Love Struggle

Love Struggle
Chapter 44



🌻Jangan pernah mengenang masa lalu karena kamu hanya akan tetap berdiri di tempat yang sama dan tidak bisa melangkah maju🌻


.


.


.


.


Suasana dalam ruang meeting di butik Arinta seketika menjadi mencekam. Ada 8 orang karyawan bagian produksi yang saat ini sedang berhadapan dengan Arinta.


"Apa kalian tahu kenapa saya mengadakan meeting mendadak dengan tim produksi" tanya Arinta dengan suara tegas.


"Maaf nyonya tapi kami semua yang berada di sini tidak tahu maksud meeting kali ini" ucap Susi sebagai kepala tim produksi.


"Ana" ucap Arinta memberi isyarat.


Ana yang tahu maksud sang nyonya segera mengambil paper bag yang tadi di lempar Arum. Ia lalu mengeluarkan isi paper bag itu yang di dalamnya ada sebuah dres.


Semua tim produksi sangat mengenali dres tersebut karena itu adalah salah satu rancangan terbaru Arinta yang baru-baru ini di luncurkan.


"Kalian tahu barusan ada salah satu customer kita yang datang komplain ke ruangan saya" ucap Arinta.


Riuh bisik-bisik mulai terdengar setelah Arinta berbicara. Semua tim produksi saling berbisik karena baru kali ini ada customer yang datang komplain di butik Arinta.


"Maksud nyonya ada customer kita yang tidak puas dengan dres itu" ucap Astrid.


"Ya benar sekali dan yang menjadi masalahnya adalah customer kita ini komplain dengan kain yang kita gunakan" ucap Arinta.


"Apa customer itu sudah buta tidak bisa membedakan kualitas kain kita" ucap Susi dengan kaget.


"Benar nyonya kualitas kain yang kita pakai bukan kain dengan kualitas rendah" ucap Wasni.


"Coba kalian lihat dengan teliti dres itu" ucap Arinta.


Susi orang pertama yang meneliti dres tersebut. Saat dipegang ia kaget bukan main karena kain dres itu sangat berbeda dengan kain yang mereka gunakan untuk produksi dres tersebut.


Begitu juga dengan anggota tim produksi lain mereka juga kaget saat menyentuh dres tersebut. Pikiran mereka sudah berkelana memikirkan jenis kain yang menjadi bahan utama.


"Nyonya ini bukan produksi pabrik kita" ucap Susi dengan tegas.


"Iya benar nyonya. Kami bagian tim produksi sudah mengecek langsung pembuatan dres ini menggunakan bahan-bahan dengan kualitas terbaik" timpal Wasni.


"Lalu bagaimana dres ini bisa sampai di customer kita?" tanya Ana.


"Nyonya menurut saya ada orang yang menjiplak rancangan nyonya dan menjual di pasaran" ucap Sari.


"Ana apa kamu sudah mengecek dari mana nyonya Sata membeli dres ini?" tanya Ana.


"Sudah nyonya sebentar lagi datanya akan di bawakan oleh pak Andre" ucap Ana.


"Heeemmmm"


"Nyonya apa saya bisa beri masukan?" tanya Astrid.


"Iya silahkan Astrid" ucap Arinta dengan sopan.


"Begini nyonya apa sebaiknya kita mengeluarkan pemberitahuan lewat media sosial, kalau untuk pembelian online semua pakaian butik Arinta hanya bisa di akses lewat website resmi kita. Karena saat ini banyak sekali website abal-abal yang menjual barang tiruan" ucap Astrid.


"Sepertinya masukan Astrid boleh juga nyonya. Karena dengan begitu masyarakat tidak akan tertipu saat membeli pakaian dari butik kita secara online" ucap Ana.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Arinta mengetuk jari di atas meja memikirkan masukan Astrid. Ada benarnya juga masukan Astrid karena dengan begitu bisa mencegah penipuan online.


"Masukan yang bagus Astrid saya setuju" ucap Arinta.


"Iya nyonya" ucap Astrid sambil tersenyum manis.


"Ana kamu suruh tim pemasaran untuk mengeluarkan pengumuman secepatnya" ucap Arinta.


"Baik nyonya" ucap Ana.


"Susi kamu tinjau lagi produksi kita d bagian pabrik. Jangan lupa untuk mengecek suplai kita dan bahan-bahan yang kita gunakan apa sudah sesuai dengan standar kita atau belum"


"Baik nyonya"


"Meeting kali ini cukup sampai di sini. Saya harap semuanya bisa bekerja sama dengan baik dan usahakan jangan sampai ada kesalahan" ucap Arinta dengan tegas.


"Siap nyonya" ucap semuanya dengan serentak.


Arinta lalu pergi dari ruangan meeting di ikuti oleh Ana. Saat tiba di luar mereka bertemu dengan Andre kepala tim keamanan yang datang membawa informasi yang di butuhkan Arinta.


"Kita ke ruanganku" ucap Arinta.


"Baik nyonya" ucap Andre.


Sampai di ruangan Arinta ketiganya lalu duduk di sofa. Andre segera memberikan informasi yang di dapatkan oleh tim IT mereka.


"Apa semua informasi ini akurat?" tanya Arinta.


"Semuanya akurat nyonya dan di sini di pastikan kalau ini semua bukan kesalahan kita nyonya" ucap Andre.


"Heemmm! Kerja bagus Andre"


"Terima kasih atas pujiannya nyonya"


"Kamu boleh pergi"


"Baik nyonya. Saya permisi"


"Iya"


Andre segera keluar meninggalkan Ana dan Arinta. Tak lama hp Arinta berbunyi ada pesan masuk dari Budi suaminya.


MyHusband


"Aku sudah mengirimkan informasi yang kamu butuh di email kamu sayang"


^^^"Iya mas terima kasih atas bantuannya"^^^


"Sama-sama istriku😘"


^^^"😘❀"^^^


Arinta tersenyum melihat chatnya bersama sang suami. Ia lalu membuka email dari suaminya dan membacanya dengan teliti.


"Ana kamu kirim kembali dres itu ke nyonya Sata sekalian salinan informasi ini juga" ucap Arinta sambil menunjukkan email dari Budi.


"Jadi semua ini bukan kesalahan butik kita nyonya" ucap Ana.


"Hemmm! Ternyata dia membeli barang di situs yang tidak resmi dan malah menyalahkan kita"


"Akan saya pastikan nyonya Sata tidak menuduh nyonya lagi"


"Hemmm! Aku serahkan semuanya ke kamu Ana"


"Baik nyonya"


Hari itu juga Ana sendiri yang mengantar langsung dres dan salinan bukti informasi mengenai asal dres tersebut. Sampai di mansion Sata Arum sangatlah malu karena ini semua adalah kesalahannya.


~ Mansion Kusumo ~


Setelah pulang dari taman kota Valeria dan Bianca segera masuk ke kamar mereka masing-masing. Bi Susi lalu menyuruh pelayan untuk mengantar cemilan buat keduanya.


Valeria yang sudah mandi dan berganti pakaian memilih untuk menekuni hobbynya sebelum belajar. Ia saat ini terus berkelana di dunia maya dan mencari semua bukti tentang perbuatan Bianca.


"Loe emang ngak pantas buat jadi saudara gue Ca" ucap Valeria dengan kecewa.


Valeria sangat kecewa mengetahui apa saja yang sudah di perbuat oleh Bianca selama ini. Bahkan Valeria tak menyangka jika Bianca adalah orang yang ingin menghancurkan keluarga mereka.


"Gue harap loe bakal berubah setelah mengaku ke ibu tentang perbuatan loe" gumam Valeria dengan tulus.


Tepat pukul 17:00 Arinta sudah tiba di mansion. Ana yang selalu mendampingi Arinta lalu pamit pulang setelah melihat Arinta sudah masuk ke dalam mansion.


"Selamat datang nyonya" sambut bi Susi.


"Iya bi. Apa Valeria sudah pulang?" tanya Arinta.


"Hemmm! Nanti pas jam makan malam tolong beritahu Valeria ya bi"


"Baik nyonya"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Arinta segera berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Tak berselang lama Budi pun tiba di mansion, ia masuk ke dalam mansion tanpa menjawab sapaan bi Susi dan para pelayan seperti biasa.


"Bi Susi" ucap Dion.


"Iya tuan Dion"


"Tolong urus makanan tuan menjadi makanan sehat karena tuan harus mengontrol tekanan darahnya"


"Baik tuan Dion"


"Terima kasih ya bi" ucap Dion dengan tulus.


"Sama-sama tuan Dion"


Dion segera pulang setelah menyampaikan saran dari dokter untuk kesehatan tuannya. Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tiba saatnya untuk makan malam.


Valeria yang di beri tahu bi Susi untuk makan malam segera turun menuju meja makan. Sampai di sana ternyata sudah ada ayah, ibu, dan Bianca.


"Sini sayang kita makan malam" panggil Arinta dengan lembut.


"Iya bu" ucap Valeria dengan singkat.


Arinta senang karena Valeria mulai membalas ucapannya meski hanya singkat saja. Ia pikir itu lebih baik dari pada Valeria hanya diam dan menatapnya tanpa berkata apa pun.


"Bi kenapa makanan suamiku beda dengan punya kita?" tanya Arinta dengan bingung.


"Maaf nyonya tapi itu" ucap bi Susi yang langsung di potong Budi.


"Aku yang suruh sayang" ucap Budi.


"Loh tapi kenapa mas" ucap Arinta semakin bingung.


"Tekanan darah aku naik. Makanya dokter menganjurkan untuk makan makanan yang sehat jangan yang berlemak"


"Kok bisa tekanan darah kamu naik mas"


"Ada banyak kerjaan di perusahaan dan juga ada masalah di pabrik Arinta, makanya emosi aku sering naik turun" jelas Budi.


"Kontrol emosi kamu mas. Ingat kesehatan kamu lebih penting dari segalanya mas" ucap Arinta memberi nasihat kepada suaminya.


"Iya sayang" ucap Budi sambil tersenyum hangat.


Valeria dan Bianca hanya menjadi pendengar setia saja. Pasalnya keduanya tidak tahu harus melakukan apa selain menikmati makan malam mereka.


Setelah makan malam Valeria yang akan pergi ke kamar di hentikan oleh Arinta. Ia mengajak semuanya untuk berbincang sebentar di ruang keluarga.


"Valeria ada yang mau ibu omongin" ucap Arinta setelah duduk di samping suaminya.


"Apa bu?" tanya Valeria dengan penasaran.


"Kita akan di wawancarai oleh salah satu majalah edisi keluarga minggu depan dan ibu harap kamu sama Bianca bisa berpartisipasi" ucap Arinta dengan was-was.


Bagaimana tidak, Arinta sangat tahu jika putrinya belum bisa menerima Bianca menjadi saudaranya. Entah apa alasannya hanya Valeria dan Tuhan yang mengetahuinya.


"Aku ngak mau" tolak Valeria dengan tegas.


"Tapi sayang" ucap Arinta dengan wajah memelas.


"Kalau ibu mau di wawancarai silahkan tapi jangan paksa Valeria untuk ikut" ucap Valeria dengan suara tegas.


"Beritahu alasan yang bisa ayah dan ibu terima" ucap Budi dengan suara tegas dan tatapan tajam.


Tak takut dengan tatapan sang ayah Valeria malah berbalik menatap sang ayah dengan tatapan tak kalah tajam juga.


Budi merinding melihat tatapan sang putri tapi sebisa mungkin ia mencoba mengontrol tubuhnya.


"Sampai kapan pun Valeria ngak mau punya saudara kayak dia" ucap Valeria dengan suara tinggi.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Tapi sayang biar bagaimanapun dia itu saudara tirimu. Kalian satu darah" ucap Arinta.


"Aku tahu bu tapi aku ngak mau semua orang tahu kalau dia itu memang saudara aku"


"Tapi kenapa Valeria. Dulu bukannya kamu sangat ingin memperkenalkan Bianca di depan umum kalau dia itu kakakmu" ucap Arinta.


"Seiring berjalannya waktu manusia bisa berubah bu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan sama seperti keluarga kita saat ini bu" ucap Valeria dengan tatapan sedih.


Arinta tersentak dengan jawaban anaknya, ia tahu jika ucapan Valeria barusan ditujukan untuk dia dan suaminya.


"Val kenapa loe ngak mau nerima gue jadi saudara loe........hiks hiks" ucap Bianca mulai berdrama mencari simpati.


Valeria hanya memutar matanya dengan malas karena sudah tahu apa yang di perbuat Bianca saat ini.


Gue bukan anak kecil yang bakal termakan wajah muslihat loe itu Ca, batin Valeria sambil tersenyum penuh arti.


"Val gue tahu loe pasti benci banget sama gue tapi asal loe tahu gue itu sayang banget sama loe" ucap Bianca dengan sedih.


Cih! Dasar rubah bermuka dua, batin Veleria dengan muak.


Valeria tidak menjawab ucapan Bianca barusan karena dianggapnya tidak penting. Ia segera pergi dari sana sehingga membuat Arinta dan Budi kaget dengan sifat anaknya yang mulai pembangkang.


"Valeria Anastasia Kusumo" bentak Budi dengan suara tinggi.


Langkah Valeria terhenti mendengar bentakan sang ayah. Air matanya lolos begitu saja merasa sakit karena bentakan ayahnya tapi dengan cepat Valeria segera menghapusnya.


"Non Valeria" gumam bi Susi yang melihat Valeria menghapus air matanya.


"Dimana sopan santunmu sebagai seorang bangsawan keraton" ucap Budi dengan suara tinggi menggelegar di dalam mansion.


"Mas kontrol emosimu ingat kata dokter" ucap Arinta dengan suara lembut.


Budi perlahan-lahan membuang napasnya dengan pelan. Ia berusaha mengontrol emosinya seperti kata Arinta ia tak mau membuat istrinya khawatir dengan keadaannya.


"Jangan paksa aku untuk lakuin apa yang ngak aku mau" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Valeria jangan bikin suasana semakin runyam nak" ucap Arinta.


Hahahahahahaha.............


Tawa Valeria seketika pecah mendengar ucapan sang ibu barusan. Valeria lalu menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jadi menurut ibu Valeria hanya bikin suasana semakin parah saja begitu?" tanya Valeria.


"Bukan begitu maksud ibu nak" ucap Arinta yang mulai panik.


"Jika ibu ingin aku ikut wawancara itu boleh saja. Tapi..." ucap Valeria sengaja menggantung ucapannya.


"Jangan bernego dengan ibumu Valeria" ucap Budi dengan suara tegas.


"Udah mas kita dengar dulu ucapan Valeria" ucap Arinta.


"Val loe ngak mau gue ikut wawancara itu ngak apa-apa kok tapi loe jangan buat ayah dan ibu semakin marah" ucap Bianca dengan wajah sendu.


"Gue ngak ngomong sama loe jadi mending loe diam aja deh" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Valeria kamu itu semakin hari tambah kurang ajar ya" bentak Budi.


"Mas tenangkan diri kamu" ucap Arinta.


"Ckk!" drcak Valeria dengan muak.


Bianca tersenyum sinis melihat Valeria yang di marahi oleh sang ayah. Valeria yang melihat senyum Bianca hanya menatapnya dengan tatapan datar.


"Jika kangmas ikut wawancara itu Valeria juga bakal ikut" ucap Valeria dengan suara tegas.


❄❄❄❄❄


To be continue..............


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀