
π»Jangan menghakimi diri sendiri sebagai sosok yang tidak mampuπ»
.
.
.
.
Kedatangan Kaili dan Frans membuat semua anak buah mereka di markas utama seketika ketakutan. Mereka sangat tahu bagaimana kekejaman Kaili dan Frans jika mereka berbuat kesalahan.
Wajah Kaili merah padam saat masuk ke dalam markas dan langsung di sambut pemandangan yang membuat emosinya memuncak.
"Berlutut" hardik Frans menggelegar.
Brugh..............
Semua anak buah Zombie di dalam markas dan di luar seketika berlutut mendengar perintah Frans. Wajah mereka semakin pucat menerka apa yang akan terjadi kepada mereka.
"Beraninya kalian mengotori markasku" teriak Kaili dengan emosi.
"Maafkan kami Lord" serentak semua anak buah Kaili meminta maaf.
"Siapa yang memulainya!" bentak Kaili dengan emosi.
Satu-persatu saling melirik karena memang tadi tak tahu bagaimana awal mereka berkelahi karena semuanya termakan hasutan.
"Frans bawa pembuat onar ke hadapanku" hardik Kaili dengan suara tinggi.
"Baik Lord"
Frans melihat anak buahnya dan memberi isyarat untuk membawa pembuat onar yang sudah memulai kerusuhan tadi.
Brugh...........brugh.........brugh..............
Suara benturan di lantai menggema saat anak buah Frans mendorong 10 orang yang memulai kerusuhan tadi.
"Jadi kalian biang onarnya di markasku!" bentak Kaili dengan suara tinggi.
"Maa.....fkan ka......mi Lord" ucap 10 orang tadi serentak dengan gugup.
"Manusia rendahan seperti kalian beraninya mengotori markasku! Apa kalian tahu darah kotor kalian sudah membuat dewa Ra marah!" hardik Kaili.
"Maafkan kami Lord! Kami bersalah ini semua karena anak kecil itu Lord" ucap salah satu dari mereka.
"Anak kecil?" tanya Kaili dengan kening berkerut.
"Iya Lord. Dua anak kecil yang berada di ruang tahanan memprovokasi kami Lord" adu mereka.
"Jelaskan" titah Kaili dengan suara tegas.
"Anak kecil yang bermata biru mengatakan jika Lord itu bukan Lord yang diutus dewa dan hanya manusia hina yang tak pantas di sembah" papar salah satu dari 10 orang yang berlutut di kaki Kaili.
"Dia juga berkata kalau Lord adalah seorang penipu" tambah yang satu di sebelah orang tadi.
"Dan Lord kata anak itu siapa saja bisa jadi Lord karena Lord itu bukan orang pilihan dewa dan semua yang Lord katakan adalah kebohongan" papar orang yang pertama.
"Apa" teriak Kaili dengan rahang mengeras.
"Beraninya kalian meragukan Lord manusia hina" maki Frans.
"Cambuk mereka 100 kali!" bentak Kaili dengan wajah merah padam.
"Baik Lord" ucap anak buah Frans.
"Lord ampun! Maafkan kami karena sudah terkena hasutan anak itu Lord"
"Iya Lord kami minta ampun. Jangan hukum kami Lord" pinta mereka dengan memohon.
Kaili menatap mereka dengan tatapan emosi tak berkedip sama sekali. Matanya mengelap menatap mereka seakan ingin menerkam mereka saat ini juga.
"Lakukan perintah Lord" teriak Frans menggelegar untuk memulai hukuman cambuk.
Crash...........crash..........crash.........crash........
Arrrghhh..........aarrgggh............
Suara teriakan bercampur suara cambuk bergema didalam sana membuat semua anak buah Kaili bergetar ketakutan melihat teman mereka di hukum cambuk.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Bawa kedua bocah itu kesini" titah Kaili dengan suara dingin.
"Baik Lord" ucap Frans dengan sopan.
Frans pergi bersama 3 orang anak buahnya menuju ke penjara bawah tanah. Ia tidak ingin kedua bocah itu kembali memprovokasi anak buahnya lagi.
Xander dan David duduk dengan wajah datar dan dingin di dalam sel tidak takut sama sekali. Apa lagi cahayanya yang minim dan bau anyir yang sangat kuat menyeruak di dalam sana.
Tak..........tak........tak.........tak...........
"Bos" panggil David.
"I know. Ingat semua ucapanku jangan pernah mengeluh atau apapun" papar Xander dengan suara dingin tahu maksud David.
"Baik bos" ucap David dengan singkat.
Tak lama bunyi langkah kaki terdengar dengan jelas mendekat ke arah keduanya. Mereka lalu menatap orang yang sudah berhenti di depan sel melihat sosok tersebut yang terlihat di bawah cahaya obor.
"Jadi ini bocah pembuat masalah itu" ucap Frans sambil terkekeh.
Xander dan David diam saja tak menanggapi ucapan Frans. Melihat hal tersebut emosi Frans semakin menjadi karena kedua bocah di depannya tidak merasa takut dengannya.
"Seret dua bocah sialan itu ke hadapan Lord" hardik Frans.
"Baik tuan" ucap ketiga anak buahnya dengan serentak.
Mereka lalu menarik David dan Xander dengan paksa keluar dari sel. Ingin melawan keduanya tapi tenaga mereka tak sebanding dengan mereka.
****! Pulang nanti aku harus belajar bela diri dengan sungguh-sungguh agar aku tidak lemah, batin Xander dengan penuh tekad.
Sepanjang jalan Xander melirik sekelilingnya mengamati dimana mereka berada untuk mencari cela agar bisa kabur dari sana.
"Lord ini mereka" lapor Frans sambil mendorong Xander dan David menuju ke depan.
Kaili menatap keduanya bergantian dan rahangnya mengeras melihat Xander mengingat ucapan anak buahnya tadi.
Mata biru seperti biru lautan jantungnya pasti lezat, batin Kaili sambil tersenyum menyeringai.
"Jadi kamu yang memprovokasi anak buahku"
"Anak buahmu yang terlalu bodoh untuk percaya manusia menjijikan sepertimu" ketus Xander dengan sinis.
"Beraninya kamu menghina Lord bocah sialan!" bentak Frans.
"Kenapa? Bukannya kamu juga tidak mempercayainya? Dia itu seorang pembohong yang menjadikan kalian sebagai bonekanya!" ucap Xander dengan suara lantang.
Apa benar yang dibilang bocah itu
Benar juga. Bukannya kita selalu di perintah terus tanpa kenal lelah
Iya aku setuju dengan ucapan anak itu
Kaili menatap Xander dengan tatapan membunuh karena sudah memprovokasi anak buahnya untuk menyerangnya kembali.
"DIAM" teriak Kaili dengan suara lantang.
Seketika semuanya hening tak ada yang berbicara, melihat hal itu Xander tersenyum smirk merasa mereka semua sangat bodoh karena mempercayai Kaili.
"Apa kalian lupa dengan dewa penolong kalian selama ini!" bentak Kaili dengan suara menggelegar.
"Besok kita merayakan kelahiran dewa pangeran Ra penguasa semesta ini. Dan dia yang akan membawa kita ke surga Ra"
"Kemenangan bagi dewa Ra penolong kami" seru semua anak buah Zombie mengelukan nama dewa mereka.
"Untuk menyempurnakan ritualnya kita membutuhkan darah dan jantung bocah bermata biru"
"Persembahkan bocah itu" teriak mereka serentak.
David menatap Xander dengan cemas tak ingin hal itu dilakukan. Sedangkan Kaili tersenyum menyeringai melihat anak buahnya yang mudah dibohongi.
"Ikat mereka berdua di altar persembahan" titah Kaili.
"Baik Lord"
Frans menarik Xander dan David menuju altar persembahan di aula utama. Keduanya lalu di ikat di tiang yang ada disana agar mudah untuk disembelih.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Wuuuu................
Bunyi alarm peringatan berbunyi dengan kencang membuat semuanya menatap ke asal bunyi.
"LORD ADA YANG MENYERANG KITA DAN MEREKA SUDAH MEMASUKI PERBATASAN" teriak salah satu anak buah Zombie menggema.
"BERENGSEK! SIAPKAN PASUKAN KITA" teriak Kaili dengan emosi.
Frans lalu menyuruh semua anggota Zombie untuk mengambil senjata mereka untuk bersiap menyerang musuh.
Xander tersenyum menyeringai mengetahui siapa yang menyerang mereka saat ini.
"Daddy" lirih Xander dengan suara dingin.
Ares berdiri di belakang Thomas menjaga keselamatan Thomas seperti pesan Valeria yang ia kirim lewat Res sebelum mereka tiba di perbatasan.
"Kenapa kamu selalu mengikuti aku Ares?" tanya Thomas dengan kening berkerut.
"Nyonya menyuruh saya menjaga tuan dan tidak boleh terluka"
Deg............
Jantung Thomas berdebar mendengar ucapan Ares barusan. Ia tak menyangka istrinya tetap mengingatnya meski ia tak tahu dimana keberadaannya.
"Honey" gumam Thomas sambil tersenyum bahagia.
"Kalau begitu lindungi aku Ares" tegas Thomas.
"Baik tuan"
Duar..........duar...........duar............
Dor........dor........dor..........dor.......dor..........
Bunyi ledakan bersahutan bersama bunyi tembakan dari pihak Devil Dragon dan Zombie. Xavier dan lainnya memakai topeng dan jubah mereka membuat pihak musuh semakin ketakutan melihat musuh mereka.
"Beritahu Lord kalau yang menyerang kita adalah Devil Dragon" teriak anak buah Kaili.
"Baik bos" ucap anak buahnya bergegas mengirim pesan ke Frans.
Dor............dor..........dor.............dor...........
Thomas, Xavier, dan Albert menembak musuh mereka terus menerus tak memberikan mereka kesempatan untuk menyerang balik.
"HABISI MEREKA SEMUA" teriak Xavier dengan suara lantang.
"BAIK BOS" teriak anak buah Xavier serentak.
Siang itu suara ledakan dan tembakan menggelegar di seluruh penjuru markas utama Zombie. Thomas menatap musuh mereka yang terus berdatangan seperti tak ada habis.
"Fu*k! Kenapa mereka tidak ada habisnya sih" maki Thomas dengan kesal.
"Aku tidak berpikir jika ternyata ada banyak anggota Zombie di markas utama" ucap Albert sambil menembak musuh yang terus berdatangan.
"Mana kita belum sampai di markas utama lagi" kesal Thomas.
Xavier memindai seluruh area dan mencari tempat sembunyi musuh mereka yang entah dari datang mana.
"Ledakan terowongan di bagian timur" teriak Xavier saat melihat terowongan tersembunyi disana.
"Baik bos" ucap Ken.
Duar.........duar........duar...........duar..........
Ken membom beberapa terowongan bawah tanah di sekitar sana sehingga menutup akses pihak musuh.
"Apa masih jauh markas mereka?" tanya Albert.
"1 KM lagi" jawab Thomas.
Xander dan pasukannya berlari maju menuju ke markas utama Zombie. Sepanjang jalan mereka terus menembak musuh yang masih hidup di sekitar sana.
Duar..................duar............
Thomas, Xavier, dan Albert kaget tiba-tiba bunyi ledakan di gerbang depan markas Zombie hingga hancur. Bunyi helikopter bergema di atas langit membuat Xavier dan lainnya kaget melihat tamu tak diundang.
"Siapa mereka?" tanya Thomas.
"Apa mereka ada di pihak kita atau musuh?" tanya Albert.
Ares menatap ke langit dan memindai helikopter yang paling besar dari helikopter lainnya dan mendapati sosok yang sangat dikenalinya.
"Black Shadow" ucap Xavier saat melihat bendera malaikat pencabut nyawa berkibar di atas helikopter.
"Apa" teriak Thomas dan Albert dengan kaget.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bryan, Wono, Rehan, dan Agung berjalan paling depan memakai baju kebesaran mereka tak lupa topeng mereka.
"BUNUH MEREKA SEMUA" teriak Bryan bergema dengan suara lantang.
"DIBUNUH ATAU MEMBUNUH" teriak semua anggota Black Shadow bergema.
Siung............siung........siung............siung........
Duar.............duar...............duar...........
Suara anak panah dan bunyi ledekan bergema disana. Bryan dan lainnya berjalan dengan santai sambil menembak anggota Zombie yang berdatangan dari dalam markas.
"Apa kalian hanya diam saja dan menonton" hardik Bryan saat melewati Thomas dan lainnya.
"Serang mereka" ucap Xavier dengan suara lantang.
"Bodoh" ejek Bryan di samping Thomas.
Thomas melotot kesal mendengar ucapan Bryan barusan apa lagi ia sangat mengenali suara itu.
Bryan, batin Thomas menebak.
Dor...........dor.........dor........dor..........dor...........
Bunyi tembakan bergema di dalam markas Zombie saat tiba-tiba pasukan Zombie berhamburan keluar dari semua arah.
"Berapa banyak sih mereka?" tanya Albert.
"****! Kenapa mereka sangat banyak" maki Bryan.
"Dude gue rasa jumlah mereka lebih banyak dari kita" ucap Rehan lewat earpiece.
"Pertahankan formasi dan tim sniper bergerak sekarang" titah Bryan.
"Baik bos" ucap tim sniper serentak.
Dor..........dor.........dor.......dor.........dor..........
Kaili dan Frans melihat pertarungan di luar sana dari ruangannya di lantai paling atas. Rahangnya mengeras melihat satu persatu anak buahnya berjatuhan.
"Lord apa kita panggil anak buah kita di markas cadangan?" tanya Frans.
"Panggil mereka semua kesini sekarang" ucap Kaili dengan suara dingin.
"Baik Lord"
Frans lalu menghubungi semua anak buahnya di markas cadangan. Tak berapa lama matanya melotot mendengar berita dari seberang sana.
"Lor.....d" ucap Frans dengan terbata-bata.
"Katakan"
"Markas cadangan dan gudang kita barusan meledak hingga rata dengan tanah" ucap Frans dengan gugup.
"Apa" teriak Kaili dengan suara melengking.
Prang..........prang..........prang.............
Kaili menendang meja dan lemari hingga hancur berantakan. Rahangnya mengeras mendengar gudang dan markas cadangannya yang sudah rata dengan tanah.
"Siapa? Siapa yang menghancurkan gudang dan markasku?" tanya Kaili dengan suara tinggi.
"Black Shadow Lord"
"BANGSAT" maki Kaili dengan emosi.
Duar...........duar..........duar.........daur........
Bunyi ledekan bergema di luar sana membuat markas Zombie bergetar karena getaran ledakan barusan. Tatapan mata Kaili berkilat sambil mengepal kedua tangannya dengan kuat.
"Panggil semua pasukan gelapku di kastil"
"Baik Lord"
Frans segera mengirim pesan kepada pasukan gelap Kaili di kastilnya. Setelah mendapat balasan mereka segera berangkat ia lalu memberitahu Kaili.
"Jangan pernah menganggap remeh seorang Kaili" ucap Kaili dengan sombong.
~ Kastil Zombie ~
Suasana di depan kastil Kaili sangat ramai karena banyaknya pasukan gelap milik Kaili yang sedang bersiap untuk berangkat ke markas utama.
Mereka tak tahu jika sedari tadi mereka sedang di intai oleh Valeria dan pasukan elite miliknya yang berjumlah 1000 orang.
"Hancurkan mereka semua" ucap Valeria setelah membaca pesan Juan dan Bryan yang sudah bergerak.
Semua pasukan elite Valeria mengangguk kepala menjawab perintah Valeria. Dengan pelan-pelan mereka berjalan mengelilingi kastil dan mengepungnya.
Duar.........duar........duar.........duar........
Aaarrgghhh.............
βββββ
To be continue................