Love Struggle

Love Struggle
Chapter 60



🌻Percuma memiliki gelar yang tinggi tapi tidak memiliki kelakuan yang baik yang mencerminkan dirimu itu adalah orang yang berpendidikan🌻


.


.


.


.


Selesai berganti pakaian Valeria segera keluar menghampiri cowok yang sudah ditolongnya semalam.


Saat di ruang tv Valeria hanya menatap cowok itu dengan tatapan datar dan dingin tak ada ekspresi apapun yang bisa di tebak dari wajahnya.


Gila tatapannya bikin gue merinding, batin cowok tersebut.


"Nama" ucap Valeria dengan singkat.


"Hah" ucap cowok tersebut dengan bingung.


Tak menanggapinya Valeria hanya diam menatapnya dengan datar. Setelah beberapa saat akhirnya cowok tersebut mengerti dengan ucapan Valeria yang menanyakan soal namanya.


"Bryan" ucap Bryan menyebut namanya.


"Last name?" (nama belakang) tanya Valeria lagi.


"Wijaya"


"Hemmm! Nama Indonesia tapi wajah blasteran" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.


Melihat senyuman Valeria membuat tubuh Bryan menegang serasa di cekik. Ia tahu arti senyuman itu bukan pertanda baik melainkan ada hal yang sedang di rencanakan.


"Asal"


"Jakarta"


"Keluarga"


"Hidup sebatang kara tidak ada keluarga atau orang tua" ucap Bryan dengan wajah menahan emosi.


Melihat reaksi Bryan bisa Valeria simpulkan kalau hubungan dalam keluarga Bryan mungkin sama sepertinya. Tanpa Bryan sadari ternyata Valeria sudah mengetahui identitas asli Bryan sedari semalam.


Valeria tak mau menolong orang tanpa mencari tahu identitas orang tersebut beruntung ia mempunyai kemampuan yang luar biasa di dunia hacker.


Bukan hal sulit bagi seorang Valeria Anastasia untuk mencari data diri seseorang meski datanya di kunci.


"How long have you been doing that job?" (berapa lama kamu sudah melakukan pekerjaan itu) tanya Valeria dengan aura mengintimidasi.


Deg............


Tubuh Bryan menegang mendengar pertanyaan Valeria barusan ia kaget bukan main saat ditanya.


Pikirannya tak menentu memikirkan apa Valeria mengetahui pekerjaan yang ia lakukan selama ini bahkan ia sangat tak sudi mengingat semua yang sudah ia alami.


"I know everything" (aku tahu semuanya) ucap Valeria menjawab semua pertanyaan di benak Bryan.


"L......oe" ucap Bryan dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.


"Jadi apa bisa di mulai cerita tentang hidup loe Alek Carlo Alfonzo" ucap Valeria menekan kata-katanya di bagian akhir.


Deg.............


Bryan menatap Valeria dengan mata melotot karena tenyata Valeria tahu nama aslinya. Mau tak mau Bryan harus memberitahu tentang jati dirinya yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang.


"Seperti yang loe tahu tentang gue itu semua betul" ucap Bryan sambil membuang napasnya dengan kasar.


"Katakan" ucap Valeria dengan singkat.


"Gue putra mahkota dari kerajaan Wizpet di Italia"


"Ah! Maksud loe mantan putra mahkota" ucap Valeria sambil tersenyum smirk.


Bryan hanya tersenyum getir mendengar ucapan Valeria yang benar memang seperti itu kenyataannya. Sudah bertahun-tahun ia melepas gelarnya sebagai putra mahkota dari kerajaan Wizpet.


"Kalau loe udah tahu semuanya kenapa loe nyuruh gue cerita" ucap Bryan dengan kesal.


"Jangan lupa loe dimana saat ini" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.


Bryan bergidik ngeri melihat tatapan tajam Valeria yang seakan ingin membunuhnya saat ini juga.


Benar tidak ada yang bisa ia perbuat saat ini karena ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi bahkan hidupnya sudah tidak berarti apa-apa lagi.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Gelar putra mahkota ngak lagi jadi milik gue sejak 7 tahun lalu dan saat itu juga gue di buang dari negara kelahiran gue sendiri. Ayah gue seorang raja yang terkenal dengan sifat sombong, pemain wanita, dan tamak akan kekuasaan sedangkan ibu gue hanya seorang putri dari baron kerajaan yang di perkosa ayah gue karena kecantikannya. Karena kelakuan bejat ayah gue ibu gue harus menderita selama berada di kerajaan dan dia angkat menjadi ratu yang tidak pernah di hargai oleh rakyatnya sendiri bahkan suami dan keluarga kerajaan" ucap Bryan sambil meneteskan air mata.


Valeria hanya diam menatap Bryan tidak ada raut sedih atau apapun di wajahnya hanya ada raut wajah datar.


Tidak ada yang bisa menebak apa isi hatinya dari wajahnya yang selalu datar tanpa ekspresi apapun.


"Jangan di lanjutkan kalau loe ngak sanggup"


"Ngak gue bakal lanjutin cerita gue ampe selesai" ucap Bryan dengan tegas.


"Hemmmmm"


"Gue dan ibu gue sangat menderita di kerajaan Wizpet apa lagi sejak kedatangan selir kerajaan untuk pertama kali dengan alasan hubungan diplomatik kenegaraan. Itu semua hanya akal-akalan keluarga kerajaan yang tidak menyukai posisi ibu gue sebagai ratu. Gue di usir dari kerajaan saat berumur 9 tahun dengan alasan yang tidak pernah gue lakuin. Waktu itu gue di tuduh mendorong pangeran kedua yaitu anak pertama selir ke kolam renang padahal saat itu gue ngak berada di sana. Semua orang ngak percaya sama gue dan malah nuduh gue sebagai anak yang jahat dan tamak karena cemburu akan kasih sayang raja kepada pangeran kedua. Hanya ibu gue yang bela gue waktu itu tapi dengan teganya ayah gue malah cabut gelar gue dan ngusir gue dari kerajaan Wizpet" ucap Bryan sambil menangis pilu.


"Apa yang terjadi sama loe sehingga bisa sampai ke Indonesia?" tanya Valeria karena ia penasaran bagaimana bisa anak 9 tahun bisa di buang ke negara ini tanpa identitas.


"Gue di bawah paksa sama ayah selir ke pelabuhan setelah di usir dari kerajaan. Gue waktu itu hanya bisa menangis tak bisa berbuat apa-apa. Dan entah apa yang mereka bicarakan saat di pelabuhan gue hanya di dorong naik ke kapal dan akhirnya gue berakhir di sini setelah 1 bulan di laut. Mulai dari situ hidup gue berubah dengan drastis karena di paksa bekerja tanpa henti dari mengamen, mencopet, jual narkoba, bahkan gue di jadiin pemuas n***u tante-tante" ucap Bryan dengan tubuh bergetar.


Melihat hal itu Valeria langsung memeluk Bryan dan menenangkannya. Pelukan hangat yang di berikan oleh Valeria berhasil membuat tubuh Bryan yang tadinya gemetaran menjadi normal kembali.


Bryan yang sudah mendingan memilih melepaskan pelukan Valeria. Ia menunduk tak tahu harus berbuat apa karena baru kali ini ia merasakan pelukan hangat dari orang lain selain ibunya.


"Minum" ucap Valeria memberikan sebotol air mineral.


"Terima kasih" ucap Bryan dengan tulus.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Valeria lalu memesan makan siang buat mereka berdua setelah itu menikmati makanan masing-masing dengan hening. Tak ada yang berbicara selama makan siang hanya ada bunyi sendok dan garpu yang terdengar di meja makan.


"Apa loe pengen balas dendam kepada keluarga loe?" tanya Valeria setelah selesai makan.


"Itu tujuan hidup gue selama ini" ucap Bryan dengan wajah emosi.


"Gue punya penawaran buat loe" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.


"Apa itu?" tanya Bryan dengan bingung.


"Jadi saudara gue dan kita balas semua rasa sakit loe" ajak Valeria dengan tatapan tajam.


Bryan kaget mendengar tawaran Valeria yang tak pernah ia duga. Baru kali ini ada orang yang mengajaknya untuk menjadi saudara dan bukan menjadi rekan atau partner kerja.


"Apa alasan loe mau gue jadi saudara loe"


"Karena mata loe" ucap Valeria dengan senyum penuh arti.


"Mata? Apa loe ngak salah?" tanya Bryan dengan kaget.


"Menurut gue unik aja lihat warna mata loe yang violet sebagai lambang kerajaan Wizpet"


"Satu lagi gue paling benci dengan yang namanya pengkhianat dan kebohongan" ucap Valeria dengan tatapan tajam.


"Oke gue terima tawaran loe karena gue juga benci yang namanya pengkhianat dan kebohongan" ucap Bryan dengan suara tegas.


"Pilihan bagus"


Setelah itu Valeria dan Bryan lalu berbincang mengenai kehidupan pribadi Bryan.


Meski terasa seperti sedang bercerita tapi Bryan mengaggap jika saat ini ia sedang di interogasi oleh Valeria sedari tadi karena semua perkataan Valeria seperti seorang polisi.


~ Mansion Kusumo ~


Sejak kemarin Bagas tidak pulang ke mansion Kusumo karena ia tidak bisa menahan emosinya saat melihat wajah kedua orang tuanya.


Sedangkan Budi dan Arinta memilih tidak pergi berkerja karena mereka ingin berbicara dengan Bagas.


"Mas apa sudah ada kabar tentang Bagas" ucap Arinta dengan wajah khawatir.


"Bagas berada di apartemennya dari kemarin bersama sahabatnya Rendi" ucap Budi setelah melihat pesan dari Dion.


"Aku ngak mau kehilangan anak kita lagi untuk kedua kalinya mas.......hiks hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis.


"Shuut! Kamu tenang aja sayang ngak akan ada yang pergi lagi dari mansion ini" ucap Budi menenangkan sang istri.


"Tapi bagaimana dengan ucapan Bagas yang kemarin mas"


"Mas yang akan berbicara dengan Bagas setelah ia pulang nanti"


"Apa kita sudah salah menilai Valeria mas?" tanya Arinta dengan wajah sedih.


"Jangan pernah ucap nama itu lagi karena dia bukan bagian keluarga kita lagi" bentak Budi.


"Tapi mas"


"Arinta" ucap Budi penuh penekanan.


Arinta diam tak berbicara lagi karena tahu sang suami sudah mulai emosi. Bianca yang mendengar ucapan keduanya mengepal tangannya dengan emosi mengingat ucapan Bagas kemarin.


"Jangan pernah berpikir untuk ngusir gue dari mansion ini" gumam Bianca dengan marah.


Bianca segera masuk ke ruang studionya dan melampiaskan emosinya. Beruntung ruangannya kedap suara jadi tidak ada yang mendengar suara keributan dari dalam sana.


Budi dan Arinta yang menunggu kedatangan Bagas hanya bisa menelan kekecewaan karena sampai larut malam pun Bagas tak kunjung pulang.


Sedangkan Dion hanya bisa memberi kabar kepada Budi kalau Bagas tak pernah keluar dari apartemennya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


1 Minggu kemudian


Suasana mansion pagi ini tiba-tiba mendadak menjadi mencekam saat kedatangan Bagas barusan. Saat masuk ke dalam mansion Bagas yang berpapasan dengan Bianca saat hendak berangkat ke sekolah langsung mencekiknya.


"Bagas apa yang kamu lakukan nak" teriak Arinta dengan histeris.


"Apa kurang jelas peringatan aku! Hah" bentak Bagas dengan suara tinggi menggelegar di dalam mansion.


"Bagas lepaskan Bianca kita bicarakan baik-baik" ucap Budi dengan suara tegas.


"Oh jadi pilihan kalian ingin kehilangan putra kalian juga ya" ucap Bagas sambil tersenyum penuh arti.


Uhuuk..........uhhhuukk........uhuukkk........


Bianca seketika batuk saat Bagas melepas cekikannya yang sangat kuat dilehernya. Bahkan saking kuatnya leher Bianca langsung berbekas merah.


"Ibu mohon nak jangan pernah tinggalkan mansion ini" pinta Arinta dengan memohon.


"Pilih aku atau anak haram itu" tunjuk Bagas dengan suara dingin.


"Nak...........hiks hiks hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis.


"Ikut ayah ke atas" ucap Budi sambil berlalu naik ke ruang kerjanya.


Bagas diam dan mengikuti langkah sang ayah tapi saat akan masuk ke dalam ruang kerja Budi, Dion menghentikannya dan membisikan sesuatu sambil menaruh sepucuk amplop di tangannya.


"Saya mohon tuan muda bisa tentukan pilihan tuan muda dengan bijak kali ini" ucap Dion penuh harap.


"Jelaskan semuanya ke aku setelah ini" ucap Bagas dengan wajah serius.


"Baik tuan muda" ucap Dion sambil membungkuk hormat.


Bagas segera masuk ke dalam ruang kerja Budi dan langsung duduk di sofa sebelum Budi menyuruhnya duduk. Melihat kelakuan sang anak yang keras kepala Budi hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa yang mau ayah bicarakan?" tanya Bagas dengan sinis.


"Perbaiki cara bicaramu kepada orang tua son"


"Ckk! Orang tua yang tega mengusir darah dagingnya sendiri tanpa mendengar penjelasan sang anak" cibir Bagas dengan sinis.


"Bagas Panji Kusumo" ucap Budi dengan geram.


"Kalau tidak ada yang mau ayah bicarakan aku pergi"


"Son" ucap Budi dengan tatapan tajam tak mau di bantah.


"Hemmmm" deham Bagas seakan tidak perduli.


"Jangan pernah keluar dari mansion ini biar bagaimana pun kamu itu putra ayah"


"Kalau begitu usir anak haram itu"


"Tidak ada yang harus di usir dari mansion ini lagi"


"Kalau ayah ngak mau berarti aku yang akan keluar dari sini" ucap Bagas dengan emosi.


"Jangan pernah sekalipun kamu berani keluar dari mansion Bagas jika tidak semua fasilitas kamu ayah cabut" bentak Budi dengan suara tinggi.


"Ayah ngancam Bagas"


"Ayah ngak bakal kayak gini kalau kamu nurut"


"Sampai kapanpun aku ngak akan rubah keputusan aku dan kalau ayah mau cabut silahkan!" bentak Bagas dengan wajah merah padam karena emosi.


Brak.............


Bagas lalu bergegas keluar dari sana sambil membanting pintu dengan kuat. Panggilan Budi tidak ia hiraukan dan berlalu pergi ke kamarnya di sebelah ruang kerja Budi.


Budi lalu membanting semua barang di ruang kerjanya karena emosi dengan tingkah sang anak. Keduanya yang memiliki sifat keras kepala tidak akan mengalah sampai apa yang mereka inginkan tercapai.


Bagas yang berada di dalam kamarnya kembali melampiaskan emosinya dengan menghancurkan semua barang di kamarnya. Bahkan ia tak perduli lagi dengan keadaan kamar yang sudah seperti kapal pecah.


Bagas lalu ingat dengan amplop yang diberikan Dion tadi dengan cepat ia langsung mengambil amplop tersebut dan membukanya.


Bagas kaget melihat isi dalam amplop tersebut karena itu adalah surat dari sang adik.


"Ini...........hiks hiks hiks hiks" ucap Bagas sambil menangis melihat tulisan tangan sang adik.


❄❄❄❄❄


To be continue............


Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀