
π»Tidak penting siapa yang membuatmu menangis, terluka, dan kecewa tapi yang terpenting adalah siapa yang membuatmu tersenyum dan tertawaπ»
.
.
.
.
Suasana di ruang keluarga masih terasa sangat mencekam. Putri yang pertama kali melihat seorang Budi Kusumo dengan pribadi tegas dan ego tinggi hari ini membuang semua itu hanya untuk meminta maaf padanya.
Arinta terus menangis melihat suaminya yang masih berlutut di bawah kaki sang ibu meminta maaf. Ia lalu memegang tangan Budi untuk berdiri tapi suaminya engan dan tetap dengan pendiriannya.
"Bu aku tahu mas Budi salah tapi ini semua bukan salahnya" ucap Arinta sambil terisak.
"Jangan bela suamimu yang tukang selingkuh itu Arinta" hardik Putri dengan suara tinggi.
Arinta diam tidak mengatakan satu kata pun, karena tahu jika sang ibu sudah bernada tinggi tandanya sang ibu sudah sangat emosi.
Budi melihat sang istri menggelengkan kepala untuk tidak berkata apa-apa lagi. Melihat hal tersebut Arinta merasa sangat kasihan dengan suaminya.
Sampai kapan pun aku tidak akan mau bercerai dengan kamu mas, batin Arinta.
"Ibu tidak mau tahu secepatnya kamu ceraikan Arinta" ucap Putri dengan suara tegas.
"Tidak" ucap Arinta dengan Budi serantak.
"Apa yang mau kamu pertahankan dari suami pengkhianatmu itu Arinta?" tanya Putri sambil menatap tajam Arinta.
"Ini masalah rumah tangga aku bu, jadi aku yang berhak mutusin tetap atau tidak bersama suamiku" jawab Arinta dengan suara tegas.
Mendengar perkataan sang istri hati Budi menjadi hangat dan berbunga-bunga. Ia sangat senang karena istrinya tetap mempertahankan rumah tangga mereka, meski ia sudah berbuat kesalahan.
"Terima kasih sayang sudah mau mempertahankan rumah tangga kita" gumam Budi dengan suara pelan.
"Ckk! Apa kamu tidak berpikir bagaimana reaksi ayah dan kakakmu saat tahu kejadian ini" ucap Arinta dengan suara mencemooh.
"Aku tidak perduli bu karena yang menjalani semua ini aku bukan mereka. Lagian mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya tentang masalah ini" ucap Arinta.
"Bu apa yang di bilang istriku benar aku tidak akan perduli dengan semua omongan mereka karena ini rumah tangga kami bukan mereka" ucap Bagas dengan suara tegas.
"Kamu bangunlah" ucap Putri sambil memijit kepalanya yang terasa pening.
"Terima kasih bu" ucap Budi dengan senang karena berpikir sang mertua sudah memaafkannya.
"Ceritakan semuanya" ucap Putri sambil menatap tajam Budi.
Budi lalu menceritakan dari awal mula bagaimana ia bisa sampai mengenal Siska, tak lupa ia juga menceritakan perihal perbuatan Siska sampai kenapa ia membawa Bianca ke Solo untuk tinggal bersama dengan mereka.
"Kasihan anak itu" ucap Putri merasa kasihan dengan nasip Bianca.
"Maafkan kesalahan aku bu tapi aku mohon jangan pernah meminta aku untuk berpisah dengan Arinta" ucap Budi dengan tulus.
"Haahhh! Baiklah ibu tidak akan mencampuri masalah rumah tangga kalian" ucap Putri sambil menarik napas dalam.
"Terima kasih bu" ucap Arinta dan Budi serentak.
"Lalu bagaimana dengan Bianca?" tanya Putri.
"Aku akan merawatnya tapi tidak memberikan nama belakang keluargaku karena hanya dua anakku saja yang berhak bu" ucap Budi dengan suara tegas.
"Apa kalian tidak merasa kasihan dengan anak sekecil itu?" tanya Putri dengan sedih.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Ketiganya diam tidak mengatakan satu kata pun, ada rasa iba di hati mereka tapi mau bagaimana lagi. Semua ini terjadi bukan kehendak mereka, lagian apa yang akan orang katakan jika mengetahui siapa Bianca sebenarnya.
Orang luar pasti akan mengejek Bianca karena menganggap Bianca itu adalah anak dari pelakor. Arinta dan Budi sudah memikirkan semuanya jadi mereka memilih tidak memberikan Bianca nama Kusumo semata-mata untuk melindunginya.
"Ini semua demi kebaikannya bu" ucap Arinta.
"Apa maksudmu?" tanya Putri dengan bingung.
"Coba ibu pikir bagaimana reaksi orang luar mengetahui siapa sebenarnya Bianca. Mereka pasti akan mengejek dan menghinanya karena mereka anggap Bianca adalah anak seorang pelakor bu" ucap Arinta.
"Tapi pasti hati anak itu akan hancur karena merasa tidak diakui oleh ayahnya" ucap Putri.
"Aku memang tidak mengakui anak itu sebagai anakku bu karena aku di goda oleh jal**g itu bu" ucap Budi dengan suara tinggi.
"Tetap saja itu anak kamu Budi darah daging kamu sendiri" bentak Putri yang sudah tersalut emosi.
"Memang darah daging aku bu makanya aku akan merawatnya dan memenuhi kebutuhannya tanpa harus memakai nama belakangku bu" ucap Budi sambil menatap tajam Putri.
"Sudah mas tenangin diri kamu" ucap Arinta dengan lembut sambil mengelus lengan sang suami.
Budi menutup mata untuk menetralkan emosinya yang akan lepas kendali. Ia tidak mau jika sampai kelepasan emosinya di depan sang mertua.
Putri tidak bisa berkata apa-apa lagi karena semua ini urusan anak dan menantunya. Tanpa mereka bertiga sadari ternyata Bianca mendengar semua ucapan mereka di balik pintu kamarnya.
Bianca menangis tersedu-sedu mendengar ucapan sang ayah yang tidak mengakui dirinya sebagai anak. Hati Bianca seperti di ramas kuat mendengar hal tersebut.
"Ibu kenapa Bianca harus merasakan semua ini.........hiks hiks" ucap Bianca sambil menangis.
Hatinya hancur berkeping-keping dan terasa sangat sakit. Ia yang dari dulu bahagia saat masih ada sang ibu harus merasakan semua ini setelah kepergian sang ibu.
"Gue bakal balas rasa sakit ini suatu saat" ucap Bianca dengan emosi.
Tidak ada lagi Bianca anak polos dan baik hati melainkan Bianca anak dengan sejuta rasa benci di hatinya. Bianca tersenyum sinis saat memikirkan ide apa yang harus ia buat untuk menghancurkan keluarga Kusumo.
"Tunggu pembalasan gue untuk keluarga kalian" ucap Bianca sambil tersenyum sinis.
Setelah membahas masalah sang anak, Putri lalu pamit pulang. Setelah kepergian Putri pasangan itu lalu masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat.
Ternyata bukan hanya Bianca yang mendengar perdebatan ketiganya tapi Valeria dan Bagas juga. Keduanya yang penasaran memilih mengintip di balik pilar di lantai dua setelah 10 menit masuk ke dalam kamar.
"Kangmas kasian Bianca........hiks hiks" ucap Valeria sambil menangis.
"Sudah jangan nangis dek" ucap Bagas sambil mengelap air mata Valeria.
"Tapi......hiks hiks.........kasian Bian..ca kang..ma..s"
"Makanya kita bantuin saja Bianca jika dia mengalami kesusahan. Biar bagaimanapun dia saudara tiri kita juga" usul Bagas.
"Baik kangmas"
Bagas memang tidak menyukai Bianca tapi ia juga manusia biasa yang mempunyai hati. Apa lagi ia tahu anak sekecil Bianca pasti sangat terpukul karena tidak diakui oleh sang ayah.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Keraton Winata ~
Putri yang sudah sampai di karaton segera masuk setelah pengawal membuka pintu baginya. Arya yang sedang duduk di ruang keluarga menatap sang istri dengan bingung.
Pasalnya wajah Putri sangat kusut dan seperti ada beban pikiran besar. Putri yang masih kepikiran dengan masalah rumah tangga Arinta tidak mengetahui jika Arya suaminya sedari tadi melihatnya.
Putri segera masuk ke dalam kamar tanpa menyapa suaminya tersebut. Melihat hal itu Arya bangun dan mengikuti sang istri menuju kamar utama di keraton Winata.
"Kamu kenapa bu?" tanya Arya setelah sampai di dalam kamar.
"Mas" ucap Putri dengan kaget.
"Tadi aku di ruang keluarga kamu tidak menyapaku apa ada masalah" ucap Arya dengan lembut.
Putri lalu menangis dan memeluk tubuh sang suami, meski bingung tapi Arya membalas pelukan istrinya sambil mengelus punggung Putri dengan lembut agar lebih tenang.
Setelah di rasa tenang Arya membawa Putri ke sofa dan memintanya menceritakan apa yang terjadi. Putri lalu menceritakan dari awal kedatangannya di mansion Budi sampai pulang.
"Berengsek kurang ajar si Budi!" hardik Arya dengan emosi.
"Tapi dia sudah menyakiti hati putri dan cucu-cucu kita bu" ucap Arya tidak terima dengan perbuatan Budi.
"Mereka sudah memaafkan kesalahan Budi mas"
"Maksudnya bu?" tanya Budi dengan bingung.
"Arinta dan anak-anak sudah memaafkan Budi dan menerima Budi kembali mas"
"Ck! Kenapa mereka harus memaafkan pengkhianat itu" ucap Arya dengan raut tidak suka.
"Biar bagaimana pun itu urusan rumah tangga mereka mas, kita sebagai orang tua harus mendukung saja keputusan mereka"
"Hmmmm"
"Tapi mas aku itu kasihan dengan anak itu" ucap Putri dengan sedih.
"Jangan terlalu kepikiran dengan masalah itu bu ingat kesehatan kamu ngak boleh terlalu berpikir keras"
"Iya mas"
Arya memang emosi dengan perbuatan Budi tapi sesuai perkataan sang istri, ini urusan rumah tangga anaknya biar mereka yang memutuskan bagaimana ke depannya.
Aku sangat kecewa dengan kamu Budi ternyata kamu itu sama buruknya dengan Rendi suami Natalia, batin Arya.
Tak terasa hari berlalu dengan sangat cepat, hari ini adalah hari ujian kenaikan kelas Valeria, Bagas, dan Bianca.
Semenjak kejadian beberapa bulan lalu di mansion sifat Bianca lebih tertutup dari sebelumnya tapi jika di depan Valeria ia akan terbuka dan mau mengenal Valeria.
Valeria sangat senang karena Bianca sudah mau membuka diri dan menganggapnya saudara. Tanpa Valeria sadari ternyata itu hanya akal dari Bianca untuk membuat dia dekat dengan Valeria.
~ SD Pelita Harapan ~
Tiba di sekolah Valeria lalu masuk ke dalam kelas. Ternyata teman sekelasnya sudah pada hadir berhubung hari ini adalah hari pertama ujian kenaikan kelas.
"Pagi Valeria" ucap Sari.
"Pagi juga Sari" ucap Valeria.
"Gimana? Loe nervous ngak buat ujian entar?" tanya Sari.
"Biasa aja gue" ucap Valeria dengan santai.
"Ya loe kan juara umum sekolah jadi pastinya loe bakal tenang-tenang aja" ucap Tika.
"Yups benar loe!" timpal Sari.
"Semua bisa jadi juara umum kok asal mau belajar" ucap Valeria.
"Itu dia masalahnya musuh gue itu buku" ucap Sari sambil cengesan.
Semua teman-temannya tertawa mendengar jawaban Sari. Mereka sudah tahu jika Sari itu anak yang paling malas belajar dan selalu mendapat nilai paling rendah di kelas.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tak lama bel berbunyi tanda waktu ujian tiba, semua siswa-siswi SD Pelita harapan mulai mengisi lembar ujian mereka. Veleria juga mengisi lembar ujiannya dengan teliti karena tidak mau sampai ada kesalahan.
Tak terasa ujian hari pertama sudah selesai, Valeria dan teman-temannya lalu berjalan bersama menuju ke gerbang sekolah untuk pulang.
"Sampai jumpa besok ya guys" ucap Sari setelah melihat mobil jemputannya sudah tiba.
"Val jemputan loe udah datang belum?" tanya Tika.
"Belum mungkin bentar lagi" ucap Valeria.
"Kalau gitu gue duluan ya jemputan gue udah datang thu" ucap Tika.
"Oke bye"
Selang 5 menit mobil jemputan Valeria sudah datang. Valeria segera masuk dan berjalan pulang ke mansion, Bagas yang belum selesai ujian akan di jemput belakangan nanti.
~ Mansion Kusumo ~
Tak membutuhkan waktu lama cukup 20 menit saja mobil yang di tumpangi Valeria sudah sampai di mansion. Setelah mengucapkan terima kasih pada sang sopir dia segera turun dari mobil.
Valeria masuk ke dalam mansion yang langsung di sambut oleh para pelayan. Valeria tersenyum manis membalas semua sapaan pelayan.
"Nona muda sangat cantik ya" ucap pelayan A.
"Bukan lagi nona muda seperti bidadari" ucap pelayan B.
"Senyuman nona muda mengalihkan duniaku" ucap pelayan C.
Ketiganya seakan terhipnotis dengan kecantikan alami Valeria. Bianca yang pada saat itu berada di teras samping menatap Valeria dengan tatapan tidak suka.
"Cih! Awas aja loe Valeria gue bakal hancurin loe" gumam Bianca dengan suara pelan.
Setelah membersihkan diri Valeria turun ke lantai satu untuk makan siang. Tiba di lantai satu ia melihat Bianca yang sedang duduk di samping mansion.
"Loe udah pulang Ca?" tanya Valeria dengan lembut.
"Eh......Val loe udah balik ya?" Bianca balik bertanya kepada Valeria.
"Gue nanya loe nanya balik gue! Ada-ada aja loe" ucap Valeria sambil cengesan.
Bianca hanya tertawa tak membalas ucapan Valeria barusan. Tak lama Valeria mengajak Bianca untuk makan siang bersama, karena cacing-cacing di perutnya sudah berdemo minta di isi.
Setelah makan siang Valeria dan Bianca beranjak menuju ke ruang keluarga untuk bersantai sambil menonton tv. Selama menonton Bianca terlihat hanya menatap kosong seperti memikirkan sesuatu.
"Loe kenapa?" tanya Valeria.
"Ah! Ngak apa-apa" ucap Bianca yang kaget.
"Mending loe jujur aja deh gue yakin pasti ada sesuatu yang loe sembunyiin"
"Uhmm........itu sebenarnya" ucap Bianca dengan ragu.
"Udah cerita aja gue penasaran nih" ucap Valeria dengan cepat.
Bianca lalu berbisik di telinga Valeria karena tidak mau ada satu pelayan yang mendengar. Valeria kaget karena ternyata yang di bisikin Bianca tidak sesuai tebakannya.
"Emang loe butuh berapa dan buat apa aja"
"Gue sebenarnya pengen beli alat lukis dan buku tentang teknik lukis"
"Loe suka melukis ya"
"Suka banget"
"Oke gue bakal ngasih loe bentar"
"Makasih ya Valeria"
"Sama-sama kan kita saudara"
"Iya Val"
Bianca tersenyum dalam hati karena berhasil membohongi Valeria. Sebenarnya ia hanya ingin menguras uang Valeria agar kedua orang tuanya memarahi Valeria karena boros.
Dasar gadis bodoh mau aja di bohongin, batin Bianca tertawa puas dalam hati.
βββββ
To be continue.............
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat like, komen, dan vote yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€