
π»Akan ada hasil yang memuaskan di balik proses yang ditertawakanπ»
.
.
.
.
Thomas dan Mikhail pulang sambil membawa begitu banyak barang yang dibeli Mikhail di mall. Semua barang itu adalah barang edisi terbatas yang harganya sudah bisa dipastikan bernilai fantastik.
"Bawa semua barangku ke kamar" ucap Mikhail dengan arogan.
Thomas menggelengkan kepalanya melihat sifat anaknya yang sangat bossy meski baru berumur 5 tahun.
Saat keduanya masuk ke dalam kastil seketika langkah mereka terhenti merasakan aura yang sangat mengintimidasi.
Pandangan keduanya langsung tertuju ke arah depan dimana Valeria sedang berdiri menatap mereka sambil bersedekap tangan di dada.
"Son apa kamu melakukan kesalahan?" tanya Thomas dengan suara pelan.
"No daddy. Mungkin daddy" jawab Mikhail dengan suara dingin.
"Daddy tidak melakukan kesalahan hari ini. Bukannya hari ini daddy bersama dengan mommy kamu sebelum menemani kamu" bantah Thomas dengan cepat.
"Mungkin daddy tidak penting lagi buat mommy"
Thomas melotot menatap putranya dengan tatapan tajam mendengar ucapan Mikhail barusan. Mikhail sendiri berbalik menatap sang daddy dengan sinis tak takut sama sekali.
"MIKHAIL ZENO PARKER" hardik Valeria dengan suara dingin menekan nama sang anak.
Glek................
Thomas dan Mikhail menelan saliva mereka dengan susah mendengar ucapan Valeria barusan yang terasa seperti menusuk ke tulang-tulang mereka.
"Mommy" lirih Mikhail dengan gugup.
Otak kecilnya berpikir apa yang sudah ia lakukan sampai Valeria menatapnya seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Wajahnya seketika berubah saat mengingat kesalahan apa yang diperbuatnya hari ini. Valeria sendiri tersenyum menyeringai menatap putranya dengan tajam karena sudah mengetahui apa kesalahannya.
"Sudah tahu kesalahanmu son" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Sudah mommy" balas Mikhail dengan suara tegas.
"Honey apa maksud kamu? Kesalahan apa yang putra kita lakukan?" tanya Thomas dengan bingung sedari tadi.
"Kakak ancur unga mommy daddy" jawab Natasha dengan suara cadelnya.
"Apa!" pekik Thomas dengan kaget.
Ia menatap putranya sambil menggelengkan kepalanya tak tahu harus berkata apa. Sudah 3 kali dalam sebulan Mikhail menghancurkan bunga kesayangan istrinya di taman kaca.
"Hadap tembok sana dan renungkan kesalahan kamu" tegas Valeria dengan suara tinggi.
"Mommy" lirih Mikhail dengan tatapan sayu.
"Ingat janji kamu yang terakhir son. Seorang laki-laki harus menepati janjinya" ucap Valeria tak mau dibantah.
Tak protes lagi Mikhail berjalan menuju lift untuk naik ke lantai dua melakukan hukuman dari sang mommy. Melihat hal itu Thomas merasa kasihan karena tak sanggup melihat anaknya dihukum.
"Honey kasihan putra kita" ucap Thomas dengan wajah sendu.
"Jangan terlalu memanjakannya honey. Biarkan dia menjalani hukumannya agar kedepannya anak kita tidak melakukan hal yang sama" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Tapi"
"Aku tidak ingin dibantah honey" tekan Valeria dengan tatapan tajam.
Valeria berlalu pergi menuju meja makan sambil mengendong putrinya untuk melihat apa makan malam sudah siap atau belum.
Phew............
Thomas membuang napasnya dengan kasar tak bisa membantu putranya dari hukuman yang diberikan istrinya barusan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Duar.................duar............
Bunyi kilat menyambar di langit membangunkan sosok anak kecil yang tertidur nyenyak di atas tempat tidur. Mata tajamnya yang berwarna coklat seketika berubah warna menjadi merah.
Bunuh Mereka Bunuh Mereka Bunuh Bunuh
Bisikan-bisikan itu terdengar dengan jelas di telinganya membuat tubuhnya seketika berdiri dan berjalan keluar dengan tatapan kosong.
Pandangan mata Mikhail tertuju ke arah depan seakan ada yang mengontrol tubuh dan pikirannya. Ia berjalan dengan langkah pelan menuju ke lift.
Prang.............
Guci di samping lift terjatuh saat Mikhail tak sengaja menyenggolnya sebelum masuk ke dalam lift. Suara pecahan barusan seketika membangunkan Valeria yang sangat peka terhadap suara.
"Aura ini" gumam Valeria dengan tatapan berkilat tajam.
Valeria melepas pelukan suaminya dengan kasar sehingga membangunkan Thomas. Ia melompat dari ranjang dan berlari keluar hanya memakai gaun satin bertali satu tanpa menggunakan alas kaki.
"Honey kamu mau kemana?" teriak Thomas dengan mata melotot.
Dengan cepat Thomas berlari keluar mengikuti sang istri setelah memakai jubah tidurnya karena ia hanya memakai boxer saja saat tidur.
Ting............
Valeria berlari dengan tergesa-gesa mengikuti aura yang sangat ia kenali. Pikirannya berkelana memikirkan putranya karena hanya dia saja yang memiliki aura seperti ini.
Thomas yang melihat istrinya berlari dengan cepat juga ikut berlari menuruni tangga mengejarnya. Bulu kuduknya meremang merasakan aura yang sama persis dengan istrinya.
Aura apa ini? Kenapa aura ini persis dengan punya istriku, batin Thomas bertanda tanya.
Arrrghhhh................
Jeritan kesakitan bergema dari arah hutan buatan mengagetkan Valeria dan Thomas yang sedang berlari menuju ke sana.
Karena panik keduanya lupa jika ada golf car yang bisa membawa mereka ke sana dengan cepat. Suasana malam yang sunyi membuat para penjaga bergidik ngeri mendengar teriakan barusan.
Deg............
Jantung Thomas dan Valeria berdetak dengan cepat melihat pemandangan didepan mereka. Dimana saat ini putranya mereka sudah bermandikan darah sambil memegang gunting rumput.
"Mikhail" panggil Valeria dengan suara dingin.
Mikhail berbalik menatap Valeria membuat kedua orang tuanya mematung melihat mata merah sang anak. Tubuh Thomas bergetar tak menyangka jika anaknya akan seperti ini.
"KENDALIKAN DIRIMU SON!" bentak Valeria menggelegar.
Hehehehe................
Mikhail terkekeh mendengar ucapan sang mommy barusan. Ia menatap Valeria dengan tatapan menyeringai seperti iblis yang haus darah.
"Suara jeritan mereka merdu mommy" ucap Mikhail sambil tersenyum menyeringai.
Valeria memegang kedua bahu anaknya dengan kuat sambil menatap mata sang anak. Keduanya sama-sama mengeluarkan aura yang sangat mengintimidasi dan aura membunuh disana.
"Ingat jati diri kamu son. Ini tubuh dan ragamu hanya kamu yang boleh memilikinya!!! Jangan biarkan dia itu mengendalikan kamu son" hardik Valeria dengan suara tinggi.
"Kenapa? Apa mommy takut?" tanya Mikhail sambil terkekeh.
"Mommy tidak takut karena kamu anak mommy"
"Meski aku membunuh mommy"
"Jika itu bisa mengembalikan putra mommy maka lakukan son" tegas Valeria dengan tatapan tajam.
"Kamu putra mommy son. Ingat ada mommy, daddy, dan adik kamu yang menyayangimu. Jangan biarkan iblis itu memegang kendali akan tubuh dan raga kamu karena kamu itu pemiliknya yang sebenarnya" ucap Valeria dengan lantang.
Wush................
Angin bertiup dengan kencang setelah Valeria mengatakan hal tersebut. Mata Mikhail perlahan-lahan kembali berubah warna seperti semula membuat Valeria bernapas dengan lega.
"Mommy" lirih Mikhail dengan suara lemah.
"Semua baik-baik saja son. Kamu aman sekarang" ucap Valeria sambil memeluk erat tubuh anaknya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Thomas bernapas lega melihat mata putranya sudah kembali seperti semula. Ia mendekati keduanya dan langsung memeluk mereka.
"Honey..........hiks hiks hiks hiks" tangis Thomas pecah seketika.
Tak............tak...........tak.........
Mendengar bunyi langkah kaki dengan cepat Valeria menarik gunting rumput di tangan Mikhail agar tak ada yang mengetahui jika Mikhaillah pelakunya.
"Honey urus cctv tadi jangan biarkan ada yang tahu" bisik Valeria.
Thomas menatap istrinya yang juga sedang menatapnya sambil mengangguk kepala memberi isyarat untuk segera pergi.
Dengan cepat Thomas mengendong putranya yang sudah kembali tertidur dan pergi ke kastil lewat arah lain agar pak Dev dan lainnya tidak melihat mereka.
"Master" ucap Rehan yang sampai lebih dulu.
"Periksa mereka" ucap Valeria dengan suara dingin.
Rehan menyuruh pengawal untuk memeriksa mayat di depan Valeria. Saat memeriksa mayat-mayat itu ternyata ada dua orang dengan pakaian serba hitam.
"Mereka penyusup master" ucap Sian seorang pengawal yang memeriksa tubuh mereka dan tak ada tato Black Shadow.
"Bagaimana bisa ada penyusup di kastil gue!" bentak Valeria dengan suara tinggi.
"Biar gue yang cari tahu ini semua master" ucap Rehan.
"Buang tubuh mereka ke Pita dan perketat penjagaan kastil jangan sampai hal ini terulang kembali" hardik Valeria menggelegar.
"Baik master" ucap Rehan dan pengawal serentak.
"Pak Dev periksa ulang pelayan saat ini juga dan mulai besok perketat pemeriksaan di pintu masuk dan keluar" titah Valeria dengan tatapan tajam.
"Baik nyonya" ucap pak Dev dengan sopan.
Valeria lalu memberikan gunting rumput tadi ke pak Dev dan berlalu pergi dari sana. Dengan langkah cepat ia segera bergegas menuju kastil di kawal pak Dev.
Sampai di kastil Valeria bergegas naik ke lantai 3 menuju kamar sang anak. Saat masuk ia melihat Thomas sedang berkutat dengan laptop di atas ranjang Mikhail.
Cup..............
Valeria mencium kening putranya sambil mengelus kepalanya dengan lembut. Thomas menarik istrinya untuk duduk disampingnya menemani dia yang masih berkutat dengan laptop.
"Siapa mereka honey?" tanya Valeria dengan suara lembut.
"Mereka saudara sarah pelayan ja***g waktu itu honey. Mereka bisa masuk karena berhasil mengoceh penjaga di pintu belakang saat mengantar bahan makanan" papar Thomas menjelaskan.
"Berengsek" maki Valeria dengan kesal.
"Sejak kapan kamu tahu tentang putra kita honey?" tanya Thomas dengan selidik.
"3 Bulan setelah aku sadar dari koma honey" jawab Valeria.
"Apa! Sudah selama itu dan kamu tidak memberitahu aku honey" hardik Thomas dengan suara tinggi.
Thomas berdiri sambil mengusap wajahnya dengan kasar tak menyangka istrinya akan menyembunyikan hal sepenting ini darinya apa lagi ini mengenai putra mereka.
Melihat hal itu Valeria hanya diam saja karena memang dia yang bersalah disini. Ia membiarkan Thomas mengontrol emosinya baru setelah itu dia berbicara.
"Honey" panggil Valeria.
"Dia putraku honey. Aku merasa menjadi daddy yang tidak berguna karena tidak mengetahui kondisi anakku sendiri" lirih Thomas dengan mata berkaca-kaca.
Grep...............
Valeria memeluk suaminya dengan erat tak bisa melihat air mata Thomas jatuh. Thomas hanya bisa menangis dalam diam merasa tak berguna.
"Aku daddy yang buruk honey" lirih Thomas.
"No honey. Kamu itu daddy dan suami yang paling terbaik buat kami dan juga seorang pemimpin keluarga yang bijak" bantah Valeria dengan cepat.
Hiks..........hiks..........hiks.........hiks..........
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Air mata Thomas mengalir dengan deras di dalam pelukan istrinya. Valeria mengelus kepala suaminya dengan lembut untuk menenangkannya.
"Maafkan aku yang tidak memberitahumu honey" ucap Valeria dengan tulus.
"Jangan pernah menyembunyikan hal apapun lagi dariku honey"
"Pasti honey"
Valeria lalu menuntun Thomas keluar dari kamar putra mereka kembali ke kamar mereka. Sebelum itu ia sudah memberitahu Rehan mengenai masalah yang barusan terjadi.
Sampainya di dalam kamar Valeria langsung mengutarakan pemikirannya kepada sang suami sedari tadi di danau buatan.
"Aku akan membawa Mikhail ke markas utama Black Shadow honey" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Apa maksudmu honey?" tanya Thomas dengan bingung.
"Putra kita sama seperti aku seorang psycopath honey. Itu semua sudah ada dalam dirinya sejak ia lahir dan aku tidak mau ambil resiko jika kejadian seperti tadi terulang kembali honey" papar Valeria menjelaskan.
"Jadi maksudmu kita akan membawa Mikhail ke markas utama Black Shadow honey?" tanya Thomas.
"Bukan kita honey tapi aku"
"APA" pekik Thomas dengan suara tinggi.
"Honey" desis Valeria dengan suara dingin merasa kupingnya sangat sakit.
"Aku tidak setuju honey. Jika harus pergi maka kita harus pergi bersama" tegas Thomas dengan tatapan tajam.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan honey dan semua milik kita yang ada di kastil. Semuanya butuh salah satu dari kita untuk memantau milik kita honey" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Tapi honey" lirih Thomas dengan wajah sedih.
"Ini semua demi putra kita honey. Aku harus melatihnya keras untuk mengontrol dan mengendalikan iblis dalam dirinya" ucap Valeria sambil mengelus rahang suaminya dengan lembut.
"Aku tidak bisa tidur tanpa kamu honey" manja Thomas sambil memeluk pinggang istrinya dengan erat.
"Kamu bisa menghubungiku setiap saat honey. Aku mohon ijinkan aku untuk pergi honey" pinta Valeria dengan suara lembut.
"Baiklah honey" pasrah Thomas dengan napas kasar.
Mau tak mau Thomas harus mengijinkan istrinya pergi karena ini demi keselamatan putra mereka dan juga untuk masa depannya.
"Jadi kapan kamu pergi honey?" tanya Thomas.
"Besok honey"
"Apa" teriak Thomas menggelegar dengan mata melotot.
βββββ
To be continue.................