
π»Bersiaplah dalam kesunyian dan biarkanlah kesuksesanmu membuat kebisinganπ»
.
.
.
.
Suara hardikan Ares menggema di dalam kamar Valeria membuat Thomas yang sedang menangis tersentak. Ia berbalik melihat ke arah suara dan kaget melihat tatapan Ares yang seakan ingin membunuhnya.
Glek.............
Apa ini kenapa tatapannya persis seperti Valeria dan matanya itu apa itu asli, batin Thomas.
Thomas menelan salivanya dengan susah melihat mata tajam dan warna mata Ares yang seperti setan. Keasyikan dengan pikirannya ia tak sadar jika Ares sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Jangan pernah sentuh nyonya dengan tangan kotormu" ucap Ares dengan suara dingin.
Deg..........
Hati Thomas berdesir mendengar ucapan Ares tentangnya yang di anggap kotor. Tatapan matanya berkilat tak menerima ucapan Ares tentangnya barusan.
"Ulangi lagi ucapanmu berengsek" ucap Thomas dengan suara geram.
"Pergi sebelum aku mematahkan tanganmu" usir Ares.
"Kamu pikir kamu siapa berani mengusirku" ejek Thomas.
"Aku orang kepercayaan nyonya yang mengatur semuanya" ucap Ares dengan tegas.
"Ckk!! Hanya orang kepercayaan saja belagu" cibir Thomas.
"Setidaknya aku orang yang diakui oleh nyonya dan selalu stand by di sisinya 24 hours"
Wajah Thomas seketika merah padam mendengar ucapan Ares apa lagi kata 24 hours membuatnya sangat cemburu. Ia melihat wajah Ares tepat di hadapannya dan langsung melayangkan tinju ke arah muka Ares.
Grep..........
"Anda harus lebih cepat untuk bisa menyentuh wajahku" ucap Ares dengan suara dingin dan tatapan datar.
"S**t aku akan menghancurkan kamu dengan tanganku sendiri berengsek!" bentak Thomas.
Bugh........bugh..........bugh.......bugh.......bugh.....
Ares memukul Thomas dengan kuat dan dibalas Thomas tak kalah kuat, keduanya saling memukul membuat kamar Valeria hancur berantakan. Yorla yang masuk ke dalam berteriak dengan histeris.
"Kalian berdua stop, stop" teriak Yorla melengking.
Bugh..............
Thomas berhasil memukul wajah Ares hingga menoleh kesamping. Ia tersenyum mengejek melihat hal tersebut tapi seketika senyumnya luntur saat melihat mata Ares yang semakin merah menatapnya seperti diawasi iblis.
Bugh.............brak...........
Thomas terpental saat Ares memukulnya tepat di rahangnya dan menghantam meja rias Valeria. Ia membuang ludah yang bercampur darah di lantai, Thomas memegang rahangnya yang sangat sakit akibat pukulan Ares barusan.
"I will kill you as****e" (aku akan membunuhmu berengsek) teriak Thomas dengan emosi.
Bugh...........bugh........bugh.......bugh.......bugh.....
Seperti kesetanan Thomas meninju dan menendang Ares tapi selalu di tangkis. Ares juga membalas memukul dan menendang Thomas berulang kali membuat ia terpental dan menghancurkan barang di dalam kamar Valeria.
"Kalian berdua hentikan" pekik Yorla dengan histeris.
"Yorla" teriak Bryan dari arah pintu masuk.
"Brother cepat hentikan mereka" teriak Yorla dengan panik.
Bryan berlari masuk ke dalam kamar Valeria dan kaget melihat kamar itu sudah hancur berantakan. Apa lagi saat melihat Ares sedang berkelahi dengan seseorang yang tak dikenali.
"Siapa dia?" tanya Bryan.
"Brother ini bukan saatnya bertanya bodoh. Cepat hentikan mereka" pekik Yorla dengan emosi.
"He ubur-ubur gagal loe mau bikin gue budeg apa" teriak Bryan tak kalah emosi.
"Isshhhh.......cepat hentikan mereka" ketus Yorla sambil mendorong Bryan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bukannya terdorong malah ia tetap berdiri di tempatnya seakan menonton pertunjukan menarik. Yorla kesal bukan main melihat Bryan yang berdiri sambil bersedekap dada.
"Brother cepetan" teriak Yorla dengan emosi.
"Loe diam deh biar Ares yang ngurus thu orang. Lagian dia siapa sih bisa ampe masuk ke sini" ucap Bryan dengan sewot.
"He is sister boyfriend" (dia pacar kakak) teriak Yorla dengan kesal.
"Apa" pekik Bryan dengan kaget.
Ia melihat Yorla tak percaya dengan ucapan Yorla tapi melihat wajah seriusnya, ia pun membenarkan jika apa yang Yorla katakan benar. Bryan melihat keduanya yang masih berkelahi dengan pikiran tak menentu.
Bugh........bugh.......bugh.......bugh.....
Thomas semakin menjadi memukul Ares tapi entah kenapa pukulan dan tendangannya selalu berhasil di tepis Ares. Melihat lawannya tak konsen dengan cepat Ares memukulnya tepat di ulu hati.
Aaarrrgghhh..........
Jerit Thomas merasa amat kesakitan meski sakit ia berusaha berdiri dan memasang kuda-kuda. Bryan dan Yorla kaget karena baru kali ini ada yang bertahan selama melawan Ares yang terkenal dengan sebutan mesin pembunuh.
"Brother kasian ganteng......hiks hiks" ucap Yorla sambil menangis.
"Diam deh loe ubur-ubur gagal!" bentak Bryan dengan kesal.
"Brother" ucap Yorla sambil mengguncang tubuh Bryan.
Ares yang melihat lawannya di depan masih berdiri meski tubuhnya sudah penuh dengan darah dan lebam hanya menatapnya datar.
Ia belum pernah melihat orang seperti Thomas yang bertahan lama dengan pukulannya selama ini.
"Segitu aja kemampuan kamu" ejek Thomas sambil tersenyum menyeringai.
Bugh..........
Uhhukkkk.........uhhhukkkk......uhhuukk....
Thomas terbatuk mengeluarkan darah saat Ares kembali menghantamnya tepat di ulu hati. Tanpa mereka semua sadari ternyata saat Thomas berbicara mata Valeria mengerjap terbuka.
Pandangannya menatap langit-langit melihat corak yang sangat ia kenali. Itu adalah corak yang khusus di setiap kamarnya Valeria melirik ke samping saat mendengar ucapan seseorang yang sangat ia kenali.
Matanya terbuka sempurna melihat Thomas yang batuk darah saat Ares meninjunya. Posisi Thomas yang tepat di depannya membuat mereka tak melihat Valeria yang sudah sadar.
"Ganteng cukup jangan buat Ares emosi dan membunuhmu" pekik Yorla dengan histeris.
"Udah bunuh aja Ares" ucap Bryan.
"Ares cukup hentikan dia sudah sekarat" pekik Yorla.
Ares tak memperdulikan ucapan keduanya karena saat ini ia hanya ingin melindungi Valeria dari apapun. Yang bisa menghentikan Ares hanyalah Valeria sendiri.
Bugh............
"Ares, sister" teriak Yorla dan Bryan serentak.
"H.....o.....ney" ucap Thomas terbata sambil tersenyum manis melihat orang yang berdiri tepat di belakangnya.
Valeria menatap Thomas dengan tatapan dingin dan datar tak ada senyum sedikit pun. Ares yang barusan di tendang Valeria sampai jatuh akhirnya bangun perlahan-lahan mendekati Valeria.
"Nyonya" ucap Ares dengan suara dingin.
Bruk..........
Thomas jatuh pingsan menubruk Valeria yang langsung ikut terjatuh di atas ranjang. Beruntung keduanya jatuh di ranjang, Ares dengan cepat menyingkirkan Thomas dari tubuh Valeria dan membantunya duduk di ranjang.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Sister........hiks hiks hiks" ucap Yorla sambil menangis.
"A...i.....r" ucap Valeria dengan lemah.
Ares langsung mengambil air dan memberi ke Valeria, perlahan-lahan Valeria minum dibantu Ares menahan gelas. Tubuh Valeria yang masih lemas membuatnya tak bisa banyak bicara apa lagi ia barusan memaksa menendang Ares barusan.
"Val apa ada yang sakit?" tanya Bryan dengan cemas.
"Mata gue" ucap Valeria dengan suara lemah.
"Panggil dokter jelek itu cepat brother" teriak Yorla dengan panik.
Bryan tak berkata apa-apa lagi dan segera menghubungi dokter Lauren. Tak sampai 10 menit dokter Lauren sudah datang dengan napas ngos-ngosan karena berlari.
"Dokter jelek cepat periksa sister" ketus Yorla.
"Nyonya" ucap dokter Lauren.
Dengan cepat dokter Lauren memeriksa Valeria ia sangat senang melihat Valeria yang sudah sadar dari komanya selama 3 bulan.
"Gimana?" tanya Bryan.
"Kondisi tubuh nyonya semua baik-baik saja hanya perlu melatih otot-otot nyonya yang kaku karena lama tertidur"
"Syukurlah" ucap Yorla dan Bryan serentak.
"Berapa lama gue ngak sadar?" tanya Valeria.
"3 bulan Val" ucap Bryan.
"Heemmmm"
Valeria hanya berdeham tak mengatakan apa-apa ia melihat kondisi kamarnya yang hancur berantakan membuat ia menutup matanya mengontrol emosi.
"Sister apa ada yang sakit?" tanya Yorla dengan khawatir.
"Mata" ucap Valeria dengan suara dingin.
"You bilang kondisi sister baik-baik aja tapi ini apa kenapa mata sister eke sakit! Hah!" bentak Yorla dengan suara tinggi.
"Ta....pi memang tubuh nyonya baik-baik saja nona" ucap dokter Lauren dengan gugup.
Valeria mengangkat alisnya sebelah mendengar dokter Lauren yang memanggil Yorla dengan sebutan nona. Begitu pula dengan Bryan yang kaget mendengar panggilan dokter Lauren ke Yorla.
Ini pasti akal-akalan ubur-ubur gagal ini, batin Bryan tak habis pikir.
"Ares"
"Maafkan saya nyonya. Saya akan bertanggung jawab semua" ucap Ares yang tahu maksud Valeria.
"1 hari"
"Baik nyonya"
"Periksa dia" ucap Valeria menunjuk Thomas.
"Baik nyonya" ucap dokter Lauren.
"Siapkan semuanya besok di penthouse"
"Baik nyonya" ucap Ares mengerti maksud Valeria.
"Bawakan makanan"
"Biar gue yang ambil Val" ucap Bryan.
Dokter Lauren memeriksa Thomas dan mengobati luka-lukanya. Ares sendiri sudah keluar dan berkutat dengan iPad di tangannya tak lupa ia menyuruh Yorla dan membersihkan kamar Valeria.
Meski kesal di suruh tetap Yorla membersihkan semua pecahan di sana. Tubuh Thomas yang penuh dengan lebam dan luka di kening dan tangannya sudah di obati tak lupa dokter Lauren juga memasang infus.
Waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa sudah malam. Tepat tengah malam Thomas akhirnya sadar dan meringis merasa sekujur tubuhnya sangat sakit, melihat kamar yang sangat ia kenali ia langsung melihat ke samping.
"Honey" ucap Thomas dengan senyum manis sambil mengelus pipi Valeria.
Valeria yang peka akan sentuhan membuka matanya saat merasa sentuhan di pipinya. Kedua mata hitam itu terbuka menatap Thomas denhan tatapan tajam dan dingin.
"Kemana saja kamu 3 bulan ini honey? Aku sangat merindukanmu" ucap Thomas dengan lembut.
"Kalau kamu sudah sadar cepat pergi"
"Kamu mengusir aku honey?" tanya Thomas tak percaya.
"Heemmmm"
Phew............
Thomas membuang napasnya dengan kasar mendengar ucapan sarkas Valeria. Tak ingin membuat pacarnya marah ia bergegas bangun dan mengambil jas yang berada di atas sofa.
"Aku pergi honey, besok aku datang lagi" ucap Thomas dengan suara dingin.
Valeria tak mengucapkan satu kata pun dan hanya menatapnya dengan dingin dan datar. Saat matanya tertutup ia merasakan kecupan singkat benda kenyal di bibirnya, matanya terbuka menatap tajam Thomas yang sudah berlalu pergi.
Sialan, batin Valeria berdecak kesal.
βββββ
To be continue.................