
π»Tidak ada yang benar-benar kuat, terkadang mereka bersedih dengan cara tersenyumπ»
.
.
.
.
Setelah kepergian pak Dev suasana hati Valeria menjadi buruk. Setiap kali membahas perihal keluarga entah kenapa hatinya terasa sakit.
Ingatan-ingatan tentang perlakuan ayah dan ibunya terus berputar di pikirannya.
"Berengsek!" teriak Valeria dengan emosi.
Saking emosinya Valeria melampiaskan dengan menghancurkan semua barang di dalam ruang kerja. Meja, kursi, guci, dan laptop tak luput dari amukan.
Pak Dev yang sudah berada di luar tidak mengetahui jika saat ini keadaan di dalam sudah seperti kapal pecah. Ruang kerja Valeria yang kedap suara membuat bunyi di dalam tidak bisa di dengar dari luar.
Karena masih emosi Valeria akhirnya keluar dan bergegas menuju ruang gym. Ia ingin melampiaskan amarahnya dengan memukul samsak tinju hingga puas.
Saat keluar pak Dev yang masih berdiri di sana kaget tangan Valeria yang berdarah. Perasaannya sudah tak tenang karena tahu ada sesuatu yang terjadi di dalam ruang kerja selepas ia pergi.
Sepertinya aku sudah membuat nyonya marah, batin pak Dev dengan rasa bersalah.
Sampai di ruang gym pak Dev melihat Valeria terus memukul samsak di depannya dengan brutal.
Tak ada satu kata yang bisa menggambarkan kengerian seorang Valeria saat ini aura intimidasinya membuat pak Dev bergidik ngeri.
~ Kusumo Group ~
Meski sudah lewat dari jam pulang kantor tapi seorang pemuda tampan dan dingin masih betah di dalam ruang kerjanya.
Di atas mejanya ada plakat nama yang terbuat dari emas murni menandakan orang tersebut adalah salah satu petinggi di Kusumo group.
Dia adalah Bagas Panji Kusumo wakil direktur Kusumo group, 2 bulan yang lalu Budi menyuruh sang anak untuk bergabung dengan perusahaan karena sudah waktunya ia terjun langsung di dalam perusahaan.
Dan posisinya adalah sebagai wakil direktur satu tingkat di bawah dari jabatan sang ayah.
Bagas yang awalnya tak mau akhirnya setuju untuk bergabung di perusahaan biar bagaimana pun ia harus memiliki kekuasaan tinggi untuk mencari keberadaan sang adik.
Tok........tok.......tok.......tok..........
"Masuk" ucap Bagas dengan suara tegas.
Ceklek.......
Pintu terbuka dan masuklah asisten Bagas yang bernama Ahmad. Ia adalah teman Bagas saat di SMA, meski keduanya tidak akrab tapi Bagas tahu Ahmad adalah orang yang dapat di percaya apa lagi ia adalah tulang punggung di keluarganya.
"Maaf tuan barusan tuan besar menelpon kalau tuan harus menghadiri pertemuan di keraton" ucap Ahmad dengan sopan.
"Siapkan mobil" ucap Bagas dengan suara dingin.
"Baik tuan"
Ahmad segera keluar dan memberitahu sopir untuk stand by di depan lobby. Setelah menutup laptop Bagas segera keluar di ikuti oleh Ahmad dari belakang keduanya diam tidak ada satu pun yang berbicara di dalam lift.
Sampai di lobby keduanya segera masuk ke dalam mobil, di dalam mobil Bagas melihat suasana malam kota Solo.
Sepanjang jalan menuju keraton pikirannya melayang mengingat sang adik yang entah dimana ia berada saat ini.
Dek kamu sebenarnya dimana, batin Bagas dengan gusar.
~ Keraton Winata ~
40 menit kemudian mobil Bagas sudah sampai di keraton Winata, setelah melalui pemeriksaan di gerbang depan akhirnya mereka bisa di ijinkan masuk ke dalam keraton.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Ahmad keluar dan segera membuka pintu belakang untuk Bagas, sebelum keluar Bagas menghela napas dalam karena harus bertemu dengan kedua orang tuanya disini.
Saat hendak masuk ke dalam keraton langkahnya terhenti mendengar namanya di panggil. Saat berbalik melihat siapa yang memanggilnya ternyata dia adalah Edo sepupunya.
"Bagas" panggil Edo dengan bahagia.
Bagas melihat sepupunya dengan wajah dingin tak ada senyum sedikit pun. Edo yang sudah terbiasa dengan wajah datar dan dingin sepupunya tak memperdulikannya.
Ia langsung memeluk Bagas dengan cepat karena mereka baru bertemu sejak kepulangan Bagas dari London.
"Gue kangen banget sama loe. Kenapa loe ngak ngabarin gue kalau loe itu udah di Solo sih?" tanya Edo dengan kesal.
"Gue sibuk" ucap Bagas dengan suara dingin.
"Pokoknya habis dari sini loe harus ikut gue ke club"
"Heeemmm"
"Ada sesuatu yang gue mau bicarakan sama loe mengenai adik kita Valeria" bisik Edo.
Bagas menatap Edo dengan tatapan tajam memintanya untuk mengatakannya sekarang. Edo yang tahu maksud tatapan Bagas menepuk pundaknya sambil memberi isyarat kalau bukan ini tempat yang tepat untuk membicarakan masalah Valeria.
Bagas yang paham isyarat Edo mengangguk kepalanya dan berlalu masuk ke dalam keraton. Sampai di ruang keluarga keraton semua keluarga besar Winata sudah berkumpul disana bahkan ayah dan ibunya juga sudah hadir.
"Cucuku kalian berdua sudah datang" ucap eyang Putri sambil berdiri memeluk Edo dan Bagas bergantian.
"Eyang Edo kangen sama eyang" ucap Edo dengan manja.
"Ihhh.........kakak manja deh" ucap Natan mencibir kelakuan sang kakak.
"Diem loe bocah ganggu aja" ucap Edo melotot sang adik.
Rendi dan Natalia hanya menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan sang anak yang tak tahu malu di depan umum. Semua keluarga Winata sudah terbiasa dengan kelakuan Edo yang tak perduli dengan tingkahnya di depan umum.
"Bagas kamu apa kabar sayang?" ucap Putri mengiring Bagas untuk duduk di sampingnya.
Edo meliriknya dengan kesal karena lagi-lagi Bagas yang di nomor satukan oleh sang eyang. Meski begitu ia tidak pernah merasa cemburu karena kasih sayang kedua eyangnya sama rata kepada cucu mereka semua.
"Bagas baik eyang. Gimana kabar eyang sendiri?" tanya Bagas dengan suara lembut.
"Eyang baik nak" ucap eyang Putri dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan sedih eyang. Bagas sedang mencari keberadaan adik jadi serahin semua kepada Bagas ya eyang" bisik Bagas yang tahu apa pikiran sang eyang.
"Eyang yakin kamu bisa bawa pulang adik kamu sayang"
"Iya eyang"
Arinta yang melihat kedekatan sang anak dengan sang ibu hatinya terasa sangat sakit karena Bagas sudah tak pernah lagi bermanja-manja dengannya.
Budi yang tahu apa yang dirasakan sang istri memegang tangannya dengan lembut seolah berkata semua baik-baik saja.
Setelah pertemuan di keraton winata selesai Bagas segera menyuruh Ahmad pergi ke club tanpa lupa mengabari Rendi dan om Dion ke sana juga. Edo sendiri sudah lebih dulu menuju club tempat pertemuannya bersama Bagas.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Valeria ~
Waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 tapi suasana di depan dan dalam mansion sangat riuh. Para pelayan sedang menunggu kedatangan anak buah Valeria yang baru selesai melaksanakan pelatihan mereka selama 4 bulan di pulau Shadow.
Tak lama bunyi deru mesin mobil berhenti di depan mansion membuat pelayan tak sabar ingin melihat hasil latihan mereka selama 4 bulan. Suasana seketika riuh oleh suara pelayan yang heboh melihat Raksa yang duluan turun dari mobil.
Tubuhnya yang dulu biasa saja sekarang sudah berotot di bagian lengan dan pundak yang semakin lebar, bahkan rahangnya yang tegas membuat ketampanannya semakin bertambah.
Tak hanya itu saja perubahan tubuh semua anggota Valeria sangat menonjol, Riki yang dulunya kurus kerempeng sekarang tubuhnya sudah berotot seperti orang yang melakukan fitnes tiap hari.
"Riki...........hiks hiks hiks" ucap bu Salma sambil menangis melihat sang anak yang berubah drastis.
"Ibu Riki kangen" ucap Riki sambil memeluk sang ibu dengan erat.
"Kamu berubah nak. Ibu sampai pangling liat kamu nak"
"Ah! Ibu bisa aja" ucap Riki sambil terkekeh.
"Ini beneran kakak Rani kan bu?" tanya Rani dengan bengong.
"Adik kakak ngak kangen nih sama kakak" ucap Riki sambil merentangkan tangannya.
"Kakak Rani kangen banget sama kakak" ucap Rani sambil memeluk Riki dengan erat.
Wush............cring.........
Riki dengan cepat menepis pisau yang entah dari mana datangnya. Selama pelatihan mereka di beri pelajaran untuk selalu waspada setiap saat bahkan insting mereka selalu di asah untuk menghindar dari serangan apapun.
"Woww sambutan yang sangat luar biasa" ucap Riki sambil terkekeh.
"Gue penasaran nih. Apa gue juga dapat sambutan seperti Riki?" tanya Raksa dengan penasaran.
"Semuanya bakal dapat" ucap Bryan seakan tahu ini bukan penyambutan biasa.
"Gue setuju sama loe bocah" ucap Wono dengan santai tapi tetap selalu waspada.
Wush...........wush.........wush....... .wush.......
Seperti yang di bilang Bryan tadi akhirnya mereka semua mendapat penyambutan yang jauh dari nalar orang normal. Ibu Salma dan Rani yang tak tahu tentang siapa sebenarnya Valeria kaget bukan main melihat pisau beterbangan sini sana.
"Apa yang terjadi nak?" tanya bu Salma.
"Ibu tenang aja ya. Ini cuma penyambutan biasa aja kok untuk kami" ucap Riki.
"Hah! Kamu bilang biasa ini itu pisau beneran Riki bukan pisau mainan!" bentak bu Salma dengan emosi.
"Ibu sebentar Riki bakal cerita sesuatu sama ibu dan Rani dan aku mohon ibu tenang dulu" ucap Riki dengan suara tegas.
Melihat tatapan tegas sang anak ibu Salma hanya diam tak mengucapkan satu kata pun. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan sang anak apa lagi melihat kejadian barusan.
Bryan dan lainnya segera masuk ke dalam mansion menuju ruang tengah. Semuanya diam menunggu kehadiran Valeria yang sedari tadi tidak kelihatan bahkan pak Dev yang sebagai kepala pelayan juga tak nampak disni.
"Dimana Valeria?" tanya Bryan kepada salah satu pelayan.
"Nyonya sedang berada di lantai 3 bersama pak Dev tuan muda"
Mendengar lantai 3 Bryan tak bertanya lagi karena di lantai itu adalah lantai khusus untuk Valeria. Bryan memilih duduk di sofa bersama dengan Raksa dan Agung sedangkan yang lainnya berdiri dengan diam menunggu kehadiran master mereka.
Ting.........
Bunyi lift berbunyi menandakan ada yang turun dari atas, semua mata langsung menuju ke arah lift yang terbuka.
Mereka kaget bukan main melihat Valeria dengan pak Dev yang babak belur bahkan mata pak Dev sampai menghitam karena tonjokan Valeria.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Valeria" ucap Bryan kaget sambil berdiri.
"Well sepertinya gue bakal bersenang-senang sedikit" ucap Valeria dengan suara pelan.
Pak Dev kaget mendengar ucapan Valeria barusan bukannya tadi ia sudah melampiaskan emosinya di atas.
Bahkan tangan Valeria semakin berdarah karena meninju samsak sampai hancur tak sampai situ ia juga menjadi pelampiasan emosi sang nyonya.
Bugh......bugh........bugh......bugh......
Valeria lalu memukul Bryan dan Raksa bergantian tak memberi mereka kesempatan untuk membalas pukulannya. Meski keduanya bisa menangkis pukulan Valeria tapi mereka tak tahu sampai kapan mereka mereka bisa bertahan.
"Val tenangkan diri loe" ucap Bryan dengan suara tinggi.
"Tunjukkan latihan kalian selama 4 bulan terakhir" bentak Valeria dengan suara tinggi.
Bugh......bugh.....bugh......bugh......bugh......
Valeria terus memukul Bryan dan Raksa bergantian sampai membuat ruang tengah mansion seperti kapal pecah.
Bryan dan Raksa yang sudah capek terus di hajar habis-habisan oleh Valeria, melihat keduanya sudah lemah Valeria lalu memukul keduanya dengan kuat.
Arrgghhhhh.......
Teriak Bryan dan Raksa bersamaan karena keduanya terpental membentur tembok. Aura Valeria saat ini seperti akan membunuh keduanya malam itu semua anak buah Valeria kembali merasakan pukulan Valeria yang tak bisa mereka tandingi.
Bu Salma dan Rani yang baru kali ini melihat sisi asli Valeria mendadak gemetar ketakutan. Keduanya saling berpelukan dengan tubuh gemetaran melihat kemarahan Valeria malam ini.
~ Remix Club ~
Selepas mengantar sang tuan dan nyonya Dion segera bergegas menuju club Remix sesuai pesan Bagas tadi. Sebelum itu ia juga sudah mengabari sang istri kemana ia akan pergi meski ia tahu pulangnya Ana akan memarahinya karena pergi ke club.
Sampai di club Dion segera masuk ke dalam menuju lantai dua ruangan VIP.
Saat masuk ke dalam Dion melihat sudah ada Bagas dan Rendi bersama asisten mereka yang setia mendampingi dan juga Edo.
"Malam tuan muda" ucap Dion membungkuk di depan Bagas.
"Om Dion ngak usah sopan gitu cuma ada kita saja disini" ucap Rendi.
"Maaf tuan muda Rendi ini susah menjadi kewajiban saya"
"Terserah om Dion aja deh" ucap Rendi.
"Apa yang loe tahu tentang Valeria?" tanya Bagas sambil menatap Edo dengan tajam.
"Baca ini brother" ucap Edo sambil menyodorkan iPad.
Bagas menerima iPad Edo dan bingung dengan screenshoot pesan Valeria dan Bianca. Rendi yang penasaran mendekat ke arah Bagas dan melihat apa isi iPad.
"Ini maksudnya?" tanya Rendi dengan bingung.
"Pagi itu setelah Bianca nelpon gue dan tanya apa gue sama Valeria semalam, gue udah curiga ada yang ngak beres makanya gue coba bajak hp Valeria" ucap Edo.
"Jadi anak sialan itu beneran di culik" ucap Bagas dengan cepat.
"Maaf taun muda tapi setahu saya nona Bianca ngak di culik. Memang waktu itu nona muda bilang kalau dia dapat pesan nona Bianca di culik tapi nona Bianca bilang ia tidak pernah di culik" ucap Dion.
"Kayaknya benar kata loe kalau adik tiri loe dalang di balik ini semua" ucap Rendi.
"Gue bakal bunuh anak sialan itu" desis Bagas dengan tatapan membunuh.
βββββ
To be continue........
Hay guys jangan lupa tinggalkan jejak kalian yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€