Love Struggle

Love Struggle
Chapter 37



🌻Penemuan terbesar sepanjang masa adalah bahwa seseorang dapat mengubah masa depannya hanya dengan mengubah sikapnya saat ini🌻


.


.


.


.


Valeria bingung saat mendengar ucapan ayahnya barusan. Pasalnya ia belum pernah pacaran selama ini dan ia juga tidak pernah melanggar aturan sang ayah.


"Mas kamu apa-apaan sih. Aku tahu anak aku ngak mungkin pacaran" ucap Arinta tak terima Valeria di tuduh.


Tidak mendengar ucapan sang istri Budi kembali memukul Valeria tanpa ampun. Melihat rotan yang di pakai sudah habis, Budi mengambil batang mawar yang di taruh di samping kursi.


Arrggghhhh......


Teriak Valeria kesakitan saat batang mawar itu mengenai kulitnya.


Semua orang kaget bukan main melihat kekejaman Budi saat ini, bahkan Bianca yang baru datang saat mendengar teriakan Valeria sangat kaget.


Ia tak menyangka jika sang ayah akan memukul Valeria dengan batang mawar yang berduri. Badan Valeria sudah penuh luka karena duri mawar yang menggores di kulit indahnya.


"Mas cukup................hiks hiks" teriak Arinta sambil menangis histeris.


Tangan Budi yang akan memukul Valeria dengan batang mawar seketika terhenti. Melihat air mata sang istri ia merasa hatinya sangat sakit, sekali lagi Budi membuat istrinya menangis.


"Hiks hiks...........aku mohon mas.........hiks hiks hiks hiks............cukup mas" ucap Arinta dengan memohon.


"I...bu" lirih Valeria dengan suara lemah.


Meski sekujur tubuhnya sakit tapi hatinya lebih sakit melihat sang ibu yang memohon untuknya. Lebih baik ia di pukul dari pada harus melihat ibunya menangis histeris seperti itu.


"Arinta sudah jangan pedulikan anak berengsek itu" bentak Budi.


"Mas" bentak Arinta dengan suara tinggi.


"Bianca apa betul Valeria punya pacar?" tanya Budi sambil menatap Bianca dengan tatapan tajam.


"Itu o...m" ucap Bianca dengan gugup.


"Jawab Bianca!" hardik Budi menggelegar.


Bianca melihat Valeria dengan wajah polos tapi dalam hatinya sedang merencanakan sesuatu. Ia berpikir untuk memprovokasi sang ayah yang sedang emosi.


"Iya om Valeria punya pacar di sekolah" ucap Bianca dengan suara lantang.


Deg............


Jantung Valeria berdetak dengan cepat mendengar ucapan Bianca barusan. Ia tak menyangka jika Bianca akan berbohong di depan ayahnya.


"Ca" ucap Valeria dengan tatapan kecewa.


Bianca yang melihat hal tersebut hanya menampilkan wajah datarnya. Ia tak perduli lagi dengan apa yang akan di dapatkan oleh Valeria lagi.


"Kamu dengar sendiri kan putri kamu itu sudah berani langgar perintah ayahnya" bentak Budi dengan emosi.


"Dia putri kamu juga mas bukan putriku saja" ucap Arinta dengan suara tinggi.


"Urus putrimu itu jangan hanya bisa buat malu saja" bentak Budi lalu pergi dari sana.


Valeria yang mendengar perdebatan kedua orang tuanya meneteskan air mata. Ia tak mau sampai keluarganya hancur hanya karena kebohongan semata.


Setelah Budi pergi Valeria menatap Bianca dengan tatapan penuh kekecewaan. Ia tak menyangka jika Bianca akan berbohong di depan sang ayah.


Loe ternyata belum berubah juga ya Ca, batin Valeria dengan kecewa.


"Bi Susi panggil dokter Suci" ucap Arinta.


"Baik nyonya" ucap bi Susi.


Bi Susi segera masuk ke dalam mansion dan menghubungi dokter Suci. Arinta lalu di bantu para pelayan memapah Valeria ke kamarnya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Saat melewati batang mawar yang masih berlumuran darah, tubuh Valeria bergetar hebat. Ia kembali mengingat kejadian beberapa saat yang lalu tubuhnya yang tergores dan tercabik akibat duri mawar.


Seketika ia pingsan karena tak mampu untuk mengingat kejadian barusan. Melihat anaknya pingsan membuat Arinta panik bukan main.


Bianca yang melihat kepanikan Arinta tersenyum penuh arti. Ia sangat senang karena lagi-lagi ada perpecahan dalam rumah tangga sang ayah.


Sedikit lagi gue bakal jadi nona muda di mansion ini dan keluarga kalian akan hancur berkeping-keping, batin Bianca.


Tak lama dokter Suci tiba di mansion Kusumo, bi Susi langsung menemani dokter Suci ke kamar Valeria. Saat masuk ke dalam kamar Valeria ia lagi-lagi di buat kaget melihat tubuh Valeria.


Dokter Suci bergegas membersihkan dan mengobati luka di tubuh Valeria. Bahkan Arinta yang sedari tadi berdiri di samping ranjang Valeria tidak ia hiraukan.


"Suci" panggil Arinta.


"Ini udah keterlaluan Arinta" ucap dokter Suci dengan emosi.


Arinta hanya bisa menangis mendengar ucapan sahabatnya. Bukan hal baru lagi tentang apa yang sering terjadi dalam rumah tangganya.


"Aku ngak bisa tolerir lagi suamimu Arinta" ucap Suci penuh penekanan.


"Silahkan saja jika kamu ingin melapor ke polisi" ucap Budi dengan suara dingin saat masuk ke dalam kamar Valeria.


Deg..............


Tubuh Suci menegang mendengar ucapan Budi barusan bahkan apa lagi aura Budi yang mengintimidasinya. Arinta tak memperdulikan keduanya karena matanya hanya tertuju kepada Valeria.


"Coba saja jika dokter ingin melaporkan saya ke polisi" ucap Budi kembali dengan suara dingin.


"Mas cukup" ucap Arinta yang sudah sangat kecewa dengan suaminya.


Budi melihat sang istri dengan perasaan berkecamuk. Di satu sisi ia sangat terpukul dengan tatapan istrinya tapi rasa egois dan kecewa dalam dirinya membuat ia menutup sebelah mata.


Budi segera keluar dari kamar Valeria tanpa menghiraukan ucapan sang istri. Dokter Suci yang melihat sepasang suami istri itu bisa menebak jika keduanya sedang ada masalah.


"Arinta aku cuma minta jangan sampai hal ini terjadi lagi. Kamu pasti tahu apa yang terjadi sebelumnya sama Valeria kan?" tanya dokter Suci.


"Iya aku tahu"


Keduanya lalu keluar meninggalkan Valeria yang masih belum sadar. Suci juga memberikan resep obat ke Arinta untuk di berikan kepada Valeria hingga luka-lukanya sembuh.


~ Kusumo Group ~


Setelah keluar dari kamar sang anak, Budi memutuskan untuk pergi ke perusahaan. Ia berharap dengan bekerja ia bisa melupakan sejenak masalah yang baru saja terjadi.


"Tuan" ucap Dion yang prihatin dengan keluarga sang majikan.


"Apa aku salah Dion?" tanya balik Budi.


"Menurut saya kali ini tuan sudah sangat keterlaluan" ucap Dion memprotes.


Budi mengangkat kepalanya melihat sang asisten yang baru kali ini berani bicara tegas. Selama ini Dion selalu patuh dengan apa yang di perintahkan tanpa membantah sedikit pun.


"Jadi menurutmu aku yang salah?" tanya Budi sambil menatap tajam Dion.


"Maaf tuan bukan itu maksud saya" ucap Dion sambil menunduk.


"Heemmmm"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Budi lalu memutar kursi kerjanya memandangi pemandangan luar dari kaca. Suasana malam di kota Solo tidak membuat Budi bisa mengalihkan pikirannya dari mansion.


Melihat tuannya yang sedang berkecamuk dengan pikirannya, ia langsung mengutarakan pendapatnya.


"Tuan"


"Heemmmm"


"Sebelumnya saya minta maaf tapi saya harus berbicara tentang hal ini"


"Apa yang mau kamu bicarakan" ucap Budi sambil memutar kembali kursinya menghadap Dion.


"Menurut saya tindakan tuan barusan salah. Dimana tuan yang selalu bertindak teliti sebelum menyimpulkan sesuatu"


"Apa maksud kamu Dion?" tanya Budi dengan wajah datar.


"Saya percaya nona muda tidak mungkin berpacaran apa lagi membohongi tuan. Bukannya selama ini jadwal kegiatan nona muda tuan selalu tahu dan nona muda bukan orang yang mudah di dekati orang tuan" ucap Dion dengan suara tegas.


Budi tersentak mendengar ucapan Dion barusan, ia yang sebagai seorang ayah seharusnya lebih mengetahui tantang anak-anaknya.


Bahkan ia menyesal sudah melakukan sesuatu tanpa mencari tahu lebih dulu. Melihat tuannya yang tersentak dengan ucapannya barusan Dion yakin saat ini Budi sedang gundah gulana.


Aku berharap tuan bisa menjadikan hal ini sebagai pelajaran sebelum bertindak, batin Dion.


"Aku yakin ini semua betul dan tidak ada kesalahan" ucap Budi dengan egois.


Dion hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar melihat sikap egois sang tuan. Ia yakin meski tuannya salah tapi ia tidak akan mengakui hal tersebut.


"Tuan akan menyesal suatu saat nanti" ucap Dion dengan suara tegas.


"Tutup mulutmu Dion sebelum aku robek! Ini bukan urusan mu" bentak Budi dengan emosi.


"Maafkan saya tuan" ucap Dion memilih mengalah dari pada meladeni sang tuan.


3 Hari kemudian


3 hari sudah berlalu dengan sangat cepat, sejak kejadian Valeria di pukul oleh Budi suasana mansion berubah drastis.


Arinta masih mendiamkan suaminya karena masih sangat kecewa dengan kelakuan suaminya itu. Sedangkan Valeria ia hanya berdiam diri di dalam kamar sambil menunggu keadaannya pulih.


"Valeria" ucap Arinta dengan suara lembut.


"Ibu ngak ke butik?" tanya Valeria.


"Bentar lagi sebelum itu ibu mau ke keraton dulu"


"Mau ngapain bu?" tanya Valeria.


"Ibu mau minta eyang putri buat jagain kamu"


"Loh emang buat apa bu?" tanya Valeria penasaran.


"2 hari lagi ibu mau berangkat ke Jakarta buat fashion week"


"Oh iya Valeria baru ingat bu"


"Uhmm...........ada yang mau ibu sampaikan ke kamu"


"Apa bu"


"Kamu ngak bisa jadi model kali ini di acara fashion nanti" ucap Arinta dengan hati-hati.


"Iya bu aku tahu karena keadaan aku kayak gini otomatis aku ngak bisa ikut" ucap Valeria sambil tersenyum manis.


"Kamu ngak marah kan sayang"


"Ngak bu. Aku malah mau minta maaf karena ngak bisa nemani ibu"


"Ini bukan salah kamu sayang jadi ngak usah minta maaf ya" ucap Arinta sambil mengusap kepala Valeria dengan lembut.


"Iya bu, tapi siapa yang gantiin Valeria bu?" tanya Valeria.


"Itu Bianca sayang"


Valeria merasa sangat marah saat nama Bianca disebut, karena sampai saat ini ia sudah terlalu kecewa dengan Bianca. Seakan tahu apa yang di pikirkan sang anak Arinta lalu menjelaskannya.


"Ibu terpaksa karena sudah mepet banget buat nyari model lain sayang" ucap Arinta dengan lembut.


"Iya Valeria ngerti kok bu" ucap Valeria sambil tersenyum manis.


"Makasih ya sayang"


"Iya sama-sama bu"


"Oh nanti kamu di temani eyang putri ya"


"Bisa ngak Valeria ditemani bi Susi sama pelayan aja bu. Lagian Valeria ngak mau eyang putri sampai tahu kejadian ini bu" ucap Valeria dengan wajah sendu.


Arinta mengangguk kepalanya menyetujui ucapan sang anak. Entah kenapa Arinta sangat sedih saat membahas perihal 3 hari yang lalu.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Sampai saat ini Budi suaminya belum menyapa atau meminta maaf kepada putrinya. Arinta tahu jika tebakan suaminya itu tidak benar tapi ia belum mau berbicara dengan suaminya sampai Budi menyadari kesalahannya.


Setelah berbicara dengan sang anak Arinta segera pergi ke butik untuk mengurus beberapa kerjaan sebelum ia berangkat.


Valeria yang menghabiskan waktunya di dalam kamar, memilih menulis semua isi hatinya di dalam diary. Air mata Valeria mengalir dengan deras saat tinta bolpoin di toreskan di halaman diary.


"Ya Tuhan............hiks hiks hiks bantulah hamba untuk kuat menjalani ini semua" ucap Valeria dengan tangis yang menyayat hati.


Bi Susi yang hendak masuk ke dalam kamar Valeria menghentikan langkahnya. Air matanya ikut jatuh mendengar semua keluh kesah dari nona mudanya.


"Non anak yang kuat dan baik hati. Non pasti bisa melewati semua cobaan ini" gumam bi Susi dengan suara sangat pelan.


Setelah puas mencurahkan semua isi hatinya Valeria segera berjalan menuju walk in closet. Ia membuka jubah tidurnya dan memandang bagian belakang tubuhnya yang penuh dengan luka.


"Tragis banget nasib gue" ucap Valeria sambil tersenyum sedih.


Semua yang ia miliki saat ini tidak berarti apa-apa. Apa lagi saat mengingat ucapan Bianca tiga hari yang lalu, membuat Valeria tau jika semua ketulusan Bianca selama ini hanyalah pura-pura.


"Mulai saat ini gue ngak akan pernah perduli lagi sama loe" ucap Valeria dengan tatapan tajam melihat dirinya di dalam kaca.


❄❄❄❄❄


To be continue.............


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀