
π»Kesabaran bukan hanya kemampuan untuk kita menunggu melainkan bagaimana kita bersikap saat kita menungguπ»
.
.
.
.
"Hentikan Thomas!" bentak Albert menahan tubuh Thomas yang akan menendang Kevin.
"Lepas berengsek! Biar aku beri pelajaran kepada bodoh itu" hardik Thomas dengan emosi.
"Remember he is us brother as****e!" (ingat dia itu saudara kita bangsat) bentak Albert dengan suara tinggi.
Arrrgghhhh...........
Teriak Thomas menggelegar meluapkan emosinya yang ingin sekali menghajar Kevin hingga dia puas. Xavier hanya melihat ketiganya tidak berniat untuk melerai atau apapun.
"Jika ingin berkelahi kalian bisa ke markas" ucap Xavier dengan suara dingin setelah beberapa saat mereka semua terdiam.
"Maafkan aku bos" ucap Thomas masih terlihat kesal.
"Bawa Kevin ke rumah sakit" perintah Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" jawab Albert segera menyuruh Sam masuk dan membawa Kevin ke rumah sakit.
Thomas membuang mukanya ke samping tak ingin melihat Kevin saat di bawa Sam dan anak buahnya ke rumah sakit takut emosinya kembali naik saat melihat Kevin.
"Katakan" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Felicia wanita yang jadi pasangan Kevin di acara Bryan. Dia memberitahu tentang perusahaan Valeria ke ja***g itu bos" papar Thomas menjelaskan.
"Kamu mengenal wanita itu?" tanya Xavier.
"Dia pernah naik ke ranjangku bos" jujur Thomas.
"Apa Valeria tahu dia siapa?" tanya Albert dengan cepat.
"She's know" (dia tahu)
"Jadi dia menyewa pembunuh bayaran untuk menghancurkan perusahaan istrimu" tebak Albert.
"Yes dan hal itulah Ares datang memberi peringatan dan sedikit pelajaran kepada Kevin"
"Dimana pembunuh bayaran itu?" tanya Xavier.
"Dia baru saja mati di perusahaan istriku bos"
Albert kaget mendengar hal itu tapi tidak dengan Xavier. Entah kenapa ia merasa Valeria adalah sosok yang tidak biasa dan bukan lawan yang mudah apa lagi dia adalah presdir sekaligus pemilik VA Corp perusahaan nomor dua di dunia.
"Kamu pulang saja urusan Kevin biar aku yang hendel dude" ucap Albert.
"Baiklah dude" ucap Thomas segera pamit kepada keduanya.
~ Mansion Kusumo ~
Saat ini Bagas sedang makan malam bersama kedua orang tuanya dengan hening. Setelah kejadian waktu itu ia memutuskan untuk kembali ke mansion karena ingin menjaga kedua orang tuanya.
Biar ia sangat membenci keduanya tapi tetap mereka adalah orang tuanya dan ia sebagai anak pertama akan menjaga keduanya sampai kapan pun.
"Ibu sudah selesai" ucap Arinta dengan suara lemah.
Bagas dan Budi hanya melihat Arinta tak berkata apa-apa saat ia meninggalkan meja makan. Sesaat keduanya saling melirik dan langsung membuang muka.
"Temui ayah di ruang kerja" ucap Budi dengan suara tegas.
"Heemmm" deham Bagas sebagai jawaban.
Kini keduanya sudah berada di ruang kerja Budi sudah 10 menit mereka berada di dalam sana tapi tak ada satu pun yang berbicara.
"Maafkan ayah" lirih Budi dengan tulus sambil menunduk.
Deg...........
Jantung Bagas berdetak dengan cepat mendengar ucapan sang ayah barusan. Baru kali ini ia melihat sosok sang ayah yang tegas berubah menjadi lemah di hadapannya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Kenapa?" tanya Bagas dengan suara dingin.
"Maafkan ayah! Ayah tahu perbuatan ayah sangat fatal dan hanya ini yang bisa ayah lakukan" ucap Budi menahan air matanya yang akan jatuh.
"Anda tahu sebagian hati aku hancur saat mengetahui adik aku sendiri diusir oleh orang yang selama ini aku hormati dan banggakan" Bagas mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam.
Hiks.........hiks...........hiks.........hiks........
Air mata Budi jatuh tak bisa ditahan lagi mendengar pengakuan sang anak tubuhnya bergetar tapi tak ada suara isak.
"Keluarga kita sudah hancur.......hiks hiks hiks.......sebagian hati aku hancur.....hiks hiks hiks" teriak Bagas meraung sambil menangis histeris.
Brugh..............
Seorang Budi Kusumo yang terkenal dengan sifat sombong dan angkuh hari ini menunjukkan sisi yang belum pernah anaknya lihat.
Bagas tak menyangka jika ayahnya akan berlutut di depannya saat ini sambil menangis. Meski ia sangat membenci ayahnya tapi hati kecilnya tak bisa berbohong kalau masih ada rasa sayang di hatinya.
"A.....yah........hiks hiks hiks hiks" lirih Bagas untuk pertama kali memanggil Budi ayah setelah beberapa tahun tak memanggilnya ayah lagi.
"Hiks hiks hiks hiks.........maafkan ayah.......hiks hiks hiks" tangis Budi semakin pecah mendengar panggilan sang anak.
Grep..............
Bagas memeluk tubuh ayahnya dengan erat sambil menangis histeris di lantai. Hari itu keduanya menangis mengeluarkan apa yang selama ini mereka rasakan dalam hati mereka.
"Maafin ayah nak.......hiks hiks hiks" lirih Budi dengan perasaan hancur.
"Bagas udah maafin ayah.......hiks hiks hiks......Bagas minta kita kembalikan keutuhan keluarga kita lagi ayah" pinta Bagas sambil menangis.
"Ayah janji akan mengembalikan keluarga kita seperti dulu lagi nak" ucap Budi dengan sungguh-sungguh.
"Ayah.......hiks hiks hiks"
Bagas memeluk tubuh kurus ayahnya dengan erat mengeluarkan semua isi hatinya. Arinta dan bi Susi yang berdiri di depan ruang kerja Budi juga ikut menangis merasa terharu.
"Maafin ibu dan ayah nak.......hiks hiks hiks" lirih Arinta sambil menangis.
"Hiks hiks......nyonya"
Arinta menatap bi Susi yang berdiri di sampingnya dengan air mata mengalir di kedua pipinya, bi Susi tersenyum seolah berkata semua pasti akan kembali seperti semula.
~ Blue Ocean Apartment ~
Valeria berdiam diri di depan jendela setelah melihat rekaman cctv di mansion Kusumo. Meski ia sangat membenci kedua orang itu tapi setidaknya ia sudah bisa lega karena kangmasnya sudah memaafkan keduanya.
"Honey" teriak Thomas bergema saat masuk ke dalam apartemen.
Valeria berbalik melihat kedatangan suaminya dengan wajah cemas dan khawatir.
"Kamu tidak apa-apa kan honey?" tanya Thomas sambil memutar tubuh sang istri.
"Aku baik-baik saja honey"
"Syukurlah" Thomas menarik napas dengan lega.
Valeria memeluk tubuh sang suami sambil menghirup aroma tubuh suaminya yang sangat menenangkan. Thomas sendiri membalas pelukan sang istri sambil mencium puncak kepala istrinya dengan lembut.
1 Bulan kemudian
"Apa" pekik Thomas saat keduanya baru selesai melakukan hubungan suami istri.
"Kamu dengar dengan jelas apa yang aku ucapkan honey" ucap Valeria sambil mengelus rahang suaminya dengan lembut.
"Kenapa baru bilang honey" dengus Thomas dengan kesal.
"Ya karena besok baru aku berangkat honey"
"Tapi aku sama siapa nanti tidurnya honey" manja Thomas.
Valeria mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan suaminya yang tak masuk akal bukannya sebelum menikah suaminya itu biasa tidur sendiri.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Jangan pergi ya honey" ucap Thomas sambil memeluk erat tubuh istrinya.
"Besok aku harus pergi honey. Kamu tahu apa yang aku lakukan disana" tegas Valeria dengan suara dingin.
"Bukannya seorang istri harus mengikuti suaminya" ucap Thomas tak kalah dingin.
"Jangan egois kamu Thomas!" hardik Valeria dengan suara tinggi.
"Egois kamu bilang" Thomas tersenyum smirk mendengar ucapan sang istri.
Ia lalu bangun dan bergegas ke kamar mandi dengan tubuh polos sambil mengepal kedua tangannya menahan emosi agar tak kelepasan.
"Pergilah lakukan apa yang kamu mau"
Brak..............
Valeria mengusap wajahnya dengan kasar saat suaminya membanting pintu kamar mandi dengan kuat padahal ia memang harus pergi ke Dubai besok karena hampir 2 bulan ia meninggalkan pekerjaannya.
"Huufftt..........tahan emosi loe Val" gumam Valeria membuang napasnya dengan kasar.
Ia lalu bangun dan mengikuti suaminya ke dalam kamar mandi. Sedangkan di dalam kamar mandi Thomas sedang berdiri di shower membiarkan tubuhnya terkena air dingin.
Deg..........
Tubuhnya tersentak saat tangan lentik memeluk tubuhnya dengan erat dan bergabung bersamanya di bawah shower.
"Jangan seperti ini honey rasanya hatiku sakit" ucap Valeria dengan suara lembut.
Thomas berbalik menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta saat melihat mata istrinya menatapnya dengan sendu.
Cup...........
Thomas mencium bibir Valeria dengan menuntut akhirnya kedua pasangan itu kembali meraup kenikmatan duniawi di dalam kamar mandi.
Tak terasa bulan sudah berganti dengan matahari menandakan sudah pagi. Perlahan-lahan mata hitam cantik itu mengerjab menyesuaikan cahaya yang masuk lewat sela gorden.
Valeria meringis merasakan tubuhnya yang remuk redam dihajar suaminya semalam hingga jam 05:00 pagi baru ia dilepas.
Sebelum ke kamar mandi Valeria menyempatkan mencium bibir dan kening suaminya lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ceklek..........
Pintu kamar mandi terbuka membuat Thomas yang baru saja bangun dan bersandar di ranjang mengarahkan pandangannya ke arah kamar mandi.
"Aku sudah menyiapkan air untukmu honey" ucap Valeria sambil mengambil segelas air dan memberikan ke suaminya.
"Jam berapa kamu berangkat honey?" tanya Thomas setelah minum air.
"Setelah kamu berangkat ke perusahaan honey"
"Aku antar kamu honey"
"Baiklah honey"
Cup.............
"Morning kiss honey" ucap Thomas setelah mencium bibir Valeria dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah membersihkan tubuh dan sarapan keduanya segera bergegas pergi ke bandara mengantar Valeria barulah Thomas berangkat ke perusahaan.
"Sampai sana hubungi aku honey" ucap Thomas yang entah sudah ke berapa kali ia ingatkan selama mereka masih di apartemen.
"Heemmm" deham Valeria dengan malas menjawab ucapan suaminya itu.
Valeria segera turun dari mobil sport suaminya dan tak lupa memeluk suaminya sebelum masuk ke dalam jet. Melihat istrinya sudah masuk ke jet ia bergegas pergi menuju perusahaan.
"Keluar"
Wush........wush.......wush...........
3 Penjaga gelap Valeria keluar saat mereka sudah berada di dalam jet sebelum itu pilot dan lainnya sudah disuruh Ares untuk keluar.
"One loe pantau suami gue disini selama gue di Dubai" perintah Valeria dengan suara dingin.
"Baik master" ucap eyas one.
"Two hancurkan saingan Yorla yang berada di hotel Arthur saat ini"
"Baik master" ucap eyes two.
"Pergi"
Ketiganya segera menghilang meninggalkan Ares dan Valeria disana. Setelah itu jet pribadi Valeria segera berangkat menuju Dubai karena ada masalah di salah satu proyek di kantor pusat.
βββββ
To be continue..............