
π»Mengaku kalah bukan berarti kamu itu pecundang tapi itu membuktikan jika kamu adalah orang yang bertanggung jawabπ»
.
.
.
.
Barnabas yang hendak masuk ke lift mencari keberadaan Queen menghentikan langkahnya saat mendapat laporan dari anak buah mereka di markas.
Sialan apa lagi ini, batin Barnabas.
"Kalian cari Queen Black Shadow sampai dapat" perintah Barnabas ke anak buahnya di depan lift.
"Tapi bos? Kami tidak tahu seperti apa rupa Queen" ucap salah satu anak buah Barnabas.
"Iya benar bos" timpal anak buahnya yang lain.
"Tubuhnya ada tato lambang mereka dan ia memakai topeng ciri khasnya" ucap Barnabas.
"Baik bos" ucap anak buahnya dengan serentak.
Barnabas lalu kembali ke kamar hotel Dimitri ingin memberitahu laporan barusan dari markas utama. Ia yakin Dimitri akan mengamuk saat mendengar berita ini.
"Tua.....n" ucap Barnabas dengan gugup saat masuk ke dalam kamar hotel Dimitri.
"Apa lagi? Apa kamu sudah dapat Queen sialan itu?" tanya Dimitri dengan emosi.
"Belum tu...an" ucap Barnabas dengan terbata-bata.
"Lalu kenapa kamu kembali dan tidak mencarinya!" bentak Dimitri menggelegar.
"Maaf tuan! Ummm.......itu ada laporan penting yang harus saya sampaikan"
"Katakan" dengus Dimitri dengan kesal.
"Barusan gudang senjata kita di bom rudal tuan" ucap Barnabas dengan cepat.
"APA" teriak Dimitri dengan kaget.
Prang..............
Darah segar mengalir dari kepala Barnabas terkena lemparan vas bunga hingga pecah dari Dimitri. Emosinya naik turun mendengar informasi yang baru diberitahu oleh Barnabas.
Barnabas menutup mata menahan rasa sakit di kepalanya ditambah rasa pening yang sebelumnya ia alami tadi.
"Siapa yang berani membom gudang kita?" tanya Dimitri dengan suara tinggi.
"Maaf bos tapi kejadiannya sangat cepat karena ternyata musuh kita mengirim rudal langsung ke gudang senjata"
"F**ck! Bangsat siapa yang ingin main-main denganku" pekik Dimitri dengan emosi.
Aaaarrgghhhh..........
Teriak Dimitri merasa sangat emosi tak tahu harus berbuat apa karena rencana mereka malam ini hancur berantakan karena ulah Valeria ditambah gudang senjata yang baru saja di bom.
Ting...........
Barnabas kaget melihat pesan foto dari anak buahnya yang mengirimkan foto bendera Black Shadow di tengah-tengah reruntuhan gudang senjata mereka.
"Tuan anda harus lihat ini" ucap Barnabas menyodorkan hpnya.
"Sialan kamu Queen! Aku akan mencarimu dan membunuhmu suatu saat gadis sialan" teriak Dimitri saat mengetahui siapa yang sudah membom gudang senjatanya.
Urat tangannya sampai terlihat karena mengepal tangannya dengan kuat. Apa lagi tatapan matanya berkilat penuh dendam kepada Valeria saat ini.
Tunggu waktu pembalasanku Queen bangsat, batin Dimitri.
"Dimana banci yang bersama Queen?" tanya Dimitri.
"Di Paris tuan"
"Kirim pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa orang terdekat Queen"
"Baik tuan"
"Satu lagi cari siapa saja yang berhubungan dengan banci itu karena aku yakin mereka pasti dekat dengan Queen" ucap Dimitri sambil tersenyum menyeringai.
"Baik tuan"
Barnabas segera berlalu keluar pergi meninggalkan Dimitri. Tanpa keduanya sadari usaha mereka akan gagal karena Valeria sudah menutup semua akses orang terdekatnya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Malam itu juga Valeria dan semua anggota Black Shadow meninggalkan Madrid. Mereka semua pulang ke markas utama di Shadow island.
~ Shadow Island ~
Sampainya di pulau pribadi Valeria yang saat ini sudah berubah menjadi markas utama Black Shadow ia langsung di sambut oleh Juan yang menjabat sebagai pengurus markas utama.
"Selamat datang master dan selamat atas kemenangannya" ucap Juan dan seluruh anggota Black Shadow serentak menyambut kemenangan mereka.
"Kalian bisa berpesta atas kemenangan kita" perintah Valeria.
"Terima kasih master" serentak semua anggota Black Shadow berkata seperti gelombang ombak di pantai.
Bagaimana tidak jumlah anggota Black Shadow disini mencapai 10.000 orang sedangkan di markas yang lain hanya berjumlah 800 - 1000 orang saja.
"Sister" pekik Yorla dengan suara kencang.
Valeria menatap Yorla dengan tatapan dingin membuat Yorla seketika diam. Ia bergegas masuk ke dalam markas yang menyerupai kastil kerajaan modern.
"Apa semua fasilitasnya lengkap?" tanya Valeria berjalan menuju ruangannya.
"Lengkap master" ucap Juan.
"Pastikan bahan makanan dan obatan selalu ada"
"Maaf master tapi gue berencana ingin membuat ladang sayur di bagian barat pulau" ucap Juan memberitahu pendapatnya.
"Lakukan" ucap Valeria dengan singkat.
"Baik master"
Valeria lalu naik ke lantai 3 ruangan miliknya dan menatap markasnya dari balkon lantai 3. Ia berpikir jika ia harus membuat sistem keamanan untuk markasnya.
"Ares"
"Iya nyonya"
"Siapkan 3 laptopku dan beritahu semuanya untuk tidak menganggu aku selama aku berada di ruang kerja"
"Baik nyonya"
Ares segera berlalu mencari Juan untuk memberitahunya dan tak lupa mengambil 3 laptop Valeria di kamar pribadinya yang tadi ia simpan.
5 Bulan kemudian
Valeria meregangkan tangannya setelah berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerjanya. Sudah 5 bulan ia berada di Shadow island membuat Dimitri yang mencarinya tak pernah menemukannya.
Valeria tersenyum sinis melihat kapal milik Dimitri yang meledak barusan karena Ares dan Rehan yang bertugas untuk meledakkan kapal itu di tengah laut.
"Semakin lama loe semakin miskin an***g Rusia"
Valeria menatap cctv di mansion Dimitri dimana ia sangat marah karena lagi-lagi kapal muatannya di bom olehnya.
"Thomas" gumam Valeria dengan tatapan penuh kerinduan.
Matanya melihat informasi terbaru Thomas yang saat ini sedang ke Korea untuk menghadiri acara ulang tahun anak perusahaan Wesly Group di sana.
Valeria memutuskan keluar dari ruang kerjanya tak mau melihat lagi informasi mengenai Thomas. Selama 5 bulan hanya beberapa kali Valeria keluar dari ruang kerjanya karena membuat sistem keamanan paling canggih di dunia untuk markasnya.
"Sister" panggil Yorla dengan gugup.
"Malam ini loe berangkat kembali ke Paris dan kerjakan tugas loe seperti biasa"
"Serius sister?" tanya Yorla dengan mata berbinar-binar.
"Apa sister akan ikut pulang juga?" tanya Yorla dengan penasaran.
"Kita ketemu di penobatan Bryan nanti" ucap Valeria tak menjawab pertanyaan Yorla.
"Oh 1 bulan lagi ya sister"
"Heemmmm"
"Sister semalam Chloe ada menghubungiku"
"Katakan"
"Dia minta agar sister bisa hadir di ulang tahun pernikahannya 2 bulan lagi" ucap Yorla dengan suara gemulai.
Valeria diam tak menjawab ucapan Yorla. Dia tahu jika ia pergi berarti dia harus bertemu dengan Thomas.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Hufffff...........
Yorla menatap Valeria dengan tatapan sedih tahu apa yang kakaknya itu pikirkan. Ia tahu kenapa kakaknya memutuskan hubungannya dengan Thomas waktu itu karena hanya ingin melindungi orang yang ia cintai.
"Sister, eke sayang sama sister! Satu yang eke mau yaitu sister ikuti kata hati sister karena sister juga berhak bahagia" ucap Yorla dengan tatapan sedih.
"Loe tahu alasan gue mutusin dia" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Mau sampai kapan sister harus menderita sendiri. Eke yakin Thomas bukan orang lemah yang tak bisa melawan Dimitri"
"Tutup mulut loe bangsat!" bentak Valeria dengan tatapan tajam.
"Maaf sister" cicit Yorla dengan takut.
Valeria menutup mata menormalkan emosinya yang memuncak. Tak berselang lama hpnya berbunyi ada panggilan masuk dari Bagas.
^^^"Halo"^^^
"Dek"
^^^"Heeemmmm"^^^
"Pulang ya dek. Kangmas kangen sama kamu"
^^^"Apa ini karena dua manusia biadab itu?" tanya Valeria dengan sinis.^^^
"Dek" ucap Bagas dengan suara bergetar.
^^^"Kalau kangmas telpon hanya mau bicara mereka berdua ngak usah telpon gue kangmas" bentak Valeria dengan emosi.^^^
Ia mematikan panggilannya sepihak tak ingin membahas kedua mantan orang tuanya itu.
~ Rumah Sakit Kota ~
Bagas menatap hpnya dengan tatapan sedih setelah panggilannya dimatikan sepihak oleh Valeria. Ia ingin menelpon lagi tapi ia tahu panggilannya tidak akan pernah di angkat.
"Jangan sedih lagi Bagas" tepuk Putri di pundak cucunya itu.
"Eyang" ucap Bagas dengan mata berkaca-kaca.
Bagas memeluk eyang putri di depan kamar rawat kedua orang tuanya. Ya saat ini Budi dan Arinta tengah di rawat di rumah sakit karena kondisi keduanya tiba-tiba drop akibat kekurangan cairan.
Selama 1 tahun lebih kedua orang tuanya mengurung diri tak mau makan atau keluar melakukan aktifitas mereka karena merasa bersalah kepada Valeria.
"Apa yang harus aku lakukan eyang?" tanya Bagas dengan putus asa.
"Kamu harus support kedua orang tuamu untuk kembali bersemangat seperti dulu lagi nak"
"Itu percuma eyang"
"Gunakan Valeria sebagai alasan agar keduanya tidak berlarut mengurung diri"
Bagas memikirkan ide yang diberi tahu oleh eyang putri barusan. Ada benarnya juga ia bisa memakai nama adiknya untuk membuat kedua orang tuanya kembali sehat seperti dulu lagi.
Raden Arya yang menatap keduanya hanya diam saja ia juga tidak tahu harus melakukan apa kepada anak dan menantunya yang terbaring lemah di atas brankar.
"Ayah" panggil Raden Aji yang datang bersama istrinya Wina.
"Kalian sudah datang" ucap Raden Arya.
"Bagaimana keadaan Arinta dan Budi ayah?" tanya Raden Aji.
"Kondisi keduanya masih lemah dan harus di rawat beberapa hari sampai kondisi mereka pulih" ucap Raden Arya.
"Apa ini berhubungan dengan Valeria ayah?" tanya Wina.
"Heemmm! Keduanya merasa bersalah dan menyesal sudah melakukan kesalahan besar kepada putri mereka sendiri" jelas Arya membenarkan ucapan menantunya itu.
Raden Aji dan Wina hanya bisa diam tak bisa berkata apa-apa. Keduanya juga kaget dengan apa yang sudah dilakukan oleh Arinta dan Budi tapi mereka yakin Valeria tidak akan memaafkan mereka.
~ Bandar Udara International Incheon ~
Valeria menatap suasana siang di Seoul, Korea Selatan. Entah apa yang ia pikirkan, saat Yorla pergi ke Paris ia lalu menyuruh Juan menyiapkan jet pribadinya untuk ke Korea.
Dan disinilah ia berada masih di dalam jet di bandar udara internasional Incheon.
Gue udah gila hanya karena sialan itu, batin Valeria dengan kesal.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria lalu bergegas keluar dari jet dan langsung di sambut oleh pengawal pribadinya yang tadi datang dengan jet miliknya yang lain.
"Master kita akan kemana?" tanya Ari salah satu pengawal pribadinya.
"AS Entertainment" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik master"
Mereka lalu bergegas menuju ke AS Entertainment di kawal 2 mobil pengawal, kedatangan Valeria kali ini tidak di ketahui oleh Jakson orang kepercayaannya di Korea.
~ AS Entertainment ~
Mobil mewah milik Valeria sudah sampai di depan perusahaan AS entertainment. Ari dengan cepat membukakan pintu untuk Valeria.
Seperti biasa ia turun dengan anggun sambil memakai kaca mata hitam dan masker. Matanya melihat sekeliling perusahaan ada yang mencurigakan atau tidak.
Saat masuk ke dalam perusahaan Valeria melihat tidak ada yang berubah sama sekali, ia lalu memilih naik lift karyawan tak ingin kedatangannya di ketahui oleh Jakson.
"1 jam lagi battle round akan dimulai ya" ucap salah satu gadis muda yang Valeria yakin gadis itu salah satu artis di manajemennya.
"Siapa tim favorit kalian?" tanya gadis B.
"Aku suka sama tim Red" ucap gadis A.
"Kalau aku tim Black" tambah gadis C.
"Aku lebih suka sama tim Jay" ucap gadis D.
"Apa! Otakmu itu dimana Sindi! Masa kamu pilih timnya Jay sih" omel gadis B ke gadis D yang bernama Sindi.
"Loh memangnya kenapa?" tanya Sindi.
"Penampilan cupu kayak gitu apa mau jadi artis. Dimana otaknya!" cibir gadis C.
"Tapi suaranya lebih bagus dari tim lainnya" bantah Sindi.
"Suara aja tidak cukup untuk masuk dunia entertainment Sindi" dengus gadis A.
"Terserah kalian. Aku tetap dukung timnya Jay" ucap Sindi dengan tegas.
Lift lalu berhenti di lantai 5 dan mereka semua keluar serta Valeria yang memilih turun di lantai itu untuk melihat sekelilingnya. Ia lalu berjalan menuju tangga darurat dan seketika langkahnya terhenti.
"Menarik" gumam Valeria melihat dua orang yang sedang berbicara di tangga darurat.
βββββ
To be continue...............