Love Struggle

Love Struggle
Chapter 173



🌻Jangan lupa untuk berterimakasih pada diri sendiri karena hidup itu memang sulit tapi dengan bersyukur kamu pasti dapat menjalaninya🌻


.


.


.


.


"Mommy, daddy...........huaaawaaa" tangis sikembar pecah di lantai dua menggema di dalam mansion saat kaca di ruang permainan pecah.


Xavier berlari naik ke lantai dua bersama Chloe ingin melihat anak-anak mereka. Albert, Mira, dan juga Kevin ikut ke lantai dua ingin melihat keadaan anak mereka.


Beruntung Zelena sedang tidur dan tidak terbangun dengan bunyi pecahan kaca di kamarnya. Dengan cepat mereka lalu menenangkan anak-anak mereka yang menangis di sana.


Xavier menatap Albert memberinya isyarat untuk menyuruh pelayan dan pengawal membereskan semua kekacauan di mansion dan menganti semua kaca yang pecah.


Sedangkan di lantai satu Thomas bangun sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Hatinya sangat sakit mengingat ucapan istrinya tadi tapi ia tahan karena saat ini yang lebih penting adalah anaknya.


Maafkan daddy son, batin Thomas merasa sangat bersalah.


Tes............


Dengan cepat Thomas menghapus air matanya yang jatuh tidak ingin orang lain melihatnya.


"Tuan" ucap Ares sambil menyodorkan tisu.


"Berikan laptopku" ucap Thomas dengan suara dingin.


Ares tak mengatakan apa-apa dan memberikan laptop milik Thomas kepadanya. Keduanya lalu berkutat dengan laptop melacak keberadaan Mikhail, Xander, David, dan siapa yang menculik mereka.


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan tanpa sadar sudah malam kembali. Thomas menghentikan jari tangannya di laptop setelah berhasil mengetahui lokasi penculik Xander dan David.


"Apa anak-anak diculik oleh orang yang sama?" tanya Thomas dengan suara dingin.


"Sepertinya ia tuan. Orang yang menculik ketiganya mereka memiliki tato yang sama tuan" ucap Ares sambil memperlihatkan tato di tubuh para penculik.


"Siapa mereka?" tanya Thomas dengan kening berkerut.


"Mereka anak buah klan mafia Zombie tuan"


"Zombie?" tanya Thomas dengan mengernyitkan keningnya merasa aneh dengan nama klan yang terdengar tak masuk akal.


"Benar tuan. Seperti nama klannya mafia ini adalah mafia yang terkenal dengan cara membunuh dan menyiksa musuh yang tak memandang umur dan jenis kelamin tuan. Bahkan mereka juga terkenal karena suka minum darah manusia" papar Ares menjelaskan.


"Apa? Mereka gila atau apa! Sekalian saja mereka makan organ manusia" pekik Thomas tak habis pikir.


"Menurut informasi yang saya dapat ternyata ketua mereka biasa memakan jantung anak kecil setiap sebulan sekali tuan"


"Jangan bilang mereka penganut aliran sesat" tebak Thomas.


"Benar tuan. Setiap anggota memiliki simbol di tangan mereka seperti ini" ucap Ares sambil menunjukkan gambar yang tadi ia dapat saat mencari informasi mengenai penculik Mikhail.


Thomas menatap gambar tersebut dengan kening berkerut karena baru kali ini melihat simbol K terbalik dengan empat titik di atasnya.


Tak berselang lama Xavier, Albert, dan Kevin menghampiri keduanya yang sejak pagi tak beranjak dari ruang keluarga hingga malam.


"Dude sebaiknya kalian makan dulu" ucap Kevin.


"Aku tidak lapar" ucap Thomas dengan suara dingin.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri Thomas. Kamu butuh tenaga untuk mencari anakmu" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap Thomas memikirkan ucapan Xavier barusan yang ada benarnya juga.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Keempatnya segera pergi ke meja makan untuk makan malam meninggalkan Ares sendiri di ruang keluarga yang kembali berkutat dengan laptop.


Thomas mengatakan jika Ares tak terbiasa makan di rumah orang lain dan sebentar lagi ia akan pulang untuk makan malam.


Selesai makan malam Thomas memberitahu hasil pencariannya kepada Xavier dan lainnya. Xavier dan Albert kaget tak menyangka jika orang yang menculik anak mereka adalah orang yang dulu pernah Xavier kalahkan saat berumur 20 tahun.


"Apa kamu sudah dapat lokasi mereka?" tanya Xavier dengan aura membunuh.


"Belum bos. Aku usahakan besok aku akan menemukan lokasi mereka" ucap Thomas dengan suara tegas.


"Albert siapkan anak buah kita. Setelah menemukan lokasi mereka kita serang mereka dan bawa kembali anak-anak kita" ucap Xavier dengan tatapan tajam dan dingin.


"Baik bos"


"Kevin kamu jaga istri dan anak-anakku. Jika aku pergi bawa mereka semua ke markas karena aku yakin ada mata-mata di sekitar ini" ucap Xander dengan suara tegas.


"Oke bos" ucap Kevin.


Thomas dan Ares lalu pamit pulang kembali ke penthouse sedangkan Albert dan Kevin keduanya disuruh menginap.


~ Kingdom Apartment ~


Sampai di apartemen Kingdom Thomas dan Ares segera masuk ke dalam lift menuju penthouse Valeria di lantai 75.


Sampai di penthouse Thomas kaget bukan main melihat pintu penthouse yang sudah tidak ada lagi dan juga keadaan penthouse yang hancur seperti kapal pecah.


"Apa yang terjadi disini?" tanya Thomas dengan bingung.


Ares lalu berkutat dengan iPad di tangannya dan tak berapa lama ia menunjukkan video cctv di penthouse kepada Thomas beberapa saat yang lalu.


Thomas kaget melihat istrinya yang menendang pintu penthouse hingga terlepas. Pandangannya lalu tertuju ke pintu penthouse yang berada di depannya.


"Honey" ucap Thomas tak bisa berkata apa-apa melihat sang istri yang mencekik Yorla dengan santai bahkan melemparnya seperti tak ada beban.


"Dimana istriku?" tanya Thomas dengan sendu.


"Nyonya mematikan semua GPS dan juga hpnya tidak bisa di lacak tuan" ucap Ares.


Phew..................


"Pergi" usir Thomas dengan suara dingin.


"Baik tuan dan selamat beristirahat"


Ares segera berlalu menuju apartemennya untuk mengisi daya. Thomas berlalu menuju kamar utama dan sampai di dalam ia duduk di ranjang sambil menangis histeris.


Tangisannya terdengar sangat pilu dan menyayat hati bagi yang mendengarnya. Ia merasa sangat tak berguna menjadi suami dan ayah untuk istri dan anaknya.


"Aku memang tidak berguna........hiks hiks hiks" lirih Thomas sambil menangis pilu.


~ Markas Black Shadow ~


Tanpa Thomas sadari ternyata Valeria mengetahui semua yang dilakukan suaminya saat ini karena Res yang mengontrol satelit miliknya.


Tes...........tes.............tes...............


Valeria menangis dalam diam melihat suaminya yang saat ini sedang menangis pilu di dalam kamar mereka.


Meski sangat marah karena kebodohan suaminya tapi dalam hatinya ia merasa sakit hati melihat sosok suaminya yang rapuh saat ini.


"Maafkan aku honey tapi ini semua pelajaran untuk kamu agar tidak melakukan kesalahan lagi di masa depan" lirih Valeria.


Tok........tok..........tok..........tok..........


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Valeria menghapus air matanya dan menutup laptop tak ingin orang lain melihat sisi lemah suaminya. Ia lalu menekan tombol open di remote yang berada di depannya.


"Val loe makan dulu ya" bujuk Bryan sambil mendorong troli berisi makanan.


"Gue ngak lapar" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Ingat bayi di kandungan loe Val. Gue tahu saat ini loe pasti sangat khawatir sama Mikhail tapi loe ngak boleh egois sama bayi dalam kandungan loe" ucap Bryan dengan suara lembut.


Memikirkan ucapan Bryan ada perasan bersalah di hatinya karena sudah melupakan anaknya.


Maafkan mommy ya nak udah egois, batin Valeria sambil mengelus perut buncitnya.


"Siapkan" ucap Valeria dengan suara dingin.


Bryan merasa senang karena akhirnya Valeria mau makan karena sejak pagi ia belum makan sama sekali karena sibuk dengan laptopnya.


"Kita rapat sejam lagi" ucap Valeria dengan suara dingin setelah menghabiskan makan malamnya.


"Oke Val"


Bryan segera menyuruh anak buahnya membereskan bekas makan Valeria dari ruang kerja Valeria. Keduanya lalu bergegas keluar menuju balkon di lantai dua untuk bersantai sejenak.


"Dimana tunangan loe?" tanya Valeria sambil memakan apel yang dibawakan Yorla barusan.


"Dia udah sama mama di kerajaan" ucap Bryan.


"Kenapa brother ngak menemani dia?" tanya Yorla.


"Adik gue lagi kesusahan dan gue harus bantu dia! Pernikahan gue bisa ditunda tapi masalah ini ngak bisa ditunda" ucap Bryan dengan tegas.


Yorla tersenyum manis mendengar ucapan Bryan barusan sedangkan Valeria ia hanya berekspresi datar tak ada ekspresi apapun mendengar ucapan Bryan.


"Sister maafin eke" lirih Yorla dengan gugup sambil menunduk.


"Loe tahu rasanya gue pengen cabik-cabik loe sama suami gue yang bodoh itu" ketus Valeria dengan tatapan tajam.


"Maaf" ucap Yorla dengan tulus.


Valeria diam tak membalas ucapan Yorla karena dihatinya ia belum memaafkan Yorla karena masih memikirkan putranya yang entah bagaimana keadaannya disana.


Bryan melirik Yorla untuk tak membahas kejadian tadi saat ini karena ia yakin otak Valeria saat ini hanya tertuju ke Mikhail saja.


Tak berselang lama sudah sejam berlalu dan saat ini Valeria dan kepala tim masing-masing bersama Juan sudah berada di ruangan rapat.


"Loe semua pasti udah dengar apa yang terjadi sekarang?" tanya Valeria dengan suara dingin.


"Iya master" jawab semuanya dengan serentak.


"Zombie! Klan mafia yang udah menculik anak gue" tegas Valeria.


"Zombie?" tanya Bryan yang merasa aneh dengan nama tersebut.


"Master jangan bilang klan mafia asal Austria?" tanya Juan dengan cepat.


"Heemmm" deham Valeria membenarkan ucapannya.


"Pak tua you tahu mafia itu?" tanya Yorla dengan suara gemulai.


"Berhenti panggil gue pak tua bencong sialan" hardik Juan dengan emosi.


"Ckk!" decak Yorla dengan kesal.


"Juan katakan tentang mafia Zombie" titah Bryan dengan suara tegas.


"Sesuai nama mereka Zombie, mereka itu orang paling bar-bar di muka bumi ini karena kebiasaan mereka yang suka minum darah manusia. Apa lagi mereka sangat suka membunuh tak memandang usia dan jenis kelamin. Yang paling parah ketua mereka adalah pemakan jantung mentah anak kecil" papar Juan menjelaskan.


"Fu*k!" maki Bryan dengan emosi.


"Eeuhhhh.........apa mereka itu pemuja iblis atau sejenisnya?" tanya Yorla dengan jijik.


"Mereka penganut aliran sesat" jawab Valeria dengan suara dingin.


"Master jumlah mereka sangat banyak dan hampir keseluruhan Austria adalah pengikutnya" ucap Juan.


Valeria mengetuk jarinya di atas meja memikirkan rencana yang akan ia lakukan besok untuk menyelamatkan anaknya serta menghancurkan musuhnya.


❄❄❄❄❄


To be continue.................