
π»Jangan jadikan pandangan matamu seperti mata lalat yang hanya mencari sesuatu yang busuk dan kotor yaitu hanya melihat kekurangan dan kesusahan orang lainπ»
.
.
.
.
Setelah berbaikan dengan Bianca hari-hari Valeria jalani dengan sukacita. Ia sekarang sudah berbicara dengan Bianca seperti dulu lagi, tak ada tatapan permusuhan atau benci dari Bianca lagi.
Valeria sendiri terus berusaha mendekatkan sang ayah dengan Bianca. Setiap kali ada ajakan makan malam dari rekan bisnis Budi, Valeria selalu beralasan dan akhirnya Bianca yang harus ikut.
Meski Budi tak mau Bianca selalu saja ikut tapi demi menghargai rekan bisnisnya, mau tak mau ia harus membawa Bianca ke jamuan atau pesta lainnya.
Bahkan Bianca sekarang lebih dekat dengan Putri setelah acara sosialisasi waktu itu. Melihat semua keluarganya senang dengan kehadiran Bianca di tengah-tengah mereka membuat Valeria bahagia.
"Gue senang kalau loe di terima baik dalam keluarga besar kita Ca" gumam Valeria dengan suara pelan.
Valeria menatap Bianca yang sedang bercanda dengan oma Iren dan eyang putri dari lantai dua. Bi Susi yang tadi sempat mengantar cemilan untuk Valeria berdiri sambil tersenyum hangat.
Hati non begitu tulus, batin bi Susi sambil tersenyum manis.
"Jadi nanti ada acara sosialisasi lagi ya eyang?" tanya Bianca.
"Iya sayang. Jadi eyang mau kamu harus ikut nanti" jawab Putri dengan suara lembut.
"Bianca ngak bisa janji eyang tapi kalau jadwal Bianca kosong pasti Bianca bakal ikut eyang"
"Iya nak eyang ngerti kok"
"Mbak memangnya bakal ada sosialisasi lagi ya?" tanya tante Iren.
"Iya Ren, mbak pengen berbagi ilmu yang mbak punya ke generasi muda, soalnya sekarang udah semakin canggih mbak ngak mau generasi muda di negara kita lupa akan warisan budaya negeri sendiri" ucap Putri.
"Benar mbak. Anak zaman sekarang lebih suka dengan hal-hal berbau instan dan lebih tertarik dengan internet" tante Iren membenarkan perkataan Putri.
"Benar thu oma Iren, Bianca sependapat dengan oma" ucap Bianca.
"Iya sayang" ucap tante Iren.
Ketiganya lalu mengobrol dengan santai membahas berbagai macam hal. Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan sudah berganti hari.
Saat ini keempatnya sedang sarapan di meja makan. Arinta yang melihat Valeria dan Bianca sudah menghabiskan sarapan mereka segera mengutarakan maksudnya.
"Valeria, Bianca" ucap Arinta dengan suara tegas.
"Iya bu, tante" ucap keduanya dengan serentak.
"Hari ini ibu sama ayah akan berangkat ke London selama 1 minggu" ucap Arinta.
"Ngapain bu? Apa ibu sama ayah mau jenguk kangmas?" tanya Valeria dengan cepat.
"Ada acara pertemuan pengusaha dunia di London, sekalian ayah ada janji temu klien di sana" ucap Budi dengan suara tegas.
"Kirain mau jenguk kangmas" ucap Valeria.
"Ngak sayang, kan kangmas lagi turun magang" ucap Arinta.
"Hehehe..........iya ya bu Valeria lupa" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Selama ibu dan ayah pergi kalian berdua ngak boleh keluyuran dan buat masalah" ucap Arinta dengan suara tegas.
"Baik bu, tante" ucap keduanya dengan serentak.
"Bianca kamu nanti ke butik temui Ana dan serahkan desain kamu yang semalam udah tante lihat" ucap Arinta sambil menatap Bianca.
"Iya tante" ucap Bianca.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Ibu dan ayah berangkat jam berapa?" tanya Valeria.
"Habis sarapan ayah dan ibu segera berangkat" ucap Arinta.
"Ayah dan ibu hati-hati ya" ucap Valeria.
"Iya nak" ucap Arinta.
Selesai keempatnya segera berjalan ke depan, para pelayan sudah memasukkan koper milik Arinta dan Budi di mobil. Di depan mansion Dion sudah berdiri menunggu tuan dan nyonya.
"Selamat pagi tuan, nyonya, nona muda, dan nona Bianca" ucap Dion sambil membungkuk hormat.
"Hemmm" deham Budi dengan wajah datar.
"Selamat pagi juga Dion" ucap Arinta.
"Pagi juga om" ucap Valeria dan Bianca serentak.
"Apa semuanya sudah siap Dion?" tanya Budi.
"Sudah tuan" jawab Dion.
"Valeria ibu pergi dulu ya sayang" ucap Arinta.
"Iya bu" ucap Valeria.
"Jaga diri kalian berdua" ucap Arinta.
"Iya bu, tante" ucap Valeria dan Bianca dengan serentak.
"Ayah pergi dulu" ucap Budi sambil memeluk Valeria.
"Hati-hati ayah" ucap Valeria.
"Om hati-hati" ucap Bianca sambil mencium tangan Budi.
"Hemmm"
Keduanya lalu memeluk Budi dan Arinta sebelum mereka pergi. Valeria yang melihat Dion tersenyum penuh arti.
"Om Dion ikut juga?" tanya Valeria.
"Iya nona muda" ucap Dion.
"Udah pamit belum sama tante Ana" ucap Valeria sambil menaik turun alisnya.
Dion hanya menunduk tersenyum malu karena Valeria membongkar rahasianya. Tak mau membuat tuan dan nyonyanya menunggu lama Dion segera masuk ke dalam mobil menghindari pertanyaan Valeria.
Valeria hanya terkekeh melihat wajah asisten sang ayah tersipu malu. Tak mau telat Valeria dan Bianca segera pergi ke sekolah di antar oleh pak Udin.
~ SMP Kencana ~
Setibanya di sekolah keduanya segera bergegas ke kelas masing-masing. Bianca yang sudah berada di kelasnya langsung di sambut kedua sahabatnya.
"Selamat pagi" ucap Bianca sambil tersenyum manis.
"Pagi juga say" ucap Kelly dan Riri serentak.
"Dari wajah loe berdua, gue tebak ada sesuatu nih yang bikin loe berdua berseri-seri" tebak Bianca.
"Yups! Benar banget loe" ucap Kelly dengan bahagia.
"Emang apa sih yang buat loe berdua senang banget"
"Gue semalam udah jadian sama gebetan gue" ucap Kelly dengan senang.
"Hah! Gebetan loe yang mana" ucap Bianca dengan kaget.
"Ah! Ngak asik loe Bi" ucap Kelly dengan kesal.
"Serius ni gue ngak tahu gebetan loe yang mana. Setahu gue loe kan cinta mati ama Jimin BTS" ucap Bianca.
"Ya elah say itu mha cuman fans di dunia entertainment aja, kalau dunia nyata beda lagi dong" ucap Riri.
"Lah terus gebetan loe siapa?" tanya Bianca dengan penasaran.
"Uhmm.........kasi tahu ngak ya" ucap Kelly sambil terkekeh.
"Kasi tahu dong penasaran banget ni gue" ucap Bianca dengan wajah memelas.
"Nanti loe juga bakalan tahu kok say" ucap Riri.
"Maksud loe?" tanya Bianca dengan wajah bingung.
"Pulang sekolah besok kita temani Kelly buat ketemuan sama cowoknya" ucap Riri.
"Beneran Kelly?" tanya Bianca.
"Benar banget say sekalian gue kenalin loe berdua" ucap Kelly.
"Jadi loe belum kenal sama cowoknya Ri?" tanya Bianca.
"Ya belum lah orang dianya diam-diam mulu tiba-tiba aja pagi tadi bilang udah ngak jomblo lagi" jawab Riri.
"Penasaran gue ama cowok yang bisa bikin sahabat gue kecantol" ucap Bianca.
"Loe pikir gue centong apa makanya kecantol" dengus Kelly dengan kesal.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bianca dan Riri tertawa melihat bibir Kelly yang monyong ke depan karena kesal. Kelly yang melihat kedua sahabatnya semakin tertawa tambah menjadi kesal.
"Ah! Loe berdua gitu deh" dengus Kelly.
Ketiganya lalu bersiap untuk mengikuti pelajaran. Berbeda dengan di kelas Valeria, saat ini ia tengah di tatap oleh semua teman sekelasnya dengan tatapan jijik.
Bahkan kedua sahabatnya juga ikut menatap dia dengan jijik. Sari lalu bangun dan berjalan ke arah Valeria dengan tampang jijik tak ada ketulusan sedikit pun.
"Gue nyesal sahabatan sama loe" ucap Sari dengan suara dingin.
"Maksud loe?" tanya Valeria dengan bingung.
"Gue kira selama ini loe anak orang kaya jadi ngak kekurangan apapun tapi" ucap Sari dengan sinis.
"Loe ngomong to the point aja deh" ucap Valeria yang mulai terpancing emosi.
"Loe itu orangnya suka banget ya sama milik orang" ucap Tika dengan emosi.
"Hah! Loe berdua kenapa sih" ucap Valeria dengan penasaran.
"Liat aja sendiri dasar perebut milik orang" ucap Sari sambil melemparkan beberapa foto ke Valeria.
Valeria mengambil foto-foto itu dan melihatnya. Keningnya berkerut melihat ia yang sedang berdiri sambil tertawa bersama seorang cowok.
Sebelum menanyakan lebih lanjut tentang foto itu bel masuk sudah berbunyi. Tak lama guru pun masuk dan mulai memberi pelajaran pertama.
Rian yang duduk paling belakang memandang Valeria dengan kesal. Perasaannya tak di balas tapi Valeria malah memberikan kesempatan kepada cowok sahabatnya untuk mendekatinya.
Gue semakin benci sama loe Valeria, batin Rian dengan perasaan benci.
3 jam berlalu akhirnya bel berbunyi tanda istirahat. Melihat guru sudah keluar Valeria buru-buru menuju pintu dan menutupnya.
"Loe apa-apaan Valeria" bentak Rian yang hendak keluar.
"Semuanya ngak boleh keluar karena gue tahu loe semua pasti udah tahu masalah tadi pagi" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Ya itu masalah loe napa sangkut paut sama kita" ucap Aldo.
"Gue mau klarifikasi semuanya dan loe semua di sini jadi saksi" ucap Valeria.
"Heh! Cewek sialan kalau loe emang salah ngaku aja kali ngak usah pakai drama segala" hardik Rian dengan sinis.
"Tutup mulut loe berengsek! Mending loe diam aja ngak usah banyak ngomong deh!" bentak Valeria dengan suara tinggi.
"Loe" hardik Rian yang hendak memukul Valeria tapi di tahan sama Aldo.
"Udah bro ngak usaha ladenin Valeria, loe kan tahu sifatnya gimana" ucap Aldo.
"Awas loe berengsek!" ucap Rian sambil menunjuk Valeria dengan emosi.
Valeria tersenyum mengejek melihat wajah emosi Rian, ia tidak perduli dengan Rian karena masalahnya di kedua sahabatnya. Semua teman sekelas Valeria bergidik ngeri melihat tatapan emosi dari Rian dan Valeria.
"Loe jelasin apa maksud foto itu" tunjuk Valeria ke Sari.
"Apa kurang jelas foto itu" ucap Sari dengan sinis.
"Jelas banget! Saking jelasnya gue ngak bisa nebak siapa cowok yang berdiri membelakangi gue" ucap Valeria dengan suara tegas.
Aura di dalam kelas seketika berubah menjadi mencekam. Semuanya diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Katanya loe ngak mau pacaran dulu, tapi kenapa cowok orang loe dekatin" ucap Sari sambil tersenyum mengejek.
"Cowok loe namanya siapa dan kenapa bisa loe sangkut paut sama gue" ucap Valeria menatap tajam Tika.
"Karena loe deketin cowok gue ampe dia ngak merespon gue lagi" bentak Tika dengan emosi.
Hahahahahaha............
Seketika tawa Valeria pecah mendengar ucapan Tika barusan. Tak lama ia mengambil foto lainnya yang menampilkan wajah cowok tersebut dengan jelas.
"Ini cowok loe" ucap Valeria sambil tersenyum mengejek.
"Iya ka Rendi Wijaya cowok gue dan loe sebagai orang ketiga dalam hubungan kita" bentak Tika.
"Well well........bukan cuman tukang nyuri tapi loe juga cewek yang suka nikung sahabatnya ya" cibir Rian dengan sinis.
Valeria tak mengindahkan ucapan mereka semua karena ia sibuk dengan hpnya. Semua teman sekelasnya menunggu apa yang ingin di lakukan oleh Valeria.
"Halo" ucap seseorang dari seberang.
^^^"Halo selamat pagi ka" ucap Valeria tak lupa membuat loudspeaker di panggilannya.^^^
"Pagi juga Val. Tumben loe nelpon gue jam segini Val? Ngak sekolah loe ya?"
^^^"Gue ganggu ngak ka"^^^
"Ngak kok lagian gue baru aja nyampe kampus"
^^^"Oh gitu ya"^^^
"Heemmm! Emang kenapa"
^^^"Bisa ngak ka Rendi beritahu pacar kakak buat ngak usah ganggu gue"^^^
"Hah pacar! Wah loe ada aja-aja Val gue jomblo ngini mana ada pacar" ucap Rendi dengan kaget.
^^^"Loh bukannya pacar ka Rendi itu namanya Tika Sutomo ya ka"^^^
"Ngaco loe Val! Gue ini masih jomblo belum ada pacar" tegas Rendi dari seberang.
^^^"Tapi kata teman gue ka Rendi itu pacarnya bahkan dia nuduh gue jadi orang ketiga dalam hubungan kakak sama dia" ucap Valeria sambil tersenyum sinis menatap Tika dan Sari.^^^
"Beritahu teman loe itu kalau hayu jangan ketinggian deh, asal ngomong aja bilang dia pacar gue" ucap Rendi dengan kesal.
^^^"Jadi ka Rendi masih jomblo ngak ada pacar"^^^
"Ya iyalah Val. Gue mana sempat buat nyari pacar sih orang gue sibuk terus di kampus, perguruan, sama bisnis gue"
^^^"Berarti teman gue bohongi gue dong ka"^^^
"Iya Val. Lagian itu cewek ada-ada aja deh ngaku-ngaku pacarnya Rendi Wijaya"
^^^"Mungkin dia udah cinta banget sama ka Rendi" ucap Valeria sambil terkekeh.^^^
"Ah makan thu cinta! Penasaran gue ama orangnya pengen gue hajar deh" dengus Rendi dengan kesal dari seberang.
^^^"Hehehehe......nanti aku kasi tahu siapa orangnya ka"^^^
"Heemm! Kalau gitu ampe jumpa di tempat biasa ya Val"
^^^"Iya ka bye"^^^
"Bye Val"
Valeria lalu mematikan panggilannya dan tersenyum mengejek melihat kedua sahabatnya. Semua teman sekelasnya seketika membicarakan Tika dan Sari yang sudah menuduh Valeria.
"Ternyata loe bohongin kita semua ya Tika" ucap Maya dengan kesal.
"Ngaku pacar orang padahal ngak, mana loe udah nuduh Valeria lagi" bentak Aldo.
"Jelaskan semuanya Tika, Sari!" tegas Valeria dengan tatapan tajam.
"Val gue ngak tahu kalau Tika udah bohong" ucap Sari dengan menyesal.
"Ckk! Gue ngak perduli. Seharusnya loe tahu siapa gue karena kita udah sahabatan dari SD bukan baru aja, tapi ini apa loe tega banget ya sama gue" ucap Valeria dengan tatapan kecewa.
"Val gue" ucap Sari yang langsung di potong Valeria.
"Mulai saat ini loe berdua bukan sahabat gue lagi. Terutama loe Tika gue kecewa banget sama loe" ucap Valeria dengan suara dingin.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria segera membuka pintu kelas dan berlalu keluar, Rian yang melihat hal tersebut mendadak tidak enak karena sudah menuduh Valeria.
Tika dan Sari yang masih berada di dalam kelas mendadak malu. Apa lagi Tika ia telah berbohong kepada semua teman sekelasnya hanya karena cemburu.
Valeria yang keluar memutuskan untuk pergi ke taman di belakang sekolah. Ia sangat sedih ternyata sahabat yang di pikirnya baik malah tega menuduhnya tanpa menanyakan terlebih dahulu.
Air mata Valeria jatuh tanpa ia duga, hatinya sakit harus kehilangan dua sahabatnya sekaligus. Tanpa Valeria sadari ternyata Rian mengikutinya dan melihat ia menangis.
"Pakai ini buat hapus air mata loe" ucap Rian sambil menyodorkan sapu tangan.
"Ngak usah, gue juga punya" ucap Valeria sambil menolak halus pemberian Rian.
Rian hanya diam tak mengatakan satu kata pun begitu juga dengan Valeria. Keheningan meliputi keduanya tanpa ada satu pun yang berniat berbicara lebih dulu.
"Sorry" ucap Rian dengan tulus.
"Buat apa"
"Udah nuduh loe tadi"
"Hehehehe........bukannya loe emang biasa suka nuduh gue ya" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Val gue minta maaf"
"Hemmm"
"Val" ucap Rian dengan perasaan bersalah.
"Jangan loe pikir gue udah lupain sama kejadian waktu kelas satu. Asal loe tahu gue orangnya pendendam loh" ucap Valeria sambil tersenyum sinis.
"Val gue minta maaf buat itu semua"
"Gue tahu kok bukan loe aja yang harus di salahkan dalam hal ini"
"Jadi loe" ucap Rian dengan kaget.
"Sesuai dugaan loe gue udah tahu semuanya" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Maaf Val" ucap Rian sambil menunduk.
Valeria tak mengatakan apa-apa langsung segera pergi dari sana. Melihat hal itu Rian menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Sial" ucap Rian dengan kesal.
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tak terasa sudah waktunya pulang. Valeria yang hari ini ada jadwal di tempat latihan taekwondo segera pergi ke sana di antar oleh pak Udin.
"Ca loe habis ini mau ke tempat les" ucap Valeria dalam mobil.
"Ngak Ca, gue langsung ke butik mau ketemu sama mbak Ana"
"Oh"
Setelah sampai di perguruan Raya Valeria segera masuk ke dalam. Pak Udin pun lalu mengantarkan Bianca ke butik milik Arinta.
Sampai di butik Bianca segera masuk ke dalam dan bergegas menuju lift. Belum juga sampai di lift tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya menabraknya hingga menjatuhkan hp miliknya.
Brugh.............
"Aduh sayang maaf ya tante ngak sengaja" ucap ibu paruh baya tersebut.
"Iya ngak apa-apa kok tante" ucap Bianca sambil mengambil hpnya yang sempat jatuh.
"Kamu ngak kenapa-napa kan nak"
"Iya tante aku ngak kenapa-napa" ucap Bianca sambil mengangkat kepalanya.
"Siska" pekik ibu paruh baya tersebut dengan kaget.
Bianca sendiri menatap tante di depannya dengan kening berkerut.
Kenapa ni tante sebut nama ibu ya, batin Bianca dengan penasaran.
βββββ
To be continue..........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€