
π»Selalu lakukan yang terbaik karena apa yang kamu tanam itu yang akan kamu tuai nantiπ»
.
.
.
.
Berbeda dengan butik milik Arinta perusahaan Budi semakin hari semakin maju dan berkembang pesat. Selama 2 tahun belakangan Kusumo Group semakin sukses setelah Bagas bergabung bersama Kusumo Group.
Budi akui kehebatan sang putra dalam dunia bisnis sudah tidak di ragukan lagi. Selama 2 tahun Bagas benar-benar menunjukkan kemajuan yang sangat pesat untuk mengantikan posisinya sebagai direktur utama suatu saat nanti.
"Dion dimana Bagas sekarang?" tanya Budi setelah membaca majalah forbes tentang perusahaannya.
"Tuan muda sedang meeting bersama perwakilan RH Company tuan" ucap Dion.
"Suruh Bagas datang ke ruanganku setelah selesai meeting"
"Baik tuan"
Budi lalu memberi isyarat kepada Dion agar segera pergi, Dion yang sudah di luar segera menghubungi Ahmad asisten Bagas untuk menyampaikan informasi Budi barusan.
Bagas yang baru saja selesai meeting segera naik ke lift menuju ruangan sang ayah setelah di beritahu Ahmad. Entah apa yang akan di bicarakan oleh Budi ia tidak perduli karena baginya Budi bukan lagi orang yang ia idolakan seperti dulu.
Ting............
Bunyi lift telah sampai di lantai 20 ruangan khusus direktur utama. Saat keluar Bagas langsung di sambut oleh sekertaris Budi yang berdiri dengan sopan sambil menunduk memberi hormat.
"Selamat datang tuan muda" ucap Bu Rita sekertaris Budi.
Bagas tak membalas ucapan bu Rita dan berlenggang masuk ke ruangan Budi tanpa mengetok. Budi yang sedang memeriksa laporan menghentikan gerakannya saat mendengar pintu ruangannya di buka tanpa di ketuk.
Baru saja ia akan memarahi orang yang masuk tanpa mengetuk tapi ia urungkan saat melihat siapa yang datang. Wajah datar dan dingin Bagas seketika membuat ruangan menjadi sangat mencekam.
"Ada apa anda memanggil saya?" tanya Bagas to the point.
Phew.............
Budi membuang napasnya dengan kasar melihat sikap sang anak yang berubah drastis sejak 2 tahun lalu. Entah sampai kapan mereka akan seperti ini keduanya seperti bukan ayah dan anak karena sikap Bagas yang sangat dingin dan tak tersentuh.
"Sampai kapan kamu akan panggil ayah dengan formal son" ucap Budi dengan suara dingin.
"Anda tahu jawabannya" ucap Bagas tak kalah dingin.
"Bagas Panji Kusumo!" bentak Budi dengan suara tinggi.
"Langsung intinya saja anda panggil saya kesini untuk apa?" tanya Bagas dengan ketus.
"Apa hubungan kita tidak bisa seperti dulu lagi nak?" tanya Budi dengan wajah sedih.
"Bawa kembali adikku dan aku pastikan keluarga kita akan seperti dulu lagi" ucap Bagas dengan tatapan membunuh.
"Sampai kapan kamu mau membela perempuan hina itu!" ucap Budi dengan suara tinggi.
"Jaga ucapan anda tuan Budi Kusumo yang terhormat! Jangan pernah anda menghina adikku!" bentak Bagas dengan suara tinggi.
Keduanya saling menatap dengan tatapan membunuh tak mau mengalah, Ahmad dan bu Rita yang berdiri di luar menahan napas mereka mendengar keributan di dalam ruangan Budi.
Keduanya masih tak terbiasa mendengar perdebatan antara ayah dan anak di dalam sana.
"Kamu tahu Bagas sampai kapan pun ayah ngak sudi punya anak seorang j****g"
Hahahaha...............
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tawa Bagas seketika pecah karena sudah berkali-kali ia mendengar ucapan Budi seperti itu keduanya akan saling beradu mulut setiap kali bertemu.
Budi dan Bagas yang memiliki sifat keras kepala tak akan mau mengalah sampai apa yang mereka inginkan tercapai.
"Asal anda tahu tuan Budi Kusumo yang terhormat anda itu seorang ayah yang tak pantas di panggil seorang ayah" ucap Bagas dengan tatapan benci.
"Tarik kembali kata-katamu Bagas Panji Kusumo!" hardik Budi dengan mata melotot.
"Sebelum menyuruh saya sebaiknya anda tarik lebih dulu kata-kata anda waktu itu kepada adikku"
"Dia itu bukan adik kamu lagi Bagas. Sampai kapan kamu akan menutup mata melihat semua perbuatan perempuan j****g itu"
"Sudah berkali-kali saya bilang jangan pernah menghina nama adikku!" ucap Bagas dengan suara tinggi menggelegar.
Prang...........
Budi kaget bukan main melihat Bagas yang menendang meja di depannya sampai pecah. Bahkan bunyi pecah tersebut mengagetkan Ahmad dan bu Rita yang berdiri di luar ruangan Budi.
"Aku peringatkan anda tuan Budi Kusumo yang terhormat! Sekali lagi anda menghina adik saya saat itu juga saya akan hancurkan semua kebanggaan anda!" ancam Bagas dengan tatapan bagai seekor monster.
Brak.............
Bagas segera berlalu keluar tanpa mendengar ucapan Budi lagi, Budi menghela napasnya dengan kasar saat mendengar pintu yang di banting oleh Bagas dengan kuat.
"Berengsek!" teriak Budi dengan emosi.
Bagas yang sudah keluar dari ruangan Budi segera menuju lift dengan wajah emosi. Ahmad yang mengikuti Bagas kemana pun hanya bisa diam tak berniat mengeluarkan satu kata pun.
"Hubungi Rendi kita ketemu di apartemen" ucap Bagas dengan suara memburu karena emosi.
"Baik tuan"
Keduanya segera pergi dari perusahaan karena ingin membahas beberapa pekerjaan dan masalah Veleria. Bagas sudah tak kembali lagi ke perusahaan karena moodnya sudah hancur ia memilih pergi dari pada melampiaskan amarahnya kepada pegawai.
~ Deluxe Casino ~
Ares yang sudah pergi lebih dulu segera membawa Ringo ke jet pribadi Valeria. Mereka berencana akan pergi secepatnya dari Kamboja kembali ke Jakarta, saat Valeria akan pergi seketika riuh tamu pengunjung dari lantai satu bergema.
Valeria lalu melihat ke lantai satu dan menemukan ada kotak besar yang di giring menuju atas podium. Entah kenapa Valeria merasa ingin melihat apa yang akan mereka pertunjukkan di bawah sana tidak seperti biasa ia yang cuek dengan urusan orang lain.
"Para hadirin sekalian saya meminta waktu anda sebentar" ucap seorang pria paruh baya yang di kenal sebagai manajer Deluxe kasino.
Siapa itu
Apa ada pertunjukan lagi malam ini
Wah sepertinya kali ini barangnya akan berbeda ya
Gila kasino ini selalu memberikan sesuatu yang tak terduga
Begitu terdengar bisik-bisik para pengunjung saat manajer kasino sudah berdiri di atas podium.
Valeria melihat kotak di tutup kain merah besar di atas podium dengan kening berkerut ia sudah bisa menebak jika kasino ini bukan tempat perjudian saja.
Sepertinya kasino ini juga ada pelelangan gelap, batin Valeria.
"Malam ini adalah malam yang spektakuler seperti biasanya tapi khusus malam ini kami akan memberikan sesuatu yang lain buat pengunjung semua dari malam sebelumnya"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Note : semua percakapan di luar negeri author buatnya dalam bahasa Indonesia ya guys
"Apa aku boleh memakainya" ucap salah satu pengunjung dengan tatapan smirk.
"Boleh saja tuan asalkan anda bisa memberikan penawaran yang sepadan dengan apa yang kami tawarkan" ucap sang manajer.
"100.000$" tawar pengunjung no.3 (100.000$ \= Rp.1.436.360.000)
"150.000$" tawar pengunjung no.12.
"250.000$" tawar pengunjung no.8.
"Oh satu lagi anak ini bukan anak biasa karena dia memiliki bakat sebagai seorang desainer profesional" ucap manajer kasino.
Seketika semua pengunjung berlomba-lomba memberi penawaran dengan harga yang fantastik. Valeria tersenyum sinis mendapat ide untuk membalas rasa sakit kepada kedua orang tuanya dan saudara angkatnya itu.
"890.000$" tawar pengunjung no.58.
"Wow penawaran yang fantastik dari tuan no.58!! Apa ada yang ingin menawar lebih tinggi lagi?" tanya manajer kasino menggebu-gebu.
"2.000.000$" ucap Valeria dengan suara dingin.
Seketika semuanya hening mendengar tawaran Valeria yang tak masuk akal. Bagaimana tidak ia menawar langsung dengan harga tertinggi, membuat manajer kasino yang mendengar nominal tawaran Valeria semakin semangat.
Anak yang di dalam kotak besi di depan langsung menatap Valeria dengan wajah sedih.
Ada perasaan marah, sedih, takut, dan emosi saat tatapan mereka bertemu. Melihat tatapan itu Valeria tahu kalau apa yang dialami anak itu sebelumnya sangat menyakitkan.
"Apa ada yang ingin menawar lagi?" tanya manajer kasino.
"4.000.000$" no.58 yang sangat menginginkan pelelangan kali ini.
"10.000.000$" ucap Valeria sambil melihat ke arah pengunjung no.58 dengan senyum menyeringai.
"Luar biasa penawaran kali ini sangat fantastik" ucap manajer kasino.
Setelah melihat tak ada lagi yang ingin memberikan penawaran manajer kasino langsung memutuskan Valeria sebagai pemenang pelelangan kali ini. Valeria segera pergi untuk melakukan transaksi pembayaran dan mengambil hasil pelelangan miliknya.
"Senang bertransaksi dengan anda Miss X" ucap manajer kasino dengan senang.
"Hemmmm"
"Silahkan di ambil barang lelang anda miss X"
"Tinggalkan kami"
"Baik miss X"
Manajer kasino dan anak buahnya segera berlalu setelah membuka rantai di tubuh anak yang baru saja Valeria beli. Valeria menatap anak itu dari kepala hingga kaki menelitinya.
"Your name" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Y...o...rla Ke....ung" ucap Yorla dengan gugup.
Valeria kaget mendengar suara Yorla yang agak kemayu ia tak menyangka jika anak di depannya yang memiliki wajah rupawan ternyata seorang waria.
"Apa kamu gay?" tanya Valeria to the point.
"Iya" jawab Yorla dengan malu-malu.
"Heemmm! Follow me" ucap Valeria dengan wajah datar.
Yorla bingung melihat reaksi Valeria yang mengetahui jati dirinya yang asli tapi tak bertanya. Karena tak memiliki tujuan lagi akhirnya Yorla mengikuti Valeria dengan langkah pelan karana kakinya terasa sakit karena di cambuk.
Melihat Yorla yang kesusahan berjalan akhirnya Valeria memutuskan berjalan dengan pelan agar Yorla tak tertinggal.
Keduanya lalu berlalu keluar menuju lobby depan di mana limousine hitam sudah terparkir dengan rapi menunggu Valeria.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Yorla kaget bukan main melihat mobil yang akan mereka naik karena selama hidup baru kali ini ia bisa naik limousine. Valeria terus melihat Yorla yang terkagum-kagum melihat isi dalam limousine yang mereka naiki.
Hari itu juga Valeria, Ares, Yorla, dan Ringo akhirnya pulang ke tanah air. Yorla yang kaget melihat jet pribadi Valeria bisa menebak jika Valeria adalah orang yang sangat kaya apa lagi ia bisa membelinya dengan harga yang sangat mahal.
"Maaf kalau boleh tahu kita kemana dan siapa nama kamu?" tanya Yorla dengan gugup.
Valeria melirik Ares untuk memberitahu apa saja yang tidak di sukai oleh Valeria sedangkan ia segera berlalu pergi ke kamar.
Akhirnya Ares memberitahu apa saja yang tidak di sukai oleh Valeria dan tidak lupa ia juga memberitahu siapa Valeria sebenarnya tapi tidak tentang keluarganya.
~ Jakarta, Indonesia ~
Menempuh perjalanan selama 3 jam 30 menit akhirnya mereka tiba di Indonesia. Valeria dan lainnya tiba di Jakarta tepat pukul 03:00 dini hari.
Melihat waktu sudah menunjukkan dini hari akhirnya Valeria memilih untuk kembali ke mansion dengan membawa Ringo yang masih tak sadarkan diri karena di beri obat bius oleh Ares.
"Nyonya apa orang ini kita langsung bawa ke markas?" tanya Ares.
"Besok baru kirim dia ke markas"
"Baik nyonya"
"Apa loe udah hubungi pak Dev"
"Sudah nyonya dan semuanya sudah di siapkan"
"Heemmmmm"
~ Mansion Valeria ~
Tak berselang lama akhirnya mobil Valeria sampai di mansion kebetulan Bryan yang terbangun ingin mengambil air langsung berjalan menuju ke ruang keluarga saat mendengar suara deru mobil.
"Selamat datang nyonya" ucap pak Dev dengan sopan.
"Urus keduanya seperti yang gue bilang tadi"
"Semuanya sudah siap seperti perintah nyonya tadi"
"Heeemmmm"
Valeria segera berlalu menuju lift tapi ia berhenti dan melirik Bryan yang berdiri tak jauh darinya. Valeria tahu Bryan memikirkan siapa orang yang ia bawa tapi ia malas menjelaskan malam ini.
"Bryan siapin diri loe besok pagi kita berlatih" ucap Valeria sambil menutup pintu lift.
Glek.........
Bryan seketika menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Valeria barusan. Ia yakin jika besok Valeria akan mengetes sejauh mana kemampuannya.
Semoga gue bisa selamat besok, batin Bryan dengan khawatir.
βββββ
To be continue...........
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€