
π»Jadilah orang baik meski kamu tidak diperlakukan baik oleh orang lainπ»
.
.
.
.
Valeria terkekeh melihat wajah suaminya yang terlihat bodoh. Baru saja Thomas ingin bertanya mereka lalu interupsi oleh suara pak Dev.
"Selamat datang tuan dan nyonya" ucap pak Dev sambil membungkuk bersama pelayan yang berjejer di belakangnya.
"Bawa barangku dan suamiku ke kamar" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik nyonya" ucap pak Dev dengan sopan.
Thomas lalu memeluk pinggang istrinya dengan posesif masuk ke dalam kastil. Matanya tak bisa berbohong jika ia sangat berdecak kagum dengan interior di dalam kastil.
Belum lagi desainnya yang unik dan mewah membuat mata tak berhenti untuk terus menatap sekeliling kastil.
"Honey apa di setiap tempat tinggal kamu ada foto nikah kita?" tanya Thomas saat melihat foto pernikahan mereka yang di pajang di tengah-tengah tangga untuk naik ke lantai dua dengan ukuran besar.
"Iya honey"
Thomas melirik ke sekeliling dan melihat foto-foto istrinya dan juga ada foto dirinya disana. Ia tersenyum manis tak menyangka jika istrinya akan menaruh fotonya juga di kastil.
"Honey itu" tunjuk Thomas saat menangkap foto yang tak kalah besar berada di ruang santai.
"Oh itu foto aku honey" ucap Valeria mengikuti arah yang ditunjuk suaminya.
Thomas menatap foto istrinya dimana seluruh tubuhnya terlihat berlumuran darah dengan mata berwarna merah, dia seakan pernah melihatnya tapi entah dimana.
Tak mau berpikir terlalu keras Thomas memilih untuk melihat sekeliling kastil.
"kita ke kamar kita honey" ajak Valeria.
Keduanya lalu naik ke lantai tiga menuju kamar utama sekalian lantai khusus untuk Valeria seperti di mansionnya yang lain.
"Ada berapa lantai di kastil ini honey?" tanya Thomas saat masuk ke dalam kamar mereka.
"4 lantai"
"Lalu ada berapa kamar disini honey"
"Aku tidak tahu" jawab Valeria dengan jujur.
"Kenapa kamu tidak tahu"
"Karena bukan aku yang membersihkan semua kamar di kastil ini"
"Ya setidaknya kamu sebagai pemiliknya harus tahu honey"
"Jika kamu penasaran tanyakan saja pada pak Dev dia kepala pelayan di sini" ketus Valeria dengan tatapan kesal.
"Aku hanya penasaran saja honey" ucap Thomas sambil terkekeh.
Valeria memilih membersihkan badan sebelum beristirahat, melihat istrinya masuk ke kamar mandi Thomas memilih menjelajahi kamar mereka tak lupa melihat sekelilingnya dari balkon.
"Wow" ucap Thomas kagum melihat taman bunga di belakang kastil.
Matanya lalu tertuju ke taman di samping kastil yang ada air terjun buatan dekat hutan di sebelah timur kastil.
Sejak kapan ada hutan di tempat seperti ini, batin Thomas dengan penasaran.
Karena penasaran Thomas memilih keluar dan mencari Ares untuk bertanya. Beruntung Ares berada di lantai 3 sedang memantau pak Dev dan pelayan yang sedang membawakan koper mereka.
"Tuan" ucap pak Dev dan para pelayan sambil menunduk.
"Bawakan makan siang untukku dan istriku. Khusus makanan istriku harus sehat" ucap Thomas dengan cepat.
"Baik tuan"
"Ares aku ingin bertanya sesuatu"
"Silahkan tuan"
Thomas lalu bertanya tentang kastil ini dan apa saja yang ada di sini. Ares dengan santai menjawab semua pertanyaan Thomas dan memberitahunya ada tempat apa saja di disini dan berapa banyak pelayan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"500" pekik Thomas dengan kaget.
"Benar tuan. Pelayan dan penjaga di kastil berjumlah 500 tuan"
Thomas mengurut keningnya mendadak pusing tak habis pikir dengan jalan pikir istrinya yang mempekerjakan begitu banyak pelayan di sini.
5 Bulan kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan kini sudah 5 bulan berlalu sejak keduanya menetap di Dubai.
Selama 5 bulan terakhir emosi Thomas benar-benar diuji selama kehamilan istrinya yang saat ini sudah 7 bulan. Bagaimana tidak ngidam istrinya itu sangat aneh dan selalu tidak masuk akal.
Seperti saat ini Valeria mengidam ingin semua pelayan dan penjaga di kastil harus berkelahi hingga ia puas baru boleh berhenti.
"Honey sudah cukup mereka semua sudah capek" ucap Thomas.
"Diam! Kalau kamu tak suka kamu bisa bergabung bersama mereka!" bentak Valeria.
"Tidak honey. Biar aku menemanimu menonton disini honey" ucap Thomas dengan cepat.
Thomas mengangkat tubuh istrinya lalu mendudukkannya di pangkuannya. Thomas memeluk perut istrinya dan mengelusnya dengan lembut.
"Dia menendang honey" ucap Thomas dengan senang.
"Dia tahu jika daddynya sedang mengelus perut mommynya"
"Kenapa dia tidak menunjukkan jenis kelaminnya saat kita periksa honey?" tanya Thomas.
"Aku tidak tahu honey. Laki-laki atau perempuan menurutku sama saja honey"
"Benar honey yang penting anak kita sehat"
"Heemmm"
"Ares aku tidak kembali ke kantor jadi kamu suruh Alfarezi hendel semuanya" ucap Thomas.
"Baik tuan"
Saat usia kandungannya 4 bulan Valeria sudah memberitahukan jika di adalah pemilik sekaligus Presdir utama VA Corp. Dan selama kehamilannya suaminya yang akan mengantikan posisinya di perusahaan dan ia hanya mengawasi dari kastil.
Saat Thomas dan Valeria sudah masuk ke dalam kamar tiba-tiba hp Valeria berdering ada panggilan dari Bagas.
Ares hanya menatap saja panggilan tersebut tak mengangkatnya. Tak berselang lama hpnya yang berbunyi dengan nama pemanggil yang sama.
^^^"Halo"^^^
"Ares apa loe lagi sama adik gue?" tanya Bagas to the point.
^^^"Nyonya sedang tidur tuan Bagas"^^^
"Kalau adik gue bangun tolong beritahu dia gue bentar lagi berangkat ke sana"
^^^"Baik tuan Bagas"^^^
Ares lalu mematikan panggilannya sepihak merasa tak ada lagi yang harus dibicarakan. Ia lalu duduk di ruang santai menunggu keduanya bangun sambil memeriksa beberapa laporan di perusahaan dan markas.
~ Mansion Aiden ~
"Jadi mereka sekarang menatap di Dubai?" tanya Alin dengan tatapan tajam menatap Jeslyn.
"Iya nyonya"
"Apa perusahaan kita memiliki kerja sama dengan mereka?" tanya Alin lagi.
"Tidak nyonya. Semua proposal kita selama ini selalu ditolak oleh VA Corp nyonya"
"Sial. Apa hebatnya wanita jal**g itu" hardik Alin dengan emosi.
"Nyonya Parker sangat hebat nyonya. Bahkan dia mendirikan perusahaannya sendiri tanpa bantuan investor dan penanam saham di perusahaannya" papar Jeslyn yang memang mengidolakan presdir VA Corp sedari dulu.
"Jadi kamu itu berpihak ke jal**g itu dari pada majikanmu sendiri berengsek!" bentak Alin dengan emosi.
"Maafkan saya nyonya" ucap Jeslyn sambil menunduk takut.
Bodoh banget aku kenapa sampai bisa kelepasan sih, batin Jeslyn merutuki kebodohannya sendiri.
"Kirim lagi proposal kerja sama ke VA Corp lagi"
"Tapi nyonya" ucap Jeslyn yang langsung dipotong Alin.
"Berani kamu membantahku manusia rendahan" maki Alin.
"Maaf nyonya saya tidak bermaksud seperti itu" ucap Jeslyn dengan sakit hati.
"Pergi dan laksanakan perintahku!" bentak Alin menggelegar.
"Baik nyonya"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Jeslyn berlalu pergi dari ruang kerja Alin, setelah kematian putri ketiganya nyonya Alin Aiden mengambil kursi direktur mengantikan suaminya yang sudah ia buat cacat waktu itu.
Ceklek.............
"Mommy" panggil Vanesa putri keduanya.
"Kamu sudah pulang sayang?" tanya Alin dengan senyum manis.
"Baru saja aku sampai mom" ucap Vanesa sambil memeluk Alin.
Ia baru saja pulang dari luar negeri melakukan kunjungan kerja di kantor cabang mereka di sana. Alin menatap putrinya dengan bangga karena putrinya yang kedua tak kalah pintar seperti putri ketiganya.
"Dimana ka Selina, daddy, dan Niko mom?" tanya Vanesa.
"Kakakmu entah kemana dia pergi selalu saja buat mommy pusing. Daddy kamu ada di kamar sedang istirahat kalau adikmu belum pulang kampus" papar Alin sambil mengurut keningnya yang sakit memikirkan putri pertamanya.
"Oh"
Vanesa lalu pamit pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah kepergian putrinya Alin lalu mengambil hpnya dan menghubungi adiknya yang seorang pengedar narkoba terbesar di Meksiko.
"Tumben kakakku yang cantik menelponku" ucap suara dari seberang sambil terkekeh.
^^^"Aku butuh bantuanmu Liam" ucap Alin to the point.^^^
"Apa yang kakak butuhkan?" tanya Liam dari seberang.
^^^"Aku ingin membalas kematian putriku ke pasangan Parker yang telah membunuh putriku Liam tapi aku butuh bantuanmu"^^^
"Malam aku ke mansion kakak dan kita bicarakan disana ka"
^^^"Baik kakak tunggu"^^^
"Oke ka"
^^^"Jangan lupa ajak istri dan anakmu biar kita makan malam bersama nanti"^^^
"Nanti aku beritahu mereka ka"
^^^"Baiklah"^^^
Alin mematikan panggilannya sepihak setelah berbicara dengan adiknya. Tanpa Alin sadari ternyata Vanesa yang tadi ingin bertanya sesuatu ke mommynya mendengar pembicaraan mereka.
Mommy ternyata tidak pernah berubah selama ini sama jahat seperti daddy, batin Vanesa dengan sedih.
Vanesa memilih kembali ke kamarnya dan menghubungi adiknya Niko untuk segera menemuinya setelah pulang.
Ia tidak ingin ada kematian lagi di keluarganya seperti keserakahan sang daddy yang mengorbankan Clara adiknya untuk melakukan cara licik demi perusahaan mereka.
Tanpa Alin sadari ternyata di ruang kerjanya ada alat perekam yang entah kapan di taruh di samping lukisan kesukaan Seno.
Semua pembicaraannya dan apa yang ia rencanakan disana sudah diketahui oleh Ares dan Valeria, karena memang Valeria tahu jika keluarga Aiden sewaktu-waktu akan membalas kematian putri mereka jadi ia bergerak lebih dulu.
βββββ
To be continue.............