
π»Hal sederhana pun akan menjadi spesial di mata seseorang yang tulus mencintaimuπ»
.
.
.
.
"Bunuh mereka semua dan ingat jangan lengah sedikit pun" teriak Juan dengan suara lantang.
"Siap bos" ucap semua anak buahnya dengan serentak.
Dor......dor........dor.........bor........dor.......for.....
Aaarrghhh......aarrgghhh.......arrghhh.....
Suara tembakan dan jeritan kesakitan musuh mereka terdengar jelas, anak buah Valeria memang sangat terlatih dan bisa mengelak dari sarangan musuh dengan cepat.
Di luar markas semua musuh sudah mati tak tersisa, mereka lalu masuk ke dalam markas membantu teman-teman mereka yang sedang baku tembak di dalam sana.
Duar.........duar........
Salah satu anggota Black Shadow melempar bom ke dalam lorong yang digunakan musuh untuk menghadang mereka. Reruntuhan di dalam lorong membuat jalan keluar lorong akhirnya tertutup mau tak mau musuh harus keluar dari pintu besar.
"Kelompok 1 serang musuh dari arah pintu besar" ucap Juan memberi perintah.
"Siap bos" ucap kelompok 1 serentak.
"Kelompok 2 dan 3 kalian basmi semua musuh di area gudang belakang markas mereka"
"Siap bos" ucap kelompok 2 dan 3 serentak.
"Kelompok 4 kalian tetap disini dan kalian berempat ikut aku menyusul master"
"Siap bos" ucap kelompok 4 serentak.
"Tim sniper kalian bantu kelompok 1,2,3, dan 4"
"Siap bos" ucap kelompok sniper yang berada di atas pagar markas"
Sedangkan di dalam ruang bawah tanah Valeria dan Ares berlari dengan cepat menuruni anak tangga. Di tengah perjalanan Valeria dan Ares berhenti dan melihat sekelilingnya.
Wush.......wush......wush.....wush......
4 anak panah beracun meleset ke arah Valeria dan Ares dengan cepat keduanya melompat menghindar anak panah itu. Ares melihat sekeliling dan tak menemukan dimana orang yang melempar anak panah tadi.
"Ini jebakan"
"Tidak ada orang lain disini nyonya"
Dor.........dor..........dor..........
Valeria menembak ke atas membuat 3 mesin peluncur panah otomatis jatuh berserakan di lantai. Ia tersenyum sinis melihat Ares yang tak bisa mendeteksi benda tersebut.
"Maafkan saya nyonya"
"Heemmmm"
Keduanya lalu menuruni tangga dan sesuai prediksi Valeria banyak sekali jebakan di sini. Bukannya takut ia malah tersenyum bahagia, Valeria dan Ares akhirnya bisa menghancurkan semua jebakan disana.
Tak lama keduanya sampai di pintu yang sangat besar dan untuk masuk mereka harus memecahkan teka-teki di samping pintu.
Ares memindai keadaan di balik pintu dan ia melihat ada banyak tanda panas yang ia tahu itu adalah manusia.
"Nyonya ada 200 orang di dalam sana"
"Sepertinya malam ini akan sangat lama" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Biar saya yang menghadapi mereka nyonya"
"No! Kita hadapi bersama" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Baik nyonya"
"Keluar"
Wush........wush...........
"Kalian berdua pasang bahan peledak atur waktunya 3 jam untuk meledak" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik master" ucap keduanya dengan serentak.
Kedua pengawal bayangan Valeria segera menghilang dengan cepat mereka akan melakukan perintah Valeria barusan. Sedangkan Valeria mengutak-atik jam di tangannya entah apa yang ia kerjakan hanya ia yang tahu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"1 jam buat habisi mereka semua"
"Siap nyonya"
Dret...........
Bunyi pintu yang mulai terbuka bergeser ke samping setelah Valeria berhasil memecahkan teka-teki. Sebelum pintu terbuka seluruhnya Valeria dan Ares membuang gas asap ke dalam membuat musuh mereka terbatuk-batuk.
Dor.......dor........dor.......dor......dor........
Duar......duar.......
Aaarrgghhhh.......arrgghhhhh....
Valeria menembak musuh di depannya setelah memakai masker asap sedangkan Ares membuang bom didalam sana membuat ledakan yang membuat puluhan musuh mati dengan sekejap.
Suara tembakan dan jeritan kesakitan bergema disana, selang 30 menit akhirnya Ares dan Valeria berhasil menghabisi mereka semua.
Asap gas tadi akhirnya menghilang membuat pandangan keduanya langsung tertuju ke depan.
Prok.........prok.........prok....
"Look at this. Siapa yang mengunjungiku saat ini" (lihat ini) ucap Abdul Malik ketua ******* sambil bertepuk tangan.
"Jadi ini yang namanya Abdul Malik?" tanya Valeria dengan sinis.
"Well suatu kehormatan untukmu bisa melihat aku secara langsung" ucap Abdul dengan bangga.
"Ares apa informasi yang kamu berikan itu salah?" tanya Valeria sambil menatap datar Abdul.
"Tidak nyonya"
"Tapi kenapa ketua ******* badannya kerempeng seperti tengkorak! Apa lagi matanya persis mata katak" ejek Valeria dengan wajah jijik.
"Apa kamu bilang gadis sialan" teriak Abdul dengan emosi.
"Memang kenyataan!! Aku heran kenapa di luar sana mereka bilang kamu itu ******* kejam dan menakutkan. Tapi apa ini" ucap Valeria mengejek.
"Dia seperti kambing yang gagal bi***i nyonya" ucap Ares.
Hahahahaha.............
Tawa Valeria seketika pecah mendengar ucapan Ares sedangkan Abdul jangan ditanya lagi wajahnya memerah menandakan ia sangat marah dengan ucapan Ares barusan.
"Tembak ja***g dan berengsek itu" teriak Abdul dengan emosi.
Dor.......dor.........dor..........dor........dor......
Sebelum anak buah Abdul menembak keduanya ternyata mereka lebih cepat menembak semua anak buah Abdul Malik. Mata Abdul melotot kaget melihat semua anak buahnya sudah mati tinggal ia sendiri saja.
"Sekarang sisa kamu sendiri" ucap Valeria dengan sinis.
"Beraninya kamu gadis sialan! Aku akan membunuhmu!" bentak Adbul.
Dor.......dor........
Valeria menembak tangan Abdul yang hendak mengambil senjata sedangkan Ares menembak tepat di betis Abdul membuat ia terjatuh karena merasa sangat sakit.
Aaarrgghhh...........
"Nyonya apa saya bunuh dia sekarang?" tanya Ares.
"No. Kita masih butuh dia" tunjuk Valeria ke arah brangkas.
Ares langsung menarik Abdul Malik di kepalanya menyeret ke arah brangkas, Valeria lalu mulai mengambil cerutu yang ia ambil dari Juan. Abdul Malik kaget melihat cerutu yang berada di tangan Valeria.
Sial ternyata cerutu yang selama ini aku cari ada di tangan ja***g ini, batin Abdul.
Bugh............Arrghhhh.........
Teriak Abdul menggema merasakan sakit yang luar biasa di wajahnya. Valeria menata Abdul dengan tatapan membunuh karena terus dikatai Ja***g, ia bisa membaca isi pikiran orang hanya dengan melirik saja.
Valeria lalu berkutat dengan angka-angka yang sudah ia dan Ares pecahkan waktu itu. Selang 30 menit akhirnya kode brangkas bisa dibuka Abdul yang melihat hal tersebut tersenyum smirk.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Ia tak tahu jika Valeria saat ini sedang tersenyum smirk di depan sana, dengan cepat ia berbalik dan langsung menggores telapak tangan Abdul dengan pisau lipat miliknya.
"Aarrghhh......apa yang kamu lakukan gadis j****g" teriak Adbul.
"Menyempurnakan teka-teki" ucap Valeria dengan santai.
"Jangan bilang" tebak Abdul dengan cepat.
"Well aku tahu semuanya pak tua" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Apa" ucap Abdul dengan kaget.
Ia tak menyangka jika Valeria bisa mengetahui rahasia teka-teki brangkas dimana hanya ia dan keturunannya saja yang bisa membukanya.
Valeria lalu menempel cerutu itu di telapak tangan Abdul yang berdarah. Tak lama Cerutu itu meleleh membuat kunci yang tersembunyi di dalam cerutu muncul.
Ares yang melihat isyarat Valeria segera menarik Abdul untuk berdiri, ia lalu mensejajarkan mata Kiri Abdul dengan scan retina bersamaan dengan kunci yang Valeria masukan.
Klek.............
Bunyi tanda brangkas telah terbuka dengan cepat Valeria membuka brangkas tersebut. Ada 3 gulungan surat, 1 peta lokasi ribuan emas batangan, kartu VVIP Gold bank Swiss di belakangnya ada kunci, dan 1 buah flashfisk.
"Jangan ambil itu semua punyaku" teriak Abdul dengan histeris.
"Ckk!! Pencuri ngakunya pemilik" ketus Valeria.
"Kembalikan barang itu punyaku. Kembalikan gadis sialan!" bentak Abdul.
"Bereskan dia Ares"
"Baik nyonya"
Dor..........
Ares menembak Abdul tepat di kepala membuatnya seketika tewas. Valeria lalu melirik Ares untuk segera pergi dari sana, saat keduanya keluar dari pintu menuju ruang bawah tanah tiba-tiba ada yang menodongkan pistol tepat di belakang kepala Valeria.
"Apa kamu berhasil gadis kecil" ucap seseorang dari depan sambil menodong pistol di kepala Juan.
Valeria menatap Juan dan 4 anak buahnya yang ditodong pistol di kepala mereka oleh 7 musuh, ternyata sedari awal mereka sembunyi menunggu kedatangan Valeria dari ruang bawah tanah.
"Berikan isi tasmu dan kamu bisa pergi gadis kecil" ucap salah satu dari mereka.
"Siapa kamu?" tanya Valeria dengan suara dingin.
"Well, sepertinya gadis kecil ini penasaran dengan namaku" ucap orang itu sambil terkekeh.
"Kamu benar. Aku ingin menulis namamu di daftar orang yang sudah aku bunuh" ucap Valeria sambil tersenyum smirk.
"Aku suka dengan candaan kamu baby girl" (gadis kecil)
"I'm not your baby girl" (aku bukan gadis kecilmu) ucap Valeria dengan tatapan membunuh.
Glek..........
Ketujuh orang itu bergidik ngeri melihat tatapan Valeria entah kenapa kaki mereka seperti di lem tidak bisa di gerakkan. Bahkan tangan mereka tiba-tiba menjatuhkan pistol mereka sendiri.
"Nyonya sisa 30 menit" ucap Ares.
"Juan bawa anak buahmu keluar" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Tapi master" ucap Juan yang keberatan.
"Pergi sekarang" teriak Valeria dengan suara melengking.
"Baik master" ucap Juan dengan gemetar.
Juan dan 4 anak buahnya segera pergi melihat mereka sudah pergi dengan cepat Valeria mengambil belati kesayangannya. 7 orang tadi yang tadi merasa tubuhnya tak bisa gerakkan akhirnya bisa kembali di gerakkan.
"Kemana mereka" ucap salah satu dari 7 orang.
"Mencari ku berengsek" ucap Valeria tepat di belakangnya.
Crash............crash......
Arrgghhh......
2 Sayatan tepat di leher 2 orang, jeritan kesakitan saat Valeria menggores leher mereka. 5 orang yang tersisa melihat Valeria dengan gemetar merasakan aura monster kelaparan menguar dari tubuh Valeria.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria terkekeh mendengar jeritan keduanya yang sangat merdu di telinganya. Ares hanya melihat Valeria yang saat ini sudah berada dalam mode psycopath, tak membuang waktu Valeria langsung bermain dengan kelimanya.
Sret........sret.......sret......sret......sret.......
Entah berapa tusukan dan sayatan di tubuh kelimanya bahkan darah mereka sudah bercucuran di lantai membuat bau anyir menyeruak. Valeria tersenyum bahagia melihat kelima jasad di depannya yang sudah tak utuh.
"Kita pergi" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik nyonya"
Dengan cepat keduanya berlari menuju keluar karena tinggal 10 menit lagi markas ini akan hancur.
Juan yang sudah berdiri di luar melihat arah pintu markas dengan cemas menunggu kedatangan Valeria dan Ares.
"Master dimana bos?" tanya anak buah Juan.
"Di dalam" ucap Juan dengan cemas.
Duar........duar........duar.........
Bunyi ledakan mulai terdengar dari arah belakang, Juan dan anak buahnya semakin cemas menunggu kedatangan Valeria tak lama Valeria dan Ares muncul dari dalam.
"Master" teriak Juan dengan senang.
"Lari" teriak Valeria dengan suara tak kalah kencang.
Valeria tahu jika bom yang terpasang di depan pintu masuk memiliki kekuatan yang sangat besar dari bom yang lain. Juan dan anak buahnya segera berlari dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Duar..............
Ledakan terakhir yang sangat besar membuat mereka semua terpental jauh, Valeria yang melihat ke arah belakang bergegas maju ke arah Juan dan 2 anak buahnya yang tepat di depannya.
Brak.........
"Master" teriak Juan dengan mata melotot kaget.
Uhuukk......uhuukkk......uhukkkk.......
Valeria terbatuk-batuk mengeluarkan darah saat tubuhnya menjadi tameng pintu markas yang hancur berterbangan. Tubuh Juan gemetar melihat Valeria yang mengorbankan dirinya untuk mereka bertiga.
"Hiks hiks hiks......mas....ter.....hiks hiks" ucap Juan dengan terbata sambil menangis.
Brak............
Ares membuang pintu markas yang masih berada di punggung Valeria. Dengan cepat ia menangkap tubuh Valeria yang hampir jatuh di tanah.
Juan dan dua anak buahnya menangis melihat wajah Valeria yang semakin pucat karena terus batuk darah.
"Master.....hiks hiks hiks" ucap kedua anak buah Valeria sambil menangis.
"Ke....napa mas.....ter......hiks hiks hiks.......kenapa?" tanya Juan dengan tubuh gemetar.
"Loe harus hadiri di pesta pernikahan adik loe" ucap Valeria dengan suara lemah.
"Master........hiks hiks" ucap Juan sambil menggeleng kepala tak kuasa menahan air matanya.
"Ares"
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan nyonya"
"Beritahu kangmas aku menyayanginya.........uhuk uhuk" ucap Valeria kembali batuk darah.
"Master" teriak Juan dan anak buahnya lain.
Ares dengan cepat mengendong Valeria dan berlari menuju helikopter yang entah kapan sudah datang, Juan yang cemas juga ikut berlari mengejar Ares dan Valeria.
Aku mohon bertahan master, batin Juan dengan cemas.
Sedangkan di belahan dunia lain tepatnya di Blue ocean apartment Thomas memegang dadanya yang terasa sangat sakit. Ia merasa jantungnya seperti di tikam pedang membuat wajahnya pucat menahan sakit.
Kenapa rasanya sangat sakit, batin Thomas sambil memegang dadanya.
βββββ
To be continue................