
π»Boleh ikuti kata hatimu tapi jangan lupa gunakan juga otakmu sebelum bertindakπ»
.
.
.
.
Budi dan Arinta bungkam seketika mendengar ucapan Valeria barusan.
Keduanya tahu jika apa yang di minta Valeria itu mustahil karena sampai kapan pun Bagas tidak akan pernah menerima Bianca menjadi saudaranya.
Apa lagi Bagas belum tahu kejadian beberapa waktu lalu, Budi sudah bisa pastikan jika sampai anaknya tahu maka Bagas akan mengamuk.
Melihat kedua orang tuanya yang diam tidak mengatakan satu katapun Valeria tersenyum sepintas. Ia tahu apa yang ia minta barusan tidak akan pernah terwujud.
Sampai kapan pun gue ngak bakalan biarin loe hancurkan keluarga gue Ca, batin Valeria sambil melihat Bianca dengan tatapan permusuhan.
Kita lihat aja akhirnya loe atau gue yang bakal menangkan ini semua, batin Bianca yang juga menatap Valeria dengan sinis.
Keduanya seakan berbicara lewat tatapan mata, Valeria tahu jika saat ini Bianca sedang menunjukkan wajah palsunya tapi ia tidak akan tertipu lagi untuk kesekian kalinya.
Valeria lalu pergi dari sana menuju kamarnya. Budi dan Arinta hanya melihat saja kepergian anaknya tanpa berniat menghentikannya.
Bianca yang melihat keduanya menahan emosi karena keduanya seakan tidak memperdulikan akan kehadirannya. Baru saja ia akan bangun tiba-tiba suara Budi menghentikannya.
"Jaga kelakuanmu selama di luar sana jangan pernah mempermalukan nama keluarga Kusumo" ucap Budi dengan suara tegas.
"Baik ayah" ucap Bianca sambil tersenyum.
Ia lalu pergi ke kamarnya sambil mengepal ke dua tangannya. Sampai di dalam kamar Bianca rasanya ingin berteriak dan menghancurkan segalanya tapi ia tahan.
"Lihat saja apa yang bakal gue lakuin ke keluarga kalian" ucap Bianca dengan berapi-api.
Setelah perdebatan malam itu hubungan antar Valeria dan orang tuanya semakin renggang. Suasana mansion yang biasanya ceria saat liburan semua berubah menjadi sunyi.
Seperti weekend hari ini biasanya Valeria akan bercanda bersama kedua orang tuanya tapi sekarang tidak lagi.
Valeria yang duduk di taman belakang mengingat kapan terakhir mereka sekeluarga duduk di taman belakang.
"Gue kangen masa-masa itu" gumam Valeria sambil meneteskan air mata.
Bi Susi yang berdiri tak jauh dari Valeria juga ikut meneteskan air mata mendengar ucapan Valeria. Ia adalah pengasuh Valeria dan Bagas jadi ia tahu betul apa yang di rasakan Valeria saat ini.
"Bibi yakin semuanya bakal kembali ke semula saat tuan muda pulang non" ucap bi Susi dengan yakin.
Valeria tak tahu jika saat ini Arinta juga sedang melihatnya dari balkon kamarnya. Air matanya jatuh saat mengingat kejadian waktu Valeria di pukul di taman samping.
"Apa aku ibu yang buruk untuk putra dan putriku" ucap Arinta dengan sedih.
"Kamu itu adalah wanita dan ibu yang paling terhebat dalam keluarga ini sayang" ucap Budi sambil memeluk sang istri.
"Hiks hiks........aku gagal mas........hiks hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis.
Budi membalikkan tubuh Arinta dan memeluknya dengan erat. Hatinya sakit melihat sang istri yang menangis saat ini.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Hiks hiks.......kapan keluarga kita kayak dulu lagi mas........hiks hiks?" tanya Arinta dalam pelukan suaminya.
"Aku janji secepatnya keluarga kita akan kembali seperti dulu lagi sayang" ucap Budi sambil mengelus punggung Arinta dengan lembut.
Arinta memeluk dan menumpahkan semua kesedihannya kepada sang suami. Ia sangat kecewa dengan dirinya yang sekarang karena tak bisa memberikan kehangatan kepada Valeria seperti dulu lagi.
Aku janji keluarga kita akan seperti dulu lagi sayang, batin Budi.
Budi melihat ke arah taman dan melihat sang anak yang sedang duduk disana. Pandangan matanya seketika berair mengingat perlakuannya waktu itu kepada Valeria.
Sampai saat ini Budi masih belum meminta maaf kepada Valeria. Rasa egois dalam dirinya membuatnya gengsi untuk mengakui kesalahannya waktu itu.
Maafkan ayah nak maaf, batin Budi dengan rasa bersalah.
Valeria yang merasa sudah terlalu lama ia duduk di taman memutuskan untuk segera masuk. Saat berjalan melewati tanaman bunga mawar tiba-tiba langkahnya terhenti.
Bayangan tubuhnya yang di pukul sampai berdarah dengan batang bunga mawar tiba-tiba muncul. Tubuh Valeria seketika berkeringat dingin dan menegang.
Nafasnya tersengal-sengal seperti tidak ada oksigen di sekitarnya. Bi Susi yang melihat Valeria seperti kesakitan segera berlari menujunya.
Brugh............
Tubuh Valeria seketika terjatuh di tanah karena tak sanggup menahan rasa sakit. Valeria meremas dadanya yang terasa sangat sakit sehingga ia kesulitan untuk bernapas.
"Nona muda" teriak bi Susi dengan panik.
Bi Susi sudah panik melihat Valeria yang sangat kesakitan, bahkan muka Valeria sudah berubah menjadi merah padam karena menahan rasa sakit di di dadanya.
"Hiks hiks.........non kenapa.......hiks hiks" ucap bi Susi yang sudah berlinang air mata.
"Si....ngk..irkan ma.....war i..tu" ucap Valeria dengan napas satu-satu.
Bi Susi lalu melihat ke arah samping yang ada tanaman bunga mawar. Bi Susi segera menyuruh pelayan yang disana mengambil kain atau apa pun untuk menutup bunga mawar tersebut.
Karena bunga itu adalah bunga kesukaan dari Arinta dan ia tidak berani untuk membuangnya. Setelah pelayan menutup bunga mawar dengan kain napas Valeria mulai beraturan.
"Non ngak kenapa-napa kan non.......hiks hiks?" tanya bi Susi dengan cemas.
"Bawa Valeria pergi dari sini bi" ucap Valeria dengan suara lemah.
Bi Susi lalu membantu Valeria berdiri dan memapahnya ke dalam mansion. Tiba di tangga Arinta yang baru keluar dari kamar bingung melihat Valeria yang pucat dan di papah oleh bi Susi.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Arinta dengan panik.
"Pergi" ucap Valeria dengan lemah.
"Sayang kamu kenapa sampai pucat kayak gini? Apa yang terjadi?" tanya Arinta dengan khawatir.
"Bi bawa Valeria ke kamar" ucap Valeria tak menjawab pertanyaan Arinta.
"Iya non"
"Nak beritahu ibu kamu sebenarnya kenapa?" tanya Arinta dengan memaksa.
Valeria tak memperdulikan pertanyaan Arinta karena saat ini yang ia butuhkan adalah tidur dan menangkan diri. Bi Susi melihat Arinta dan mengatakan untuk tidak bertanya dulu tanpa bersuara.
Arinta menganggukkan kepala menjawab ucapan bi Susi barusan. Valeria lalu di papah menuju kamarnya di lantai dua.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Sampai di dalam kamar bi Susi langsung membantu Valeria untuk tidur. Sebelum itu ia juga memberikan segelas air yang berada di atas meja kepada Valeria.
"Terima kasih bi"
"Sama-sama non"
"Bi tolong jangan bilang ke siapa-siapa tentang kejadian tadi" ucap Valeria penuh harap.
"Tapi non" ucap bi Susi yang langsung di potong Valeria.
"Aku ngak mau ada satu pun yang tahu tentang trauma aku bi"
"Jadi tadi non" ucap bi Susi sambil menutup mulutnya tak percaya.
"Benar bi aku trauma dengan bunga mawar sejak kejadian waktu itu" lirih Valeria dengan sedih.
Bi Susi seketika langsung memeluk Valeria dan menangis ia tak menyangka anak berumur 14 tahun bisa mengalami hal seperti ini.
"Valeria mohon sama bibi jangan pernah beritahu siapapun tentang hal ini" ucap Valeria dengan memohon.
"Baik non. Bibi ngak akan beritahu siapa pun tentang hal ini" ucap bi Susi.
"Terima kasih bi"
"Sama-sama non. Mending sekarang non istirahat ya bibi ngak mau non kenapa-napa" ucap bi Susi dengan khawatir.
"Iya bi" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
Bi Susi lalu keluar meninggalkan Valeria biar ia bisa beristirahat. Sampai di bawah Arinta sudah menunggu kedatangan bi Susi dengan cemas.
"Gimana keadaan anakku bi?" tanya Arinta dengan cepat.
"Nona muda tadi hanya kelelahan dan merasa kurang enak badan nyonya" ucap bi Susi berbohong.
"Apa Valeria sudah minum obat?" tanya Arinta dengan cepat.
"Sudah nyonya dan sekarang nona muda sedang beristirahat"
"Syukurlah semoga anakku cepat sembuh" ucap Arinta dengan tulus.
Bi susi hanya diam mendengar ucapan sang nyonya barusan.
Maafkan saya sudah berbohong nyonya tapi ini semua permintaan dari nona muda, batin bi Susi.
"Siapkan makanan sehat dan jangan biarkan sampai Valeria terlambat makan ya bi"
"Baik nyonya"
Setelah itu Arinta segera beranjak keluar entah pergi kemana. Ternyata Arinta akan pergi bersama Bianca ke butiknya untuk membahas rancangan terbaru mereka.
~ Arinta Butik ~
Sampainya di butik Arinta dan Bianca segera masuk ke dalam butik. Keduanya lalu naik lift menuju lantai 3 bagian office butik.
"Selamat datang nyonya dan nona Bianca" ucap petugas keamanan yang berjaga di depan pintu.
"Iya" ucap Arinta dan Bianca serentak sambil tersenyum manis.
Semua pekerja butik merasa senang karena ternyata anak angkat keluarga Kusumo tidak sombong dan sangat menghargai orang.
Tanpa mereka semua tahu jika itu adalah topeng belaka yang di pakai oleh Bianca. Hanya Ana saja yang mengetahui sifat asli dari Bianca.
"Selamat datang nyonya. Maaf ada nyonya besar yang sudah menunggu dari tadi" ucap Ana.
"Suruh masuk ke ruanganku Ana sekalian bawakan minum" ucap Arinta.
"Baik nyonya" ucap Ana dengan membungkuk memberi hormat.
Ana segera berlalu menuju ruang tunggu saat melewati Bianca mata keduanya saling bertatapan. Ana tersenyum puas melihat wajah kesal Bianca karena ia tak di sambut tadi.
Bianca menatap Ana dengan tatapan benci dan kesal seakan ingin menamparnya. Tapi ia mencoba bertahan karena saat ini ia bersama dengan Arinta dan lainnya.
Awas loe asisten sialan, batin Bianca dengan emosi.
Tak lama setelah kepergian Ana akhirnya ia kembali bersama dengan Putri dan Sandra. Melihat ibu dan keponakannya sudah datang Arinta bangun dan menyambut keduanya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Ibu kok datang ngak ngabarin Arinta dulu" ucap Arinta.
"Maaf tadi ibu baru habis pertemuan dengan perkumpulan darma wanita Solo jadi sekalian mampir kesini" ucap Putri dengan suara lembut.
"Ibu sama Sandra aja?" tanya Arinta.
"Ngak sama Wina juga tapi kakak iparmu tadi pulang lebih dulu karena harus menemani kangmasmu" ucap Putri.
"Halo tante apa kabar" ucap Sandra dengan suara lembut.
"Kabar tante baik bagaimana dengan kamu?" tanya Arinta.
"Kabar aku juga baik tante" ucap Sandra sambil tersenyum manis.
"Baguslah kalau begitu" ucap Arinta.
"Halo cucu eyang kamu apa kabar?" tanya Putri ke Bianca.
"Kabar aku baik eyang. Bagaimana kabar eyang dan eyang kakung?" tanya Bianca.
"Kami baik-baik saja sayang" jawab Putri.
"Baguslah kalau eyang baik-baik saja" ucap Bianca.
"Iya sayang"
"Hai Sandra apa kabar?" tanya Bianca.
"Sandra perhatikan ucapanmu yang sopan kalau lagi berbicara" ucap Putri dengan tegas.
"Iya eyang maaf" ucap Sandra.
"Kabar aku baik kok" ucap Bianca sambil tersenyum penuh arti.
Melihat senyuman Bianca barusan Sandra tahu jika Bianca sedang mengejeknya. Ia mengepal tangannya menahan emosi karena tak mau sampai kelepasan di depan sang eyang.
Arinta lalu mengajak mereka semua untuk duduk dan mengobrol. Dalam obrolan tadi Sandra hanya sesekali ikut mengatakan sesuatu karena tak suka dengan kehadiran Bianca.
"Gimana rencana kamu dan Budi untuk pesta ulang tahun Valeria nak?" tanya Putri.
"Aku sama mas Budi belum mempersiapkan apa-apa bu, soalnya kita tidak tahu apa Valeria ingin merayakannya seperti tahun lalu atau tidak" ucap Arinta.
"Loh bukannya itu sudah menjadi agenda kamu dan Budi setiap tahun ya" ucap Putri dengan bingung.
"Masalahnya saat ini Valeria lagi sakit bu dan 2 minggu lagi ia akan ujian akhir nasional"
"Valeria sakit apa tante?" tanya Sandra dengan cepat.
"Valeria ngak enak badan tadi pagi dan dia kecapean" ucap Arinta.
"Kamu itu batasi dulu kegiatan anakmu jangan nyuruh dia les terus apa lagi dua minggu lagi mereka akan ujian nasional" ucap Putri dengan tegas.
"Udah bu aku udah nyuruh anak aku supaya tidak ikut les lagi dan latihan di perguruan" ucap Arinta.
"Perguruan apa tante?" tanya Sandra.
"Valeria belajar bela diri di perguruan Raya sayang" ucap Arinta.
"Wooww! Itu keren banget aku ngak tahu kalau sepupu aku bisa bela diri" ucap Sandra.
"Kamu ini. Masa anak cewek diizinkan ikut kegiatan seperti itu" ucap Putri tak setuju.
"Itu semua anjuran Bagas bu. Lagian menurut aku bagus kok bu kan sekalian untuk menjaga diri bu" ucap Arinta dengan tegas.
"Iya eyang menurut Sandra itu hal yang bagus. Apa lagi sekarang ini kan banyak sekali marak kejahatan jadi sebagai perempuan kita harus bisa menjaga diri juga eyang" ucap Sandra membela Valeria.
"Bukannya kamu juga ngak suka ikut hal seperti itu" ucap Putri sambil menatap tajam Sandra.
"Hehehehe.......kan aku memang ngak tertarik eyang. Lagian kondisi tubuh Sandra lemah eyang ngak bisa ikut kegiatan yang menguras tenaga eyang" ucap Sandra sambil terkekeh.
"Alasan aja kamu" ketus Putri.
Semua yang di sana seketika tertawa mendengar ucapan Putri barusan. Bianca hanya diam mendengar obrolan mereka.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Kamu perhatikan pola makan dan tidur Valeria, apa lagi bentar ia akan ujian akhir nasional" tegas Putri.
"Iya bu aku sudah suruh bi Susi menyiapkan makanan sehat buat Valeria kok" ucap Arinta.
"Ingat jangan lupa tentang jamur juga"
"Iya bu aku tahu. Udah aku suruh biar ngak ada jamur di semua makanan Valeria"
"Bukannya jamur sehat untuk tubuh ya eyang" ucap Bianca.
"Iya memang sehat tapi tidak untuk Valeria" ucap Sandra yang menjawab.
"Loh kenapa?" tanya Bianca.
"Valeria alergi jamur dari kecil sayang, jadi kalau dia makan bisa sesak napas dan itu sangat berbahaya" ucap Arinta.
"Aku baru tahu kalau Valeria alergi jamur" ucap Bianca.
"Ya kan loe itu baru di keluarga Kusumo jadi pastilah ngak tahu banyak tentang keluarga kita" ucap Sandra dengan ketus.
"Sandra" ucap Putri memberi peringatan.
"Maaf eyang kelepasan" ucap Sandra sambil terkekeh.
Bianca hanya diam dan menatap Sandra dengan emosi sedangkan yang di tatap seakan tidak tahu apa-apa dan hanya tersenyum manis.
Sok cari perhatian loe, batin Sandra.
Awas ya loe gue bakal balas ini semua, batin Bianca sambil tersenyum licik.
Bianca yang sudah tahu apa kelemahan Valeria tersenyum licik dalam hati. Ia telah memikirkan apa yang akan ia lakukan kepada Valeria sebelum melakukan rencananya.
Kita senang-senang dulu ya Val sebelum loe di tendang keluar dari mansion Kusumo, batin Bianca sambil tersenyum penuh arti.
Bianca lalu mengambil hpnya dan mengirim pesan ke tante Sisil mengenai rencananya.
Tante Sisil
^^^"Hay tante apa kabar? tante aku punya rencana bagus nih buat anak sialan itu"^^^
Setelah mengirim pesan Bianca lalu ikut mengobrol bersama dengan Arinta dan lainnya.
Ting...........
Tante Sisil
"Rencana apa sayang bukannya rencana kita itu yang pernah kita bahas ya?"
^^^"Aku ada rencana lain yang bikin anak sialan itu menderita sebelum kita jalankan rencana besar kita tante"^^^
"Kita ketemuan aja di cafe buat bahas ini semuanya"
^^^"Kapan tante?"^^^
"Sekarang aja kebetulan tante ngak sibuk"
^^^"Oke tante, di cafe biasakan tante?"^^^
"Iya sayang"
^^^"Aku bentar lagi ke sana tante"^^^
"Hati-hati di jalan ya sayang"
^^^"Tante juga ya"^^^
Tante Sisil tak membalas lagi pesan Bianca hanya di baca saja. Bianca lalu meminta ijin untuk pergi dengan alasan bertemu sahabatnya.
Arinta lalu mengijinkannya meski tujuan mereka datang kesini untuk membahas rancangan terbaru mereka. Bianca yang sudah mendapat ijin langsung pergi menuju cafe tempat ia janjian dengan tante Sisil.
~ Cafe Mix ~
Sampai di cafe Mix Bianca segera masuk ke dalam. Ia mengedarkan pandangannya mencari tante Sisil tapi yang di cari belum datang.
Bianca lalu menuju ke tempat kosong yang berada di pojokan dekat jendela. Tak lama berselang tante Sisil pun datang dan langsung menuju ke tempat Bianca.
"Maaf ya sayang tante baru datang" ucap tante Sisil.
"Ngak apa-apa kok tante. Bianca juga baru 10 menit yang lalu nyampe"
"Oh baiklah sayang"
"Tante mau pesan apa"
"Samain aja sama punya kamu"
"Oke tante"
Bianca lalu memesan untuknya dan tante Sisil. Setelah pesanan mereka datang keduanya langsung membahas rencana Bianca.
"Jadi rencana yang kamu bilang tadi itu apa?" tanya tante Sisil to the point.
"Valeria punya kelemahan yang baru aku tahu tante"
"Apa itu?" tanya tante Sisil dengan bingung.
"Jamur tante"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tante Sisil mengangkat alisnya sebelah tak mengerti dengan maksud Bianca. Melihat tatapan tante Sisil ia lalu menjelaskan maksudnya.
Hahahahahaha.......
Tawa tante Sisil seketika pecah mendengar ucapan Bianca barusan. Banyak pengunjung yang melihat kearah mereka berdua tapi tidak di hiraukan.
"Kamu licik sekali sayang" ucap tante Sisil sambil tersenyum sinis.
"Yups! Itulah diri aku yang sebenarnya tante"
"Tante setuju sama rencana kamu ini"
"Good. Tapi ada satu masalah tante"
"Jangan bilang kamu bingung gimana taruh jamur di makanan Valeria"
"Wah tebakan tante tepat banget"
"Serahin sama tante karena itu masalah kecil"
"Yang benar tante"
"Kamu lihat aja entar" ucap tante sisil dengan sombong.
"Wah terima kasih banyak tante" ucap Bianca dengan senang.
"Sama-sama sayang"
Bianca lalu segera pamit setelah membahas kapan rencana mereka akan di lakukan. Ia sudah tak sabar melihat Valeria yang akan menderita karena makanan pantangannya.
~ Mansion kusumo ~
Bianca sudah tiba di mansion dari tadi. Ia menunggu dengan sabar kapan bi Susi akan mengantar makanan ke Valeria.
Karena penasaran ia lalu naik ke lantai dua dan duduk di ruang santai sebelah kamar Valeria. Tak lama bi Susi bersama seorang pelayan mengantar makanan ke dalam kamar Valeria.
"Selamat menikmati kesakitan Val" ucap Bianca dengan suara sangat pelan.
Selang 10 menit Bianca melihat bi Susi dan pelayan keluar dari kamar Valeria. Melihat tak ada orang di sekitarnya dan tak ada cctv di sekitar sana Bianca memutuskan masuk ke kamar Valeria.
Baru saja ia membuka pintu ia sudah mendengar benda pecah. Saat masuk ke dalam Bianca tersenyum senang melihat Valeria yang tergeletak di lantai dekat jendela.
"T...o....long" lirih Valeria dengan napas satu-satu menahan sakit di dadanya.
"Valeria loe kenapa?" tanya Bianca dengan wajah panik.
Ia mendekat ke arah Valeria dan melihat tubuh Valeria sudah mulai memerah dengan banyak ruam di tangannya. Valeria bingung melihat Bianca yang tersenyum senang.
"Ca to...lo..ng g....ue" ucap Valeria dengan terbata-bata.
Hahahahahahaha............
Tawa Bianca seketika pecah mendengar ucapan Valeria. Valeria yang sudah mulai kesulitan bernapas melihat Bianca dengan tatapan sedih.
Bukannya menolong Bianca malah melihat Valeria dengan senyuman sinis. Valeria kaget bukan main melihat senyuman Bianca ia sudah mulai berpikir jika ini bukan kebetulan.
"A...pa yang l...oe lakuin k..e gu...e bereng....sek" ucap Valeria dengan susah payah.
"Akhirnya loe sadar juga ya" ucap Bianca sambil tersenyum menyeringai.
"L...oe" tunjuk Valeria sambil menahan sakit.
"Gue pengen lihat gimana reaksi loe makan jamur dan hasilnya, Wow........sangat fantastik sesuai perkiraan gue. Gue cuman mau bilang semoga loe selamat ya" ucap Bianca sambil tertawa puas.
Valeria kaget bukan main mendengar ucapan Bianca barusan. Ingin bangun tapi tubuhnya tak bisa di gerakkan karena reaksi alerginya yang sudah parah.
Gue bakal balas semua ini Bianca, batin Valeria dengan perasaan marah.
βββββ
To be continue.............
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€