
π»Seorang ibu rela memberikan seluruh hidupnya untuk sang anak tapi seorang anak belum tentu bisa memberikan seluruh hidupnya untuk ibunyaπ»
.
.
.
.
Bianca yang masih bingung dengan ucapan wanita paruh bayah di depannya, seketika kaget saat tubuhnya di peluk dengan sangat erat oleh wanita paruh bayah tersebut.
"Ini beneran kamu Siska" ucap ibu paruh bayah itu sambil menangis.
"Uhmmm...........maaf tante tapi nama saya Bianca bukan Siska"
"Kamu Bianca Angraini kan" ucap ibu itu dengan cepat.
"Iya tante"
"Ini tante Sisil teman ibu kamu yang dulu sering main ke apartemen kalian" ucap tante Sisil sambil menunjuk dirinya.
"Tante Sisil?" tanya Bianca.
"Iya sayang"
Bianca mengingat-ingat nama tante Sisil hingga keningnya berkerut. Seketika ia menatap tante Sisil dengan terkejut saat sudah mengingatnya.
"Tante Sisil yang biasa bawain coklat untuk Bianca sampai ibu marah-marah kan" tebak Bianca.
"Iya sayang benar banget" ucap tante Sisil sambil tertawa.
"Ah! Tante aku kangen banget" ucap Bianca kembali memeluk tante Sisil.
"Tante juga kangen banget sama kamu sayang"
"Tante ke sini mau ngapain"
"Yah belanja bajulah sayang. Masa ke butik mau beli peralatan rumah tangga"
"Hehehehehe..........Bianca lupa tante" ucap Bianca sambil terkekeh.
"Kamu ngapain di sini sayang?" tanya tante Sisil.
"Oh aku mau ketemu sama mbak Ana asisten tante Arinta"
"Kamu kenal sama desainer terkenal itu" ucap tante Sisil dengan kaget.
"Iya tante aku kenal banget bahkan aku tinggal di mansion mereka" ucap Bianca sambil tersenyum manis.
"Kita ke cafe seberang ya sayang. Ceritain semuanya ke tante sejak pemakaman ibumu" ajak tante Sisil.
"Boleh tante. Tapi aku ketemu mbak Ana bentar ya tante"
"Iya sayang tante tunggu kamu di sini ya"
"Iya tante"
Bianca segera masuk ke dalam lift menuju lantai 3. Sampai disana ia lalu berjalan menuju ruangan Ana tanpa menyapa sekertaris Arinta yang tersenyum hangat saat melihat kehadirannya.
"Sombong banget keponakan nyonya" ucap sekertaris Arinta dengan suara pelan.
Tok.........tok..........tok..........tok.........
"Masuk" ucap suara dari dalam.
Bianca sebenarnya malas harus mengetuk pintu, tapi demi citranya ia harus bersikap sopan kepada Ana asisten dari Arinta. Setelah masuk Bianca segera berjalan menuju meja kerja Ana.
"Nona sudah datang" ucap Ana dengan sopan.
"Nih desain gue. Tadi pagi tante Arinta nyuruh gue buat anterin ke mbak" ucap Bianca dengan ketus.
Ana mengambil buku sketsa yang di sodorkan oleh Bianca tanpa mengucapkan satu kata pun. Selesai melihat desainnya yang sama persis dengan apa yang di kirim oleh Arinta ia segera menatap Bianca.
"Jadi kapan saya bisa mengambil contoh sampelnya nona?" tanya Ana.
"Dua hari lagi gue bawain ke sini"
"Baiklah nona saya tunggu biar bisa segera diberikan ke tim produksi"
"Oke. Ngak ada lagi kan?" tanya Bianca dengan nada angkuh.
"Tidak ada nona"
"Heemmm"
Bianca segera berlalu pergi tanpa mengucapkan satu kata pun. Ana yang melihat hal tersebut hanya bisa menahan rasa kesalnya.
"Cih! Mentang-mentang keponakan nyonya jadi dia seenaknya aja" ucap Ana dengan kesal.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Cafe Mix ~
Setelah keluar dari ruangan Ana disinilah Bianca dan tante Sisil berada di cafe Mix. Sedari tadi keduanya terus membahas apa saja yang di alami oleh Bianca setelah kematian Siska.
"Jadi ayahmu itu sudah beristri" ucap tante Sisil.
"Iya tante dan bahkan aku di anggap sebagai anak pembawa sial dalam keluarga ayah. Bahkan nama belakang aku ngak boleh ada nama Kusumo.......hiks hiks" ucap Bianca sambil berderai air mata.
Tante Sisil segera pindah dan duduk di samping Bianca dan memeluknya. Ia tahu saat ini Bianca pasti sangat membutuhkan pelukan untuk menenangkannya.
"Kamu yang sabar ya sayang" ucap tante Sisil sambil mengelus kepala Bianca dengan lembut.
"Tante apa betul ibu itu jadi pelakor dalam rumah tangga ayah" ucap Bianca.
"Sayang pasti kamu sudah tahu kan profesi ibumu sebelum mengandung kamu?" tanya tante Sisil dengan hati-hati.
"Aku tahu tante" ucap Bianca sambil menunduk sedih.
"Sayang di mata masyarakat pekerjaan ibu kamu itu memang di anggap sebagai pekerjaan kotor, dan tante akui itu semua ngak gampang dan mudah karena tante juga pernah alami hal yang sama seperti ibu kamu" ucap tante Sisil dengan sedih.
Tes................
"Tante" ucap Bianca sambil melihat tante Sisil yang sudah meneteskan air matanya.
"Kamu tahu ibumu bisa keluar dari tempat kotor itu karena ayah kamu"
"Maksud tante?" tanya Bianca dengan penasaran.
"Saat ibumu dinyatakan hamil Siska segera memberitahu ayahmu. Memang awalnya ayahmu ngak percaya dan ngak menerima kamu karena status ibumu yang sebagai wanita malam. Tapi ibumu mengancam akan memberitahu istri ayahmu jadi terpaksa ayahmu menerima ibumu dan janin yang ada dalam perutnya serta membayar mahal kepada madam Ros"
"Siapa madam Ros tante"
"Dia orang yang menjalankan bisnis prostitusi di club malam sayang"
"Jadi benar ibu itu perusak rumah tangga ayah"
Tante Sisil hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban. Bianca diam dengan segala pemikiran di dalam otaknya.
"Apa kamu bahagia tinggal dengan keluarga ayahmu sayang?" tanya tante Sisil.
Bianca lalu menceritakan semua yang di alaminya saat di mansion Kusumo. Bahkan ia juga menceritakan perbuatan Budi setelah mereka tiba mansion dan juga kejadian sebelum ibunya meninggal.
Tante Sisil menutup mulutnya mendengar cerita Bianca barusan. Ia akui Siska sahabatnya salah dalam hal ini, tapi Bianca di sini yang menjadi korbannya.
"Jadi kamu ingin menghancurkan keluarga ayahmu sendiri" ucap tante Sisil.
"Ia tante. Sakit hati aku lihat ayah ngak pernah sayang sama aku lagi, apa lagi aku dibeda-bedakan dengan kedua anaknya"
"Sayang nasibmu sangat menyedihkan sekali"
"Apa tante mau membantu Bianca?" tanya Bianca penuh harap.
"Pasti sayang apapun akan tante lakuin. Lagian sekarang tante udah tinggal di sini ikut suami tante"
"Tante udah nikah" ucap Bianca dengan kaget.
"Sebenarnya tante ini simpanan suami orang" bisik tante Sisil dengan suara pelan.
"Apa!" pekik Bianca dengan suara tinggi.
"Aduh sayang pelan-pelan dong semuanya jadi pada ngelihatin kita" ucap tante Sisil dengan malu.
"Hehehe.........maaf tante soalnya aku kaget banget" ucap Bianca sambil terkekeh.
"Ngak usah kaget gitulah sayang. Inilah nasib perempuan malam kalau ngak jadi simpanan ya ngak ada yang mau nikahin kita" ucap tante Sisil dengan wajah sedih.
"Maaf tante"
"Maaf untuk apa sayang, lagian memang kenyataan"
"Iya tante"
"Iya tante aku sudah bertekad" jawab Bianca dengan tegas.
"Tante bakal bantuin kamu"
"Makasih ya tante" ucap Bianca dengan senang.
"Sama-sama sayang" ucap tante Sisil sambil tersenyum manis.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah puas mengobrol tante Sisil segera mengantar Bianca sekalian ingin melihat dimana ia tinggal. Sampai di mansion tante Sisil segera pamit pulang.
~ Raya perguruan ~
Sedari tadi Valeria terus saja berlatih tanpa henti. Rendi yang melihat pukulan dan tendangan Valeria seperti ingin melampiaskan kemarahannya, segera menghentikan latihan.
"Kenapa coach?" tanya Valeria.
"Loe ada masalah saat ini kan Val?" tanya Rendi to the point.
Phew...........
Valeria menghembuskan napasnya dengan kasar mendengar ucapan Rendi. Ia tak bisa membohongi pikiran dan perasaannya yang saat ini sangat marah, sedih, kecewa, dan lainnya.
"Apa kelihatan jelas coach?" tanya Valeria dengan suara serak.
"Latihan hari ini cukup karena ngak ada guna kalau loe ngak bisa kontrol emosi loe"
"Baik coach"
Keduanya lalu duduk di tempat istirahat sambil meminum air dan mengelap keringat. Rendi melihat Valeria dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ngak usah lihatin gue kayak gitu" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Dasar cewek kulkas" umpat Rendi dengan suara sangat pelan.
"Ngak usah mengumpat gue juga"
"Loe kok tahu?" tanya Rendi dengan bingung.
"Dari wajah kakak udah kelihatan kok" ucap Valeria dengan sinis.
"Terserah loe deh"
"Hemmmm"
"Jadi ini ada hubungannya dengan teman loe itu" tebak Rendi.
"Tebakan ka Rendi benar"
"Penasaran gue ama thu cewek yang ngaku jadi pacar gue" ucap Rendi dengan penasaran.
"Jangan penasaran terlalu kak nanti jatuh cinta lagi"
"Ckk! Amit-amit deh. Gue ngak mau sama cewek obsesi" dengus Rendi dengan wajah kesal.
Valeria hanya terkekeh melihat wajah Rendi yang sudah kesal. Ia tahu sahabat kakaknya itu sangat susah buat di deketin cewek sama seperti Bagas.
"Kak menurut loe gue salah ngak udah mutusin persahabatan kita"
"Heeemm! Kalau menurut gue itu ngak salah. Karena yang namanya persahabatan itu ngak akan pernah termakan sama omongan orang tentang sahabatnya. Bahkan jika ia tahu sahabatnya salah ia akan memberitahu kalau sahabatnya salah"
"Gue ngerasa kecewa banget sama mereka berdua"
"Loe kecewa itu wajar karena hal terpenting dalam persahabatan itu adalah kepercayaan" ucap Rendi dengan tegas.
"Kayak kakak sama kangmas ya"
"Well 100 buat loe karena persahabatan kita itu di dasari dengan kepercayaan"
"Apa kakak pernah silih paham sama kangmas?" tanya Valeria.
"Silih paham pernah bahkan berulang kali, tapi kembali lagi ke pribadi kita untuk menyikapinya dengan cara seperti apa dan gue juga harus memikirkan perasaan sahabat gue" ucap Rendi dengan bijak.
"Jadi intinya aku ngak salah dalam hal ini ya ka"
"Yups! Karena kalau sahabat itu dia akan bertanya lebih dulu ke loe sebelum mengambil kesimpulan"
"Iya ka"
Perasaan Valeria sudah lebih tenang setelah berbagi masalahnya dengan Rendi. Selesai Valeria segera pulang ke mansion karena pak Udin sudah menjemputnya.
~ Mansion Kusumo ~
"Selamat datang nona muda" ucap bi Susi sambil tersenyum manis.
"Iya bi, apa Bianca sudah pulang bi?" tanya Valeria.
"Sudah non"
"Oh baiklah bi"
"Iya non"
Valeria segera pergi ke kamarnya di lantai dua, baru saja ia akan membuka pintu tiba-tiba Bianca memanggilnya dari belakang.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Val" panggil Bianca.
"Kenapa Ca" ucap Valeria dengan suara lembut.
"Loe ada uang ngak?" tanya Bianca.
"Ada emang kenapa" ucap Valeria dengan penasaran.
"Kain gue yang biasa buat kain dasarnya habis nih. Padahal lusa gue harus kasi contohnya ke mbak Ana"
"Emang lo ngak ada duit lagi"
"Ngak ada udah gue pakai buat beli bahan yang lain" ucap Bianca sambil menunduk.
Valeria lalu memberikan uang yang ada di dompetnya ke Bianca. Ia tak ingin memberikan kartu kreditnya lagi takut kejadian waktu itu terulang lagi.
"Makasih ya Val" ucap Bianca dengan senang.
"Iya sama-sama Ca" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
Bianca segera keluar dan menyuruh pak Udin mengantarnya ke tempat kain. Valeria sendiri segera masuk dan membersihkan diri karena kelelahan.
1 Minggu kemudian
Seminggu sudah berlalu dan seperti biasa Valeria tidak memperdulikan kedua sahabatnya. Bahkan semua teman sekelasnya sudah tidak percaya lagi dengan Tika dan Sari.
Bagas yang mendengar cerita tentang Valeria dari Rendi sahabatnya, langsung menelpon Valeria. Selama 3 jam penuh Bagas memarahi Valeria sambil menasehatinya.
Valeria yang waktu itu tak mau menganggu kuliah Bagas hanya diam dan pasrah menerima semua kemarahan Bagas. Ia tau kangmasnya itu sangat posesif dengannya.
Mulai saat itu Bagas terus mewanti-wanti Valeria agar memberitahu semua permasalahan Valeria. Hari ini kedua orang tua Valeria juga akan pulang ke tanah air.
~ SMP Kencana ~
Saat ini Valeria sedang membaca buku di perpustakaan. Berhubung guru mata pelajaran terakhir tidak masuk, ia pun memilih untuk membaca buku di perpustakaan.
"Sepertinya gue harus coba cooding ini deh" gumam Valeria yang membaca tentang enkripsi data jaringan.
Tiba-tiba kursi di sampingnya di tarik dan duduklah orang yang sangat di kenali Valeria yaitu Rian. Rian menatap Valeria sambil tersenyum tapi tidak di gubris Valeria sedikit pun.
Sudah seminggu ini Rian terus gencar mendekati Valeria, ingin membahas permasalahan mereka waktu di taman kota.
"Val" ucap Rian dengan pelan.
"Hemmm"
"Maaf ya" ucap Rian dengan tulus.
Valeria segera pergi meninggalkan Rian dengan diam. Rian terus meminta maaf padahal Valeria sudah memaafkannya.
"Val kapan sih kita bisa ngobrol seperti dulu lagi" ucap Rian dengan sedih.
Valeria yang tadi pergi dan berbelok ke rak belakang buku dekat tempat duduk Rian mendengar semua ucapannya.
Sebenarnya Valeria tidak mau membuat Rian memarahi Bianca karena tahu jika selama ini yang membalas pesan Rian adalah Bianca.
"Sorry Rian tapi lebih baik loe ngak usah tahu tentang kejadian sebenarnya" gumam Valeria dengan rasa bersalah.
βββββ
To be continue...........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€