Love Struggle

Love Struggle
Chapter 141



🌻Jika kita tidak bisa menjadi jalan raya maka jadilah jalan setapak. Sepahit dan sesusah apapun masalahmu jangan pernah menyerah hanya kerena keadaan🌻


.


.


.


.


Sebelum tiba di perusahaan Valeria sudah memberi aba-aba kepada anggota Black Shadow yang sudah sampai di lokasi untuk bersiap di posisi mereka masing-masing.


"Ares kunci semua pintu keluar" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Baik nyonya"


"Matikan semua cctv dari radius 5 km dan suruh tim beta bersiap untuk menyerang"


"Baik nyonya. Semua sudah di posisi tinggal menunggu perintah nyonya"


"Heemmm"


Cekiit................


Bunyi decitan ban mobil Valeria terdengar di depan lobby. Sebelum turun ia melihat cctv mencari tahu dimana keberadaan musuhnya dan ada berapa banyak.


"50 orang" sinis Valeria sambil tersenyum menyeringai.


Saat keluar Valeria langsung di sambut oleh kepala tim inti di perusahaan bersama pasukan delta yang sudah bersiap di posisi mereka masing-masing.


"Pr......esdir" ucap penjaga keamanan.


"Dimana teman kamu yang lain?" tanya Valeria dengan suara dingin.


"Mereka tertangkap presdir pada saat berpatroli"


Dor............


Tak bertanya lagi peluru Valeria langsung bersarang di kepala tim keamanan itu. Ia tahu jika orang di depannya ini bersekongkol dengan musuhnya yang berada di dalam sana.


"Singkirkan pengkhianat itu dari hadapan gue" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.


"Baik master"


Beruntung kepala tim intinya berasal dari Indonesia jadi ia mengerti apa yang di ucapkan oleh Valeria karena kebanyakan anggota Black Shadow berasal dari Indonesia.


"Buka" aura Valeria seketika menyeruak membuat suasana terasa sangat mencekam.


Perlahan-lahan pintu otomatis di depan pintu masuk ke Galaxy Company terbuka. Saat berjalan masuk tatapan Valeria terlihat datar melihat lobby perusahaannya sudah hancur berantakan.


"Semua karyawan di sandra di aula nyonya" ucap Ares setelah memindai seluruh bangunan.


"Kita ke sana" ajak Valeria sambil tersenyum menyeringai.


Dor.........dor.........dor........dor.........


Anggota Black Shadow langsung menembak musuh mereka saat melihat ada beberapa musuh yang berkeliaran di lobby.


Brak...............


Pintu aula yang sangat mewah dan berat hancur dengan sekali tendangan dari Ares mengagetkan para penjahat yang berada menyandera karyawan Galaxy Company di dalam aula.


"Siapa kamu!" bentak salah satu pria bertopeng yang ia yakini itu adalah ketua mereka.


"Pr......es......dir" ucap Tom Abra sesegukan melihat kehadiran Valeria.


"Wah wah wah ada yang ingin bermain di perusahaan aku ternyata" ejek Valeria sambil tersenyum smirk.


"Jadi kamu orangnya. Hey nona jika ingin nyawamu selamat mending kamu turuti semua perintahku" ucap pria tadi sambil tersenyum penuh arti.


"Kamu harus berusaha keras jika ingin nyawaku" sombong Valeria menatap musuhnya dengan angkuh.


"Ternyata kamu sombong sekali nona. Aku semakin berhasrat ingin membunuhmu" sentak pria tadi.


"Hehehehehe! Kalau begitu silahkan saja" sinis Valeria sambil terkekeh.


"Aku suka keberanianmu nona. Bagaimana jika kamu jadi wanitaku dan aku akan mengampuni nyawamu" tawar pria itu dengan tatapan napsu melihat Valeria.


Mata Valeria berkilat menatap orang didepannya dengan datar dan dingin meneliti muka pria itu seperti apa karena mereka semua memakai penutup wajah.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Kill them all tapi ingat dia milikku" (bunuh mereka semua) tunjuk Valeria ke pria tadi dengan suara lantang.


"Jangan main-main dengan kami nona" ejek orang tadi yang mencibir melihat Valeria hanya bersama dengan Ares ingin membunuh mereka semua.


Dor.......dor..........dor.........dor.........dro.......dor....


Aarrghhhh........arrghh.........arrgghh........


Bunyi tembakan bersahutan dengan jeritan kesakitan orang bertopeng menggema di dalam aura perusahaan. Tanpa musuhnya tahu sedari tadi anak buah Valeria sudah menyelinap masuk ke dalam aula saat Ares menendang pintu.


"Kamu" tunjuk orang tadi dengan mata melotot kaget.


Bagaimana tidak dalam sekejap mata semua anak buahnya berhasil di lumpuhkan meninggalkan dia sendiri.


"Tom suruh semuanya keluar" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Baik presdir" ucap Tom Abra memberi perintah kepada seluruh karyawan untuk bergegas keluar dari aula.


Setelah semua karyawan sudah keluar kini tinggallah Valeria dan anak buahnya bersama ketua pria bertopeng tadi yang sudah diringkus Ares dan membuka topeng wajahnya.


"Aku mohon ampuni aku" pinta orang di depan Valeria dengan memohon.


"Siapa yang mengirim kamu?" tanya Valeria dengan suara dingin.


"Aku tidak tahu dia siapa. Saat bertemu dia hanya memberikan uang dan kertas berisi perintah agar kami menghancurkan perusahan ini"


Valeria meneliti orang didepannya dan membaca pikirannya dan orang itu tidak berbohong.


"Dia seorang perempuan?" tanya Valeria.


"Benar"


"Ares" lirik Valeria memberi isyarat lewat matanya.


Crash..............Aarrgghhhh.........


Teriakan kesakitan pria itu bergema sebelum mati saat lehernya di sayat oleh Ares dengan santai. Valeria melihat itu semua dan tersenyum bahagia mendengar jeritan kesakitan musuhnya.


"Tidak ada ampunan bagi orang yang mengusikku" aura kekuasan dan membunuh terasa di dalam aula membuat semua anggota Black Shadow bergidik ngeri.


Meski kelihatan hanya seorang perempuan tapi jangan pernah meremehkan kekuatan master mereka karena dia itu jelmaan monster kejam berdarah dingin.


"Bereskan semuanya" perintah Valeria berlalu keluar bersama Ares.


"Panggil Tom ke ruanganku"


"Baik nyonya"


Ares segera mengambil hpnya dan menghubungi Tom Abra direktur Galaxy Company sebelum masuk ke dalam ruangan Valeria.


"Ada berapa korban?" tanya Valeria menatap Tom Abra yang sudah berada di depannya.


"Tidak ada korban jiwa presdir hanya beberapa karyawan yang luka ringan saja presdir"


"Bawa mereka ke rumah sakit"


"Sudah presdir"


"Liburkan karyawan selama 2 hari dan gunakan waktu itu untuk renovasi semuanya"


"Baik presdir"


"Ares" ucap Valeria memberi isyarat kepada Ares untuk berbicara menggantikannya.


"Beritahu semua karyawan jika kita akan menganti kartu akses masuk jadi sebelum masuk lobby nanti mereka akan di pindai untuk pembuatan kartu akses yang baru" papar Ares menjelaskan.


"Baik tuan akan saya sampaikan ke seluruh karyawan"


Valeria lalu memberi isyarat kepada Tom Abra untuk segera pergi. Setelah kepergiannya Valeria segera berkutat dengan laptop di depannya mencari tahu siapa yang berani mengganggunya kali ini.


"Ternyata kamu b***h" ucap Valeria sambil tersenyum menyeringai melihat foto di depannya.


Ia tak menyangka kalau Felicia akan mengirim pembunuh bayaran untuk menghancurkan perusahaannya dan terlebih lagi ia mengetahui perusahaannya dari Kevin.


"Beri pelajaran dan peringatan kepada dokter Kevin"


"Baik nyonya"


Ares segera pergi menjalankan perintah Valeria barusan. Mereka tak perduli jika Kevin adalah saudara Thomas karena sudah berani memberikan informasi pribadinya kepada musuhnya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


~ Wesly Group ~


Saat ini Thomas sedang meeting mendadak bersama Xavier, Albert, dan Kevin di ruangan Xavier. Mereka membahas pembuatan sistem keamanan yang baru untuk perusahaan utama dan cabang perusahaan Wesly Group.


Bukan tanpa alasan mereka harus menggantinya karena kemarin malam tim IT mereka mengetahui jika ada yang ingin mencoba masuk ke sistem kantor pusat.


"Aku akan meminta bantuan istriku untuk membantu bos" ucap Thomas.


"Baiklah"


"Bagaimana bulan madu kalian?" tanya Albert.


"Berjalan dengan lancar"


"Dude apa kamu butuh mansion untuk tinggal?" tanya Kevin.


Thomas tak bisa menjawab pertanyaan Kevin karena memang ia dan istrinya belum membicarakan hal itu.


"Valeria akan pulang ke Dubai?" tanya Xavier seolah mengerti apa yang Thomas pikirkan.


"Aku tidak tahu bos" jujur Thomas.


"Jadi sekarang kalian tinggal dimana dong?" tanya Kevin yang sedari tadi penasaran.


"Di apartemenku"


"Aku pikir kalian akan tinggal di penthouse Valeria" timpal Kevin.


"No kami memutuskan tinggal di apartemenku dan hanya sesekali menginap di penthouse istriku"


Tok..........tok...........tok...........


Keempatnya tiba-tiba di interupsi oleh suara ketukan dari luar. Xavier melihat ke arah cctv dan mengerutkan kening melihat Ares yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya di temani sekretarisnya.


Ceklek...........


Pintu ruangan Xavier terbuka saat ia menekan tombol pintu di bawah meja. Thomas menatap Ares dengan kening berkerut bertanya untuk apa dia ke sini.


"Ares apa yang kamu lakukan disini dan dimana istriku?" tanya Thomas.


"Saya sendiri tuan" ucap Ares dengan suara dingin.


Xavier dan Albert menatap Ares dengan tatapan dingin dan tak kalah dingin dibalas oleh Ares bahkan mata merahnya membuat mereka semua bergidik ngeri.


"Lalu untuk apa kamu kesini?" tanya Thomas lagi.


Tak berkata apa-apa Ares lalu menatap Kevin dengan wajah datar dan dingin membuat Kevin menelan salivanya dengan susah.


Bugh.........bugh..........bugh........bugh.........


"Apa yang kamu lakukan berengsek. Hentikan Ares!!" bentak Thomas menggelegar.


Aarghhhh..........


Teriak Kevin saat kakinya di injak oleh Ares dengan kuat bahkan sekujur tubuh Kevin sangat sakit karena di pukul Ares dengan brutal.


"Ares hentikan sialan" hardik Thomas menendang Ares tapi ia berhasil mengelak.


"Apa yang anda lakukan kepada saudaraku!" bentak Albert dengan suara tinggi.


"Ini peringatan buat anda tuan Walts dari nyonya" ucap Ares dengan santai.


"Apa maksudnya bajingan?" tanya Thomas dengan suara tinggi.


"Perusahaan nyonya barusan di serang karena mulut dokter sialan itu" tunjuk Ares ke arah Kevin.


"Apa" ucap Thomas dan Albert dengan kaget.


Ares tak mengatakan apa-apa lagi dan segera beranjak pergi dari sana membuat ketiganya menatapnya dengan heran.


"Jelaskan Kevin" hardik Thomas dengan tatapan tajam.


"Aku tidak tahu apa maksud asisten istrimu itu dude" ucap Kevin sambil meringis sakit.


Ting..........


Thomas mengambil hpnya saat mendengar bunyi pesan. Keningnya berkerut melihat pesan video dari istrinya.


Matanya terbelak setelah melihat video tersebut dan seketika Thomas kembali menerjang Kevin dan memberinya bogem mentah tak perduli dengan teriakan kesakitan Kevin.


❄❄❄❄❄


To be continue...........