
π»Jadilah orang yang paling ikhlas bukan orang yang paling baik, karena dalam kebaikan belum tentu ada keikhlasan sedangkan dalam keikhlasan sudah pasti ada kebaikanπ»
.
.
.
.
Ketiganya melongo mendengar ucapan Ares yang tak masuk akal apa lagi Yorla yang sedari tadi menangis langsung berhenti. Bryan melihat Ares dengan tatapan membunuh tapi tidak dipedulikan oleh Ares.
"Loe" tunjuk Bryan dengan kesal.
"Udah jangan berantem lagi. Lagian sister juga udah di operasi jadi buat apa you musti marah" ucap Yorla dengan suara gemulainya.
"Ckk!" Bryan berdecak kesal.
Mereka akhirnya diam menunggu kapan operasi Valeria selesai, ada perasaan cemas dan khawatir menunggu hasil operasi Valeria.
Juan sedari tadi menunduk memikirkan kondisi Valeria jika sesuatu yang buruk beneran terjadi.
Maafin gue master karena mau menyelamatkan gue master seperti ini, batin Juan dengan rasa bersalah.
Lampu tanda operasi akhirnya mati menandakan operasi Valeria sudah berhasil. Mereka dengan cemas menunggu dokter keluar dari ruang operasi.
Ceklek...........
"Dok gimana keadaan adik saya?" tanya Bryan.
"Dok hasil operasi sister apakah semua berjalan dengan lancar?" tanya Yorla.
"Dok gimana keadaan master?" tanya Juan.
Dokter Matt yang di berondong 3 pertanyaan sekaligus bingung harus menjawab yang mana. Pasalnya tadi Ares bilang jika pasiennya hanya sebatang kara tapi ini ada yang mengaku sebagai kakak dan adiknya.
"Tuan" ucap dokter Matt melihat Ares.
"Bagaimana hasilnya dok?" tanya Ares.
Bryan, Yorla, dan Juan bingung melihat keduanya pasalnya mereka yang bertanya kenapa dokter itu malah berbicara dengan Ares. Tatapan tajam Bryan langsung menatap Ares tapi tidak di pedulikan oleh yang bersangkutan.
"Ada kabar baik dan kabar buruk mengenai pasien tuan" ucap dokter Matt sambil menghela napas.
"Katakan"
"Kabar baiknya operasinya berjalan dengan lancar dan penggumpalan darah di kepala belakang pasien tidak ada lagi"
"Kabar buruknya?" tanya Yorla dengan cepat memotong ucapan dokter Matt.
"Anda bisa diam tidak" ucap Ares dengan suara dingin sambil menatap Yorla dengan tajam.
"Iy.....a" cicit Yorla dengan takut.
"Lanjutkan" ucap Ares membuat dokter Matt takut dengan tatapan Ares.
"Kabar buruknya. Akibat hantaman keras itu ternyata pasien juga mengalami cedera pada otak sehingga pasien saat ini mengalami koma" ucap dokter Matt.
Duar..........
Bagai disambar petir ketiganya mendengar ucapan dokter barusan. Yorla sampai menangis histeris mendengar penjelasan dokter sedangkan Juan dan Bryan seketika duduk di kursi dengan lemas memikirkan Valeria.
"Kapan nyonya akan sadar?" tanya Ares yang tak bereaksi dengan ucapan dokter Matt tadi.
"Maaf tuan tapi saya tidak tahu kapan pasien akan sadar"
"Heeemmmm"
"Kalau begitu saya permisi tuan dan sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisi pasien sudah tidak kritis lagi"
"Baiklah"
Dokter Matt segera berlalu pergi dari sana tak lama suster keluar sambil mendorong brankar Valeria menuju ruang VVIP di lantai 4. Sampai di dalam kamar perawatan Valeria mereka berempat hanya bisa melihat kondisi Valeria dengan sedih.
...π» π» π» π» π»...
"Ini semua salah gue......hiks hiks hiks hiks......kalau aja master ngak halangi pintu itu pasti master ngak akan seperti ini.......hiks hiks hiks" ucap Juan sambil menangis menyalahkan dirinya.
"Ngak usah nyalahin diri loe karena gue tahu ini semua keinginan Valeria" ucap Bryan.
"Master.......hiks hiks hiks......melindungi gue hanya biar gue bisa hadir di pernikahan adik gue.....hiks hiks hiks"
"Malam ini juga anda berangkat ke London" ucap Ares dengan suara dingin.
"Apa maksud loe?" tanya Juan dengan wajah bingung.
"Minggu depan acara nikah adik anda jadi anda harus disana menemani ayah dan adik anda"
"Ngak! Gue bakal disini nunggu master ampe sadar" tegas Juan menolak.
"Berarti anda tidak menghargai pengorbanan nyonya"
Juan terdiam mendengar ucapan Ares yang ada benarnya juga karena semua yang Valeria lakukan semata-mata untuk membuat ia hadir di pernikahan adiknya.
"Benar kata Ares om" ucap Yorla.
"Gue bukan om loe" ketus Juan.
"Emang situ bukan om eke yang bilang situ om eke siapa?" tanya Yorla dengan nyolot.
"Heh bencong sialan! Tadi kan loe yang manggil gue om!" bentak Juan dengan kesal.
"Di panggil om bukan berarti you om eke yah. Eke panggil you om emang karena you udah tua" cibir Yorla dengan sengit.
"Sialan loe bencong. Liat aja gue bakal beri loe pelajaran" hardik Juan.
"Diam!" bentak Ares dengan suara tinggi.
Semuanya diam tak berbicara satu kata pun bahkan suster yang masuk ingin mengecek kondisi Valeria sampai menjatuhkan barang bawaannya. Pandangan mata Ares menatap tajam suster itu membuat ia gemetar.
"Keluar" ucap Ares dengan suara dingin.
"B....a....ik t.....ua....n" ucap suster tadi dengan gemetar.
Bugh............bugh............
Tak banyak berkata Ares langsung menendang Yorla dan Juan membuat keduanya terpental. Bryan hanya diam saja tak ingin merasakan lagi pukulan dan tendangan Ares yang sangat mematikan.
"Sekali lagi kalian ribut di depan nyonya jangan salahkan aku yang akan membunuh kalian saat itu juga" ucap Ares dengan suara dingin.
Keduanya hanya mengangguk kepala menjawab ucapan Ares, Bryan sendiri tak pusing dan langsung duduk di sofa diikuti Yorla dan Juan.
Setelah itu Ares mengecek kondisi Valeria dan bergegas keluar ingin melakukan perintah yang Valeria katakan.
1 Minggu kemudian
Kondisi Valeria masih sama belum ada tanda-tanda ia akan bangun. Ares sudah menemukan harta itu dan juga sudah menyimpan semua emas batangan itu ke brangkas milik Valeria di Dubai.
Bahkan uang tunai di bank Swiss sudah ia cairkan dan bagi ke semua anak buahnya waktu itu. Tak lupa sisanya ia donasikan ke panti asuhan dan yayasan sosial di seluruh dunia.
Sedangkan isi flashdisk waktu itu ternyata berisi bukti-bukti kejahatan 4 petinggi dunia di dunia politik. Dunia maya kaget dengan beredarnya bukti kejahatan dari 4 petinggi dunia.
Mereka dengan pangkat tingginya melakukan kejahatan besar-besaran yang merugikan rakyat dan negara. Bukan itu saja mereka tak habi pikir tentang anggota politik yang termasuk dalam sindikat perdagangan manusia terbesar di dunia.
...π» π» π» π» π»...
"Apa loe yang nyebarin berita itu Ares?" tanya Bryan di balkon kamar rawat Valeria.
"Heemmm"
"Bagaimana kondisi perusahaan"
"Semuanya aman"
"Brother" panggil Yorla.
"Heemmm"
"Ada telpon dari dokter jelek" ucap Yorla sambil menyodorkan hp Bryan yang tadi ia pinjam.
Bryan dengan cepat menerima dan menjawab panggilan dari dokter Lauren. Ia takut ada kejadian buruk yang menimpa sang mama.
^^^"Halo"^^^
"Halo tuan"
^^^"Ada apa?" tanya Bryan dengan perasaan was-was.^^^
"Maaf tuan tapi sejak semalam Ratu Camelia terus memanggil nama tuan saat melihat berita tentang kerajaan Wizpet"
^^^"Apa? Siapa yang nyuruh kalian membiarkan mama gue nonton berita! Hah" bentak Bryan dengan emosi.^^^
"Maaf tuan. Tapi semalam ratu Camelia meminta ingin menonton tv dan saat saya mengambil minum untuk Ratu Camelia berita tentang Kerajaan Wizpet muncul tuan"
^^^"Berengsek anj**g loe semua" maki Bryan dengan emosi.^^^
"Tuan" ucap dokter Lauren dengan takut.
^^^"Gimana keadaan mama gue sekarang"^^^
"Ratu Camelia terus memanggil nama tuan dan tidak mau makan sebelum melihat tuan"
^^^"Katakan pada mama gue bakal akan pulang secepatnya"^^^
"Baik tuan"
Bryan langsung mematikan panggilannya sepihak dan memijit dahinya yang sakit. Yorla dan Ares yang mendengar obrolan mereka tadi hanya diam saja.
"Anda pulang saja biar saya yang menjaga nyonya" ucap Ares.
"Tapi" ucap Bryan yang langsung dipotong Yorla.
"Benar kata Ares brother. Aunty saat ini butuh brother di sisinya" timpal Yorla.
"Baiklah gue bakal pulang hari ini. Selalu beritahu gue tentang kondisi Valeria" ucap Bryan dengan pasrah.
"Oke brother"
Bryan segera pergi kembali ke rumah persembunyian mengambil barang-barangnya. Ares dan Yorla yang di tinggal di rumah sakit selalu menjaga Valeria tak pernah lelah.
3 Bulan kemudian
Kondisi Valeria belum juga ada perubahan Yorla yang tak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama akhirnya membujuk Ares membawa Valeria ke California.
Ares yang menyetujui ucapan Yorla langsung menyuruh dokter memindahkan Valeria ke California.
~ Kingdom Apartment ~
"Bagaimana?" tanya Ares.
"Kondisi nyonya stabil dan semua baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggu nyonya sadar" ucap dokter Lauren.
"Dokter jelek apa kita harus terus mengajak sister berbicara terus?" tanya Yorla dengan ketus.
"Iya nona" ucap dokter Lauren dengan gugup.
"Ya sudah sana kamu pergi" usir Yorla.
"Baik nona saya permisi" ucap dokter Lauren menahan kesalnya.
Tak lama didepan pintu penthouse Valeria kembali terjadi keributan antara pengawal Valeria dan Thomas. Selama 3 bulan Thomas terus menghubungi pacarnya tapi nomornya tak pernah aktif dan ia seperti hilang di telan bumi.
"Tampan" pekik Yorla saat membuka pintu penthouse.
"Dimana Valeria?" tanya Thomas dengan tatapan tajam.
"Oh my God ganteng banget tatapannya eke suka" pekik Yorla dengan senang.
Thomas yang melihat pintu penthouse tak tertutup segera mendorong Yorla ke samping. Dengan cepat ia masuk ke dalam mencari Valeria, Yorla yang tersadar Thomas sudah masuk ke dalam segera berlari mengikutinya.
"Tampan you jangan sembarang masuk" teriak Yorla dengan suara cemprengnya.
Ares yang mendengar teriakan Yorla di luar segera keluar dari ruang kerja Valeria. Saat keluar ia menatap seseorang yang tak ia kenali masuk ke dalam kamar Valeria.
"Honey" ucap Thomas dengan kaget melihat Valeria yang terbaring di ranjang.
Air matanya jatuh melihat tubuh sang kekasih yang pucat di atas ranjang. Thomas duduk di samping sambil menggenggam tangan Valeria dengan erat tak percaya Valeria bisa seperti ini.
"Lepaskan tangan kotormu dari tubuh nyonya!" hardik Ares dengan suara menggelegar.
βββββ
To be continue................