
π»Jadilah dirimu sendiri karena orang tidak harus menyukaimu dan kamu tidak harus perduliπ»
.
.
.
.
Semakin lama suasana semakin tambah ramai, para pengunjung saling berbisik melihat Valeria dan Bianca yang sedang berdiri di depan petugas butik dan keamanan.
Belum lagi suara tante Sisil yang semakin memperkeruh suasana, bahkan memprovokasi orang-orang untuk membawa Valeria ke kantor polisi karena kedapatan mencuri.
"Nona kami mohon kerja samanya kalau tidak terpaksa kami membawa nona ke kantor polisi" ucap petugas keamanan.
"Tapi saya ngak salah pak, kalau perlu bapak lihat cctv saja biar tahu kebenarannya" ucap Valeria dengan suara tegas.
Bianca seketika melihat tante Sisil saat mendengar ucapan Valeria mengenai cctv. Ia lupa jika di mall semewah ini pasti semua butik di lengkapi cctv.
Tante Sisil yang mengetahui maksud tatapan Bianca, mengedipkan matanya untuk tidak panik karena masalah cctv sudah di selesaikan oleh orang-orangnya.
Untung ada mas Arga kalau ngak bisa hancur semua rencana aku dan Bianca, batin tante Sisil mengingat nama suaminya.
Sebelum menjalankan rencana mereka tadi, tante Sisil sudah menghubungi suaminya untuk mengurus cctv di dalam butik.
Bahkan ia menghilangkan adegan di bagian Bianca yang sedang memasukkan dompet branded ukuran kecil itu ke dalam tas Valeria.
"Pak udah bawa aja ke kantor polisi" ucap tante Sisil.
Neng kalau ngak punya uang jangan sok-sok belanja di mall dong
Cantik-cantik kok tukang nyuri
Gayanya pakaian bermerek ternyata tukang nyuri ya
Dasar maling
Valeria mendengar semua ucapan penghinaan dari pengunjung mall, tapi ia tetap menampilkan wajah tegas dan santai. Ia tidak mau mempermalukan nama kedua orang tuanya saat ini.
"Pak bawa ke ruang keamanan biar di selesaikan di sana" ucap manajer butik.
"Nona silahkan ikut saya" ucap petugas keamanan.
"Pak jangan bawa saudara saya pak" pinta Bianca dengan memohon.
"Maaf nona tapi sesuai prosedur saudara nona harus kami tahan dan diperiksa mengenai kejadian ini' ucap petugas keamanan.
"Val.............hiks hiks hiks"
"Udah gue ngak apa-apa jangan nangis" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
Valeria lalu di bawa ke ruang keamanan untuk tidak membuat keributan d area mall. Bianca yang melihat Valeria sudah pergi tersenyum penuh kemenangan.
Manajer butik lalu membubarkan para pengunjung yang masih berdiri di depan butik. Tante Sisil lalu berjalan ke arah Bianca sambil tersenyum penuh arti.
"Selanjutnya giliran kamu sayang" ucap tante Sisil.
"Aku ngak sabar lihat kemarahan tante Arinta dan ayah tante" ucap Bianca sambil tersenyum sinis.
"Sebaiknya kamu hubungi mereka sekarang"
"Oke tante"
Bianca lalu menelpon sang ayah terlebih dahulu, ia tahu jika Budi akan sangat marah saat mengetahui masalah ini. Pada dering ke empat barulah panggilannya di jawab.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Halo" ucap Budi dengan suara tegas dari seberang.
^^^"Halo.......hiks hiks.........om" ucap Bianca pura-pura menangis.^^^
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Budi.
^^^"Om.......hiks hiks........Valeria...........hiks hiks"^^^
"Apa yang terjadi dengan Valeria" ucap Budi dengan suara panik.
Ayah kenapa ayah lebih pentingkan Valeria dari pada Bianca. Gue juga anak anak ayah, batin Bianca dengan sedih.
"Halo Bianca kenapa kamu diam saja" bentak budi mengagetkan Bianca.
^^^"Hiks hiks.........itu om.........hiks hiks hiks"^^^
"Omong yang jelas Bianca"
^^^"Valeria kedapatan mencuri di butik om"^^^
"Apa" ucap Budi dengan kaget.
^^^"Valeria sekarang di bawa petugas keamanan ke ruang keamanan om"^^^
"Dimana kalian saat ini"
^^^"Di mall RH om"^^^
Panggilan lalu dimatikan sepihak oleh Budi, Bianca yang melihat panggilannya sudah berakhir sangat membenci Valeria. Lagi-lagi Valeria lebih diutamakan oleh sang ayah dari padanya.
"Gue bakal buat loe kehilangan semuanya Valeria" desis Bianca dengan sorot mata penuh dendam.
Bianca lalu menelpon Arinta untuk memberitahunya tentang Valeria. Pada dering kedua panggilannya langsung di jawab.
"Halo"
^^^"Hiks.....tante........hiks hiks hiks" ucap Bianca pura-pura menangis.^^^
"Bianca kamu kenapa?" tanya Arinta dari seberang.
^^^"Tante Valeria.........hiks hiks hiks"^^^
"Valeria? Ada apa dengannya?"
^^^"Valeria di tangkap tante..........hiks hiks"^^^
"Apa maksud kamu Bianca" ucap Arinta dengan suara tinggi dari seberang.
^^^"Hiks hiks..........Valeria kedapatan mencuri tas di salah satu butik di mall tante"^^^
"Apa" ucap Arinta dengan kaget.
^^^"Sekarang Valeria lagi di ruang keamanan di mall RH tante"^^^
"Kamu temani Valeria disana, tante segera kesana"
^^^"Iya tante"^^^
Bianca lalu mematikan panggilannya dan seketika tawa Bianca dan tante Sisil pecah. Bianca sudah tak sabar ingin melihat bagaimana reaksi kedua orang tua Valeria.
"Kamu memang jago sekali berakting sayang" puji tante Sisil.
"Siapa dulu Bianca gituloh tan" ucap Bianca dengan percaya diri.
"Jadi sebentar lagi ayah sama mama tiri kamu kesini"
"Betul banget tante! Aku udah ngak sabar lihat kemarahan keduanya"
"Tante juga penasaran banget"
"Ya udah tante ikut aja ke ruang keamanan biar kita lihat apa yang bakal terjadi"
"Ide bagus ayok" ajak tante Sisil dengan senang.
"Tante gimana sama cctv di butik"
"Kamu tenang aja semuanya udah di urus sama suami tante"
"Gimana caranya tante kan suami tante ngak ada disini?" tanya Bianca dengan polos.
"Aduh sayang kan suaminya tante itu kaya dan dia salah satu pemegang saham disini, jadi urusan cctv mah kecil" ucap tante Sisil dengan sombong.
"Berarti aku ngak perlu takut dong tante"
"Iya sayang nanti entar kamu lihat aja cctvnya"
"Oke tante"
~ Kusumo Group ~
Setelah mendapat panggilan dari Bianca, suasana di ruangan Budi sangat mencekam. Dion yang baru masuk ke dalam ruangan Budi bergidik ngeri.
"Dion kamu suruh orang kita cari informasi mengenai Valeria di mall RH" ucap Budi dengan tatapan tajam.
"Baik tuan"
"Batalkan semua janjiku hari ini"
"Tapi tuan" ucap Dion yang langsung di potong Budi.
"Kerjakan saja apa yang aku suruh dan 5 menit lagi kita berangkat ke mall RH" bentak Budi dengan suara tinggi.
"Baik tuan" ucap Dion tidak membantah lagi.
Dion segera keluar melaksanakan perintah tuannya. Sampai di luar Dion segera memberitahu sekertaris Budi untuk membatalkan semua janji meeting hari ini, dan membuat jadwal yang baru.
Gini nih nasib asisten tidak bisa membantah ucapan tuannya, batin Dion sambil menghembuskan nafas dengan kasar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Selang 5 menit keduanya lalu segera turun menuju lobby perusahaan. Setelah membuka pintu untuk Budi mereka segera berangkat ke mall RH.
Ting............
Bunyi pesan masuk di hp Dion saat berada di dalam mobil. Seketika wajahnya yang tadi masam berubah menjadi cerah melihat pesan di hpnya dari Ana asisten Arinta.
Kekasihku
"Mas apa kamu juga berangkat ke mall RH?"
^^^"Iya sayang ini lagi sama tuan menuju ke sana, kok kamu tahu mas sedang menuju ke sana?"^^^
"Iya mas aku tahu soalnya aku juga lagi sama nyonya Arinta menuju ke sana"
"Katanya nona Valeria kedapatan mencuri di salah butik di sana mas"
^^^"Apa? Itu ngak mungkin sayang?"^^^
"Aku juga ngak percaya mas tapi itu kata nyonya saat di telpon nona Bianca"
^^^"Biar kita lihat jika sudah sampai di sana"^^^
"Iya mas"
Dion tidak membalas pesan kekasihnya dan mulai berpikir sebenarnya apa yang terjadi. Mana anak buahnya belum memberikan informasi apa-apa mengenai kejadian di mall RH.
"Tuan sepertinya nyonya Arinta juga sedang menuju ke mall RH"
"Siapa yang memberitahu istriku?" tanya Budi dengan heran.
"Kata Ana tadi nona Bianca yang menghubungi nyonya tuan"
"Hemmmm"
~ RH Mall ~
Selang 20 menit mobil Budi sudah sampai di mall RH keduanya segera masuk ke dalan mall, bertepatan dengan Arinta dan Ana yang baru saja sampai.
"Mas" ucap Arinta.
"Kamu juga di hubungi Bianca sayang"
"Iya mas. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Arinta.
"Mas ngak tahu sayang sebaiknya kita masuk saja ke dalam"
"Iya mas"
"Dion kamu tanya dimana ruangan keamanan"
"Baik tuan" ucap Dion.
Dion berjalan lebih dulu menuju salah satu petugas keamanan yang berjaga di depan mall. Setelah itu keempatnya lalu di bawa menuju ke ruang keamanan di lantai 3.
Sampai di lantai 3 ternyata ada Valeria yang sedang duduk di salah kursi dan di depannya ada beberapa petugas keamanan, manajer mall, dan manajer serta pelayan butik.
"Valeria" panggil Arinta.
"Ibu" ucap Valeria dengan kaget.
Ia bingung kenapa kedua orang tuanya bisa ada disini. Padahal ia bisa mengurus hal ini sendiri saja tanpa bantuan ke dua orang tuanya.
Pasti Bianca yang nelpon ayah dan ibu untuk ke sini, batin Valeria.
"Maaf pak apa yang sebenarnya terjadi dengan anak saya" ucap Budi dengan suara tegas.
"Selamat siang tuan dan nyonya Kusumo" ucap manajer mall yang mengenal siapa orang di depannya.
Semuanya yang disana kaget karena tak menyangka kedatangan orang paling di hormati di kota ini. Apa lagi nama Arinta dan Budi yang sudah sering kali masuk majalah bisnis.
"Apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya Arinta.
"Maaf sebelumnya nyonya tapi nona ini kedapatan mencuri dompet keluaran terbaru di butik ZH" ucap Hasan manajer mall.
"Apa itu ngak mungkin? Kalian jangan menuduh anak saya ya!" bentak Arinta dengan suara tinggi.
"Sayang kontrol emosi kamu biar aku yang urus masalah ini" ucap Budi mengelus bahu Arinta dengan pelan.
"Tapi mas"
"Serahkan semuanya pada mas" ucap Budi tegas tanpa bantahan.
"Iya mas" ucap Arinta menurut kemauan suaminya.
"Dion" ucap Budi dengan suara dingin.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Dion yang paham maksud tuannya segera berdiri di depan. Ia yang akan mengurus semua masalah ini, karena ia tahu nona mudanya tidak bersalah.
"Apa ada bukti yang menunjukkan nona muda kami bersalah?" tanya Dion dengan suara dingin.
"Dompet yang di ambil nona itu berada dalam tas miliknya tuan" ucap manajer butik.
"Siapa yang menemukan tas tersebut?" tanya Dion.
"Saya tuan" ucap petugas butik.
"Bisa anda ceritakan kronologinya"
Petugas butik lalu menceritakan kronologinya dan juga petugas keamanan yang menghalangi Valeria dan Bianca saat ingin keluar. Semuanya diam mendengar penjelasan dari petugas keamanan dan juga petugas butik.
"Nona muda apa anda bisa jelaskan kronologinya juga" pinta Dion.
"Valeria ngak tahu bagaimana dompet itu bisa ada di dalam tas Valeria om. Setahu Valeria tadi Valeria hanya berkeliling saja lalu mencoba beberapa baju bersama Bianca om" ucap Valeria.
"Apa benar nona Bianca?" tanya Dion.
"Benar om tapi tadi pas masuk aku sama Valeria berpencar mencari apa yang mau di beli lalu aku ikut memberikan beberapa potong pakaian ke Valeria untuk mencobanya om" ucap Bianca.
"Maaf tuan Hasan apa saya bisa melihat cctv di butik ZH" ucap Dion.
"Bisa tuan Dion" ucap Hasan.
Selang beberapa saat salah satu petugas keamanan membawa laptop berisi cctv di butik. Semuanya menonton rekaman cctv Valeria dan Bianca dari awal masuk hingga keluar.
Semuanya kaget bukan main melihat rekaman cctv saat ini. Bahkan Valeria juga kaget karena saat ia melihat-lihat butik ia berjalan ke arah dompet dan ia juga sempat memegang dompet yang tadi ada di dalam tasnya.
Valeria lebih kaget lagi saat ia berjalan ke arah lain, dompet yang di pegangnya ikut menghilang. Wajah Budi dan Arinta seketika merah padam menandakan saat ini mereka sangat emosi.
"Ibu, ayah Valeria bersumpah Valeria ngak nyuri dompet itu" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Valeria kamu sudah membuat ibu dan ayah malu" ucap Arinta sambil menatap tajam anaknya.
"Valeria bersumpah bu itu bukan Valeria" ucap Valeria.
"Maaf nona tapi di cctv sudah jelas bahwa dompet itu hilang saat anda beranjak dari sana" ucap manajer butik.
"Tapi saya memang ngak nyuri dompet itu pak" bantah Valeria.
"Valeria minta maaf sekarang" ucap Budi dengan suara dingin.
"Ngak ayah sampai kapan pun Valeria ngak minta maaf karena Valeria ngak salah" tegas Valeria dengan suara dingin.
"Valeria" desis Budi dengan rahang mengeras menatap Valeria.
Valeria bergidik ngeri melihat kemarahan di wajah sang ayah saat ini. Bianca dan tante Sisil yang dari tadi melihat tersenyum bahagia karena rencana mereka berhasil.
"Suami tante paling the best deh" bisik Bianca.
"Ya iyalah sayang dengan uang apa saja bisa kita dapatkan" bisik tante Sisil dengan senyum kemenangan.
"Nona muda sebaiknya nona meminta maaf karena bukti yang ada sangat memberatkan nona" ucap Dion.
"Tapi om Valeria ngak nyuri dompet itu" ucap Valeria dengan mata berkaca-kaca.
"Om tahu nona muda ngak salah tapi saat ini lebih baik kita urus damai saja, dari pada nona muda malu dan pastinya tuan dan nyonya juga" ucap Dion.
Valeria memikirkan ucapan Dion dan ia membenarkan hal tersebut. Meski ia membantah tapi cctv saat ini menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya.
"Saya minta maaf atas kejadian barusan dan saya akan bertanggung jawab" ucap Valeria.
"Bagaimana tuan Hasan?" tanya Dion.
"Saya memilih mengurus damai dan tidak memperpanjang masalah ini dan untuk masalah dompet itu silahkan tuan Dion berbicara dengan manajer butik" ucap Hasan.
"Baik tuan Hasan" ucap Dion.
Dion lalu mengobrol bersama dengan manajer dan petugas butik untuk berdamai. Setelah mendapat kesepakatan semuanya lalu bergegas pergi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Dion membayar dompet dan juga uang tutup mulut agar kejadian ini tidak sampai bocor. Bahkan mereka membuat perjanjian tertulis agar tidak ada yang membawa masalah ini ke jalur hukum.
Arinta dan Budi sedari tadi diam menyerahkan semua persoalan ini ke Dion. Ana yang berdiri di samping Valeria memeluk bahu nona mudanya yang seperti syok saat melihat tatapan kedua orang tuanya.
"Mbak Ana" ucap Valeria dengan wajah sedih.
"Saya tahu nona muda ngak bersalah jadi jangan bersedih lagi ya non"
"Ibu sama ayah pasti kecewa sama Valeria ya mbak"
"Saya ngak tahu nona muda"
"Valeria takut mbak"
"Nona muda yang kuat ya. Saya yakin nona bisa melewati ini semua" ucap Ana sambil tersenyum manis.
"Iya mbak"
Di depan lobby mall Valeria pulang bersama Bianca dan Dion dengan mobil Arinta. Sedangkan Arinta dan Budi dengan mobil Budi, Ana sendiri pulang dengan taksi kembali ke butik.
~ Mansion Kusumo ~
Selang 30 menit akhirnya kedua mobil mewah milik Budi dan Arinta tiba di mansion. Valeria yang sedari tadi memikirkan apa yang akan terjadi mendadak gugup tidak ingin masuk.
Arinta dan Budi sudah keluar lebih dulu dan masuk ke dalam mansion. Melihat hal itu Valeria bergegas turun dan masuk biar bagaimana pun ia harus menghadap kedua orang tuanya.
"Selamat datang nona muda, nona Bianca" ucap bi Susi menyambut keduanya.
Valeria diam tidak mengatakan satu kata pun seperti biasa, Dion lalu melihat bi Susi untuk tak menyapa Valeria. Bi Susi merasa ada sesuatu yang akan terjadi saat ini.
Tiba di ruang keluarga Valeria melihat tatapan kedua orang tuanya yang seakan ingin menerkamnya. Budi dengan rahang mengeras maju ke depan menghampiri Valeria yang berdiri dengan tubuh bergetar.
Plak...........plak........plak.........plak..........
βββββ
To be continue...........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€