Love Struggle

Love Struggle
Chapter 156



🌻Berpikirlah positif tidak perduli seberapa keras kehidupanmu🌻


.


.


.


.


Alin memukul suaminya Seno dengan brutal tak perduli jika suaminya mati karena yang di pikirannya hanya putri ketiganya Clara.


Hiks........hiks........hiks......hiks.........


Alin terjatuh di lantai sambil menangis histeris mengingat putrinya. Ia berjanji akan membalas kematian putrinya meski ini semua ulah suaminya itu.


"Jeslyn siapa yang membunuh putriku?" tanya Alin dengan tatapan penuh dendam.


"I....tu" ucap Jeslyn dengan ragu sambil melirik ke arah tuan besarnya yang menggelengkan kepalanya.


"Aku tanya siapa yang membunuh putriku!" bentak Alin menggelegar didalam sana.


"Mommy udah jangan diperbesar lagi masalah ini. Lagian ini semua salah Clara yang mau aja ikutin perintah daddy" potong Selina putri pertama Aiden.


"Diam kamu Selina. Jangan kamu pikir mommy tidak tahu kalau kamu yang menghasut daddy untuk menyuruh Clara" hardik Alin sambil menunjuk putri sulungnya.


Skakmat...........


Selina diam tak bisa berkata-apa karena yang dibilang Alin semuanya benar. Karena cemburu dengan kecantikan dan kepintaran sang adik dia menghasut Seno menyuruh Clara untuk menggoda Thomas.


Mereka pikir Clara adalah cinta pertama Thomas jadi pasti dengan mudah bisa menggodanya dan setelah itu mereka bisa menggunakan Thomas untuk mengambil data proyek milik Wesly Group.


"Jeslyn" panggil Alin dengan tatapan membunuh sambil memainkan stik golf di tangannya.


"Tuan dan nyonya Parker nyonya. Tapi yang membunuh nona Clara adalah nyonya Valeria Parker" ucap Jeslyn dengan gugup.


"Thomas Parker?" tanya Alin dengan selidik.


"I.....ya nyonya" saking gugupnya Jeslyn berbicara dengan terbata-bata.


Alin melotot kaget memikirkan nama tersebut karena ia tahu siapa itu Thomas Parker. Dulu dia adalah pacar putrinya Clara tapi mereka putus karena Clara berselingkuh dan memilih laki-laki kaya.


"SENO AIDEN HARI INI JUGA KAMU AKAN MATI DI TANGANKU" teriak Alin bergema.


Seno yang melihat kemarahan istrinya lari terbirit-birit tak perduli badannya yang masih terasa sangat sakit. Ia tahu bagaimana marahnya Alin jika sudah menyebut namanya seperti itu.


Ah......Sial! Putriku itu menyusahkan saja padahal ia sudah mati, batin Seno berdecak kesal.


~ Kingdom Apartment ~


Hoek..........hoek........hoek..........


Thomas tersadar dari tidurnya mendengar suara muntahan. Dengan cepat ia langsung berlari masuk ke kamar mandi karena tak mau istrinya kenapa-napa.


"Jangan datang honey" lirih Valeria dengan suara lemah.


Tak memperdulikan ucapan istrinya Thomas berjalan mendekati istrinya lalu memijit tengkuknya agar lebih enak tak lupa membersihkan mulut Valeria hingga bersih.


"Aku buatin teh jahe ya honey" ucap Thomas sambil mengendong istrinya keluar dari kamar mandi.


"Aku tidak suka bau teh selain kopi honey"


"Lalu apa ada makanan yang kamu mau?" tanya Thomas lagi.


"Croissant sama kopi pahit honey"


"Baiklah aku akan suruh koki membuatnya"


"No honey. Aku pengen kamu yang buat" ucap Valeria dengan cepat.


"Apa! Tapi aku tidak bisa masak honey" pekik Thomas dengan kaget.


"I don't care. Pokoknya aku mau kamu yang bikin dan tidak boleh orang lain" (aku tidak perduli) tegas Valeria tak mau dibantah.


"Baiklah honey. Tapi aku akan minta bantuan Ares ya honey"


"Terserah"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Dengan santai Valeria berbaring kembali tak memperdulikan suaminya yang tengah berpikir keras bagaimana cara membuat croissant.


Kamu harus bisa Thomas ini semua buat anak dan istrimu, batin Thomas menyemangati dirinya sendiri.


Valeria tersenyum manis membaca pikiran suaminya entah kenapa ia ingin sekali memakan croissant buatan suaminya itu.


Akhirnya setelah 1 jam Thomas sudah berhasil membuat croissant meski bentuknya tidak serapi buatan chef terkenal.


"Bersihkan ini semua" ucap Thomas dengan santai kepada pelayan.


Setelah kepergian Thomas para pelayan menggelengkan kepala melihat dapur mewah Valeria yang sangat kotor dan berantakan karena ulah Thomas.


"Honey" panggil Thomas membawa sarapan buatannya ke Valeria yang sedang duduk di balkon lantai dua.


"Honey cepat kesini aku sudah sangat lapar" ucap Valeria dengan wajah berbinar melihat nampan yang dibawa Thomas.


Thomas menaruh nampan yang ia bawa sesuai permintaan Valeria. Tak menunggu lagi Valeria dengan lahap memakan 3 buah croissant buatan suaminya.


"Apa enak honey?" tanya Thomas.


"Heemmm" deham Valeri sambil mengangguk kepalanya.


Thomas mengambil satu buah croissant dan memakannya. Rasanya lumayan tidak terlalu manis dan tak kalah dengan croissant di cafe.


"Nyonya" ucap Ares menghampiri keduanya.


"Biarkan istriku sarapan Ares. Sana pergi jangan ganggu waktuku dan istriku" ketus Thomas dengan suara dingin.


Valeria menatap Ares dan mengangguk kepalanya untuk mengikuti ucapan sang suami. Thomas menggerutu kesal karena waktunya diganggu oleh Ares.


"Jangan marah sama Ares honey" ucap Valeria yang tahu pikiran suaminya.


"Aku tidak suka kamu dekat sama dia honey" protes Thomas.


"Heemmm"


"Jangan berdekatan lagi sama dia honey"


"Aku tidak bisa janji honey. Kamu tahu dia siapa untuk aku" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Jadi dia lebih penting dari aku" ucap Thomas dengan tak kalah dingin.


"Kamu tahu jawabannya"


"Jawab pertanyaanku VALERIA" ucap Thomas menekan namanya.


Valeria menatap suaminya dengan wajah datar dan dingin. Ia tahu suaminya saat ini sedang menahan emosi karena tak suka dengan Ares.


"Kamu mau aku menjawab pertanyaanmu seperti apa?" tanya Valeria sambil bersedekap tangan di dada.


"Ya"


Prang...............


Thomas membanting gelas yang ia pegang ke lantai dengan kesal. Wajahnya merah padam menandakan ia sangat marah dengan jawaban dari Valeria.


"Bawakan vitaminku Ares" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Baik nyonya" jawab Ares.


Kedua tangannya mengepal menahan emosi karena lagi-lagi Valeria tak mengindahkan ucapannya malahan menyuruh Ares mengambil vitaminnya.


"Kenapa!" ucap Thomas dengan aura membunuh.


"Kenapa apanya?" tanya Valeria dengan santai.


"Kenapa kamu tidak menyuruhku melainkan Ares! Apa aku hanya pajangan kamu di sini!" hardik Thomas menggelegar.


Valeria mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan suaminya. Ia memilih minum vitamin yang dibawakan Ares barusan tidak memperdulikan ucapan suaminya.


"VALERIA ANASTASIA PARKER!" bentak Thomas.


Plak............


Valeria menampar pipi Thomas dengan kuat membuat para pelayan yang berada di lantai satu kaget bukan main.


Tatapan matanya berkilat tak suka dibentak meski itu suaminya sendiri. Ia lalu melirik Ares untuk menyuruh pelayan keluar.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Tenangkan dirimu" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Kamu menampar suamimu sendiri hanya karena dia" tunjuk Thomas ke arah Ares dengan tatapan tak percaya.


"Aku tidak suka dibentak meski kamu suamiku sendiri"


Hahahahaha.............


Tawa Thomas seketika pecah mendengar ucapan istrinya, ingin marah tapi ia tahan karena tak ingin menyakiti anak dan istrinya.


"Aku sebagai suami kamu melarang kamu dekat dengan Ares" ucap Thomas dengan suara lantang.


"Jangan mengaturku Thomas Parker"


"Ingat petuah suami istri" tegas Thomas.


Prang.........prang..........prang........


Valeria menendang meja dan kursi di depannya melampiaskan emosinya. Ingin sekali ia memukul Thomas tapi ia tak bisa karena petuah suami istri yang dibilang oleh eyang putri.


"Buka baju kamu Ares!" bentak Valeria.


"Apa maksudmu Valeria? Kamu jangan membuatku semakin emosi!" hardik Thomas.


"BUKA!" bentak Valeria dengan aura membunuh.


Ares membuka bajunya membuat Thomas semakin terbakar cemburu. Apa lagi melihat istrinya yang berjalan menghampiri Ares.


"BERHENTI DISITU VALERIA!" teriak Thomas.


Valeria tak memperdulikan teriakan suaminya dan berjalan menuju Ares lalu menekan dada kirinya membuat Ares seketika menutup mata.


Posisi tubuh Valeria yang menutupi bagian dada Ares membuat Thomas semakin penasaran apa yang dilakukan oleh istrinya. Pikirannya mulai tak menentu memikirkan hal-hal aneh yang dilakukan Valeria ke Ares.


"VALERIA ANASTASIA PARKER!" bentak Thomas menggelegar.


Duar...........


Tubuh Thomas seperti di sambar petir melihat apa yang di pegang istrinya. Otaknya blank tak tahu harus berpikir apa atau berkata apa.


"Apa kamu puas?" tanya Valeria sambil memegang drive Ares.


"D......ia" ucap Thomas dengan terbata-bata.


"Heeemm! Seperti yang kamu pikirkan" ketus Valeria dengan sinis.


"Siapa yang membuatnya?" tanya Thomas.


"Menurutmu" sinis Valeria sambil tersenyum mengejek.


"Honey" ucap Thomas dengan senyum manis.


"Kamu tahu! Hanya kamu saja yang tahu siapa Ares yang sebenarnya. Aku sedari dulu dengan Ares karena aku yang membuatnya dan aku benci bersentuhan dengan laki-laki dan hanya Ares saja karena ini alasannya!" bentak Valeria dengan emosi.


"Maafkan aku honey" lirih Thomas dengan memelas.


"Pergi" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Honey" ucap Thomas dengan kaget.


"Aku benci lihat kamu! Pergi dari hadapanku!" hardik Valeria dengan aura membunuh.


"Honey jangan seperti ini. Aku minta maaf aku honey"


"PERGI!" bentak Valeria menekan ucapannya.


"Oke aku pergi honey. Tapi tenangkan diri kamu ingat ada calon anak kita di perutmu honey" ucap Thomas mengalah.


"Aku harap kamu tidak memberitahu identitas Ares ke siapapun" ketus Valeria memperingati Thomas.


"Aku berjanji" ucap Thomas dengan suara tegas.


Thomas memilih pergi dari penthouse tak mau membuat istrinya semakin emosi karena saat ini Valeria sedang mengandung dan tak boleh terlalu emosi.


Valeria kembali memasang drive Ares dan menetralkan emosinya. Ares membuka matanya dan kembali memakai baju yang tadi ia lepas.


"Panggil dokter Vivian"


"Baik nyonya"


Ares lalu menghubungi dokter Vivian untuk segera datang ke penthouse bersama dokter Lauren. Tak berselang lama Thomas kaget melihat kedatangan kedua dokter tersebut.


"Kenapa kalian kesini?" tanya Thomas dengan suara dingin.


"Nyonya memanggil kami tuan" ucap dokter Lauren.


"Apa istriku baik-baik saja?" tanya Thomas dengan khawatir.


"Kami tidak tahu tuan. Kami hanya disuruh kesini"


Ares lalu membuka pintu untuk keduanya masuk tapi tidak dengan Thomas. Melihat hal itu Thomas semakin cemas takut ada sesuatu yang terjadi kepada istri dan anaknya.


❄❄❄❄❄


To be continue............