
π»Keadaanlah yang memaksa seseorang hingga berubah menjadi lebih kejamπ»
.
.
.
.
Bagas segera mengendong putranya yang menangis kencang di gendongan pengasuhnya. Sedangkan Budi segera menghampiri istrinya yang menangis meraung-meraung di lantai.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu menangis?" tanya Budi dengan cemas.
"Hiks hiks hiks..........mas.........hiks hiks hiks" tangis Arinta semakin pecah tak sanggup berbicara.
"Tenangkan dirimu sayang" ucap Budi sambil memeluk istrinya dan menenangkannya.
Bagas juga memeluk istrinya dan menenangkannya bersama anak mereka. Selang 10 menit akhirnya ketiganya sudah tenang dan tidak menangis lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi sayang?" tanya Bagas menatap istrinya saat mereka di ruang keluarga.
"Tadi ibu nerima telpon tiba-tiba ibu berteriak dan menangis mas" jawab Camelia.
"Telpon dari siapa sayang?" tanya Bagas dengan kening berkerut.
"Aku ngak tahu mas"
Ahmad yang mendengar ucapan sang nyonya berbalik ingin mencari hp milik Arinta di ruang makan tapi ia urungkan saat melihat bi Susi yang menyodorkan hp milik Arinta.
"Terima kasih bi" ucap Ahmad.
"Sama-sama tuan Ahmad" balas bi Susi.
Ahmad segera memberikan hp milik Arinta kepada Bagas. Bagas menatap hp milik ibunya yang sudah retak di bagian layar dan saat dihidupkan tidak menyala.
"Ngak nyala lagi" ucap Bagas menaruh hp milik Arinta di atas meja.
"Arinta siapa yang menelpon tadi? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Budi dengan suara lembut.
"Valeria mas..........hiks hiks hiks hiks" jawab Arinta kembali histeris.
"Valeria kenapa sayang"
"Hiks hiks hiks..........Valeria koma mas........hiks hiks hiks"
"APA" pekik mereka semua dengan suara tinggi.
Bagas segera mengambil hpnya dan menelpon Valeria dengan perasaan cemas dan pada dering keempat barulah dijawab.
"Halo" ucap Thomas dari seberang"
^^^"Thomas dimana Valeria?" tanya Bagas to the point.^^^
Thomas mengalihkan panggilannya menjadi panggilan video tak menjawab pertanyaan Bagas. Tubuhnya seketika lemas melihat Valeria yang terbaring lemah di atas brankar.
^^^"Hiks hiks hiks...........adik........hiks hiks hiks" tangis Bagas pecah melihat adiknya.^^^
Budi mengambil hp Bagas dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sama seperti putranya ia dan istrinya juga ikut menangis melihat Valeria di seberang sana.
^^^"Kalian dimana sekarang?" tanya Budi dengan suara serak karena menangis.^^^
"Di California ayah mertua. Valeria dirawat di rumah sakit Wesly" jawab Thomas dengan suara lemah dari seberang.
^^^"Kami segera ke sana"^^^
"Heemmmm"
Budi mematikan panggilannya sepihak karena harus segera bersiap untuk menemui anaknya di California.
Bagas yang masih menangis menatap ayahnya dengan kening berkerut saat mengingat pembicaraan mereka tadi di ruang kerjanya.
"Ayah sama ibu akan berangkat kapan?" tanya Bagas.
"Ahmad siapkan jetku sekarang" ucap Budi memberi perintah ke Ahmad.
"Baik tuan besar"
"Jangan lupa jetku juga Ahmad" titah Bagas.
"Mas kita juga akan ke sana?" tanya Camelia dengan bingung.
"Ayah lupa dengan pembicaraan kita tadi?" tanya Bagas yang tak menjawab pertanyaan istrinya.
"Ayah ngak bisa biarin ibumu ke sana sendirian. Perusahaan biar di tangani oleh Dion selama kita tidak disini" ucap Budi dengan suara tegas.
"Heemmm"
Budi lalu mengajak istrinya ke kamar agar mereka bersiap sedangkan Bagas juga mengajak istrinya ke kamar mereka dan memberitahunya tentang kepergiaannya ke Kalimantan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Kamu disana berapa lama mas?" tanya Camelia sambil memasukkan pakaian suaminya ke dalam koper.
"Aku ngak tahu sayang. Masalah disana bukan masalah sepele jadi aku belum bisa pastikan kapan aku balik" ucap Bagas sambil menatap istrinya dengan penuh cinta.
"Aku butuh energi sebelum aku pergi sayang" tambahnya lagi sambil memeluk Camelia dari belakang.
"Mas aku belum selesai beresin pakaian kamu" protes Camelia saat tiba-tiba tubuhnya di gendong menuju ranjang.
"Aku ngak bisa nahan lagi sayang"
Cup.............
Bagas mencium bibir istrinya dengan rakus tak memberikan istrinya waktu untuk protes. Keduanya menghabiskan pagi itu dalam kamar sebelum Bagas pergi ke Kalimantan.
2 jam kemudian Camelia mengantar kepergian suami dan mertuanya yang akan pergi ke Kalimantan dan Amerika di depan mansion.
Ia dan anaknya Candra akan menunggu suaminya pulang dari Kalimantan baru menyusul kedua mertuanya ke California menjenguk adik iparnya Valeria.
"Tinggal kita berdua saja di mansion sayang" ucap Camelia sambil mencium pipi putranya.
"Da da da da da" celoteh Candra anaknya dengan bahasa bayinya.
"Da da da da"
Camelia tersenyum manis melihat putranya yang berceloteh dengan suara kencang membuat mansion tidak sepi.
~ Wesly hospital ~
Thomas menaruh hp istrinya setelah menerima telpon dari kakak iparnya. Ia menatap ketiga orang yang paling ia cintai dengan tatapan lembut.
Cup..........cup.............
Thomas mencium Mikhail dan istrinya dengan lembut sedangkan putrinya yang masih di dalam inkubator hanya mendapat senyuman manisnya saja.
Ceklek................
Bryan dan Yorla masuk sambil membawa makan malam buat Thomas. Ruangan Valeria sudah disulap menjadi seperti kamar hotel karena Thomas akan menjaga istrinya dan putrinya disana.
"Dude ayok makan dulu. Kamu butuh tenaga untuk menjaga ketiganya" ajak Bryan.
"Heemmmm"
Thomas berdeham sambil mengangguk kepalanya tak menolak ajakan Bryan karena apa yang dibilang Bryan memang benar.
Ketiganya lalu makan malam bersama dengan suasana hening. Setelah selesai makan malam Yorla membawakan kopi dan americano buat mereka.
"Apa pernikahan aku undur saja?" tanya Bryan menatap ke depan.
"Apa! Brother you jangan bercanda ya! Persiapan pernikahan you udah 95%" hardik Yorla dengan mata melotot.
"Tapi aku ingin pernikahanku Valeria ada" ucap Bryan dengan sedih.
"Tidak bisa brother. Lagian undangan sudah disebar dan berita pernikahan brother udah diketahui seluruh dunia" tegas Yorla.
"Yorla benar dude. Pernikahan kamu tetap berjalan sesuai rencana" ucap Thomas.
"Tapi"
"Istriku tidak akan setuju jika kamu mengundur pernikahan kamu" potong Thomas.
"Benar brother. Apa brother ingat saat kecelakaanΒ sister di pulau Cayman dan saat menyelamatkan Juan karena tak mau Juan tidak hadir di pernikahan Jeni perempuan jadi-jadian itu" papar Yorla dengan menggebu-gebu.
"Perempuan jadi-jadian?" tanya Thomas dengan kening berkerut.
"Abaikan ucapan ubur-ubur gagal ini Thomas. Dia itu suka seenaknya nyebut orang dengan panggilan tidak jelas" ucap Bryan sambil menatap sinis Yorla.
"Brother" pekik Yorla dengan suara melengking.
Bugh..............
"Sekali lagi kamu ribut aku jahit mulutmu banci sialan" ancam Thomas yang melempar Yorla dengan kotak tisu dan mengenai keningnya.
"Ckk!!" decak Yorla dengan kesal.
Bryan tersenyum mengejek melihat Yorla yang mengelus keningnya karena di lempar kotak tisu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Melihat senyuman Bryan seakan ia ingin memukul Bryan hingga ia puas karena berani mengejeknya.
"Aku akan membawa Valeria ke kastil" ucap Thomas mengagetkan keduanya.
"Kenapa?" tanya Bryan dan Yorla dengan serentak.
"Perusahaan tidak bisa ditinggal terlalu lama. Apa lagi tidak ada Ares yang menghendel seperti biasanya"
"Eke setuju dengan brother in law. Kebetulan peralatan kesehatan di kastil lebih canggih dari sini" ucap Yorla.
"Benar kata ubur-ubur gagal" tambah Bryan.
"Brother!" dengus Yorla dengan bibir mengerucut.
"Kapan kamu pindah ke kastil?" tanya Bryan.
"Setelah putriku keluar dari inkubator"
"Brother in law apa sudah menyiapkan baby sitter buat princess?" tanya Yorla dengan cepat.
Thomas menatap Yorla dengan wajah datar karena melupakan hal itu. Tak lama ia tersenyum penuh arti memikirkan sebuah ide mengenai pengasuh untuk putrinya.
Bryan yang melihat senyuman Thomas juga ikut tersenyum karena tahu apa yang dipikirkan olehnya. Keduanya lalu menatap Yorla dengan senyum menyeringai.
"Kenapa kalian melihat eke kayak gitu?" tanya Yorla dengan mata memicing.
"Setelah pernikahan Bryan kamu segera balik kesini" ucap Thomas.
"Loh buat apa?" tanya Yorla dengan bingung.
"Setelah putriku keluar dari inkubator kamu yang jadi baby sitter dia" jawab Thomas dengan santai.
"Apa" teriak Yorla dengan mata melotot kaget dan suara tinggi.
Oeekk..........oeekkk.........oeekkkk...........
"Yorla" desis Thomas dengan tatapan tajam karena teriakan Yorla membuat putrinya terbangun dan menangis.
Bugh................
"Mama" teriak Yorla dengan suara melengking saat pipinya ditinju Thomas.
Yorla meringis merasakan sakit yang amat luar biasa di pipinya karena ditinju Thomas. Tatapan tajam Thomas menatapnya seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Diamkan anakku sekarang" ucap Thomas dengan suara dingin.
"Iya brot.....er in law" ucap Yorla dengan terbata-bata.
Dasar ubur-ubur gagal! Loe sih ganggu singa jantan yang lagi tidur, batin Bryan sambil menggelengkan kepalanya melihat kebodohan Yorla.
βββββ
To be continue..............