngeluh. Kan itung-itung loe buat kebaikan sama kakak-kakak loe" ucap Bryan sambil terkekeh.
"Ckkk!" decak Yorla semakin kesal.
Valeria tak memperdulikan keduanya dan sibuk membaca informasi mengenai Chloe. Ia mengerutkan keningnya saat membaca informasi pribadi milik Chloe.
"Ternyata informasi detailnya disembunyikan" ucap Valeria sambil tersenyum misterius.
"Maksud sister apa?" tanya Yorla dengan gaya bicara yang gemulai.
"Gadis yang udah nolong gue adalah istri Xavier Arthur Wesly"
"Wow! Itu hal yang sangat luar biasa" ucap Yorla dengan histeris.
"Heemmm"
"Apa dia musuh kita Val?" tanya Bryan.
"No dia adalah teman gue dan kita akan membantunya" ucap Valeria dengan tulus.
"Dia cantik ya sister" ucap Yorla melihat foto Chloe.
"Heemm! Sangat cantik dan natural"
"Pengen banget ketemu langsung" ucap Yorla tak sabar.
"Besok kita ke mansion Chloe"
"Val sudah waktunya" ucap Bryan.
"Okay let's play with them" (oke ayok bermain dengan mereka) ucap Valeria sambil tersenyum seperti iblis.
Ketiganya lalu pergi menuju tempat Raksa dan anggota Black Shadow di markas mereka. Valeria sudah tidak sabar ingin bermain bersama Leo dan Arseno.
~ Markas C Valeria ~
Mobil yang di kendarai Valeria sudah sampai di markas mereka yang berada di California, letaknya di dalam hutan dan hutan itu adalah hutan pribadi milik Valeria yang ia beli dan tidak ada seorang pun yang di ijinkan masuk ke sana.
Ares yang sudah lebih dulu berada si sana menyambut ketiganya dengan tatapan datar dan dingin. Mata merahnya memindai mereka bertiga apa ada alat pelacak dari musuh mereka atau tidak.
"Good job Ares" (kerja bagus) ucap Valeria menepuk pundak Ares.
"Iya nyonya"
Bryan melihat Ares dengan perasaan iri karena Ares berhasil membawa Leo dan Arseno. Sebenarnya eyes three yang mendapat tugas tersebut tapi ia tidak bisa masuk ke dalam tempat persembunyian Arseno karena keamanannya sangat tinggi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Hanya Areslah yang bisa masuk ke dalam dan meretas semua sistem keamanan mereka. Ares adalah jiplakan Valeria karena semua yang Ares lakukan adalah perintah dari Valeria.
"Bawa mereka" ucap Valeria dengan suara dingin.
Raksa lalu menyuruh anak buahnya membawa Leo, Arseno, dan anak buah mereka yang sudah ditangkap. Arseno yang melihat siapa yang berdiri di depannya menatap mereka dengan tatapan permusuhan.
"Well well look who is this" (wah wah lihat siapa ini) ucap Valeria dengan senyum smirk.
"Berengsek loe ja***g lepasin gue bi**h" teriak Arseno.
Plak.........plak.......plak.....plak........
"Beraninya mulut kotormu menghina masterku" bentak Raksa yang menampar Arseno barusan.
Valeria terkekeh melihat wajah Arseno yang tak bisa menahan rasa perih di kedua pipinya. Valeria lalu memberi isyarat kepada Ares untuk memutar video saat ia dia tangkap oleh anak buah Leo yang di ambil oleh eyes Two.
"Hari ini juga aku akan membunuhmu bangsat!" teriak Bryan dengan emosi.
"Terserah kalian mau apakan mereka semua tapi dua orang ini milik gue" ucap Valeria sambil menunjuk Arseno dan Leo.
"Baik master" ucap Raksa dan semua anak buahnya dengan serentak.
Arghhh...........arrghh.......
Bugh......bugh.......bugh......crash......crash.......
Suara teriakan bersahutan di dalam sana bersama dengan bunyi pukulan dan cambuk. Arseno dan Leo yang melihat anak buah mereka berteriak kesakitan mendadak pucat.
"Raksa jangan lupa beri makan anak-anakku biar mereka tambah besar" ucap Valeria dengan senyum penuh arti.
"Oke master" ucap Raksa sambil menyeringai.
"Sister masih lama ngak acara puncaknya?" tanya Yorla dengan suara gemulai.
Leo yang melihat kekejaman anak buah Valeria kaget tak menyangka jika cara anak buah Valeria seperti pembunuh bawah. Ia berpikir jika Valeria dan Bryan Peterson bukanlah orang sembarang.
"Mau tahu identitas aku" ucap Valeria sambil tersenyum seperti iblis.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Leo yang sudah sangat penasaran.
"Apa kamu tidak lihat lambang di belakang kamu itu" ucap Bryan dengan sinis.
Leo melihat ke belakang dan matanya melotot melihat gambar pencabut nyawa yang memegang sabit di tangannya.
Black Shadow organisasi bawah yang sudah sangat terkenal di dunia bawah tanah karena organisasi itu adalah organisasi yang melayani pencarian informasi apapun dengan tingkat keakuratan data 100%.
Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya tapi organisasi itu paling di takuti karena memiliki pasukan yang tak bisa ditandingi. Dan dikatakan organisasi itu setara dengan Devil Dragon.
"The Queen of Blood" (Ratu berdarah) ucap Leo dengan gemetar.
"Hehehehe.............kamu tahu ya julukan aku" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Queen ampun saya mohon ampun! Tolong bebaskan saya" pinta Leo dengan memohon.
"Hey berengsek kenapa kamu minta ampun sama ja***g itu!" bentak Arseno.
Bugh...........
Satu tendangan tepat di rahang Arseno dari Bryan yang sedari tadi sudah tak tahan ingin menghabisi Arseno tapi di larang Valeria. Ares yang melihat Bryan sudah mulai emosi segera menahannya.
"Kalau loe ngak bisa nahan emosi mending loe keluar!" bentak Valeria dengan tatapan membunuh.
"Sorry Val" ucap Bryan.
Tatapan mata Valeria langsung tertuju ke Leo dan Arseno keduanya duduk dengan tubuh gemetar merasakan aura di sekelilingnya terasa sangat mencekam.
"Kematian mutlak untuk kalian" ucap Valeria dengan tatapan seperti iblis.
βββββ
To be continue...............