
π»Terkadang kita memilih berbohong demi kebaikan tanpa kita ketahui yang namanya berbohong tetaplah berbohong karena tidak ada yang namanya berbohong adalah kejujuranπ»
.
.
.
.
"Jadi dimana posisi adik aku sebenarnya om?" tanya Bagas dengan tatapan tajam.
"Maaf tuan muda tapi sampai detik ini saya tidak tahu dimana keberadaan nona muda" ucap Dion dengan sedih.
Hiks.....hiks......hiks......hiks.........
Bagas kembali menangis mendengar ucapan om Dion, pikirannya tak tenang dan hatinya tak karuan memikirkan keberadaan sang adik. Ana yang melihat Bagas dan Dion bersedih ikut menangis juga.
Ting........tong.........ting......tong........
Ketiganya seketika saling melihat saat mendengar bunyi bel. Dion yang penasaran siapa yang bertamu malam-malam segera beranjak untuk membuka pintu.
"Selamat malam om Dion" sapa Rendi sambil tersenyum memamerkan giginya.
"Tuan muda Rendi" ucap Dion yang kaget melihat Rendi berdiri di depan pintu apartemennya.
"Om tuan muda sialan itu ada ngak?" tanya Rendi dengan kesal.
"Gue dengar an***g" ucap Bagas dengan suara dingin dari dalam.
Rendi melenggang masuk ke dalam apartemen Dion sebelum Dion menyuruhnya masuk.
Dion hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar melihat sahabat tuan mudanya yang tak sopan bertamu ke kediamannya.
"Tuan muda Rendi" ucap Ana yang kaget melihat kedatangan Rendi di apartemen mereka.
"Malam tante Ana sorry udah ganggu malam-malam" ucap Rendi sambil cengesan.
"Oh ngak apa-apa tuan muda Rendi" ucap Ana.
"Panggil Rendi aja tante ngak usah pakai tuan muda segala"
"Baiklah Rendi"
"Pencitraan banget loe" ucap Bagas dengan sinis.
"Sirik bilang bos" ucap Rendi dengan ketus.
Bagas tahu sahabatnya sedang kesal dengannya tapi ia tak memperdulikannya sama sekali. Tak lama Ana datang membawa minum untuk Rendi yang di sambut bahagia oleh Rendi.
"Silahkan diminum Rendi" ucap Ana.
"Tahu aja tante kalau aku lagi haus" ucap Rendi sambil meminum minumannya.
Bagas yang melihat kelakuan sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rendi adalah pribadi yang tak punya urat malu tapi memiliki sifat dingin yang sama dengannya.
Satu lagi sifat Rendi yang bikin Bagas pusing adalah playboy. Rendi memang terkesan dingin dan jutek tapi ia selalu welcome jika ada gadis cantik yang berkenalan dengannya atau sekedar mencari kepuasaan.
"Apa om sudah mengecek bukti-bukti tentang Valeria?" tanya Bagas dengan penasaran.
"Setelah sehari nona muda di usir saya kembali mengecek semua bukti tentang nona muda dan semuanya benar tuan muda tapi.." ucap Dion.
"Adik aku bukan perempuan ja***g om" bentak Bagas dengan emosi.
"Bro tenangkan diri loe jangan pakai emosi" ucap Rendi menenangkan Bagas yang tersulut emosi.
"Mohon dengar penjelasan suami saya sampai habis tuan muda" ucap Ana yang tak suka suaminya di bentak oleh Bagas.
"Heemmmm" deham Bagas sambil menetralkan amarahnya.
"Malam itu nona muda benar berada di hotel Rain semalaman tuan muda karena saat saya mengecek cctv nona muda terlihat keluar dari lobby hotel di pagi hari" ucap Dion.
"Benar apa kata om Dion soalnya aku ketemu Valeria pagi itu dekat hotel Rain" ucap Rendi.
"Apa maksud loe?" tanya Bagas dengan tatapan membunuh.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Rendi menelan salivanya dengan susah melihat tatapan Bagas yang seakan ingin membunuhnya. Dion dan Ana yang merasakan aura membunuh dari Bagas duduk dengan tubuh gemetaran.
Sial tatapannya kayak mau bunuh gue aja, batin Rendi dengan gugup.
"Jangan menatap gue kayak gitu bro. Merinding gue" ucap Rendi dengan gugup.
"To the point aja Rendi jangan buat gue hajar loe disini" ancam Bagas dengan suara dingin.
"Oke oke. Jadi gini waktu itu pas gue mau ke kampus gue ngak sengaja ketemu sama Valeria yang lagi nyari taksi. Ya gue langsung aja antar Valeria dan beritahu dia tentang gosip yang malam itu beredar di forum sekolah"
"Apa yang Valeria katakan?" tanya Bagas.
"Dia bilang kalau itu bukan dia dan ampe kapanpun dia ngak akan ngelakuin hal kotor itu"
"Saya rasa nona muda di jebak" ucap Dion.
"Maksud abang?" tanya Ana mewakili Bagas dan Rendi.
"Orang yang berada dengan nona muda di foto itu entah kenapa hilang bagai di telan bumi bahkan cctv di area basement dan lorong kamar tidak ada. Seakan orang itu memilih hotel Rain karena tahu kita ngak akan bisa mendapat bukti dari sana" ucap Dion panjang lebar.
"Aku setuju sama om Dion lagian aku juga udah cek cctv di club dan hasilnya sama saja. Valeria tidak kelihatan keluar lagi dari club setelah masuk" ucap Rendi.
"Tapi siapa yang udah tega berbuat semua ini kepada nona muda dan apa alasannya" ucap Ana dengan penasaran.
"Bianca" ucap Bagas dengan suara dingin.
Ketiganya kaget mendengar ucapan Bagas barusan mereka masih bingung dengan ucapan Bagas yang seakan tahu kalau Bianca itu adalah orang di balik ini semua.
"Jangan bercanda bro! Gue emang tahu loe benci banget sama thu anak tapi dia itu masih terlalu kecil untuk ngelakuin ini semua" ucap Rendi.
"Betul yang di katakan tuan muda Rendi karena saya yakin ini bukan masalah sepele apa lagi anak di bawah umur tidak bisa masuk ke dalam club" ucap Dion.
"Dia ngak sendiri tapi ada seseorang yang membantunya" ucap Bagas.
"Jangan ambil kesimpulan sepihak bro. Lagian kita ngak ada bukti juga" ucap Rendi.
"Di surat Valeria dia nulis kalau gue harus hati-hati sama Bianca karena dia ngak sebaik yang kita pikirkan bahkan Valeria juga ngelarang gue buat keluar dari mansion apapun yang terjadi" ucap Bagas.
"Apa tuan muda yakin?" tanya Dion.
"Feeling adik aku ngak mungkin pernah salah dan ada satu rekaman cctv di mansion tentang Valeria dan Bianca yang sedang berdebat tentang satu hal" ucap Bagas.
"Jangan bilang ada sesuatu tentang saudara tiri loe itu yang hanya diketahui Valeria" ucap Rendi.
"Heemmm" deham Bagas sambil mengangguk kepalanya.
Keempatnya diam dengan pemikiran masing-masing tentang kejadian ini. Mereka lalu membuat strategi untuk menyelidiki masalah ini tanpa di ketahui oleh Budi dan Arinta.
Bahkan Bagas juga menyuruh om Dion untuk selalu memantau semua pergerakan Bianca mulai saat ini.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ SMA Negeri 50 Jakarta Barat ~
Suasana pagi di sekolah Valeria mendadak riuh saat kedatangan Valeria dan Bryan. Semua para siswi di sana berteriak histeris melihat ketampanan Bryan yang sangat memukau untuk dilihat.
Sumpah baru kali ini gue lihat ada cowok ganteng banget
Pangeran dari mana nih cowok
Oh my God ganteng banget bikin gue meleleh
Bang bagi nomornya dong
Tampan main sama gue entar ya
Ya ampun dewa kayangan kah ini?
Bryan yang mendengar ucapan-ucapan para siswa menjadi sangat risih.
Raut wajahnya datar dan menampilkan ekspresi tak suka tapi hal itulah yang membuat para siswi di sana berteriak histeris karena menurut mereka ketampanan Bryan semakin bertambah.
"Ckk! Menyebalkan" gumam Bryan dengan sinis.
"Sangat"
"Gue bisa bantu loe biar semua siswi ngak ngelihatin loe kayak gitu lagi"
"Yang benar loe?" tanya Bryan dengan wajah berbinar-binar.
"Hemmmm"
"Kalau gitu beritahu gue apa yang musti gue lakuin" ucap Bryan dengan tak sabar.
"Gue bisa ku***i wajah loe dan gue yakin loe ngak bakalan dengar teriakan histeris mereka lagi" ucap Valeria sambil tersenyum smirk.
Langkah Bryan seketika terhenti mendengar ucapan Valeria barusan.
Tubuhnya menegang tak bisa berkata-kata mendengar usulan Valeria yang sangat santai diucapkannya tapi terasa sangat menakutkan buat orang yang dengar.
"Gimana deal?" tanya Valeria sambil berbalik ke belakang melihat Bryan.
"Tidak terima kasih! Gue masih bisa mengatasi ini semua kok" tolak Bryan dengan cepat.
Valeria hanya tersenyum sinis dan kembali berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Bryan dan Valeria sudah duduk di ruangan kepala sekolah entah kenapa Bryan melihat kepala sekolah mereka seakan takut dengan kehadiran Valeria dan hanya menunduk sedari tadi.
Perasaan gue aja apa emang nih kepsek takut sama Valeria, batin Bryan penasaran.
"Biasanya orang yang banyak ingin tahu umurnya pendek loh" bisik Valeria seakan tahu isi pikiran Bryan.
Mata Bryan melotot kaget mendengar bisikan Valeria yang seakan tahu isi kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya tak mau berpikir lagi karena masih sayang dengan nyawanya.
"Jadi apa kakakku bisa bersekolah di sini pak Ahmad" ucap Valeria dengan suara dingin.
"B....i...sa nak Valeria" ucap pak Ahmad dengan gugup.
"Aku mau dia satu kelas denganku"
"Baik itu bisa saya atur"
Valeria dan Bryan lalu berjalan keluar dari ruangan pak Ahmad. Melihat Valeria sudah pergi pak Ahmad menghembuskan napasnya dengan kasar karena aura Valeria yang sangat mengintimidasi membuatnya sering gugup jika berhadapan dengan Valeria.
"Anak itu sangat menakutkan" gumam pak Ahmad.
Valeria dan Bryan yang sudah sampai di kelas X IPA 1 segera masuk ke dalam meski sudah ada guru yang berdiri di depannya. Semua mata seketika tertuju kepada keduanya apa lagi para siswi mulai berbisik melihat kehadiran Bryan.
"Valeria kamu telat 5 menit" bentak ibu Ningsih guru matematika.
"Saya nemenin kakak saya ke ruang kepsek bu" ucap Valeria dengan santai jangan lupa wajah datarnya.
"Kali ini kamu ibu maafkan cepat ke tempat kamu"
"Heeemmm"
"Kamu perkenalkan nama kamu" ucap bu Ningsih kepada Bryan.
"Nama gue Bryan dan gue kakak Valeria" ucap Bryan dengan singkat.
"Kalian berdua kok ngak mirip masa kakak adik sih?" tanya Tiara dengan centil ingin menarik perhatian Bryan.
"Bukan urusan loe" ucap Bryan dengan sinis.
Huuuuuuuuu.................
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Seketika semua murid tertawa mendengar Bryan yang tak menggubris ucapan Tiara. Wajah Tiara merah padam menahan emosi karena Bryan sudah mempermalukannya di depan anak-anak sekelas.
"Anak-anak diam dan kamu Bryan silahkan duduk di kursi samping Valeria!!" ucap bi Susi dengan suara tegas.
Kelas seketika hening setelah mendengar suara tegas bi Susi yang tak segan-segan menghukum siswa yang masih tertawa. Pelajaran kembali di lanjutkan kembali hingga bel istirahat berbunyi.
"Hay" ucap Siska mendekati Bryan.
"Hemmm"
"Kenalin nama gue Siska" ucap Siska sambil menyodorkan tangannya.
"Hemmmm"
Siska mendadak malu melihat Bryan yang tak merespon ucapannya bahkan menjabat tangannya. Karena malu ia segera pergi dari sana tak mau teman sekelasnya melihat hal barusan.
"Ckk! Sombong banget jadi cowok" ucap Tiara dengan kesal.
"Hay bro kenalin nama gue Riki" ucap Riki yang duduk di depan Bryan.
"Bryan" ucap Bryan dengan singkat.
"Loe berdua emang saudara ya"
"Seperti itu"
"Tapi kok wajah kalian beda ya. Valeria lebih terlihat Indo tapi wajah loe blasteran banget" ucap Riki dengan bingung.
"Dia saudara angkat gue"
"Oh pantesan"
"Loe ngak ke kantin?" tanya Riki.
Bukannya menjawab Bryan malah melihat ke arah samping di mana Valeria sedang menaruh kepalanya di atas meja sambil menutup mata. Riki yang tahu kebiasaan Valeria tak pernah ke kantin segera memberitahu Bryan.
"Saudara loe itu ngak pernah ke kantin selama ini" ucap Riki.
"Kenapa?" tanya Bryan dengan kaget.
"Ngak tahu gue. Tanya aja sama Valeria"
"Val" ucap Bryan dengan suara lembut.
Riki yang mendengar Bryan berbicara dengan suara lembut melotot kaget karena tak percaya orang sedingin dan jutek kayak Bryan bisa lembut juga kalau bicara.
"Gue ngak lapar. Loe ke kantin aja sama dia" ucap Valeria seakan tahu maksud Bryan.
"Tapi Val masa loe ngak makan" ucap Bryan dengan khawatir.
"Pergi sebelum gue robek mulut loe" ucap Valeria dengan suara dingin.
Bryan yang tahu Valeria tak suka di paksa segera berdiri dan pergi bersama Riki ke kantin. Sampainya di kantin semua mata tertuju melihat Bryan yang sudah menjadi berita gosip sedari pagi.
"Loe mau pesan apa?" tanya Riki.
"Gue bakso sama air mineral"
"Oke tunggu gue pesanin"
Bryan lalu mengedarkan pandangannya mencari tempat kosong buat mereka. Setelah mendapat tempat kosong di paling pojok ia segera pergi ke sana tak lama Riki datang sambil membawa pesanan mereka.
"Siapa thu cowok" ucap Justin Malik.
"Anak baru di kelas X IPA 1" ucap Rio sahabat dekatnya.
"Heeemmm! Sepertinya cocok buat masuk geng kita" ucap Justin tersenyum penuh arti.
"Katanya dia kakak si cewek beasiswa sialan itu" ucap Martin.
"Cewek datar itu?" tanya Justin dengan nada tak suka.
"Hemmmm"
"Ckk! Gue ngak suka sama cewek belagu dan sombong kayak dia padahal dia hanya gadis kampungan dan miskin" ucap Justin ketus karena tak menyukai Valeria.
Semua teman-temannya hanya diam saja karena tahu bos mereka itu memang sangat tak menyukai Valeria setelah kejadian Justin di permalukan.
βββββ
To be continue.............
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat like, vote, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€