Love Struggle

Love Struggle
Chapter 87



🌻Tidak ada yang tahu nasib seseorang kedepannya akan seperti apa, jadi sebagai manusia yang berakal budi jangan pernah meremehkan orang lain🌻


.


.


.


.


Valeria lalu berkutat dengan laptop di depannya untuk menutup semua informasi mengenainya. Ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah Bianca saat tahu apa yang akan menjadi bayaran mereka.


"Kali ini gue ngak bakalan ada pengasihan lagi buat loe anak haram" ucap Valeria menatap tajam video Bianca yang sedang melakukan percintaan di club malam madam Rosa.


Valeria tersenyum licik memikirkan ide untuk memberi pelajaran Bianca dengan video yang baru saja dia dapat.


Otaknya berpikir untuk membuat rencana licik yang tidak akan pernah Bianca sadari sekalian ingin membuat Kim Jeong lengah dari bisnisnya saat ini.


"Keluar" ucap Valeria dengan suara dingin.


Wush........wush..........wush.........


Seperti angin yang berhembus tiba-tiba 3 orang pengawal gelap yang menjadi kaki tangan Valeria muncul.


Gerakan dan keberadaan ketiganya tidak bisa di lihat karena ketiganya adalah ninja yang sangat pandai menyusup dan bersembunyi.


"One kirim video bajingan itu dan sebar surat anonim mengenai putra mahkota Alex sekarang"


"Baik master" ucap eyes one dan berlalu hilang dengan cepat.


"Two berangkat ke Indonesia sekarang dan buat bisnis Arya di ambang kehancuran"


"Baik master" ucap eyes two.


"Loe tahu apa yang musti loe lakukan" ucap Valeria dengan tatapan dingin.


Eyes three yang berdiri di depan Valeria merasakan sekujur tubuhnya dingin dan tak bisa di gerakkan. Ia tahu jika masternya saat ini sedang mengeluarkan aura tubuhnya yang membuat siapa saja seperti di lautan es.


"Iy...a mas..ter" ucap eyes three dengan terbata.


"Pergilah" ucap Valeria sambil memejamkan matanya mengontrol emosi.


Valeria menutup mata untuk mengontrol emosinya yang tak terkontrol saat ini. Ia takut akan kelepasan jika tak bisa mengontrol emosinya dan hal tersebut sangat berbahaya.


~ Wesly Hospital ~


Bryan terduduk dengan kepala tertunduk di samping mamanya. Air matanya mengalir dengan deras mengingat penjelasan dokter tadi yang mengatakan jika mamanya mengalami depresi berat akibat perlakuan buruk di masa lalu.


Bryan yakin jika sang mama mendapat siksaan yang sangat mengerikan dari papa dan selirnya itu.


Apa lagi saat melihat punggung sang mama yang penuh dengan bekas luka cambuk, bukan itu saja Bryan tak kuasa melihat semua jari tangan kanan sang mama yang terpotong.


"Hiks hiks hiks........Alek bakal balas mereka semua ma..........hiks hiks hiks" ucap Bryan sambil menangis dengan pilu.


Rehan yang sedari tadi berdiri di depan ruang rawat Camelia meneteskan air matanya. Ia tak kuasa menahan air matanya mendengar tangisan Bryan yang terasa memilukan, siapa saja yang mendengar tangisan Bryan akan ikut menangis.


Dokter Lauren yang baru datang setelah berkonsultasi dengan dokter yang memeriksa Ratu Camelia tadi melihat Rehan dengan sedih.


Dokter Lauren lalu menepuk bahunya dengan lembut sambil melihatnya dengan tatapan berkaca.


Rehan yang melihat dokter Lauren melihatnya menangis sudah tak perduli jika dianggap cengeng. Hal itu tidak membuatnya malu karena saat ini ia sangat kasihan dengan nasib mama Bryan.


"Apa gue boleh meluk loe" ucap Rehan dengan suara serak.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Dokter Lauren mengangguk kepalanya menjawab pertanyaan Rehan. Dengan cepat Rehan memeluk tubuh dokter Lauren menumpahkan kesedihannya saat ini meski saat ini dokter Lauren sangat gugup.


Dokter Lauren menepuk bahu Rehan yang bergetar seolah menenangkannya.


Tak lama pelukan keduanya terlepas saat hp milik Rehan berbunyi keduanya saling melepas pelukan dan melihat ke arah berbeda karena gugup.


"Gue an...gkat te....lp...on dulu" ucap Rehan terbata dengan wajah merona karena malu.


"I...ya" ucap dokter Lauren dengan gugup.


Rehan lalu bergegas berjalan ke samping menerima panggilan tersebut. Wajah Rehan seketika menegang mendengar penuturan orang yang menelponnya yang tak lain adalah Ares.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya dokter Lauren setelah melihat Rehan kembali dengan wajah pucat.


"Kita harus bawa Ratu Camelia pergi dari rumah sakit sekarang juga" ucap Rehan dengan tatapan dingin.


"Kenapa"


"Raja Luigi sudah mengetahui kalau Bryan yang sudah membawa Ratu Camelia keluar dari istana"


"Apa" ucap dokter Lauren dengan kaget.


"Loe beritahu dokter tadi untuk meminta ijin Ratu Camelia di bawa keluar sekarang dan jangan lupa bilang kita akan merawatnya di rumah saja"


"Baiklah"


Dokter Lauren segera pergi dari sana menuju dokter yang tadi memeriksa Camelia kebetulan dia adalah teman kuliah dokter Lauren. Sedangkan Rehan segera masuk ke dalam ruangan rawat Ratu Camelia untuk memberitahu Bryan.


"Kita harus pergi sekarang Bryan" ucap Rehan.


"Ken....ap...a" ucap Bryan dengan sesegukan sambil melihat Rehan.


"Bokap loe udah tahu kalau loe yang bawa nyokap loe pergi dari istana"


"Apa bagaimana bisa?" tanya Bryan dengan kaget.


"Gue ngak tahu! Nanti baru kita tanya ke Ares. Sekalian mama loe kita harus bawa pergi dari tempat ini sebelum orang bokap loe tahu kita disini"


"Memangnya kita akan kemana"


"Apartemen loe"


"Heeemmm"


Keduanya lalu bersiap untuk membawa Ratu Camelia pergi dari sana sambil menunggu kedatangan dokter Lauren. Setelah dapat ijin dari dokter ketiganya segera pergi dari sana menuju Kingdom apartemen milik Valeria.


~ Kingdom Apartment ~


Bryan, Rehan, dan dokter Lauren yang baru saja masuk ke apartemen Bryan langsung di sambut oleh Ares.


Ia lalu menunjuk kamar di sebelah ruang tamu untuk membawa Ratu Camelia ke sana, ternyata di dalam kamar sudah berdiri seorang suster yang telah selesai menyiapkan semua kebutuhan Ratu Camelia.


Selesai menaruh sang mama di tempat tidur Bryan berlalu keluar meninggalkan dokter Lauren dan suster tersebut untuk mengurus sang mama. Baru saja Bryan sampai di ruang tamu ia langsung di sambut pukulan Ares.


Bugh.........bugh.........bugh.........bugh.......


Bryan yang tubuhnya sangat lemah saat ini tidak bisa membalas pukul Ares. Rehan yang berniat melerai keduanya langsung berhenti setelah mendapat tatapan tajam dan dingin dari Ares seakan berkata untuk tak ikut campur.


Bugh...........bugh..........bugh............


Arggghhhh.........


Teriak Bryan saat rusuknya di tendang dengan kuat oleh Ares, Rehan diam saja tak menyangka jika Ares akan memukul Bryan dengan sangat brutal tak ada pengampunan sedikit pun.


Ares melihat Bryan dengan selidik setelah Bryan sudah terkapar di lantai. Darah yang keluar dari bibir dan kepala Bryan membuat Ares menghentikan pukulannya karena merasa sudah cukup memberi hukuman buat Bryan.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"A....pa mak....sud in....i se....m....ua bereng....sek" ucap Bryan dengan terbata-bata.


"Itu hukuman buat anda dari nyonya" ucap Ares dengan santai.


"Hah! Maksud loe apa Ares?" tanya Rehan yang sangat penasaran.


Ares hanya melihat Rehan dan Bryan dengan tatapan dingin dan berlalu pergi tak menjawab pertanyaan keduanya dengan jelas.


Melihat hal tersebut Rehan sangat ingin memberi pelajaran kepada Ares tapi ia tak mau mendapat amukan dari Ares.


"Apa yang terjadi?" tanya dokter Lauren dengan kaget.


"Obati dia dokter dan habis itu jaga dia" ucap Rehan.


"Gue bakal obati tapi gue ngak bisa jaga dia" ucap dokter Lauren dengan tegas.


"Kenapa?" tanya Rehan dengan alis terangkat.


"Uhmmm........itu" ucap dokter Lauren dengan malu.


Rehan yang sudah mengetahui maksud dokter Lauren langsung menyuruhnya untuk tak perlu menjaganya. Biar saja nanti ada pengawal yang menjaga Bryan sedangkan untuk Ratu Camelia sudah ada suster yang bertugas menjaganya.


1 Minggu Kemudian


Tak terasa waktu sudah berlalu selama 1 minggu dan selama itu luka di tubuh Bryan akhirnya berangsur pulih. Selama seminggu juga tak ada yang berani untuk menghadap Valeria karena emosinya saat ini sangat tidak terkontrol.


Apa lagi ia mendengar Raja Luigi mulai mengusik bisnisnya dan semakin menjadi karena ia sudah membuat nama Raja Luigi dan Selir Leila rusak di mata rakyatnya.


Penasehat kerajaan dan para menteri semakin gencar untuk menurunkan Raja Luigi dari takhta.


"Nyonya" ucap Ares saat masuk ke dalam penthouse.


"Siapkan jet kita berangkat ke Indonesia sejam lagi"


"Baik nyonya"


Valeria dan Ares segera pergi ke apartemen Bryan satu lantai bawah. Sampai di dalam semua mata menatap Valeria dan Ares yang baru masuk ke dalam.


"Master" ucap Raksa dan Rehan sambil membungkuk.


"Gimana keadaan mama loe?" tanya Valeria dengan tatapan tajam ke Bryan.


"Mama masih tidak mau bicara dan setiap malam mama akan berteriak histeris. Apa lagi melihat pria dan wanita paruh baya" ucap Bryan dengan sedih.


"Dokter Lauren apa anda sudah menghubungi kenalan anda?" tanya Valeria dengan tatapan dingin.


"Su...dah ny...onya" ucap dokter Lauren dengan gugup.


"Gue mau hari ini juga dokter itu datang dan mulai terapi pertama untuk Ratu Camelia"


"Baik nyonya"


"Yorla selama gue pergi loe temani Bryan dan urus semua pekerjaan perusahaan cabang yang disini"


"Tapi sister" ucap Yorla yang langsung di potong Valeria.


"Gue ngak nerima protes Yorla" desis Valeria.


"Baik sister" ucap Yorla dengan pasrah.


"Oh satu lagi. Selama loe sama Yorla disini jangan pernah keluar dari apartemen" ucap Valeria menatap Bryan dan Yorla bergantian.


"Memangnya kenapa Val?" tanya Bryan dengan penasaran.


"Anak buah bokap loe sudah tahu keberadaan kita di sini"


Bryan dan lainnya diam saja tak mengatakan satu kata pun, mereka tahu apa yang di perintahkan Valeria sudah ia pikirkan sebelum bertindak. Valeria, Ares, Raksa, Rehan, dan anak buahnya yang lain segera pergi menuju bandara.


~ Kerajaan Wizpet ~


Prang...........prang.........prang........


Bunyi benda pecah bersahutan di dalam kamar milik Raja Luigi. Ia saat ini sangat emosi karena baru saja penasehat kerajaan dan menteri memintanya untuk turun dari takhta.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Dimana posisi anak sialan itu?" teriak Raja Luigi dengan emosi.


"Mr. Peterson berada di Amerika yang mulia" ucap asisten sekaligus pengawal pribadi Raja Luigi.


"Beritahu orang-orang itu untuk segera mencari anak sialan itu"


"Sudah yang mulai. Mereka saat ini sedang mencari keberadaan Mr. Peterson di sana"


"Jangan lupa suruh mereka cari perempuan yang datang bersama anak sialan itu"


"Baik yang mulia"


Pengawal pribadinya segera keluar meninggalkan Raja Luigi setelah melihat isyarat tangannya untuk pergi. Setelah kepergian sang pengawal Selir Leila lalu masuk ke dalam kamar Raja Luigi.


"Apa sudah ada kabar dari mereka?" tanya Selir Leila.


"Dia ada di Los Angeles mereka sedang mencarinya"


"Apa kamu percaya dengan mereka"


"Mereka itu pembunuh profesional dan jangan lupa mafia berdarah dingin! Apa lagi ketua mereka adalah orang yang paling berpengaruh di Italia" ucap Raja Luigi dengan tatapan tajam.


"Heemmm! Semoga saja anak buah Robert Nidas bisa menemukan anak dan perempuan sialan itu" ucap Selir Leila dengan penuh kebencian.


"Heemmm! Bagaimana perusahaan?" tanya Raja Luigi.


"Perusahaan sudah stabil. Tapi ada masalah dari rakyat mereka terus melakukan demonstrasi"


"Biarkan saja mereka nanti juga mereka akan berhenti dengan sendirinya"


"Heeemmmm"


~ Mansion Kusumo ~


Di belahan dunia yang lain tepatnya di mansion Kusumo saat ini sedang terjadi ketegangan. Dimana Bagas sedang mencekik leher Bianca tepat di depan kamar Valeria.


"Nak ibu mohon lepaskan Bianca sayang........hiks hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis histeris.


Bagas tak memperdulikan tangisan dan suara sang ibu karena saat ini ia seperti ingin membunuh Bianca dengan tangannya sendiri.


Wajah Bianca sudah pucat pasi karena tangan Bagas yang mencekiknya dengan kuat ia berontak terus menerus ingin lepas tapi tidak bisa.


❄❄❄❄❄


To be continue................


Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian yang sebanyak-banyaknya ya guys buat author😘❀