
π»Ketika kamu memiliki kesempatan maka pergunakanlah kesempatan itu untuk menabur kebaikan dalam setiap langkahmuπ»
.
.
.
.
...Untuk kangmasku tersayang...
Kangmas.........
Hiks hiks Valeria sayang banget sama kangmas......
Saat kangmas baca surat ini artinya Valeria sudah pergi jauh kangmas. Valeria ngak kuat hadapi semua ini sendiri kangmas, aku ngak kuat seperti yang orang lain pikirkan kangmas...
Valeria pergi bukan karena keinginan Valeria tapi saat ini aku udah ngak punya keluarga lagi kangmas. Apa kangmas akan menganggap Valeria perempuan ja***g seperti ayah dan ibu.
Mereka ngak percaya Valeria kangmas, hati aku sakit saat ibu dan ayah mengucapkan kata-kata itu kangmas. Apa Valeria ngak berhak bahagia kangmas? Kenapa mereka ngak percaya sama Valeria kangmas? kenapa???
Aku ngak pernah lakuin hal itu kangmas Valeria bukan perempuan j****g kangmas.
Kangmas seandainya kangmas sudah pulang apa Valeria masih tetap jadi adik kangmas meski bukan bagian dari keluarga Kusumo lagi kangmas???
"Hiks hiks.......sampai kapanpun loe itu adik kangmas satu-satunya dan tetap bagian keluarga Kusumo dek.......hiks hiks hiks" ucap Bagas sambil berderai air mata.
Kangmas aku minta satu hal sama kangmas, tolong jaga ayah dan ibu dan jangan benci mereka kangmas. Biar bagaimana pun mereka masih ayah dan ibu kandung kangmas.
Valeria berharap kangmas jangan pernah pergi dari mansion tetap di sana apapun yang terjadi. Valeria tahu kangmas bakal ngamuk saat mengetahui putri kedua Kusumo hehehehe.
Satu permintaan Valeria tolong kangmas awasi Bianca. Valeria ngerasa dia ada di balik permasalahan keluarga kita kangmas, tolong jaga keluarga kita jangan sampai terpecah belah meski aku bukan lagi bagian keluarga Kusumo kangmas.
Oh satu lagi tolong sampaikan ke eyang Putri kalau Valeria baik-baik saja kangmas. Hanya eyang putri, bi Susi, om Dion, dan mbak Ana yang percaya kalau Valeria ngak ngelakuin semua itu kangams.
Jaga kesehatan kangmas jangan sampai lupa makan, dan jangan pernah cari Valeria lagi karena Valeria udah pergi jauh dari kota ini kangmas.
Valeria sayang banget sama kangmas, selamat tinggal kangmasku tersayang.
"Ngak.......hiks hiks hiks........ngak dek jangan tinggalin kangmas dek.......hiks hiks" teriak Bagas sambil menangis pilu.
Hatinya hancur berkeping-keping membaca surat dari Valeria. Bagas tak pernah tahu jika selama ini adiknya sudah terlalu menderita karena keluarganya sendiri bahkan ia tidak tahu dimana adiknya sekarang.
"Kenapa kamu ngak beritahu kangmas dek? kenapa??" teriak Bagas dengan frustasi.
Bagas lalu berpikir untuk menanyakan apa yang terjadi setelah Valeria pergi dari mansion. Ia tahu pasti om Dion yang membantu Valeria setelah di usir.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Bi Susi" teriak Bagas dari lantai dua.
Bi Susi yang baru saja keluar dari kamar Arinta mengantar minum untuk sang nyonya kaget mendengar teriakan Bagas yang menggema.
Bahkan saking kuatnya teriakan Bagas, Budi yang baru saja keluar dari ruang kerjanya sampai tersentak kaget
Budi menghampiri Bagas untuk bertanya apa yang terjadi tapi saat melihat wajah sang anak yang merah padam karena emosi ia mengurungkan niatnya itu.
Lebih baik ia tidak menganggu Bagas karena tahu saat ini apa saja yang diucapkan tidak akan di dengar oleh Bagas.
"Tuan muda ada apa?" ucap bi Susi dengan panik.
"Dimana om Dion?" tanya Bagas dengan tatapan tajam.
"Tuan Dion sudah pulang dari tadi tuan muda"
Mendengar ucapan bi Susi, Bagas langsung masuk kembali ke kamarnya mencari kunci mobil yang tadi sempat ia buang. Tak lupa ia juga membawa surat dari Valeria.
"Kamu mau kemana son?" tanya Budi saat Bagas sudah keluar dari kamar.
"Bukan urusan ayah aku mau kemana" ucap Bagas dengan sinis.
"Bagas Panji Kusumo" bentak Budi yang sudah habis kesabaran dengan putranya.
"Ckk!!"
Bagas segera pergi tak menghiraukan tatapan tajam sang ayah yang seakan ingin membunuhnya.
Bi Susi yang melihat ketegangan keduanya hanya diam dengan tubuh gemetaran, bi Susi menelan salivanya dengan susah merasakan aura mencekam di sekitar sana.
"Jika kamu keluar dari mansion ini kamu tentu tahu akibatnya Bagas" ucap Budi dengan suara tinggi dari lantai dua.
Bagas menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan sang ayah dari lantai dua. Ia lalu berbalik melihat sang ayah dengan tatapan membunuh tak ada lagi respek untuk menghormati orang di depannya itu.
"Tenang saja ayah aku ngak bakal pergi dari mansion ini karena aku akan melakukan sesuatu yang bagus untuk keluarga kita" ucap Bagas sambil tersenyum smirk.
Budi kaget mendengar ucapan sang anak karena sedari tadi Bagas kekuh untuk keluar dari mansion tapi apa ini ia tidak ingin keluar dari mansion.
Sepertinya ada sesuatu yang di rencanakan Bagas, batin Budi.
Bagas segera berlalu pergi tak menunggu respon Budi akan ucapannya barusan. Saat ini pikirannya hanya ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan sang adik dari om Dion.
Di dalam mobil Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan malam kota Solo.
Ia tidak perduli dengan suara pengemudi lain yang memakinya karena membawa mobil dengan ugal-ugalan.
"Halo" ucap Rendi saat Bagas menelponnya.
^^^"Loe ke apartemen om Dion sekarang"^^^
"Ngapain bro gue lagi mau ngapel cewek di club ni" ucap Rendi dengan kesal.
^^^"Gue ngak mau tahu 10 menit lagi loe harus udah nyampe di apartemen om Dion" ucap Bagas dengan ketus.^^^
Ia lalu mematikan panggilannya sepihak tak mendengar umpatan kesal Rendi dari seberang. Pikirannya kacau memikirkan keluarganya dan adiknya yang tak tahu dimana keberadaannya saat ini.
"Kamu dimana sih dek?" ucap Bagas dengan wajah khawatir.
~ Jakarta, Indonesia ~
Saat ini Valeria sedang melihat suasana malam kota Jakarta dari apartemennya yaitu Puri orchid apartment. Valeria tinggal di Puri orchid apartment salah satu apartemen mewah di Jakarta karena biaya per unit apartemen disini sangat mahal.
Kamar apartemen Valeria berada di lantai 49 dimana di lantai itu hanya ada 4 kamar apartemen saja. Sedangkan di lantai 50 itu adalah kamar milik pemilik apartemen ini yang hanya ada 1 kamar saja.
"Val makanannya udah siap" ucap Bryan.
"Hemmmm"
Selama seminggu ini Bryan sudah tinggal bersama dengan Valeria. Keduanya segera menyantap makanan yang dibuatkan oleh Bryan.
Bryan meminta agar ia yang mengurus makanan dan kebersihan apartemen Valeria sebagai ungkapan terima kasih.
Selesai makan keduanya lalu berjalan ke ruang tv karena ada sesuatu yang akan di bahas oleh Valeria. Semua ini menyangkut dengan markas yang baru saja Valeria bangun di pinggiran kota dan sudah memiliki 20 anak buah.
"Apa loe mau lanjutin sekolah loe?" tanya Valeria.
"Sebenarnya gue pengen banget tapi gue ngak punya duit"
"Umur loe 1 tahun di atas gue"
"Iya"
"Sejak kelas berapa loe putus dekolah"
"Hemmm"
"Apa loe percaya dengan preman-preman itu?" tanya Bryan dengan penasaran.
"Ngak"
"Hahh! Tapi bukannya loe angkat mereka jadi anak buah loe" ucap Bryan dengan bingung.
"Jangan pernah percaya kepada orang lain karena kita tidak tahu isi hati mereka"
"Apa itu berlaku juga untuk gue"
"Loe udah tahu jawabannya" ucap Valeria dengan tatapan datar.
Ada rasa kecewa dan sedih di hati Bryan saat mendengar ucapan Valeria tentangnya.
Tapi ia berpikir kalau apa yang dikatakan oleh Valeria benar karena kita tidak boleh terlalu percaya dengan orang yang baru saja kita kenal.
"Jika ingin dapat kepercayaan gue prove your self kalau loe itu memang pantas buat di percayai" (buktikan diri kamu) ucap Valeria seakan tahu isi kepala Bryan.
Bryan tersenyum mendengar ucapan Valeria karena dengan begitu ia bisa membuktikan kalau dirinya memang layak di percayai oleh Valeria. Meski Bryan sudah bertekad untuk menyerahkan hidupnya kepada Valeria.
"Mulai besok loe sekolah di sekolah yang sama dengan gue"
"Hah! Apa maksud loe?" tanya Bryan dengan kaget.
"Loe dengar jelas apa yang gue bilang"
"Tapi bagaimana dengan berkas-berkas pribadi gue? Karena gue ngak punya identitas di negara ini" ucap Bryan dengan sedih.
Valeria tak mengatakan apa-apa dan melemparkan map coklat ke Bryan. Bryan yang sedang menunduk melihat map di depannya dengan tatapan berkerut tidak mengerti apa maksud Valeria.
"Apa ini?" tanya Bryan.
"Buka"
Bryan lalu membuka map tersebut dan kaget bukan main melihat isi map tersebut. Air matanya mengalir dengan deras tak tahu harus berkata apa dengan apa yang sudah di lakukan oleh Valeria untuknya.
"Hiks hiks........ Valeria ini........hiks hiks"
"Seperti yang loe baca disitu"
"Hiks hiks........ terima kasih Valeria........hiks hiks.........terima kasih" ucap Bryan sambil tersenyum hangat meski sedang menangis.
"Hemmmm"
Bryan merasa sangat senang sekaligus terharu karena ternyata namanya terdaftar di kartu keluarga Valeria sebagai kakaknya. Dan mulai detik ini juga keduanya adalah kakak-adik meski berbeda marga.
"Loe bakal ngulang dari awal masuk sekolah" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Gue ngak masalah asalkan gue bisa bersekolah" ucap Bryan dengan suara tegas.
"Gimana sama latihan loe"
"Gue masih seperti awal meski gue tahu dasarnya tapi gue harus berlatih lebih giat lagi"
"Mulai besok gue yang bakal latih loe"
"Apa" ucap Bryan dengan kaget.
"Persiapkan diri loe sebaik mungkin" ucap Valeria sambil tersenyum smirk.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria segera berlalu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Bryan yang duduk dengan tubuh menegang.
Ia yakin besok Valeria akan memberi latihan yang tidak akan pernah ia rasakan sebelumnya.
"Semoga ini hanya pemikiran gue aja" gumam Bryan penuh harap.
Bryan lalu masuk ke kamar di samping ruang tv yang sekarang sudah menjadi kamarnya. Saat masuk ia tersenyum dengan hangat melihat pakaian seragam dan peralatan sekolah untuknya yang tersimpan di atas meja.
"Terima kasih Val udah ngangkat gue jadi kakak loe" ucap Bryan dengan tulus.
~ Grill Apartment ~
Suasana di ruang tamu Dion terasa sangat mencekam karena sedari tadi hanya ada keheningan saja. Bagas yang sedari tadi tiba disana hanya diam menatap ke depan dengan pikiran kosong.
"Tuan muda" ucap Dion membuka suara.
"Apa yang terjadi dengan Valeria setelah di usir om Dion?" tanya Bagas dengan tatapan sedih.
Ana yang melihat tatapan sedih Bagas seakan ia tidak sanggup hidup meneteskan air matanya karena ikutan sedih. Dion yang tahu sang istri menangis mengusap punggungnya agar lebih tenang.
"Setelah nona muda di usir saya bawa kesini karena nona muda pingsan. Awalnya saya akan bawa nona muda ke rumah sakit tapi saya tahu persis bagaimana sifat tuan besar jika namanya buruk di publik" ucap Dion.
"Apa Valeria luka parah saat itu?" tanya Bagas.
Dion menatap Bagas dengan tatapan sedih sambil mengangguk kepalanya. Ia tak sanggup harus mengatakan luka apa saja yang ada di tubuh Valeria waktu itu.
Hiks......hiks......hiks..... ..hiks.........
Bagas menangis tersedu-sedu mendapat jawaban Dion bisa ia pastikan saat itu keadaan tubuh Valeria tidak baik-baik saja.
Dan pastinya tubuhnya penuh dengan luka karena pukulan dan tendangan dari sang ayah berulang kali.
"Lalu apa yang terjadi dengan Valeria setelah ia siuman" ucap Bagas.
"Nona muda mengalami trauma dan berteriak histeris saat terbangun karena hal itu nona muda kami beri obat penenang agar tidak berteriak histeris" ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
"Perubahan nona muda setelah hari itu berubah drastis. Selama seminggu nona muda tidak berbicara satu kata pun dan saat pertama kali berbicara adalah saat nona muda berkata kalau lusa ia akan pergi dari sini" ucap Dion.
Deg...........
Jantung Bagas serasa di pukul dengan kuat mendengar ucapan om Dion. Belum satu trauma Valeria sembuh sudah datang trauma lainnya lagi.
"Saat Kanjeng Ayu datang mencari nona muda, nona muda mengurung diri di dalam kamar tidak ingin bertemu siapa pun bahkan nona muda meminta kami untuk berjanji tidak memberitahu dimana ia berada saat itu" ucap Dion.
"Kenapa om Dion ngak tahan Valeria untuk tidak pergi dari sini" bentak Bagas dengan suara tinggi.
"Nona muda bersih keras tidak mau tinggal di sini karena di sini hanya ada luka dan kenangan pahit untuknya" ucap Dion.
"Om Dion ngak biarin Valeria pergi begitu aja kan?" tanya Bagas dengan cepat.
"Saya sudah menyuruh anak buah saya untuk melacak nona muda setelah ia pergi tapi hasilnya nihil semua jejak nona muda hilang begitu saja setelah keluar dari sini. Bahkan saya lebih bingung lagi setelah melacak keberadaan nona muda lewat jalur penerbangan dan air dan hanya ada tiket pesawat atas nama Valeria Anastasia yang menuju ke Singapura"
"Jadi Valeria berada di Singapura"
"Tidak tuan muda"
"Apa maksudnya?"
"Nama Valeria Anastasia memang memesan tiket ke Singapura tapi orangnya beda. Dan nama Valeria Anastasia bukan hanya ada di Singapura tapi di seluruh Asia tuan muda"
Bagas dan Ana kaget mendengar ucapan Dion barusan tentang keberadaan Valeria. Mereka berpikir jika ini bukan persoalan gampang mencari 1 nama di antara beribu nama di seluruh Asia.
βββββ
To be continue.............
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€