
π»Apapun masalah yang ada di dunia ini semuanya pasti ada solusinyaπ»
.
.
.
.
Setelah mematikan panggilannya sepihak Valeria kembali melanjutkan pekerjaannya. 2 jam kemudian semua laporan sudah Valeria cek dan mengirim ke sekertaris utama di VA Corp.
Tak berselang lama hpnya kembali berbunyi dan ia melihat nama pak Dev tertera di sana. Keningnya mengerut bingung pasalnya pak Dev jarang menelponnya.
"Halo nyonya"
^^^"Ada apa?" tanya Valeria to the point.^^^
"Nyonya maaf sebelumnya jika saya mengganggu. Saya ingin menyampaikan perihal mengenai anak saya Jeni nyonya"
^^^"Katakan"^^^
"Jeni baru saja memberitahu saya jika ia sudah menerima lamaran pacarnya dan mereka ingin segera menikah nyonya"
^^^"Kapan"^^^
"Akhir bulan ini nyonya"
^^^"Dimana mereka akan menikah"^^^
"Di London nyonya"
^^^"Beritahu Jeni gue yang bakal tanggung semua biaya pernikahannya"^^^
"Terima kasih nyonya"
^^^"Heemmm"^^^
"Uhmm....nyonya apa saya bisa meminta 1 permintaan"
^^^"Katakan"^^^
"Apa Juan bisa di bebas tugaskan dari misinya saat adiknya menikah"
Valeria tak mengatakan satu kata pun pasalnya saat ini identitas Juan sudah di kenali musuhnya di pulau Cayman. Maka dari itu saat ini Juan harus sembunyi di rumah persembunyian mereka.
"Jika tidak bisa tidak apa-apa nyonya" ucap pak Dev dari seberang.
^^^"Gue ngak bisa janji. Kamu pasti tahu bagaimana situasi Juan sekarang"^^^
"Iya nyonya saya paham"
^^^"Suruh Rehan buat antar pak Dev ke London"^^^
"Baik nyonya"
Valeria langsung mematikan panggilannya sepihak dan memikirkan permintaan pak Dev barusan. Bukan tidak mengijinkan Juan untuk hadir tapi saat ini misi yang di hadapi oleh Juan bukan misi yang gampang.
Juan kakak laki-laki Jeni otomatis dia harus hadir di pernikahan adiknya, batin Valeria.
Valeria lalu mengutak-atik keyboard mencari data-data mengenai musuh mereka di pulau Cayman. Ia meneliti dengan saksama informasi-informasi yang di berikan oleh Ares dan Juan.
Berbeda dengan Valeria yang sibuk dengan pekerjaannya, di luar ruang kerjanya Yorla malah sibuk bergosip dengan Zero perihal Thomas.
"Oppa" ucap Yorla dengan suara centil.
"Stop calling me oppa asshloe" (berhenti panggil aku kakak berengsek) ketus Zero.
Nb: Oppa dalam bahasa korea yang artinya kakak laki-laki panggilan dari saudara perempuan
"Gue ngak perduli" ucap Yorla dengan santai.
"Stop pakai bahasa Indonesia aku tidak mengerti"
"Oke oppa"
Zero mendelik ketus kearah Yorla merasa sangat tidak suka dengan panggilannya itu sedangkan Yorla ia terus mengedipkan mata membuat Zero merasa merinding.
"Kamu kenal sama cowok tadi?" tanya Zero.
"Kalau tidak salah dia salah satu orang kepercayaan Mr. Wesly yang tampan itu" ucap Yorla sambil mengetuk jari di dagu.
"Kamu yakin"
"Yakinlah! Waktu itu kita ketemu di rumah sakit Wesly saat Chloe di tembak dan harus operasi sesar"
"Who is Chloe?" (siapa Chloe) tanya Zero dengan kening berkerut.
"Itu istrinya Mr. Wesly yang tampan seperti dewa Yunani" ucap Yorla dengan antusias.
Zero memutar bola matanya malas mendengar ucapan Yorla, ia sudah sangat paham dengan sifat banci satu itu yang tidak pernah bisa menahan diri melihat wajah tampan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Tadi you dengar tidak saat dia panggil sister honey" ucap Yorla dengan cepat.
"Apa noona berpacaran dengan orang itu"
"I don't know? You kan tahu selama ini sister sangat benci bersentuhan dengan orang lain" (aku tidak tahu)
"Iya juga sih" ucap Zero membenarkan ucapan Yorla.
"Apa sister teman ranjang ganteng tadi" pekik Yorla dengan histeris.
"Jangan bercanda kamu banci sialan. Noona bukan orang seperti itu" ucap Zero dengan tatapan tajam.
"No no no!!! Coba you pikir kenapa orang tadi keluar hanya memakai bathrobe saja"
"Tutup mulut sialanmu banci sebelum aku robek!" bentak Zero dengan kesal.
"Ckk!! Bisanya mengancam!" ketus Yorla dengan kesal.
Zero tak menjawab ucapan Yorla dan terus memikirkan Thomas dan Valeria. Sedangkan Yorla memilih melihat petugas yang membawa furniture baru untuk penthouse Valeria.
1 Minggu kemudian
Sudah seminggu Valeria merasa hari-harinya tak tenang seperti dulu lagi. Seminggu pula statusnya sudah berubah menjadi pacar Thomas dan hal itu membuatnya sangat stres.
Seperti pagi ini Valeria membuka pintu penthouse dengan wajah kesal karena belnya terus berbunyi. Saat pintu di buka ia langsung disambut senyum tak berdosa dari pacarnya.
Lebih tepatnya di paksa menjadi pacarnya, Valeria menghembuskan napas pelan melihat kehadiran Thomas yang tak di undang. Apa lagi saat Thomas menyelonong masuk dengan santai.
"Good morning my honey" ucap Thomas dengan senyum manis memamerkan gigi putihnya.
"Heemmm"
Grep.................
Thomas menarik Valeria ke dalam pelukannya dan membenamkan wajahnya di leher Valeria. Ia sangat suka dengan harum tubuh Valeria yang berbau madu dan sedikit campuran aroma bunga tapi ia tak tahu wangi bunga apa itu.
"I miss you honey" ucap Thomas dengan suara lembut
"Lepas aku mau mandi" ucap Valeria dengan suara dingin.
"5 menit lagi"
Valeria tak mengindahkan ucapan Thomas dan mendorongnya hingga pelukan mereka terlepas. Melihat hal tersebut Thomas membuang napasnya dengan kasar karena lagi-lagi Valeria menolak dirinya.
Tatapan datar dan dingin Valeria membuat Thomas merasa sangat kesal. Entah terbuat dari apa hati pacarnya itu sangat keras dan susah sekali menghilangkan wajah arogan itu.
Valeria bergegas masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, sedangkan Thomas menunggunya di ruang tamu sambil mengecek email dari hpnya. Beruntung Albert sudah pulang jadi pekerjaannya tak sebanyak minggu lalu.
Glek...........
Thomas menelan saliva melihat penampilan Valeria yang sangat seksi dan terbuka. Sesaat ia baru menyadari jika Valeria akan keluar dengan pakaian seperti itu.
"Ganti baju sialanmu itu honey" ucap Thomas dengan suara tinggi.
Valeria mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan Thomas, ia lalu pergi menuju meja makan dan sarapan tak memperdulikan ucapan Thomas. Melihat hal tersebut emosi Thomas semakin menjadi tapi ia berusaha menahannya.
"Aku lapar" ucap Thomas dengan ketus.
"Lapar ya makan"
"Buatkan sarapan untukku honey"
"Kamu punya tangan"
"Punya"
"Gunakan tanganmu sesuai fungsinya"
"Ckk!! Apa kamu tidak bisa romantis sedikit kepada pacarmu!" ketus Thomas dengan kesal.
"Tidak" ucap Valeria dengan santai.
"Tapi aku pacarmu honey"
"Aku tidak pernah menjawab mau jadi pacar kamu"
Deg...........
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria sendiri tak memperdulikan hal itu dan kembali sarapan, selesai ia langsung berdiri dan bergegas pergi. Thomas membuang napasnya dengan kasar mengikuti Valeria yang sudah berjalan lebih dulu.
Keduanya masuk ke dalam lift dengan wajah datar membuat Raksa dan anak buahnya saling melirik. Thomas lagi-lagi berdecak kesal di dalam hati melihat Raksa dan lainnya yang menjadi pengawal pribadi Valeria.
Kenapa semuanya laki-laki sih, batin Thomas berdecak kesal.
"Kamu mau kemana honey?" tanya Thomas sambil memeluk pinggang Valeria dengan posesif.
Raksa dan anak buahnya hanya diam saja karena sudah tahu siapa Thomas. Awalnya mereka kaget dan tak percaya saat mengetahui Thomas adalah pacar Valeria saat Yorla memberitahunya.
Tapi melihat keposesifan Thomas mereka akhirnya membenarkan ucapan Yorla. Valeria melirik tangan Thomas di pinggangnya lalu melirik wajah Thomas yang menggerutu kesal.
"Perusahaan" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Sejak kapan kamu punya perusahaan disini honey" ucap Thomas dengan bingung.
"Sejak saat itu"
Hah..........
Thomas tercengang mendengar ucapan sang pacar yang membuat siapa saja naik darah. Raksa sendiri berusaha menahan tawa melihat wajah Thomas yang kusut karena jawaban sang master.
Rasain loe emang enak dapat jawaban ambigu dari master, batin Raksa sambil terkekeh.
Cup.............
"I love you honey dan hati-hati di jalan" ucap Thomas sambil mencium bibir Valeria sebelum masuk ke dalam mobil.
Valeria hanya menatap Thomas dengan tatapan dingin dan datar tak membalas ucapannya. Sudah biasa menurut Thomas tak mendapat balasan Valeria, ia lalu masuk ke dalam mobil dan melaju menuju perusahaan.
Saat di tengah jalan entah kenapa wajah sedih Thomas saat di meja makan selalu terlintas di pikirannya. Ia membuang napasnya dengan gusar membuat sopir di depannya menjadi gugup.
"Singgah ke cafe" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik master" ucap sang sopir.
~ Rainbow Cafe ~
Mobil Valeria dan pengawalnya berhenti tepat di depan Rainbow Cafe. Raksa keluar dan mengetuk pintu mobil Valeria untuk bertanya kenapa mereka berhenti disini.
"Master"
"Pesan sandwich 4, ekspreso dingin tanpa gula satu, dan americano hangat satu"
"Baik master"
"Sekalian pesankan untuk kalian semua juga" ucap Valeria sambil menyodorkan black card miliknya.
"Terima kasih master"
Raksa bergegas masuk ke dalam cafe bersama 2 orang anak buahnya. Selang 15 menit ketiganya kembali dan langsung memberikan pesanan Valeria tadi tak lupa sopir Valeria juga mendapatnya.
"Terima kasih master" ucap sang sopir.
"Heemmm"
~ Wesly Group ~
Sampainya di perusahaan Thomas segera masuk ke dalam ruangannya dengan wajah datar dan dingin. Moodnya hari ini sangat buruk setelah bertemu sang kekasih, Albert yang melihat wajah kesal Thomas hanya diam saja.
"Siang nanti kamu antar berkas ke bos"
"Heemmm" deham Thomas.
Keduanya lalu kembali mengerjakan pekerjaan mereka di ruangan masing-masing. Di bawah lobby perusahaan mobil Valeria dan pengawalnya akhirnya tiba di Wesly Group.
Valeria menyuruh Raksa dan lainnya tunggu di dalam mobil karena ia hanya ingin mengantar sarapan buat Thomas.
Sampainya di resepsionis Valeria segera menanyakan dimana ruangan Thomas setelah mengetahuinya ia langsung di arahkan menuju lift ke lantai 98.
Ting............
Tatapan mata Valeria langsung melihat interior mewah lantai direktur. Valeria akui Xavier orang yang pintar mendesain interior ruangannya terlihat dari kesan mewah.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Selamat datang nona ada yang bisa dibantu"
"Ruangan Thomas" ucap Valeria dengan suara dingin.
Ketiga sekertaris utama Xavier merinding melihat tatapan tajam dan dingin Valeria. Salah satu dari mereka langsung mengantar Valeria menuju ruangan Thomas yang berada di paling ujung.
"Ini ruangannya tuan Parker nyonya"
"Heemmmm"
Ceklek........
Thomas yang sibuk dengan berkas di depannya tak mendengar jika ada yang membuka pintu ruangannya. Valeria masuk tak berbicara satu kata pun dan langsung menaruh paper bag yang ia bawa tepat di depan Thomas.
Gerakan tangannya terhenti dan langsung mengangkat pandangannya ke atas. Seketika bibirnya tersenyum lebar melihat siapa yang tepat berada di depannya.
"Honey" ucap Thomas dengan wajah senang.
"Sarapan buat kamu" ucap Valeria dengan suara dingin.
Grep..........
Thomas langsung menarik Valeria dan duduk di atas pangkuannya. Ia memeluk sang pacar dengan erat tak menyangka jika Valeria akan mengantar sarapan buatnya.
"Terima kasih honey kamu orang pertama yang mengantar sarapan untukku" ucap Thomas dengan bahagia.
"Heemmmm"
"Bukannya kamu tadi mau perusahaanmu?" tanya Thomas sambil memandang Valeria dengan tatapan penuh cinta.
"Iya"
"Aku antar ya honey"
"No tidak perlu"
"Kenapa"
"Habis dari perusahaan aku akan berangkat"
"Kemana honey" ucap Thomas dengan cepat.
"Kamu tidak perlu tahu" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Jangan pancing emosi aku honey" ucap Thomas dengan gigi gemeletuk.
Valeria tak takut sedikit pun dengan ucapan Thomas barusan, ia lalu bangun dan merapikan pakaiannya lalu menatap Thomas sekilas dan beranjak pergi. Dengan cepat Thomas manarik tangan Valeria dengan kuat sambil mencengkram pipinya.
"Aku cukup bersabar dengan kamu honey. Jangan buat aku marah honey" ucap Thomas dengan tatapan membunuh.
"Bukan urusanku" ketus Valeria.
Bugh..............
Valeria menghempaskan tangan Thomas di pipinya dengan kasar. Emosinya memuncak melihat Thomas yang berani mencengkram pipinya dia pikir dia siapa bisa berbuat seperti itu kepadanya.
"Valeria Anastasia" desis Thomas dengan geram.
"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu!" bentak Valeria.
Thomas kembali berniat ingin menarik Valeria tapi dengan cepat Valeria menghindar. Valeria yang sudah emosi akhirnya memukul Thomas dengan brutal.
Bugh......bugh.......bugh.......bugh..........
"Jangan pikir aku diam saja selama seminggu ini jadi kamu berani melonjak" ucap Valeria dengan suara dingin.
Grep.............
Cup.........
Thomas menarik kepala Valeria tak mempedulikan badannya yang sakit di pukul Valeria. Ia mencium bibir Valeria dengan kasar, bahkan membelit pinggang Valeria dengan erat tak melepasnya sedikit pun.
Plak.............plak......
2 Tamparan bergema setelah Thomas melepas ciumannya, tatapan mata Valeria berkilat menandakan ia sangat marah dengan apa yang di lakukan oleh Thomas barusan.
Bugh...........prang........
Tubuh Thomas terpental sampai menghancurkan meja di depannya. Meski badannya terasa remuk tapi ia tetap tersenyum manis melihat Valeria.
"Sampai kapanpun kamu itu milikku honey, camkan itu" ucap Thomas dengan suara tegas.
Valeria tak mengatakan apa-apa dan segera pergi sambil membanting pintu ruangan Thomas dengan kuat. Hal tersebut membuat ketiga sekertaris Xavier kaget bukan main, begitu juga dengan Albert yang baru saja keluar dari ruangannya dan melihat Valeria.
Sepertinya aku ketinggalan berita penting, batin Albert.
βββββ
To be continue.................