
π»Jangan pernah menggunakan hati dalam bertindak karena suatu saat hati bisa membuatmu jatuhπ»
.
.
.
.
Malamnya setelah makan malam Valeria yang belum mengantuk mengajak suaminya untuk bersantai di taman samping bagian timur.
"Honey sejak kapan kamu membuat hutan buatan itu?" tanya Thomas sambil mencium puncak kepala istrinya.
Posisi Valeria yang tiduran di pelukan suaminya sambil memainkan jari tangan Thomas membuatnya merasa sangat nyaman apa lagi kebiasaan tidurnya sekarang harus selalu tidur di dada suaminya.
"Waktu bangun kastil ini honey"
"Honey apa kamu pernah pergi ke paviliun pelayan?" tanya Thomas.
"No"
"Kenapa?" tanya Thomas dengan bingung.
"Itu bukan urusan aku honey. Lagi pula aku bisa tahu apa yang terjadi disana tanpa harus ke sana"
"Cctv" tebak Thomas.
"Salah satunya itu tapi lebih banyak aku gunakan Ares honey"
"Maksudnya honey?" tanya Thomas semakin penasaran.
"Mata Ares itu menggunakan sensorik pemindai honey"
"Beneran?" tanya Thomas dengan kaget.
"Heeemm"
Thomas tak menyangka jika istrinya itu sangat hebat dalam menciptakan robot AI yang paling canggih, dan mungkin di dunia ini hanya Ares saja satu robot AI yang bertingkah seperti manusia.
"Jangan terlalu di pikirkan honey. Itu bisa membuatmu semakin sakit kepala" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Banyak bertanya bisa membuat nyawamu hilang honey" tambahnya lagi sambil tersenyum smirk.
Glek...........
Thomas menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan istrinya. Ia tahu jika itu adalah kode dari istrinya untuk tidak terlalu menanyakan hal-hal yang menurutnya tidak penting.
"Bagaimana perusahaan honey?" tanya Valeria.
"Ribet! Aku lebih memilih kerjaku dulu memantau keamanan perusahaan dari pada kerja di perusahaan honey" sungut Thomas dengan wajah di tekuk.
"Jika kamu pusing serahkan semua ke Alfarezi. Aku bisa memantau perusahaan dari sini dan lagian juga ada Ares honey" usul Valeria.
Thomas memikirkan usulan istrinya dan menurutnya ada benar juga. Ia akui ia memang tidak bisa menghendel perusahaan seperti istrinya karena sedari dulu ia hanya berpusat pada sistem keamanan perusahaan saja.
"Idemu boleh juga honey" ucap Thomas dengan senang.
"Heemmm"
Tak berselang lama Ares datang membawa nampan berisi buah dan kopi untuk keduanya. Selama kehamilannya Valeria lebih suka mengonsumsi buah dari pada cemilan.
"Nyonya" ucap Ares dengan isyarat ingin mengatakan sesuatu.
"Katakan" ucap Valeria dengan suara dingin sambil memakan anggur hijau.
"Sore tadi tuan Bagas memberitahu jika ia sedang dalam perjalanan ke sini"
"Apa dia sendiri?" tanya Thomas dengan cepat.
"Saya tidak tahu tuan"
"Cek cctv di bandara" ucap Valeria.
"Baik nyonya"
Ares berdiri seperti patung membuat Thomas mengernyitkan keningnya. Tak lama ia sudah bisa menebak apa yang sedang Ares lakukan.
"Tuan Bagas bersama istrinya dan juga kedua orang tuanya nyonya"
"Sialan" maki Valeria dengan emosi.
"Honey ingat kandungan kamu" ucap Thomas memperingati istrinya.
Phew............
Valeria membuang napasnya dengan kasar menormalkan emosinya yang naik saat mendengar ucapan Ares barusan.
"Biarkan saja mereka datang honey" ucap Thomas.
"No! Aku tidak sudi rumahku di injak oleh kedua manusia itu!" hardik Valeria dengan tatapan tajam.
"Kamu bisa menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan ke mereka kalau tanpa mereka kamu baik-baik saja honey" papar Thomas menjelaskan maksudnya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria diam memikirkan ucapan suaminya yang ada benarnya juga. Jika ingin membalas orang yang pernah menyakitimu maka balaslah dengan cara pintar tanpa membuat tanganmu kotor.
"Siapkan kamar untuk tamu kita Ares" ucap Valeria sambil tersenyum menyeringai.
"Baik nyonya" ucap Ares.
"Ares apa kamu sudah mengirim hadiah buat Mira dan nyonya untuk kelahiran anak mereka?" tanya Thomas.
"Sudah tuan" jawab Ares.
"Dia bukan majikanmu lagi honey" ketus Valeria sambil menatapnya dingin.
"Aku masih belum terbiasa honey" ucap Thomas sambil mengelus pipi istrinya.
"Heemmm"
Valeria menatap Ares yang sedari tadi ingin menunjukkan sesuatu di iPad miliknya. Ia memberi isyarat untuk memberikan iPad tersebut.
Saat membaca informasi yang diberikan oleh Ares seketika ia tersenyum smirk membuat aura disana berubah.
"Apa ada sesuatu yang terjadi honey?" tanya Thomas.
"Keluarga cinta pertamamu ingin membalas dendam" ketus Valeria.
"Itu masa laluku honey dan kamu tahu hal itu" dengus Thomas dengan kesal tak suka membahas tentang Clara.
"Terima proposal mereka dan katakan jika harus Vanesa yang mempresentasikan proposal tersebut" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti memikirkan sebuah rencana.
"Baik nyonya"
Thomas lalu meninggalkan istrinya untuk membuat susu hamil buatnya sebelum ia tidur. Sedangkan Valeria dan Ares masih membahas beberapa proyek yang sedang mereka kerjakan saat ini.
~ Bandara Internasional Dubai (DXB) ~
Setelah 7 jam di dalam pesawat akhirnya rombongan Bagas tiba di Dubai. Mereka tiba disana tepat pukul 09:00 pagi waktu setempat.
"Bagas apa kamu yakin ingin membawa ayah dan ibu?" tanya Arinta.
"Yakin bu" tegas Bagas.
"Dimana Valeria tinggal son?" tanya Budi.
"Aku tidak tahu ayah. Tapi barusan Ares mengirim pesan jika kepala pengawal Valeria akan menjemput kita" ucap Bagas yang baru saja menghidupkan hpnya dan membaca pesan Ares.
Bagas lalu memeluk pinggang istrinya dan mereka berjalan keluar menuju pintu kedatangan. Saat baru saja keluar tiba-tiba mereka di hampiri oleh Rehan.
"Selamat datang di Dubai tuan muda" ucap Rehan dengan sopan.
"Terima kasih sudah menjemput kami" ucap Bagas dengan suara dingin.
"Silahkan tuan muda mobilnya sudah siap" ucap Rehan.
Anak buah Rehan mengambil semua koper mereka dan memasukkan ke dalam mobil sedangkan Rehan membuka pintu limousine untuk keempatnya.
Apa mobil ini punya adiknya mas Bagas, batin Camelia dengan penasaran.
"Bagas apa benar adikmu selama ini tinggal disini?" tanya Arinta.
"Iya bu. Valeria membangun perusahaan sendiri disini"
"Ayah dan ibu pasti sudah menonton berita 3 bulan yang lalu tentang siapa pemilik perusahaan VA Corp" tambahnya lagi dengan senang.
"Ibu pikir itu bohong nak" lirih Arinta.
"Ayah juga berpikir seperti ibu" timpal Budi.
"Semua di berita itu benar bu, yah. Dan aku juga baru tahu waktu itu dan langsung mengkonfirmasi ke asisten Valeria" ucap Bagas menjelaskan.
Arinta dan Budi diam tak mengatakan apa-apa dan merasa sangat menyesal sekaligus malu dengan putri mereka sendiri.
~ Kastil Valeria ~
Setelah 40 menit akhirnya limousine yang di tumpangi mereka tiba di kastil milik Valeria. Tak lama mobil berhenti tepat di depan pintu kastil yang menjulang tinggi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Rehan lalu membukakan pintu untuk mereka dan saat mereka keluar mata keempatnya menatap bangunan mewah dan besar di depan mereka dengan kaget.
"Apa kita ngak salah tempat mas?" tanya Arinta.
"Mas juga ngak tahu sayang" jawab Budi yang masih kaget dengan apa yang dilihatnya ini.
"Istana? Mas ini beneran kita datang ke istana?" tanya Camelia dengan bingung.
"Mas ngak tahu sayang" jawab Bagas dengan jujur karena ia tak tahu ini istana milik siapa.
Bagas melirik ke sekeliling kastil dan melihat begitu besar kastil ini apa lagi penjagaannya sangat ketat dan pintu masuknya juga sangat jauh.
"Ini dimana?" tanya Bagas sambil menatap Rehan.
"Silahkan" ucap Rehan mempersilahkan mereka masuk tak menjawab pertanyaannya.
Keempatnya masih berdiri mematung ditempat mereka, tak lama pintu kastil terbuka dan muncullah seoang pria dengan pakaian rapi menghampiri mereka.
"Selamat datang tuan-tuan dan nyonya-nyonya" ucap pak Dev dengan membungkuk sopan menyambut tamu majikannya.
"Apa Valeria disini?" tanya Arinta.
"Silahkan ikuti saya" ucap pak Dev sambil tersenyum tak menjawab pertanyaan Arinta.
Pak Dev berjalan di depan diikuti keempatnya sedangkan barang-barang mereka sudah di urus oleh para pelayan.
Deg..............
Langkah kaki keempatnya terhenti saat baru saja masuk ke dalam kastil mereka sudah bisa melihat dengan jelas potret siapa yang terpampang besar disana.
Jantung ketiganya berdetak dengan cepat membuat Camelia menatap mereka dengan bingung. Pasalnya hanya dia sendiri yang tidak tahu apa yang terjadi dengan ketiganya.
"Jadi kastil ini" ucap Budi tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Selamat datang di kastilku" ucap suara dingin dan tegas dengan lantang dari arah depan.
"Valeria" ucap ketiganya dengan serentak.
Valeria berdiri di depan sana di temani suami posesifnya menyambut kedatangan tamunya. Bibirnya terangkat seperti sedang tersenyum tapi senyumannya itu terlihat sangat mengerikan.
Tatapan matanya melihat kedua mantan orang tuanya dengan dingin dan tajam. Tak ada tatapan lembut seperti dulu lagi dan hanya ada kebencian dan dendam di sana.
βββββ
To be continue...............