
π»Kebaikan yang kamu tabur pada orang lain kelak akan kamu tuai dengan cara yang ajaibπ»
.
.
.
.
Valeria dan lainnya panik karena Bianca tiba-tiba menghilang. Valeria sudah sangat panik karena kehilangan Bianca apa lagi Valeria ingat jika ini pertama kali Bianca ke pasar malam.
"Ka Edo gimana dong?" tanya Valeria dengan khawatir.
"Kakak juga ngak tahu dek. Gue kira tadi Bianca di belakang kita" ucap Edo tak kalah panik.
Edo sangat panik karena ia yang paling besar di sini dan sudah menjadi tanggung jawabnya menjaga mereka semua. Di tengah kepanikan semuanya Sandra buru-buru mengambil hpnya untuk menghubungi Bianca.
"Kakak mau ngapain?" tanya Rafa membuyarkan semua pemikiran mereka dan melihat ke arah Sandra.
"Nelpon Biancalah" ucap Sandra.
"Kenapa gue ngak kepikiran ampe situ ya" ucap Edo dengan cepat.
"Kan otak kakak emang lemot" ucap Natan dengan santai.
"Dasar ni bocah bisanya ngejek gue aja" hardik Edo dengan kesal.
Natan hanya menatap sang kakak sambil terkekeh. Melihat kelakuan keduanya Valeria dan lainnya merasa terhibur dan sejenak melupakan kegundahan mereka tadi.
"Gimana Sandra?" tanya Valeria.
"Ngak di angkat" ucap Sandra.
"Coba lagi" ucap Edo.
Sandra kembali menghubungi Bianca tapi lagi-lagi panggilannya tidak di angkat. Sandra yang sedari tadi terus menelpon seketika menjadi kesal saat matanya menangkap sosok Bianca.
Tak membuang waktu Sandra segera menuju ke arah Bianca yang sedang berjalan bersama sahabatnya sambil tertawa. Melihat kepergian Sandra semuanya diam dan mengikuti Sandra saat melihat arah yang di tuju Sandra.
"Loe dari mana aja sih, buat kita semua panik" bentak Sandra dengan emosi.
Bianca yang sedang bercanda bersama Kelly, Riri, dan Andre seketika menghentikan tawanya dan melihat ke arah suara. Sandra menatap Bianca dengan tatapan tajam seakan ingin membunuhnya.
"Loe apa-apaan sih Sandra datang-datang langsung marah" bentak Riri tak terima.
"Gue ngak ada urusan sama loe jadi jangan ikut campur" ucap Sandra sambil menunjuk Riri.
"Loe emang cari gara-gara ya sama gue" ucap Riri dengan suara tinggi.
Baru saja Sandra ingin membalas ucapan Riri ia langsung di hentikan oleh Edo. Riri dan Kelly yang tak mengenal Edo menatapnya dengan tatapan memuja.
"Bianca loe seharusnya ngak hilang kayak gini, semuanya panik cariin loe" ucap Valaria dengan suara lembut.
Andre yang sedari tadi penasaran dengan Valeria terus menatap Valeria tanpa berkedip. Edo yang tahu arti tatapan Andre mengepal tangannya dan memeluk bahu Valeria dengan erat.
"Loe jalan sama Bianca tapi ngak perhatiin dia, untung dia ketemu sama kita di depan" ucap Riri dengan sinis.
"Sorry Val tadi gue masih benerin sepatu gue tapi saat selesai gue ngak lihat loe semua lagi, beruntung gue ketemu sama Riri dan Kelly" ucap Bianca.
"Heehh! Alasan aja loe" ucap Sandra sinis karena tahu Bianca berbohong.
Bianca menatap Sandra dengan mata berkaca-kaca. Melihat hal tersebut Valeria lalu menyuruh Sandra untuk tidak memarahi Bianca.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bianca tersenyum mengejek melihat Sandra yang di tegur oleh Valeria. Bahkan semuanya menyuruh Sandra untuk tidak marah-marah lagi.
Dasar ratu drama sialan, batin Sandra dengan sangat kesal.
"Lain kali itu ingat saudara loe Valeria" ucap Kelly dengan sinis.
"Hemmm" deham Valeria.
"Udah-udah yang penting sekarang Bianca udah ketemu jadi ngak usah marah-marah lagi" ucap Edo.
"Iya ka" ucap Valeria.
"Oh ka Edo kenalin ini sahabat aku sekalian teman sekelas aku dan Sandra" ucap Bianca menunjuk Riri dan Kelly.
"Hay gue kakak sepupu ketiga cewek ini dan kedua bocah ini adik gue dan Sandra" ucap Edo sambil menunjuk Rafa dan Natan.
"Hay ka salam kenal aku Riri" ucap Riri.
"Hay ka aku Kelly dan ini pacar aku Andre" ucap Kelly.
"Heemmm" deham Edo menatap Andre dengan tidak suka.
"Hay bro kayaknya kita seumuran" ucap Andre sambil mengulurkan tangannya.
"Mungkin" ucap Edo sambil menjabat uluran tangan Andre.
"Hay gue Andre" ucap Andre sambil mengulurkan tangan ke Valeria dan Sandra.
"Valeria" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Aku Sandra salam kenal ka" ucap Sandra.
Edo lalu mengajak Bianca dan sahabatnya untuk makan bersama. Suasana di meja makan menjadi hening karena tidak ada yang berbicara satu kata pun.
"Kayak kuburan ya sepi" ucap Natan.
Hahahahaha...............
Seketika tawa semuanya pecah mendengar ucapan Natan yang mengemaskan. Edo mencubit pipi adiknya dengan gemas mendengar ucapan Natan.
"Iihhh.........kakak sakit tahu" ucap Natan dengan kesal.
"Uluh-uluh adiknya kakak ngambek toh" ucap Edo menggoda Natan.
"Ka Valeria lihat thu ka Edo" adu Natan dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Edo udah deh jangan goda Natan terus" ucap Valeria menatap tajam Edo.
"Cih! Bisanya cuma ngadu aja" ucap Edo dengan kesal.
"Biarin! Wleekk" ucap Natan sambil menjulurkan lidahnya ke Edo.
Edo memilih diam tak membalas sang adik karena ia tak mau mendapat polotan tajam Valeria yang sangat mengerikan. Sedari dulu mereka semua paling takut tatapan tajam Valeria dan lebih mengerikan lagi tatapan Bagas yang seperti laser.
Tak lama para pelayan membawa pesanan mereka. Valeria sedari tadi tahu jika Andre pacarnya Kelly terus menatapnya dan membuatnya risih.
"Ngak usah di pedulikan tatapan setan itu dek" bisik Edo yang tahu Valeria sangat risih dari tadi.
"Hehehehe..........iya ka" bisik Valeria sambil terkekeh.
Mereka lalu menikmati semua jajanan yang sudah di pesan. Andre sendiri menikmati pesanannya sambil memikirkan cara untuk mendekati Valeria tanpa sepengetahuan pacarnya.
Selesai makan mereka lalu berkeliling sebentar sebelum pulang. Tepat pukul 21:00 mereka memutuskan untuk pulang, di parkiran Andre terus melihat ke arah Valeria.
Sial gimana caranya buat minta nomor Valeria ya, batin Andre dengan kesal.
Valeria dan sepupunya segera pergi meninggalkan Andre, Riri, dan Kelly. Melihat Valeria sudah pergi Andre segera mengantar Riri dan pacarnya pulang.
~ Mansion Kusumo ~
Mobil Edo tak lama memasuki halaman mansion Kusumo. Valeria dan Bianca segera turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah mengantar mereka.
Edo lalu melajukan mobilnya pergi dari mansion Kusumo. Setelah melihat mobil Edo tak kelihatan lagi keduanya lalu masuk ke dalam mansion.
"Kalian sudah pulang" ucap Arinta yang menunggu mereka di ruang keluarga.
"Sudah bu, tante" ucap keduanya dengan serentak.
"Apa Edo dan lainnya langsung pulang?" tanya Arinta.
"Iya bu" ucap Valeria.
"Ya sudah kalian berdua masuk ke dalam dan segera tidur" ucap Arinta.
"Iya bu, tante" ucap keduanya dengan serentak.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bianca segera masuk ke kamarnya sedangkan Valeria bergegas menuju ke dapur. Sampai di dapur ternyata ia bertemu dengan bi Susi yang akan mematikan lampu dapur.
"Iya bi" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
"Non mau makan atau apa?" tanya bi Susi.
"Ngak bi aku mau bikin teh hijau bi"
"Ya udah bibi bikinin ya non"
"Biar Valeria aja. Bibi udah sana tidur aja pasti capek seharian"
"Tapi non" ucap bi Susi yang di potong Valeria.
"Biar Valeria aja yang buat bi"
"Baiklah non, bibi tidur dulu ya non"
"Iya bi, selamat malam ya bi"
"Selamat malam juga ya non"
"Iya bi"
Bi Susi segera keluar menuju paviliun belakang. Setelah membuat teh hijau Valeria segera naik ke lantai dua, sampai di kamar ia segera membersihkan diri dan memakai baju tidur.
"Gue kangen sama kangmas" ucap Valeria sambil menatap belakang mansion dari balkon.
Valeria segera mengambil hpnya dan menghubungi Bagas. Pada dering pertama Bagas tidak menjawab hingga dering ke 5 juga Bagas tidak menjawab panggilan Valeria.
"Mungkin kangmas lagi sibuk jadi ngak angkat" ucap Valeria.
Valeria lalu mengambil laptopnya saat mengingat buku yang tadi di bacanya. Ia mulai mengerakkan jari tangannya dengan cepat di atas keyboard.
Valeria lalu masuk ke dunia cyber dengan akun Unknown name yang disembunyikan. Ia mulai bertanding dengan hacker-hacker di belahan dunia membuat program penghancur dan keamanan.
"Well sepertinya malam ini bakal seru" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.
Valeria terus memberikan serangan virus buatannya kepada lawannya. Hingga 20 menit berlalu Valeria tersenyum melihat saingannya yang kalah karena tak mampu menjaga datanya.
"Banyak juga taruhan malam ini" ucap Valeria melihat nominal uang yang di dapatnya.
Valeria segera mengambil uang yang di menangkannya dengan akun yang di sembunyikan. Ia lalu menukar uangnya dan memasukan ke rekening pribadinya yang ia buat tanpa sepengetahuan keluarganya.
Tak lupa Valeria menghapus semua jejaknya di dunia maya, karena ia tak ingin ada yang tahu identitasnya. Meski begitu Valeria sudah merancang program keamanan untuk menyembunyikan data pribadinya.
Jika ada yang mencari data pribadinya maka hpnya akan berbunyi sebagai peringatan. Selesai dengan kegiatannya Valeria segera tidur karena besok ia akan ke sekolah.
6 Bulan kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan seminggu yang lalu Valeria dan Bianca sudah menyelesaikan ujian tengah semester. Mereka saat ini sedang dalam masa liburan.
"Valeria kita ke mall yuk" ajak Bianca.
"Ah! Malas gue Ca" ucap Valeria.
"Ayolah Val gue bosan banget liburan ngak ngapa-ngapain" bujuk Bianca.
Melihat wajah saudaranya yang sedih Valeria lalu mengangguk kepala tanda iya. Keduanya lalu bersiap-siap berangkat menuju ke mall.
~ RH Mall ~
Valeria dan Bianca saat ini sudah berada di RH mall, salah satu mall termahal dan termewah di kota Solo. Keduanya lalu segera masuk ke dalam mall.
"Val kita ke sana yuk" tunjuk Bianca ke salah satu toko baju ternama"
"Hemmmm"
Keduanya lalu masuk dan melihat-lihat pakaian di dalam sana. Saat melihat baju di sana Bianca dikagetkan dengan kehadiran tante Sisil.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Tante Sisil" ucap Bianca dengan senang.
"Bianca kamu disini juga ya nak" ucap tante Sisil.
"Iya tante aku disini sama Valeria" ucap Bianca sambil menunjuk Valeria.
"Itu anak ayah kamu yang pernah kamu ceritain"
"Iya tante"
"Gimana kalau kita jebak dia" ucap tante Sisil tersenyum penuh arti.
"Maksud tante?" tanya Bianca dengan bingung.
Tante Sisil lalu membisikkan rencananya kepada Bianca. Bibir Bianca lalu tersenyum penuh arti mendengar rencana tante Sisil.
"Aku setuju dengan ide tante" ucap Bianca dengan antusias.
"Kalau gitu ayok kita mulai rencananya sayang"
"Oke tante"
Bianca lalu berjalan menghampiri Valeria sambil membawa beberapa pasang baju. Ia menyuruh Valeria untuk mencoba baju-baju itu di kamar ganti.
Tanpa Valeria sadari ternyata Bianca memasukkan dompet keluaran terbaru di tas Valeria saat mereka memasuki ruang ganti. Bianca tersenyum puas melihat Valeria yang tak menyadari aksi yang dia lakukan.
"Gimana Val bagus ngak bajunya" ucap Bianca.
"Bagus tapi aku kurang suka" ucap Valeria melihat penampilannya di kaca.
"Ya sudah kamu cari aja yang kamu mau" ucap Bianca.
"Oke"
Valeria lalu mencari baju yang disukainya tapi semuanya tidak ada yang cocok. Bianca sendiri mengambil 2 potong baju blouse lalu di bawa ke kasir dan membayarnya.
Setelah membayar keduanya lalu segera pergi dari sana. Pada saat keluar tiba-tiba alarm anti maling berbunyi saat Valeria dan Bianca akan keluar dari toko baju tersebut.
"Maaf nona tapi kalian berdua tidak bisa keluar" ucap petugas keamanan.
"Memangnya kenapa pak?" tanya Valeria dengan bingung.
"Alarm kami berbunyi tanda ada barang yang nona berdua ambil tapi belum di bayar"
"Ngak mungkin pak, kami tadi udah bayar kok belanjaan kami" ucap Bianca sambil menunjukkan bukti pembayarannya.
"Maaf nona tapi kami akan memeriksa belanjaan nona dan barang bawaan nona sekalian"
"Baiklah pak" ucap Valeria.
Petugas keamanan lalu di bantu salah satu petugas butik memeriksa Valeria dan Bianca. Setelah memeriksa belanjaan dan tas mereka tiba-tiba petugas butik lalu menunjukkan dompet yang di ambil dari dalam tas Valeria.
"Nona bisa jelaskan ini apa?" tanya petugas butik tersebut.
"Saya ngak tahu kenapa dompet itu bisa ada di dalam tas saya" ucap Valeria.
"Kami mohon nona ikut kami ke ruang keamanan" ucap petugas keamanan.
"Ngak bisa dong pak! Saya kan ngak mencuri buat apa saya di bawa ke ruang keamanan" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Val loe kok nyuri dompet itu sih" ucap Bianca sengaja terkejut.
"Ca loe kan tahu gue mana ada pegang dompet itu" ucap Valeria membela diri.
"Cantik-cantik tapi ternyata seorang pencuri ya" ucap tante Sisil dengan suara tinggi.
Semua pengunjung butik dan mall yang mendengar keributan langsung melihat ke arah Valeria. Semuanya berbisik-bisik menuduh Valeria yang kedapatan mencuri dompet.
"Val gue ngak nyangka loe bisa buat kayak gini.......hiks hiks hiks" ucap Bianca sambil menangis.
"Ca loe percaya kan sama gue, mana mungkin gue nyuri dompet itu" ucap Valeria dengan bingung.
"Mana ada maling mau ngaku" hardik tante Sisil.
"Udah bawa aja ke kantor polisi pak" ucap pengunjung mall yang lain.
Semua orang pada menunjuk-nunjuk Valeria dan mencaci makinya. Valeria sendiri berdiri dengan diam tak mengeluarkan satu kata pun karena menurutnya percuma.
βββββ
To be continue...........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€