
π»Tidak ada kata berhenti untuk belajar meski kita
bukanlah seorang pelajar. Karena dalam hidup kita diberikan ujian yang akan memberikan kita sebuah pelajaranπ»
.
.
.
.
"Beraninya kamu masuk tanpa seijinku berengsek!" bentak Thomas dengan suara tinggi.
Ares menatap Thomas datar tidak perduli dengan ucapannya, matanya hanya tertuju ke Valeria yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.
"Jaga matamu bangsat" hardik Thomas menggema di dalam sana membuat dokter Lauren gemetar ketakutan.
"Periksa nyonya cepat" Ares acuh tak perduli dengan teriakan Thomas.
"B....ai......k t......uan" ucap dokter Lauren dengan terbata-bata.
Merasa tidak di gubris oleh Ares emosi Thomas semakin menjadi. Dengan langkah cepat ia menghampiri Ares yang tak jauh dari ranjang.
Bugh...........bugh...........
2 pukulan tepat di rahang Ares hingga ia menoleh ke samping. Raut wajahnya tak berubah sama sekali merasa sakit atau apapun membuat kening Thomas mengerut.
Kenapa ekspresinya seperti itu seakan tidak ada rasa sakit sama sekali, batin Thomas dengan bingung.
"Tuan apa bisa keluar sebentar" ucap dokter Lauren dengan sopan.
"Kamu pikir kamu siapa berani mengusirku!" bentak Thomas menggema.
"Maaf tuan tapi saya harus membuka dress master untuk memeriksa keadaan master"
Mendengar ucapan dokter Lauren ia segera beranjak keluar diikuti oleh Ares. Sampainya di luar keduanya saling bertatapan dengan wajah datar dan dingin.
"Ini peringatan terakhir buat kamu Ares! Jangan pernah mendekati kekasihku" ancam Thomas dengan tatapan tajam.
"Saya tangan kanan nyonya tuan" balas Ares dengan suara dingin.
"I don't Fu**ing care who are you as***le" (aku tidak perduli siapa kamu berengsek) hardik Thomas.
"Oke"
Rahang Thomas mengeras mendengar ucapan Ares yang terlampau amat santai dan jangan lupa wajah datar dan dinginnya yang seakan menganggap semua ucapannya seperti angin lalu saja.
Tak.......tak..........tak...........tak........
Bunyi langkah kaki seperti orang berlari terdengar menuju ke arah keduanya. Thomas mengangkat pandangannya menatap ke arah suara dan seketika ia berdecak kesal melihat siapa yang datang.
Sial, batin Thomas dengan kesal.
Ia merasa sangat kesal karena yang datang adalah Bryan, Yorla, Rehan, dan beberapa pengawal pribadi Valeria dan saudara angkatnya.
Kenapa Valeria harus dikelilingi cowok semua sih, batin Thomas berdecak kesal.
"Ares apa yang terjadi sama Valeria?" tanya Bryan dengan cemas.
"Nyonya sedang di periksa dokter Lauren"
"Ckk!! Apa dokter jelek itu sudah lama di dalam" sentak Yorla dengan tatapan tak suka.
"Banci sialan bisa ngak loe tutup mulutmu sehari aja!" bentak Rehan tak suka pacarnya di ejek.
"Kenapa! Situ ngak terima hah! Orang memang kenyataan dia dokter jelek" pekik Yorla dengan emosi.
"Loe berdua bisa diam ngak sih!" bentak Bryan dengan suara tinggi.
Yorla mendelik tajam menatap Rehan dengan kesal karena ia dibentak oleh Bryan sedangkan Rehan tak kalah tajam menatap Yorla seakan ingin mengulutinya saat ini juga.
Ceklek..............
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Mata semuanya lalu tertuju ke pintu yang menampakkan wajah dokter Lauren yang keluar dengan raut wajah tak bisa dibaca.
"Bagaimana kondisi pacarku dok?" tanya Thomas dengan khawatir.
"Apa hari ini master melakukan aktifitas berat?" tanya dokter Lauren tak menjawab pertanyaan Thomas.
"Apa maksud anda dok?" tanya Thomas dengan kening berkerut.
Dokter Lauren menatap sekilas Thomas tak menjawabnya dan berbalik menatap Ares, Bryan, Yorla, dan Rehan yang ia tahu hanya mereka berempat yang berada di sisi Valeria hari ini.
"Setahu eke tadi sister berlatih mua thay di penthouse" ucap Yorla mengingat apa saja yang di lakukan Valeria hari ini.
"Valeria tadi berenang seperti biasa" ucap Bryan.
"Yang gue ngak tahu master lakuin apa aja hari ini. Tadi gue cuma ngasih laporan markas aja" ucap Rehan.
Semua mata langsung tertuju kepada Ares karena hanya Ares yang selalu stand by di samping Valeria hampir 24 jam full.
"Hold on! Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" (tunggu) tanya Thomas yang tak mengerti apa yang mereka bicarakan sedari tadi pasalnya mereka bicara dengan bahasa Indonesia.
"Maaf tuan Parker. Tapi keadaan master saat ini kembali drop karena melakukan pekerjaan yang berat sehingga luka bekas operasinya kembali sakit" papar dokter Lauren.
"Apa operasi" pekik Thomas dengan mata menyalang tajam.
Glek.............
Dokter Lauren menelan saliva dengan susah mendengar ucapan Thomas. Ia melihat ke arah Bryan dan lainnya tapi mereka menggelengkan kepala memberitahu jika Thomas tak mengetahui keadaan Valeria beberapa minggu terakhir.
"Ares" desis Thomas dengan suara dingin yang sedingin salju.
"Sebulan yang lalu nyonya harus di operasi karena mendapat tembakan di pinggangnya hingga tembus ke belakang. Karena tembakan itu salah satu ginjal nyonya harus diangkat karena rusak parah" papar Ares menjelaskan semuanya.
"Kenapa kekasihku bisa ditembak Ares?" tanya Thomas dengan tatapan menyelidik.
"Dimitri Sergeyer"
Jantung Thomas berdetak dengan cepat mendengar nama yang ia tahu adalah musuh bebuyutan Valeria selama ini.
"Jangan bilang" tebak Thomas dengan kaget.
"Seperti dugaan anda tuan! Dimitri Sergeyer sudah mati karena nyonya menyerang markas utamanya sebulan yang lalu. Dan karena penyerangan itu nyonya harus koma selama 2 minggu lebih"
"Apa maksudmu Ares?" tanya Thomas dengan kaget.
"Pasca operasi nyonya mengalami kondisi Vegetatif dan baru sadar seminggu yang lalu. Setelah sadar nyonya bersih keras berlatih untuk memperkuat otot-ototnya agar bisa menemui anda hari ini"
Brak................
Thomas tak mendengar ucapan Ares lagi dan berlalu masuk ke kamar sambil membanting pintu dengan keras mengagetkan mereka semua.
"Jantung eke hampir copot" ucap Yorla mengelus dadanya.
"Biar copot jadi loe bisa hilang dari muka bumi ini secepatnya" ejek Rehan sambil tersenyum sinis.
"Sialan you pak tua" hardik Yorla dengan kesal.
"Ubur-ubur gagal diam deh loe! Suara loe kayak nyamuk ngak enak di dengar" hardik Bryan dengan kesal.
"Ckkk!" decak Yorla mencebik.
"Tuan Ares perhatikan aktifitas master jangan sampai master melakukan pekerjaan berat lagi" ucap dokter Lauren memberi peringatan.
"Heemmmm"
Sedangkan di dalam kamar hotel Thomas duduk di samping Valeria yang sedang tertidur dengan sebelah tangannya di pasang infus.
"Maafkan aku yang tak tahu honey.......hiks hiks hiks" ucap Thomas merasa bersalah tak mengetahui apa yang kekasihnya alami sebulan yang lalu.
Cup...........
Thomas mencium kening Valeria dengan lembut menyalurkan semua perasaannya saat ini. Ia lalu berjalan keluar ingin menemui Ares dan meminta penjelasan lebih.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
3 Bulan kemudian
Sudah 3 bulan berlalu dan setelah mengetahui apa yang terjadi waktu itu sifat Thomas semakin menjadi kepada Valeria dan sangat posesif.
Bulan lalu ia baru saja operasi ginjal setelah mendapat donor ginjal yang cocok. Setelah operasi itu Thomas melarang Valeria untuk kembali ke Dubai dan memaksanya tinggal di California sampai keadaannya benar-benar pulih.
Valeria menatap cincin berlian yang hanya satu saja di dunia di jari tengahnya mengingat semalam Thomas melamarnya dengan sangat romantis dan ia tak akan pernah melupakan momen itu.
Ia tersenyum manis mengingat wajah tunangannya yang sangat ia cintai saat ini. Valeria lalu mengambil hpnya dan menghubungi seseorang yang ia sayangi untuk memberitahu hal ini.
"Halo cucuku" ucap eyang putri dari seberang dengan wajah berbinar.
^^^"Halo eyang. Eyang apa kabar?" tanya Valeria dengan suara lembut.^^^
"Eyang baik-baik saja cucuku selama kamu mengabari eyang terus"
^^^"Aku baik-baik saja di sini eyang dan maaf jika Valeria jarang menelpon eyang" ucap Valeria merasa bersalah.^^^
"Eyang ngerti kok sayang kalau kamu pasti sangat sibuk dengan pekerjaanmu disana"
^^^"Terima kasih buat pengertiannya eyang"^^^
"Sepertinya ada yang sedang bahagia" tebak eyang putri dengan lembut dari seberang.
Wajah Valeria merah padam mendengar ucapan sang eyang yang menebaknya dengan benar. Eyang putri tertawa melihat wajah cucunya yang sudah merah padam seperti kepiting rebus.
Valeria lalu menceritakan perihal Thomas dan lamaran Thomas semalam kepada eyang putri dan meminta pendapat sang eyang.
"Jika kamu bahagia maka eyang juga akan bahagia nak"
^^^"Terima kasih sudah merestui hubungan kami eyang"^^^
"Apa eyang bisa berbicara dengan calonmu nak?" tanya eyang Putri.
^^^"Bisa eyang. Nanti setelah dia pulang kantor aku akan menelpon eyang"^^^
"Baiklah nak eyang tunggu"
^^^"Iya eyang"^^^
"Cucuku ada yang eyang mau beritahu"
^^^"Apa itu eyang?" tanya Valeria dengan penasaran.^^^
"Pernikahan itu adalah sakral nak eyang minta ini adalah pernikahan kamu seumur hidup seperti eyang dan eyang kakung. Eyang juga ingin berpesan jika dalam sebuah pernikahan tidak akan pernah lepas dari cobaan luar yang akan selalu ada dalam rumah tangga kalian, tapi percayalah itu semua akan berlalu jika kamu dan pasanganmu saling percaya dan terbuka nak"
^^^"Valeria mengerti eyang"^^^
"Satu lagi yang harus kamu tahu sayang! Jika kamu sudah menikah kamu harus berbakti kepada suamimu dan mendengar semua ucapannya karena itu adalah petuah suami istri yang paling utama cucuku"
^^^"Jadi maksud eyang Valeria harus selalu ikut ucapan suami Valeria nanti eyang?" tanya Valeria dengan bingung.^^^
"Iya sayang. Karena kodrat seorang istri itu ada di suaminya dan suamimu itu berhak mengatur dan melarang istrinya jika menurutnya itu tidak baik dan seorang istri harus selalu mengikuti ucapan suaminya jika itu tujuannya baik tapi jika tidak kamu bisa membantahnya"
^^^"Baik eyang Valeria paham"^^^
"Eyang berdoa agar pernikahanmu dan Thomas akan berjalan lancar dan hanya maut yang memisahkan kalian cucuku"
^^^"Terima kasih banyak eyang"^^^
"Sama-sama cucuku"
Valeria lalu mematikan panggilannya dan menghapus air mata yang sempat jatuh saat mendengar nasehat sang eyang. Ia bersyukur ada eyang putri yang memberi nasehat kepadanya mengantikan kedua orang tuanya.
Valeria sayang sama eyang tapi maaf eyang Valeria belum bisa maafin mereka berdua, batin Valeria menarik napas dengan dalam.
βββββ
To be continue...............