
π»Khawatirlah ketika kamu diam di tempat bukan ketika kamu melangkahπ»
.
.
.
.
Semua mata seketika tertuju kepada Valeria yang baru saja datang. Valeria sendiri bingung melihat sang ibu yang menangis dan wajah ayahnya seperti sedang menahan emosi.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, batin Valeria dengan curiga.
"Dari mana saja kamu Valeria Anastasia Kusumo" hardik Budi dengan suara tinggi menggelegar di dalam mansion.
"Maaf ayah semalam Valeria ngak pulang" ucap Valeria dengan gugup.
"Semalam kamu nginep dimana?" tanya Budi sambil berjalan mendekat ke arah Valeria.
"Itu..." ucap Valeria dengan wajah pucat tak tahu harus menjawab apa.
Melihat anaknya yang diam Budi sudah tahu jawabannya. Meski tadi ia berharap informasi yang di bawa Dion salah tapi kenyataannya semua itu benar.
"Sekali lagi ayah tanya di mana kamu semalam!" bentak Budi dengan suara tinggi.
Valeria diam tak berbicara satu katapun. Budi lalu memberi isyarat ke Dion untuk membawa foto Valeria yang tadi di kirim, foto-foto itu lalu di lempar Budi tepat di muka Valeria.
Deg..................
Tubuh Valeria seketika menegang melihat foto dirinya yang polos dan sedang di peluk om-om berhamburan di lantai. Pikirannya seketika langsung ingat saat ia terbangun tadi pagi di hotel.
"Itu bukan Valeria ya......h" ucap Valeria dengan suara bergetar.
"Jadi maksudmu orang yang di foto itu bukan kamu? Lalu kenapa kamu bisa menginap di hotel semalam" bentak Budi dengan suara tinggi.
Mendengar ucapan sang ayah Valeria langsung melihat Budi dengan berlinang air mata. Ia tak tahu harus berkata apa pasalnya ia juga tidak tahu kenapa ia bisa terbangun di hotel pagi ini.
"Ayah.........hiks hiks hiks..........Valeria bersumpah Valeria ngak pernah lakuin hal seperti itu.........hiks hiks hiks" ucap Valeria sambil menangis.
Arinta yang melihat keduanya langsung bangun dan berjalan menghampiri Valeria. Sampai di sana ia dengan cepat merobek baju Valeria di bagian depan.
Ia menangis histeris melihat bekas keunguan di sekujur dada Valeria. Budi yang juga melihat tanda kissmark semakin menjadi emosi.
Plak........plak..........plak.........plak..........
4 tamparan kuat di pipi Valeria seketika menggema di dalam mansion. Saking kuatnya tamparan Budi Valeria tak bisa menahan tubuhnya hingga terjatuh dilantai.
Bugh........bugh........bugh.........bugh.........
Tak sampai di situ Budi juga menendang tubuh Valeria dengan brutal. Semua yang ada di sana hanya bisa diam dan melihat tak bisa berbuat apa-apa.
Ana, bi Susi, Dion, para pelayan ingin menghentikan Budi tapi tatapan tajam dari Budi menghentikan niat mereka.
Berbeda dengan mereka semua yang merasa kasihan kepada Valeria, Bianca yang melihat kekejaman ayahnya tersenyum smirk.
Ia sangat puas melihat Budi dan Arinta yang tak mempercayai anak mereka sendiri. Arinta yang melihat kebrutalan suaminya hanya diam karena sudah sangat kecewa kepada Valeria.
"I...b...u" lirih Valeria dengan napas satu-satu.
"Aku gagal jadi seorang ibu mas.......hiks hiks hiks" teriak Arinta sambil menangis histeris.
"Dasar anak kurang ajar! Apa ini balasan kamu kepada kami dengan mempermalukan nama kedua orang tuamu!" teriak Budi dengan suara tinggi.
Bugh............
Uhukkk.........uhuukk........uhhkkk........
Saking kuatnya tendangan Budi membuat Valeria seketika batuk mengeluarkan darah yang sangat banyak. Bi Susi yang melihat hal itu ingin berlari ke sana tapi di tahan oleh Dion.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Hiks hiks........tuan Dion lepaskan saya kasihan nona muda.......hiks hiks hiks" pinta bi Susi sambil menangis.
"Tenang bi saat ini tuan sedang emosi dan tidak bisa di kendalikan" ucap Dion.
"Tapi nona muda bisa mati tuan Dion" ucap bi Susi dengan khawatir.
Dion tak bisa berbuat apa-apa hanya menggelengkan kepalanya untuk tak ikut campur. Ia sangat tahu bagaimana sifat Budi jika sedang emosi seperti saat ini.
Siapapun yang mengganggunya akan di pukul habis-habisan bahkan bisa sampai tewas.
Arinta yang melihat Valeria batuk mengeluarkan darah ada rasa khawatir tapi ia tepis karena sudah sangat kecewa kepada Valeria.
"Kamu mempermalukan nama ibu dan ayah" ucap Arinta dengan tatapan kecewa.
"Ibu Valeria ngak pernah lakuin hal kayak gitu" ucap Valeria membela diri.
Sekuat tenaga ia tahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia harus menjelaskan semuanya sebelum kedua orang tuanya berburuk sangka.
"Valeria di jebak semalam bu" ucap Valeria dengan suara lemah.
"Jangan bohong kamu! Bukti semuanya sudah ada masih saja kamu berbohong!" bentak Budi.
"Ayah Valeria ngak pernah berbohong. Semalam Valeria dapat pesan kalau Bianca di culik"
"Di culik katamu? Lalu siapa yang berdiri disana" tunjuk Budi ke arah Bianca.
Valeria mengerutkan keningnya melihat Bianca yang berdiri tak jauh dari mereka. Ia bingung kenapa Bianca ada di mansion bukannya semalam ia di culik.
"Masih mau berbohong kamu" hardik Budi dengan suara tinggi.
"Tapi ayah" ucap Valeria yang langsung di potong Arinta.
"Ibu menyesal sudah melahirkan kamu" ucap Arinta dengan tatapan penuh kekecewaan.
Deg..............
Jantung Valeria seperti di tikam dengan 1.000 pedang, tubuhnya sampai bergetar hebat mendengar ucapan Arinta barusan. Segitu tak percaya ibu dan ayahnya kepada anak mereka sendiri.
"I..bu........hiks hiks hiks" ucap Valeria sambil menangis pilu.
"Mulai detik saya haramkan kamu memanggilku dengan sebutan ibu" hardik Arinta dengan suara lantang.
Semua orang yang di sana kaget bukan main, Arinta yang mereka tahu adalah sosok wanita hangat dan seorang ibu penyayang tapi hari ini terlihat sangat berbeda.
Meski itu anaknya sendiri ia lebih memilih karier dan kehormatannya di bandingkan darah dagingnya sendiri.
"Nyonya" pekik Ana, Dion, dan bi Susi dengan serentak.
Budi yang mendengar ucapan istrinya di tambah amarah yang meluap dalam dirinya kembali menampar dan memukul Valeria tanpa berbelas kasih.
Teriakan kesakitan dan isak tangis Valeria tidak membuat Budi berhenti. Bi Susi dan para pelayan yang melihat hal tersebut menangis dengan histeris.
"A......ya...h amp.....un" pinta Valeria dengan terbata-bata.
"Dasar anak tidak tahu diri! Kamu memang anak pembawa sial!" ucap Budi sambil menampar Valeria berulang kali.
Valeria hanya bisa pasrah menerima semua pukulan Budi. Ia merasa pukulan Budi tidak sakit sama sekali karena saat ini hatinya lebih sakit mengingat ucapan Arinta barusan.
Apa gue ini bukan anak ibu dan ayah, batin Valeria sambil menatap nanar Arinta dan Budi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Mulai detik ini nama Kusumo di hapus dari nama kamu" ucap Budi dengan suara tinggi.
Valeria seketika menatap ayahnya dengan kaget sedangkan Bianca yang mendengar ucapan sang ayah senang bukan main, karena gelar nona muda Kusumo akan segera ia dapat.
"Tuan" teriak Dion dengan kaget.
"Untuk semuanya mulai detik ini Valeria bukan anggota keluarga Kusumo lagi. Jadi jangan pernah kalian memperbolehkan dia masuk ke mansion ini lagi" titah Budi dengan suara lantang.
Semuanya yang disana diam tidak mengatakan satu kata pun. Valeria sendiri masih menatap sang ayah dengan perasaan hancur berkeping-keping.
"Mulai detik ini kamu keluar dari mansionku karena detik ini juga kamu bukan lagi anakku!" ucap Budi dengan suara tegas sambil menatap tajam Valeria.
Hahahahahaha..............
Seketika tawa Valeria pecah mendengar ucapan Budi. Ia lalu berdiri dengan tertatih-tatih sambil menatap Budi dan Arinta dengan tatapan penuh kebencian dan kecewa.
Sudah cukup ia merasakan kekejaman kedua orang tuanya selama ini. Ia sangat sakit hati karena kedua orang tuanya tidak mau mendengar penjelasannya bahkan tidak mempercayainya.
"Aku tidak akan pernah lupa dengan semua perbuatan kalian" teriak Valeria dengan wajah dan tubuh penuh luka.
"Angkat kakimu dari mansion ini karena aku tidak sudi punya anak seperti kamu" bentak Budi dengan emosi.
Valeria lalu berjalan menuju tembok dan membenturkan kepala dengan kuat. Darah dari keningnya langsung menempel di tembok putih itu.
"Mulai detik ini aku tidak ada hubungan darah dengan tuan dan nyonya Kusumo yang terhormat" ucap Valeria dengan suara dingin dan tatapan tajam.
"Itu lebih baik karena aku tak sudi memiliki anak j***ng seperti kamu" balas Budi dengan suara tinggi.
Valeria menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tajam dan nanar. Meski hatinya sangat sakit tapi ia sekuat tenaga menahan air matanya yang akan tumpah.
Valeria lalu berbalik dan pergi dengan tubuh penuh darah meninggalkan mansion Kusumo. Mulai detik ini ia hanya hidup sebatang kara tak mempunyai orang tua lagi.
"Nona muda........hiks hiks hiks" teriak para pelayan dengan histeris.
"Terima kasih sudah menjagaku selama ini" ucap Valeria sambil berbalik dan tersenyum manis.
Melihat senyuman manis Valeria semuanya kembali menangis tak kuasa melihat kepergian Valeria. Ada perasaan sedih dan sakit hati saat Arinta melihat kepergian anaknya tapi ia tepis semua itu.
Dion dan Ana lalu berlari keluar menyusul Valeria tak perduli jika Budi dan Arinta akan memecat mereka. Saat ini keduanya hanya berpikir untuk menolong Valeria.
"Nona muda.........hiks hiks hiks hiks" ucap Ana sambil menangis.
"Mbak Ana.........hiks hiks hiks" ucap Valeria yang tak kuasa menahan tangisnya sedari tadi.
Ana langsung memeluk Valeria karena ia tahu saat ini Valeria pasti sangat hancur. Ana lalu membawa Valeria masuk ke dalam mobil Dion dan meninggalkan mansion Kusumo.
Sepeninggal Valeria suasana di mansion seketika berubah menjadi sunyi. Budi pergi ke ruang kerjanya untuk menyendiri sedangkan Arinta memilih pergi ke kamarnya.
Bianca yang masih berdiri di ruang keluarga tersenyum dengan bahagia. Akhirnya tiba juga ia yang akan menjadi nona muda satu-satunya di mansion ini.
Akhirnya Valeria pergi juga sebelum dia membongkar semua rencana gue selama ini, batin Bianca sambil tersenyum bahagia.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bianca lalu mengirim pesan ke tante Sisil karena rencana mereka akhirnya berhasil.
Tante Sisil
^^^"Tante Valeria barusan di usir dari mansion dan tante tahu Valeria sudah tidak menggunakan nama keluarga Kusumoπ π "^^^
"Selamat sayang. Akhirnya impian kamu untuk menjadi nona muda di keluarga Kusumo terwujud"
^^^"Iya tante dan terima kasih karena tanpa tante ini semua ngak akan berhasil"^^^
"Sama-sama sayang nanti kita rayain keberhasilan kita ya"
^^^"Siap tanteπ"^^^
~ Rumah Tante Sisil ~
Tante Sisil membaca pesan Bianca sambil tersenyum bahagia. Arya yang melihat istri keduanya senyum-senyum langsung bertanya.
"Kamu kenapa senyum-senyum kayak gitu honey?" tanya Arya dengan tatapan curiga.
"Rencana kita berhasil mas dan sekarang Bianca sudah jadi satu-satunya nona muda di keluarga Kusumo" ucap tante Sisil sambil duduk di pangkuan suaminya.
"Hemmm! Sesuai keinginan keponakanmu itu"
"Makasih ya mas atas bantuan kamu"
"Sama-sama sayang. Selagi itu buat kamu senang apa pun akan mas lakukan"
"Iya suamiku sayang" ucap tante Sisil sambil memeluk om Arya.
Tanpa tante Sisil sadari ternyata om Arya tak membantu mereka dengan cuma-cuma. Ia sudah menyiapkan rencana untuk Bianca di masa depan demi membayar semua uang yang ia keluarkan semalam.
Semua yang aku lakukan untuk kalian berdua itu tidak gratis sayang, batin om Arya sambil tersenyum penuh arti.
βββββ
To be continue..............
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya, biar author makin semangat buat nulis chapter selanjutnya okeπβ€