
π»Orang yang kuat selalu mempunyai hati yang besar karena ia bisa melewati semua cobaan yang datang dalam hidupnyaπ»
.
.
.
.
Ares berlari dengan sangat cepat seperti tak ada beban saat mengendong Valeria. Sampai di helikopter keduanya segera masuk ke dalam saat akan menutup pintu helikopter ternyata Juan menahan dari luar.
"Gue ikut loe" ucap Juan.
"Heeemmm"
Ketiganya segera pergi dari sana tak lupa Ares memberi perintah kepada semua anggota Black Shadow untuk meledakkan tempat itu sampai hancur. Sedangkan Juan saat ini sangat cemas melihat wajah Valeria yang semakin pucat.
Ares diam tak memperdulikan Juan yang duduk dengan gelisah di depannya.
Meski kedua tangannya sedang mengendong Valeria tapi siapa sangka saat ini Ares sedang memberi perintah untuk menyiapkan brankar dan dokter.
~ Medika hospital ~
Selang 10 menit akhirnya mereka sampai di Medika Hospital, salah satu rumah sakit terbesar di pulau Cayman. Juan kaget saat melihat dokter dan suster yang sudah berdiri menunggu kedatangan mereka.
Sejak kapan Ares menyiapkan semuanya, batin Juan penuh tanda tanya.
Saat helikopter sudah mendarat Ares lalu menaruh Valeria di atas brankar. Tubuh bagian belakang Valeria sudah penuh darah entah ia terluka di bagian mana, dengan cepat dokter dan suster segera mendorong brankar menuju ruang operasi.
Ares dan Juan menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Juan yang sangat cemas dengan Valeria sempat melirik Ares yang sedari tadi sibuk mengutak-atik hpnya bahkan di wajahnya tak ada raut cemas atau apapun.
"Ares"
"Heemmm"
"Apa master akan selamat?" tanya Juan dengan cemas.
"Nyawa seseorang semua ada di tangan Tuhan"
Skakmat..........
Juan tak bisa membalas ucapan Ares entah apa ia mencemaskan Valeria atau tidak hanya dia saja yang tahu.
Bahkan Ares terkesan menyerahkan semuanya pada Maha Pencipta tak berselang lama Ares lalu menelpon seseorang.
"Halo"
^^^"5 menit lagi tutup jejak keberadaan saya dan nyonya"^^^
"Maksud loe?" tanya orang diseberang yang ternyata adalah Andre.
^^^"Nyonya saat ini berada di ruang operasi Medika Hospital"^^^
"Apa" teriak Andre dengan kaget.
Ares lalu mematikan panggilannya sepihak dan langsung mengirim pesan ke Bagas. Ia harus bergerak cepat untuk menyelesaikan semuanya sesuai perintah Valeria tadi.
~ Jakarta, Indonesia ~
Andre memaki Ares karena panggilannya dimatikan sepihak meski kesal ia tetap menjalankan perintah Ares. Bahkan ia juga mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Medika Hospital.
"Master" ucap Andre dengan wajah pucat.
Air matanya jatuh melihat tubuh Valeria yang penuh darah saat di dorong menuju ruang operasi dengan cepat jari-jarinya menutup jejak keberadaan Valeria di sana.
Tak lupa ia mengabarkan kepada semua anggota Black Shadow tentang kondisi Valeria saat ini. Semua anggota Black Shadow kaget bukan main mendengar kabar tentang master mereka.
Apa lagi mereka tahu jika master turun tangan langsung dengan misi Juan di pulau Cayman, bahkan mereka tak menyangka jika Valeria mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Juan dan kedua anak buahnya.
Bahkan Bryan yang mendapat kabar tentang hal itu segera pergi dari kerajaan Wizpet. Dengan cepat ia langsung menuju pulau Cayman dan menyerahkan urusan kerajaan ke penasehat kerajaan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Kusumo Group ~
Bagas sedang memeriksa beberapa laporan di ruangannya. Meski jam sudah menunjukkan pukul 20:00 ia belum juga beranjak dari tempatnya untuk pulang.
Ting...........
Satu pesan masuk di hpnya membuat pandangan Bagas yang tadinya fokus memeriksa laporan langsung menoleh ke hpnya yang berada di depannya. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tak tenang dan menyuruhnya untuk mengecek pesan masuk.
PrivateNumber
"Valeria gave a message to tell her kangmas, that she really loves him" (Valeria memberi pesan untuk memberitahu kangmasnya, kalau ia sangat menyayanginya"
Deg...............
Jantung Bagas serasa di remas kuat melihat pesan tersebut dengan foto saat Valeria di atas brankar. Air mata Bagas jatuh melihat foto sang adik yang terbaring lemah.
"Dek.......hiks hiks hiks.....apa yang terjadi sama kamu dek......hiks hiks" ucap Bagas dengan histeris.
Dengan cepat Bagas menghubungi nomor tersebut tapi tidak bisa karena nomor itu adalah private number.
Ia membuang semua berkas di atas mejanya membuat Ahmad yang berada di luar langsung masuk ke dalam ruangan Bagas saat mendengar bunyi benda jatuh.
"Tuan" ucap Ahmad dengan kaget.
"Lacak orang yang baru saja kirim pesan ke gue sekarang" teriak Bagas dengan emosi.
"Ba....ik t...uan" ucap Ahmad dengan gugup.
Ahmad segera menghubungi hacker mereka yang adalah teman baik mereka juga. Ia tak mau membuat tuannya kembali mengamuk karena tak segera melakukan perkataannya selang 30 menit akhirnya telpon Bagas berbunyi.
^^^"Katakan" ucap Bagas dengan suara dingin.^^^
"Orang itu pintar banget. Dia tahu kalau loe bakal lacak keberadaan dia bro"
^^^"Sial! Apa loe ngak dapat keberadaan nomor itu"^^^
"3 menit setelah pesan itu masuk ke loe jejak dia langsung terhapus bahkan"
^^^"Bahkan apa" ucap Bagas dengan emosi.^^^
"Tenang bro. Jangan potong omongan gue anjrit"
^^^"Heeemmm"^^^
"Nomor itu menggunakan private tapi gue bisa pecahin kodenya. Masalahnya titik keberadaan nomor itu ada di seluruh Asia Tenggara"
"Gue yakin ini kerjaan adik loe tapi dari pesan itu kayaknya ini suruhan orang adik loe"
^^^"Apa foto itu beneran adik gue?" tanya Bagas dengan sedih.^^^
"Foto itu asli bukan editan. Hanya gue udah nyari jejak keberadaan adik loe di semua rumah sakit tapi nihil ngak ada sama sekali"
Phew............
Bagas menghembuskan napasnya dengan kasar mendengar hacker sekaligus temannya itu. Ia tak tahu harus mencari lagi kemana adiknya pergi pikirannya tak tenang mengingat foto Valeria tadi.
"Gue bakal terus nyari posisi adik loe sampai dapat bro"
^^^"Heemmm"^^^
Bagas segera mematikan panggilannya sepihak, ia langsung terduduk dengan lemas di kursi kerjanya. Pikirannya blank tak tahu harus berbuat apa memikirkan sang adik yang entah berada dimana saat ini.
Kamu dimana dek kangmas khawatir banget sama kamu dek, batin Bagas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Bagas yang sangat stres segera menyuruh Ahmad membawanya ke club. Ia ingin menghilangkan pikirannya sejenak tentang sang adik.
~ Medika Hospital ~
Setelah 4 jam akhirnya lampu tanda operasi sudah mati tak lama dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah. Dengan cepat Ares dan Juan langsung mendekat.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Bagaimana keadaan nyonya?" tanya Ares dengan cepat.
"Apa anda keluarganya?" dokter Matt balik bertanya.
"Dia nyonyaku dan tidak ada keluarga. Hidup sebatang kara" ucap Ares.
Juan melongo mendengar ucapan Ares yang mengatakan kalau Valeria hanya sebatang kara. Bukannya Valeria masih memiliki 2 saudara angkat pikirnya.
"Kondisi pasien saat ini sangat kritis tuan, akibat hantaman kuat itu tulang belakang pasien bergeser dan ada penggumpalan darah di bagian kepala. Maka dari itu kami ingin meminta persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan operasi"
"Lakukan operasinya sekarang" ucap Ares dengan cepat.
"Tapi tuan ada sesuatu yang harus saya sampaikan juga"
"Apa itu dok?" tanya Juan dengan cepat.
"Operasi ini tingkat keberhasilannya hanya 30% tuan dan jika operasi ini gagal maka berdampak pada jaringan saraf otak pasien"
Duar............
Tubuh Juan bagai disambar petir mendengar ucapan dokter Matt. Perasaan bersalah langsung menghantuinya karena jika Valeria tak menghadang puing pintu itu maka ia tidak akan mengalami ini semua.
"Hiks hiks hiks hiks hiks........master....hiks hiks" ucap Juan sambil menangis histeris.
"Lakukan sekarang dok" ucap Ares dengan tegas.
"Baik tuan mohon untuk menandatangani semua prosedurnya" ucap dokter Matt.
"Heeemmm"
Dokter Matt langsung pergi untuk menyiapkan segala keperluan mengenai operasi Valeria. Ia akan melakukan oeprasi ini semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasiennya.
"Kenapa loe ngizinin master buat operasi!" bentak Juan.
"Selagi ada peluang maka jangan dilepas" ucap Ares dengan santai.
"Loe mikir ngak sih kalau operasi master gagal bagaimana" hardik Juan dengan emosi.
"Jadi anda lebih pilih melihat nyonya terbaring menutup mata hingga ajalnya datang dan tidak melakukan apapun"
"Tapi kemungkinan tingkat keberhasilannya 30% sialan!"
"Itu lebih baik dari pada tidak sama sekali"
Ares segera berlalu meninggalkan Juan yang berdiri mematung di depan ruang operasi.
Ia memang tidak bisa mengerti apa yang dirasakan oleh manusia karena sejatinya ia hanyalah robot yang tak memiliki perasaan di dalam tubuhnya.
Setelah mengisi semua prosedur untuk operasi akhirnya operasi Valeria dilakukan saat itu juga. Kali ini operasi Valeria akan berlangsung lebih lama.
"Sebaiknya anda pergi makan lebih dulu"
"Gue ngak lapar" ucap Juan dengan ketus.
"Baiklah terserah anda tapi jangan mati disini karena itu akan membuat saya repot"
"Ckk!" decak Juan dengan kesal.
Meskipun begitu ia bergegas pergi untuk makan setelah memikirkan ucapan Ares yang ada benarnya. Ares yang menunggu operasi Valeria hanya menatap datar hpnya membaca pesan dari Andre.
Waktu terus berlalu dengan cepat dan entah sudah berapa lama Valeria di dalam ruang operasi belum juga selesai. Tak lama Bryan dan Yorla berlari menuju keduanya dengan napas ngos-ngosan.
"Bagaimana keadaan sister?" tanya Yorla dengan cepat.
"Masih di ruang operasi" ucap Juan.
"Bukannya operasinya sudah selesai tadi" ucap Bryan dengan bingung.
Juan lalu menjelaskan keadaan Valeria yang sebenarnya, tubuh Bryan seketika lemas dan terjatuh di lantai mendengar ucapan Juan. Sedangkan Yorla sudah menangis histeris mendengar kondisi Valeria.
"Kenapa loe izinkan Valeria buat operasi berengsek!" ucap Bryan dengan suara tinggi.
"Lebih baik operasi dari pada nyonya mati" ucap Ares dengan santai.
"Berengsek loe sialan. Kalau operasinya gagal bagaimana" teriak Bryan menggelegar.
Bugh............
Ares memukul Bryan dengan kuat karena menurutnya sangat menganggu. Ia tidak ingin teriakan Bryan sampai menganggu dokter Matt yang sedang mengoperasi Valeria di dalam.
"Loe berani mukul gue an***g!" bentak Bryan.
"Biar anda diam dan tidak menggangu dokter di dalam sama karena teriakan jelek anda" ucap Ares dengan santai.
Hah..........
βββββ
To be continue.................